Bismillah karya baru FB Tupar Nasir
WA 089520229628
Sekuel dari Ya, Aku Akan Pergi Mas Kapten
Kapten Excel belum move on dari mantan istrinya. Dia ingin mencari sosok seperti Elyana. Namun, pertemuan dengan seorang perempuan muda yang menyebabkan anaknya celaka mengubah segalanya. Akankah Kapten Excel Damara akan jatuh cinta kembali pada seorang perempuan?
Jangan lupa ikuti kisahnya, ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Mual Muntah Meriang
Zinni sudah terbangun dari tidurnya sejak subuh tadi. Setelah sholat subuh, dia segera beranjak ke dapur untuk membantu Bi Ocoh dan kembali melakukan pekerjaan rumah seperti biasa. Namun, Zinni tiba-tiba perutnya merasa mual.
Sebetulnya sudah sejak bangun tidur tadi, tubuhnya merasa tidak enak. Zinni merasa meriang dan tidak enak badan. Tapi, Zinni tetap memaksa dirinya agar sakit yang dia rasakan tidak keterusan. Kalau dia sampai sakit, dia merasa tidak enak sama Excel yang semalam sudah menolongnya.
Zinni segera melangkah menuju dapur, menghampiri Bi Ocoh yang sudah berkutat di dapur.
"Bi Ocoh, sekarang biarkan saya mengepel lantai atas, karena sudah hampir dua minggu belum dipel lagi," ujar Zinni seraya menuju kamar mandi. Zinni meraih alat pel dorong. Sebelumnya, Zinni mencuci terlebih dahulu kain pelnya supaya bersih.
"Jangan, Neng. Biar bibi saja yang lakukan," cegah Bi Ocoh.
"Tidak apa-apa, Bi. Saya juga sama seperti bibi di rumah ini," teguh Zinni.
"Tidak, Neng. Neng Zinni adalah tamu khusus Pak Excel. Neng Zinni tidak boleh melakukan itu," larang Bi Zinni lagi.
"Nggak apa-apa, Bi. Walaupun kata bibi saya adalah tamu khusus atau apapun itu, tapi saya ingin mengepel. Saya mohon bibi jangan larang saya. Baiklah, saya ke atas dulu, ya. Hanya ngepel, saya sudah biasa, bi," ujar Zinni seraya berlalu sambil membawa alat pel dorong bersama embernya.
Bi Ocoh menatap kepergian Zinni, tanpa bisa mencegahnya. "Terserah Neng Zinni saja. Tapi, jangan salahkan bibi kalau nanti Den Excel marah sama Neng Zinni," gumam Bi Ocoh sembari membalikkan badan dan kembali melakukan pekerjaannya lagi.
Kini Zinni sudah berada di lantai dua, dia mengepel lantai ruangan itu mulai dari perpustakaan, ruang kerja Excel, kamar kedua, dan beranda. Zinni tahu ruangan di lantai dua ini, hanya sekali dalam dua minggu diharuskan dipel. Kecuali kalau ada acara yang mengharuskan menggunakan lantai dua, maka Excel akan memberikan perintah untuk dipel seminggu sekali.
Meskipun tubuh Zinni mulai menggigil, tapi Zinni berusaha menyelesaikan pekerjaannya yang hanya tinggal sedikit lagi.
Keringat sudah membasahi sekujur tubuh Zinni. Zinni merasa sudah lemas dan tidak kuat. Untung saja pekerjaannya sudah selesai, hanya tinggal kamar Excel yang belum, sebab Excel masih belum terlihat keluar. Sepertinya setelah sholat subuh, Excel kembali tidur karena hari ini Sabtu dan tidak masuk kantor.
Zinni segera menuruni tangga, lalu kembali ke dapur. Dia membawa kain pel ke kamar mandi untuk dibersihkan kembali.
Zinni menyudahi aktifitasnya di dalam kamar mandi. Dia menuju dapur dan meraih gelas di rak. Lalu diisi air panas dicampur dingin dari dalam dispenser.
Tenggorokannya basah kembali, setelah tadi terasa kering karena habis ngepel.
"Neng Zinni sudah selesai ngepelnya Neng?" Bi Ocoh menghampiri Zinni yang menduduki kursi makan.
"Sudah, Bi. Alhamdulillah."
"Syukurlah Neng. Sekarang Neng Zinni istirahat saja. Bibi tadi selesai membuat bolu kukus puding pisang. Neng Zinni bisa mencicipinya barang kali suka." Bi Ocoh bergegas mengambil bolu puding kukus pisang yang tadi dia buat, lalu dipotong-potong dan mewadahi beberapa potong untuk ia berikan pada Zinni.
"Cobain, Non," sodor Bi Ocoh.
"Wah, terimakasih banyak, Bi. Sepertinya ini sangat enak. Saya coba, ya?" Mata Zinni berbinar senang, ketika matanya melihat penampakan bolu puding kukus pisang yang menarik sekaligus membuat ngiler.
Enak tidak enak badan, Zinni akhirnya meraih satu potong puding lalu dicicip dan dirasakannya. Kunyahan pertama habis, lalu yang kedua dan seterusnya habis juga satu potongan bolu puding itu.
"Ini sangat enak, Bi. Kenyal-kenyal seperti agar-agar," ungkap Zinni memuji.
"Ah, Neng Zinni ini terlalu berlebihan. Kenyal yang dirasakan barusan adalah campuran agar-agar," terang Bi Ocoh seraya membalikkan badan.
Zinni tidak menyahut, sebab tiba-tiba perutnya kembali mual dan dia benar-benar tidak bisa menahannya.
Zinni berlari menuju kamar mandi, lalu memuntahkan isi dalam perutnya. Untuk beberapa saat tubuhnya menunduk. Rasa mual yang dirasakannya sungguh sangat tidak enak, ditambah lagi tubuhnya semakin terasa hangat dan menggigil. Sepertinya Zinni terkena demam karena masuk angin.
Setelah semua tuntas, Zinni segera membasuh mulutnya, lalu kembali ke dapur, menduduki kursi makan yang tadi. Zinni memijat pelan area pundak untuk menghilangkan rasa mual yang masih terasa.
"Neng Zinni, kenapa Neng? Neng Zinni sakit?" heran Bi Ocoh seraya menghampiri Zinni.
"Iya, Bi. Saya sedikit kurang enak badan. Sepertinya akibat masuk angin karena semalam," ujar Zinni tanpa menjelaskan habis apa semalam.
"Neng Zinni masuk angin sepertinya. Bibi buatkan teh jahe dan campuran madu, ya?" ujar Bi Ocoh seraya bergegas menuju kitchen set.
"Nah, ini sudah jadi minuman jahe hangat plus madunya. Minuman ini berkhasiat untuk meredakan mual dan masuk angin."
"Terimakasih banyak, Bi." Zinni meraih cangkir yang sudah berisi air panas dengan seduhan jahe dan campuran madu.
"Ya ampun, tubuh Neng Zinni ternyata panas. Neng Zinni demam. Sebaiknya Neng Zinni kembali ke kamar saja, istirahat. Tubuh Neng Zinni sedang tidak baik-baik saja," ujar Bi Ocoh khawatir.
"Baiklah Bi. Tapi, perut saya masih terasa mual. Apakah Bi Ocoh punya minyak kayu putih? Saya ingin membalur sekujur tubuh saya agar tidak mual," tukas Zinni.
"Ada Neng. Atau kalau Neng Zinni mau, biar masuk anginnya cepat keluar, bibi kerok memakai bawang putih, mau?" ujar Bi Ocoh memberi saran.
Zinni berpikir sejenak, lalu setelah itu menganggukkan kepalanya. Bi Ocoh dan Zinni bergegas menuju kamar Zinni. Lalu Bi Ocoh, mengerok dan membalur sekujur tubuh Zinni dengan bawang ungu, sesekali dikerok juga dengan koin.
Sementara itu, Excel yang sudah terbangun setelah tadi tidur kembali, melangkahkan kakinya menuju dapur. Sebelum menuju dapur, ia tiba-tiba mencium aroma minyak kayu putih dan bawang ungu. Karena penasaran, Excel bergegas menuju kamar Zinni.
Excel mendongakkan kepalanya sedikit ke dalam celah pintu, ingin melihat sedang apa Zinni.
Excel sontak terperanjat, tanpa dia ketahui sebelumnya, ternyata Zinni tengah telanjang punggung. Sementara Bi Ocoh dengan telaten membalur dan mengerok punggung mulus Zinni dengan bawang dan koin.
"Ck."
Excel berdecak, dia menelan ludah melihat pemandangan mulus di depannya. Punggung Zinni yang tanpa sengaja dia lihat yang begitu mulus itu, membuat Excel terkagum-kagum.
"Mulus banget punggung si Zinni. Lalu kenapa dia sampai dikerok oleh Bi Ocoh, apakah dia sakit?" gumamnya heran, lalu bergegas meninggalkan depan kamar Zinni.
Beberapa saat kemudian. "Bi Ocoh, ada apa di kamar Zinni?" Excel bertanya dengan hati-hati.
"Maaf, Den. Neng Zinni mual dan muntah-muntah, sepertinya masuk angin. Tadi, bibi berusaha membantunya dengan mengerok memakai bawang ungu dan koin untuk menghilangkan mualnya," tutur Bi Ocoh.
"Mual dan muntah? Jangan-jangan ...."
"Neng Zinni hanya masuk angin, Den. Tubuhnya saja demam," potong Bi Ocoh meralat pikiran negatif Excel.
semoga saja benar ya Thor ☺️🤩