Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CYTB 3
Tidak terasa sudah beberapa hari ini Janice bersikap tidak seperti biasanya. Dimana Janice selama beberapa hari ini justru lebih memilih menghindari Stendy. Selama beberapa hari ini juga Stendy sering pulang malam dengan alasan lembur. Padahal Janice tahu kemana Stendy selama beberapa hari ini. Ya, tentu saja pria itu menghabiskan waktunya bersama Harisa.
Janice tahu, tapi dia memilih diam. Ia juga tidak pernah bertanya kapan Stendy akan pulang semenjak kejadian pesta malam itu.
Namun, entah mengapa Rodez selalu menghubungi Janice dan memberitahukan apa yang dilakukan oleh Stendy. Sayangnya, Janice selalu mengabaikan semua informasi dari Rodez. Sampai akhirnya Rodez mulai merasakan kejanggalan pada diri Janice. Seperti hari ini, di hari ke empat sebelum Janice berangkat ke negara S. Rodez mendapat sebuah pesan dari Janice yang membuat pria itu sangat terkejut.
Janice mengajaknya bertemu di sebuah restoran, dan lebih mengejutkan lagi adalah Janice meminta untuk merahasiakan pertemuan mereka. Rodez bertanya-tanya dalam hatinya, apakah Janice mengetahui semua tentang Stendy yang sebenarnya? Atau apakah Janice sudah mengetahui tentang Harisa yang kembali dari luar negeri? Begitulah sekiranya yang kini ada di benak Rodez.
Rodez melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Sebentar lagi sudah masuk jam makan siang. Rodez pun memilih untuk datang ke ruangan Stendy.
“Siang, Tuan.”
“Hmm,”
“Sebentar lagi jam makan siang. Apakah anda mau saya pesankan makan siang untuk anda?” tanya Rodez.
Stendy yang mendengar ucapan Rodez pun menghentikan kegiatannya yang memang sedang sibuk memeriksa laporan di layar laptopnya. Ia pun melirik jam tangannya dan menatap ke arah asistennya.
“Sepertinya aku akan makan di luar bersama Harisa. Kamu pesan makan siang untukmu saja,” jawab Stendy.
“Baik, Tuan.”
Rodez pun segera keluar dari ruangan Stendy. Tidak lama Stendy keluar dari ruangannya juga dan segera menuju parkiran. Kali ini pria itu ingin mengendarai mobilnya sendiri. Karena ia sangat ingin hanya berduaan dengan Harisa.
Mengetahui bahwa Stendy sudah pergi, Rodez pun segera pergi dari kantor. Sebelum itu ia berpesan pada sekretarisnya bahwa dia ingin keluar.
Di sebuah restoran yang tidak jauh dari kantor Stendy. Janice baru saja tiba, ia sengaja mencari tempat yang tidak terlalu terbuka. Karena ia tidak ingin ada yang melihat dirinya sedang bersama Rodez.
Seorang pelayan pun datang sambil memberikan buku menu restoran tersebut. Kali ini Janice hanya memesan dua paket ayam Kung Pao, sapo tahu dan fuyunghai. Janice dan Rodez memiliki kesamaan yaitu tidak pilih-pilih dalam hal makanan. Setelah mencatat pesanan Janice, tidak lama Rodez datang dan sempat mencari keberadaan Janice. Namun, pikirannya berkata kalau Janice belum datang.
Rodez mengambil ponselnya dan menghubungi Janice.
“Halo,”
“Aku sudah sampai di restoran. Apakah Nona masih dalam perjalan?” tanya Rodez.
“Aku juga sudah sampai. Aku ada di lantai dua, di dekat ruang VIP,” jawab Janice membuat Rodez langsung mendongakkan kepalanya dan menatap ke lantai atas.
“Oh, baiklah aku akan naik ke lantai atas,”
“Oke,”
Panggilan terputus, dan Rodez pun segera menuju lantai dua restoran tersebut. Mata elangnya mencari keberadaan Janice, sampai akhirnya ia menemukan sosok wanita yang sedang menunggunya. Janice melambaikan tangannya saat tatapan keduanya bertemu, Rodez pun segera menghampiri wanita itu.
“Posisi tempat duduk ini benar-benar tertutup,” ujar Rodez yang sedikit menyindir.
Janice tersenyum tipis, “Kamu pasti tahu alasannya, mengapa aku memilih tempat duduk disini,” jawab Janice.
Rodez tersenyum sambil menghela nafas pelan. “Iya, aku tahu.” Rodez sedikit menjeda ucapannya, sebelum ia kembali bertanya pada Janice.
“Ada apa anda ingin bertemu denganku, Nona?” tanya Rodez yang membuat Janice tersenyum miring.
Rodez mengerutkan dahinya melihat ekspresi di wajah Janice. Janice menatap pria yang bekerja sebagai asisten sekaligus sahabat kekasihnya itu.
“Apakah Tuan kamu itu sangat mengekang jam istirahatmu, Rodez? Sampai kamu tidak sabaran bertanya mengapa aku ingin bertemu denganmu,”
Rodez kembali tertegun mendengar pertanyaan Janice. Bahkan nada bicara Janice pun terkesan sangat berbeda. Rodez kembali mengerutkan alisnya. Matanya terus mengamati perubahan dalam diri Janice. Rodez kembali dibuat tercengang, ketika ia melihat tatapan dingin dan tajam di mata Janice. Tatapan Janice tidak seperti biasanya. Tatapan lembut dan malu-malu itu entah kemana perginya, dan kini sudah berganti dengan tatapan dingin dan bahkan Rodez baru sadar kalau sejak tadi Janice selalu memasang wajah datar dan dingin.
Rodez menghela kembali nafasnya. “Tidak seperti itu. Hanya saja tidak biasanya kamu memintaku untuk bertemu berdua seperti ini,”
Janice tersenyum remeh, kedua tangannya dilipat diatas meja. “Jujur saja aku pun heran dengan diriku sendiri. Mengapa aku bisa sampai mengajakmu untuk bertemu dan makan siang bersama?” Janice masih menunjukkan senyuman tipis, namun terkesan begitu sinis.
Lalu Janice menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya masih sama, begitu datar saat menatap ke arah Rodez yang duduk di hadapannya itu.
“Kita tunggu makanannya saja. Setelah itu aku akan memberitahu kamu apa yang sebenarnya ingin aku katakan,” ucap Janice yang membuat Rodez semakin menatap penuh selidik pada kekasih atasannya itu.
Tidak lama pelayan pun datang dan membawakan menu pesanan Janice. Rodez tertegun saat melihat menu yang dipesan oleh Janice. Rodez menatap Janice dengan curiga.
“Bagaimana dia tahu ini adalah menu favoritku di restoran ini?” monolog Rodez dalam hatinya.
Janice menaikkan satu alisnya saat melihat Rodez hanya diam sambil menatapnya.
“Kamu tidak suka dengan menu yang aku pesan? Apa kamu mau mengganti menunya?” tanya Janice dengan dahi yang masih berkerut.
Rodez segera menggeleng sambil mengibaskan satu tangannya, dan berkata, “Tidak. Justru aku sangat menyukai menu ini. Ini adalah menu favoritku di sini,” jawab Rodez.
Janice semakin mengerutkan dahinya. “Benarkah? Jadi ini menu favoritmu di restoran ini,” Janice tidak percaya begitu saja dengan ucapan Rodez. Ia malah berpikir kalau saat ini Rodez hanya sedang tidak enak hati padanya.
Namun, saat melihat Rodez mengangguk dengan penuh keyakinan. Membuat Janice tersenyum.
“Kalau begitu selamat menikmati,”
Dengan senang hati Rodez pun mulai menikmati sajian menu makan siang hari ini.
Di tempat lain, tepatnya di sebuah restoran mewah. Stendy dan Harisa baru saja tiba, wajah mereka terlihat sangat bahagia.
“Aku senang sekali, akhirnya kita bisa makan siang hanya berdua saja,” ucap Harisa terlihat sangat bahagia.
Mendengar ucapan wanita itu hati Stendy merasa bersalah, sebab memang setelah mereka kembali bertemu. Keduanya tidak memiliki waktu hanya berdua saja. Setiap mereka bertemu pasti selalu ada Yohan, Arnold dan Rodez.
“Maafkan aku, ya. Aku janji akan lebih banyak meluangkan waktuku untuk kita berdua,” jawab Stendy dengan tersenyum.
Harisa tersenyum sambil menggenggam erat tangan Stendy. “Jangan merasa bersalah padaku seperti itu, Stendy. Aku sangat mengerti kalau kamu sangat sibuk. Terlebih kamu adalah seorang CEO di perusahaan keluargamu. Sudah pasti kamu sangat sibuk dengan pekerjaanmu,” kata Harisa membuat hati Stendy sedikit merasa lega.
Di restoran lain Janice dan Rodez hampir menghabiskan makanan mereka. Janice mengusap bibirnya dengan lap yang telah disediakan. Lalu meneguk air putih sampai setengah. Begitu pula dengan Rodez.
“Aku tahu kamu sedang menungguku untuk memulai pembicaraan kita lagi,” cetus Janice yang membuat Rodez memasang wajah serius.
Janice tersenyum dan mulai melanjutkan ucapannya setelah melihat ekspresi wajah Rodez.
“Aku ingin minta bantuanmu,”
Rodez mengerutkan kedua alisnya. “Bantuanku? Mengenai apa?” tanya Rodez yang sangat penasaran namun dirinya harus tetap waspada.
“Lusa adalah keberangkatanku ke negara S, jadi…”
“Nona ingin ke luar negeri?” Rodez begitu terkejut mendengar niat Janice yang hendak ke negara S.
Rodez menatap Janice dengan tatapan penuh selidik. “Mengapa tiba-tiba Nona ingin ke negara itu? Apa ingin liburan? Apakah Tuan Stendy tahu soal rencana anda ini?” selidiki Rodez yang masih menatap Janice begitu dalam.
Dengan santainya Janice menjawab, “Dia tidak tahu mengenai rencanaku ini. Maka dari itu aku ingin kamu diam dan tidak memberitahukan dirinya mengenai kepergianku ini, dan perlu kamu ingat juga… aku bukan pergi berlibur. Melainkan untuk melanjutkan study-ku yang sempat tertunda dua tahun yang lalu,” jawab Janice yang semakin membuat Rodez semakin terkejut.
“Kau…”
“Aku tahu Harisa sudah kembali,” Janice menyela ucapan Rodez. Membuat Rodez terdiam.
“Si pemeran utama telah kembali, Rodez. Sudah saatnya aku sebagai pemeran pengganti untuk mundur,”
Sambil minum sedikit wine miliknya, Janice menyempatkan melirik sekilas ke arah Rodez. Ia ingin tahu ekspresi wajah Rodez saat mengetahui dirinya tahu tentang kembalinya wanita yang menjadi cinta pertama Stendy.
Janice tersenyum merasa senang melihat ekspresi wajah Rodez. “Aku mendengar obrolan kalian, ketika di malam perayaan anniversary hubunganku dan Stendy,” ujar kembali Janice.
Rodez semakin terkejut mendengar ucapan Janice. Lidahnya terasa kelu, padahal ia sangat ingin mengatakan sesuatu. Namun, entah kenapa rasanya sangat sulit. Bahkan tenggorokannya saat ini terasa begitu kering. Ia mencoba berdehem dan mengambil gelas wine-nya. Rasa manis dan sedikit kering meresap dalam tenggorokannya. Rodez pun kembali berdehem.
“Nona..”
Janice menghela nafasnya. “Panggil aku Janice saja, Rodez. Aku juga bukan Nona mudamu. Karena kau tidak bekerja untukku,” ucap Janice yang kembali memotong ucapan Rodez.
“Tapi itu tidak mungkin, secara kamu adalah…”
“Sebentar lagi tidak.” Janice menghela nafasnya, karena tahu apa yang dimaksud oleh Rodez. “Aku akan pergi, dan saat itu juga aku akan mengakhiri hubunganku dengan Stendy,” Janice meneruskan ucapannya kembali.
Rodez membulatkan matanya, “Nona… eum, maksudku Janice. Apa yang kamu katakan? Tolong jangan salah paham dulu. Stendy dan Harisa tidak ada hubungan apapun. Hubungan mereka sudah kandas semenjak Harisa memutuskan untuk pergi ke luar negeri,” Rodez mencoba untuk menenangkan hati Janice.
Namun, tampaknya itu sia-sia sebab saat ini Rodez malah melihat Janice tertawa. Akan tetapi tawanya terkesan begitu miris dan penuh paksaan.
Janice tersenyum miris, dan berkata. “Tidak perlu kamu membujukku dengan kata-kata seperti itu, Rodez. Selama ini mungkin aku menjadi orang yang bodoh, yang selalu menjilat dan mengejar-ngejar cinta Stendy. Tapi sekarang aku sadar bahwa cinta dan hati Stendy bukanlah untukku.” Janice memberi tatapan penuh luka, dan Rodez dapat merasakannya.
Janice mendesah kasar. “Dua tahun bagiku sudah cukup untuk mempermalukan diriku sendiri. Selama ini aku berjuang sendirian, dan aku juga tidak pernah dianggap ada pada cerita di hidupnya. Karena Stendy sibuk dengan perasaannya terhadap wanita yang menjadi cinta pertamanya itu. Aku memiliki raganya, namun hatinya tidak. Maka dari itu lebih baik aku mundur,”
Rodez menatap wanita di hadapannya dengan tatapan iba. Ia tahu bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan. Rodez mengatupkan bibirnya, tangan yang ada di bawah sudah mengepal erat.
“Tidak bisakah kamu bertahan sekali lagi? Aku yakin Stendy akan jatuh cinta padamu,” pinta Rodez yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Janice.
“Aku sudah tidak ingin berharap terlalu jauh lagi, Rodez. Aku juga tidak ingin hatiku terluka terlalu dalam. Dan, aku juga tidak ingin membuat Stendy terluka karena hubungan ini. Aku tahu selama ini dia juga menderita,” jawab Janice terdengar tegas.
Janice menjeda ucapannya karena dadanya terasa sesak. "Aku sudah berusaha memberikan yang terbaik semampuku, Rodez. Menjadi seorang penyabar sekuat ku bisa. Berpikir positif tentang semua yang sebenarnya membuatku tak tenang. Jika ini hasil dari apa yang telah aku perjuangkan selama ini, hingga kini kutemukan lelahku yang selelah-lelahnya. Aku akan beranjak pergi meninggalkan semua. Karena aku tahu setiap hal pasti akan ada masanya,” sambung Janice dengan tatapan muram.
“Kamu juga tahu awal hubunganku dan Stendy seperti apa, kan? Jadi sebaiknya aku mundur,”
“Karena semua ini adalah salahku. Aku salah karena terlalu memaksakan Stendy untuk menerimaku,” gumam Janice dalam hatinya.
“Ya, aku tahu. Lalu bagaimana dengan Tuan Fandy dan Nyonya Irene? Apakah mereka juga sudah tahu soal rencanamu ini?” tanya Rodez.
“Untuk Paman dan Bibi biar aku yang urus,” Janice hanya bisa menjawab seperti itu.
Sebab ia pun juga belum siap memberitahukan soal rencana kepergiannya itu. Terlebih kepergiannya juga akan mengakhiri hubungannya dengan Stendy. Janice menggigit bibir dalamnya, ia yakin sekali kalau Irene akan mencegahnya pergi. Karena Janice sangat tahu, kalau Irene begitu menyayanginya. Begitu pula dengan Deferla, adik perempuan Stendy itu pasti akan sangat menentang rencananya.
Janice kembali mendesah kasar, Rodez dapat merasakan kalau wanita yang duduk di depannya ini sedang gelisah dan khawatir. Kini Rodez paham mengapa wanita itu sangat ingin bertemu dan minta bantuannya.
“Apa keputusan yang kau buat ini sudah sangat bulat?”
Janice yang semula menunduk kini tengah mengangkat kepala dan menatap ke arah Rodez. Ia pun mengangguk penuh keyakinan.
“Iya, aku sudah sangat yakin. Maka dari itu aku ingin minta bantuanmu,” jawab Janice begitu tegas.
“Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?”
Bibir Janice terangkat dan membentuk sebuah senyuman manis.
“Bantu aku…”
Janice menceritakan apa yang sangat ingin dilakukan oleh Rodez.
“Hanya itu?” tanya Rodez setelah mendengar apa yang dikatakan Janice.
Janice mengangguk, “Iya. Simple, bukan? Aku tidak memintamu melakukan hal tersulit dalam hidupmu. Karena aku masih punya hati nurani,”
Rodez tersenyum remeh dan menggeleng. “Oke, aku akan melakukannya.”
“Kirim nomor rekeningmu ke nomorku,” ucap Janice.
Rodez mengerutkan alisnya. “Untuk apa nomor rekeningku?”
“Aku ingin memberi sedikit hadiah atas bantuanmu itu,”
Rodez berdecak kesal. “Tidak perlu. Aku melakukannya dengan tulus,”
Janice mengerutkan keningnya, dn matanya berkedip lucu. “Benarkah?”
Rodez mendengus. “Iya, tapi sebagai gantinya,”
Janice mendesah, “Sudah ku duga pasti kamu akan meminta sesuatu dariku. Itu namanya tidak tulus, Rodez!” kesal Janice dengan tatapan begitu sinis.
Rodez tertawa dan menggeleng. “Aku bahkan belum selesai berucap, tapi dari tadi kamu terus memotong pembicaraanku.” Rodez melempar tisu bekas ke arah Janice.
“Yakkk!” pekik Janice yang sudah kesal dengan Rodez.
“Aku memotong ucapanmu, karena memang aku sudah tahu apa isi dari pikiranmu itu. Kau itu termasuk salah satu dari pria licik yang pernah aku temui, Rodez.”
Rodez tercengang mendengar ucapan Janice. “Seburuk itukah pikiranmu tentang diriku?” Rodez merasa kecewa mendengar ucapan Janice.
“Dengar ini baik-baik, Nona Janice Arkana. Aku bukan pria licik seperti apa yang kamu pikirkan. Aku memang ingin membantumu dan itu tulus dari hatiku. Aku hanya memberi syarat yang belum kamu dengar apa syarat yang ingin aku ajukan padamu. Tapi, kamu terus memotong ucapanku dan malah berpikir buruk tentangku,” Rodez mengusap dadanya dan menggeleng.
Janice mengatupkan bibirnya dan sedikit menundukkan wajahnya. “Bu-bukan begitu, aku hanya…”
“Ya, aku paham mengapa kamu bersikap seperti ini.” Rodez langsung menyela ucapan Janice.
“Tapi kamu harus tahu, Janice. Bersikap waspada itu boleh saja, asalkan tidak terlalu berlebihan. Seperti kamu begitu berlebihan menganggapku sebagai pria licik,” dengus Rodez.
Janice mengerucutkan bibirnya. “Maaf,” lirih Janice.
Rodez mendengar permintaan maaf Janice pun kembali mendesah. “Sudahlah, lupakan!”
Janice menggeleng cepat. “Jangan begitu. Ayo, katakan apa syaratnya?” bujuk Janice.
“Tapi, jangan aneh-aneh, ya!” sambung Janice yang membuat Rodez terkekeh kecil.
Rodes menghela nafasnya, dan menatap Janice. “Aku hanya minta syarat padamu untuk tidak memutuskan komunikasi kita berdua. Aku hanya ingin menjadi temanmu, itu saja. Apakah syarat itu bisa kamu penuhi?”
Janice langsung mengangguk dengan cepat. “Tentu bisa. Nanti aku akan berikan nomor baruku padamu,” jawab Janice yang membuat Rodez tersenyum dan mengangguk.