Serka Davis mencintai adiknya, hal ini membuat sang mama meradang.
"Kamu tidak bisa mencintai Silvani, karena dia adikmu," cegah sang mama tidak suka.
"Kenapa tidak boleh, Ma? Silvani bukan adik kandungku?"
Serka Davis tidak bisa menolak gejolak, ketika rasa cinta itu begitu menggebu terhadap adiknya sendiri, Silvani yang baru saja lulus sekolah SMA.
Lalu kenapa, sang mama tidak mengijinkan Davis mencintai Silvana? Lantas anak siapa sebenarnya Silvana? Ikuti kisah Serka Davis bersama Silvani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Ikan Sudah Makan Umpan
Mama Verli dan Papa Vero masuk ke dalam diikuti Silva. Davis menatap kepergian ketiganya dengan tatapan kesal. Davis kesal, sang mama tidak juga terpancing dengan isu-isu atau skenario yang sengaja ia perlihatkan.
"Apa mama memang sengaja tidak paham dengan kode yang sengaja aku kirimkan? Mama ini sungguh tega. Besok aku nekad saja, bawa kabur Silva menghadap Pak Ustadz yang bisa menikahkan aku secara siri." Davis terus merutuk dengan sikap sang mama yang tidak peka atas kode yang sengaja Davis perlihatkan.
"Dav, katanya kamu sudah punya calon istri. Anak mana? Mama bilang katanya tidak setuju, sebab gadis itu tidak punya attitude yang bagus. Benar nggak tuh?" celetuk Danis, Davis tiba-tiba saja merasa ada jalan untuk kembali memasang jala untuk sang mama yang dianggapnya egois.
"Aku ...."
"Kamu cepatlah punya ginian, biar tambah betah di rumah. Pulang kerja langsung ada hiburan boneka hidup. Bukankah kamu tadi sempat gendong dede Gavin, kamu bilang sebentar lagi kamu juga bakal nyusul," potong Danis membuat bibir Davis ternganga karena tidak sempat melanjutkan bicara.
"Nyusul, nyusul apaan?" timbrung Mama Verli penasaran sembari mengerutkan kening dalam.
"Nyusul apa lagi, nyusul punya anak dong, Ma. Davis, kan mau punya istri, biar bisa nyusul seperti Bang Danis," jawab Davis berharap Mama Verli terus bicara membahas perempuan yang kemarin ditemuinya di kafe.
Silva yang sejak tadi diam, di dalam hati sibuk bicara. "Beberapa hari yang lalu Kak Davis ngigau bahwa dia mencintai aku, tapi di sini dia bilang mau nyusul punya anak dan istri," batinnya entah apa maksudnya. Silva merasakan dua sisi perasaan yang berbeda. Ia cemburu tapi perasaannya masih sama seperti dulu, yakni menyayangi Davis sebagai kakak.
"Perempuan mana yang mau kamu nikahi? Perempuan yang di kafe waktu itu? Sudah mama katakan, mama tidak setuju dengan gadis itu," tentang Mama Verli. Davis tersenyum, jalanya mulai terulur dan umpannya sepertinya akan segera nyangkut.
"Lalu Davis harus menikahi perempuan mana, Ma, kalau yang ini tidak boleh, yang itu tidak boleh? Janda-janda tua dekat wisma di simpang empat depan kantor Davis?" seloroh Davis meradang sampai-sampai semua yang berada di rumah Danis tersentak menoleh ke arah Davis.
"Bukan begitu maksud mama Davis, bukan janda tua juga. Kamu juga pasti bisa mendapatkan yang baik, kamu bisa memilih dan menilai. Jangan karena dikejar usia, lantas kamu asal mencari dan asal dapat, itu yang mama tidak setuju," ujar Mama Verli lagi.
Davis lama-lama merasa gerah, ia berjingkat lalu menuju pintu.
"Terserah Davis mau dapat yang gimana-gimana. Mama tidak perlu ikut mengatur jodoh Davis lagi. Sekarang, mau seperti apa pilihan Davis, Davis sudah tidak perlu meminta pendapat Mama. Biarkan hidup Davis mau seperti apa, Davis sudah dewasa," dengus Davis seraya berlalu dari rumah Danis tanpa mengucap salam.
"Davis, tunggu," tahan Mama Verli kecewa. Sayang sekali Davis justru sudah memacu motornya dan berlalu.
"Papa, kejar Davis. Mama takut dia pergi dengan wanita-wanita tidak benar," rengek Mama Verli pada Papa Vero. Papa Vero diam, dia sungguh bingung dengan sikap sang istri yang tidak jelas maunya apa.
"Mama, sudah, jangan bikin Davis merasa serba salah lagi. Biarkan dia tentukan jodohnya sendiri. Mama tahu, sebetulnya yang dia mau siapa, tapi Mama teguh dengan pendirian Mama. Oleh karena itu, Mama harus terima, siapapun perempuan pilihan dia," lerai Papa Vero mencoba memberi pemahaman kepada Mama Verli.
"Betul kata Papa, Ma. Biarkan Davis mencari jodohnya sendiri. Kita tinggal doakan, semoga Davis mendapat jodoh yang baik," ujar Danis memberikan pendapatnya.
"Sekarang kedatangan Mama dan Papa untuk cucu pertama Mama, kan? Ayolah, Mama harus ceria, masa cucu Mama sampai tersisih gara-gara mikirin perempuan pilihan Davis," lanjut Danis lagi menyadarkan sang mama bahwa kedatangannya ke rumah Danis adalah untuk menengok sang cucu.
"Ya ampun, maafkan mama, Danis, Sintia. Mama terlalu risau dengan perubahan Davis," balas Mama Verli seraya menghampiri dede Gavin yang kini sedang digendong Sintia.
"Mama ingin Davis mendapat istri yang baik, bukan? Mama tinggal berikan saja Silva pada Davis. Toh, Davis sangat mencintai Silva. Danis yakin, Davis pasti akan bahagiain Silva," bisik Danis mencoba mempengaruhi pikiran sang mama.
Mama Verli terlihat berpikir. Bisikan Danis barusan sangat mempengaruhi pikirannya. Dia tidak mau Davis nyemplung ke dalam lembah kehinaan gara-gara dia mempertahankan prinsipnya, yakni tidak membolehkan Davis menyukai Silva, terlebih memilikinya.
Beberapa hari berlalu setelah pertemuan dengan Davis di rumahnya Danis, Mama Verli tidak sekalipun bisa bertemu dengan Davis. Setiap kali dihubungi, Davis tidak pernah menanggapinya. Hati Mama Verli sedih dan hancur. Dia takut Davis benar-benar berubah, apalagi sekarang mulai terdengar rumor dari Danis, bahwa Davis sudah sering tidak pulang ke rumah.
Dengan bantuan Danis, Danis menyebarkan rumor bahwa Davis ketahuan tidak pulang ke rumah, dia justru keluyuran dan bahkan sempat mabuk-mabukan.
"Apa? Kurang ajar si Davis. Dia makin bertingkah." Tiba-tiba saja tubuh Mama Verli terhuyung dan tumbang.
"Mama. Mama kenapa?" Melihat Mama Verli jatuh pingsan, Danis dan Papa Vero berhamburan menangkap tubuh Mama Verli. Mama Verli dibawa ke ruang tengah lalu dibaringkan.
Beberapa saat kemudian, Mama Verli sadar setelah diberi minyak kayu putih di hidungnya.
"Papa, coba tolong hubungi Davis. Suruh dia pulang ke rumah," suruh Mama Verli dengan wajah sedih.
Papa Vero mengabulkan permintaan istrinya. Sayang sekali Davis tidak mengangkat panggilannya.
"Biar mama yang hubungi. Mama harus bicara dengan dia, asal dia kembali ke jalan yang benar," ujar Mama Verli memutuskan. Papa Vero dan Danis saling tatap seraya mengangkat kedua bahunya.
"Tut, tut, tut."
Panggilan itu masih dibiarkan Davis. Mama Verli sampai meringis dan menjerit karena kesal. "Sabar, Ma, sabar," bujuk Papa Vero seraya mengusap bahu sang istri.
Mama Verli mengulang panggilannya, kali ini panggilannya diangkat.
"Davisss, dengarkan mamaaa. Mama ada penawaran untukmu, asal kamu tinggalkan jalanmu yang salah itu. Insyaflah, Dav. Datang ke rumah, sekarang. Kalau tidak kamu akan menyesal karena dua hal," ucap Mama Verli dengan nada mengancam.
Davis tersentak, tapi hatinya bersorak. Sepertinya sang mama baru kena umpan sampai dia berteriak seperti itu.
"Syukurlah, memang ini yang aku mau. Tapi, tawaran apa maksud mama? Apakah menyetujui perasaan aku pada Silva?" Davis tersenyum penuh kemenangan, akhirnya sang mama kena umpan juga.
Sorenya Davis tiba di kediaman Mama Verli. Sikapnya masih ogah-ogahan. Tentu saja semua ia lakukan untuk menyempurnakan aktingnya.
"Ada apa Mama memanggil Davis ke rumah, lalu penawaran apa yang mau Mama tawarkan?" tanya Davis masih terlihat tidak peduli.
"Kamu boleh memiliki Silva dan mama ijinkan kamu menyukainya, asal tinggalkan perempuan-perempuan tidak jelas itu. Kamu harus kembali ke jalan yang benar. Mama tidak mau kamu terjerumus ke dalam hal-hal tidak benar," pinta Mama Verli membuat hati Davis bersorak bahagia. Ternyata ikan sudah makan umpan dengan baik.
Davis menoleh ke arah Danis, mereka saling memberikan kode, entah kode apa.
akhirnya direstui juga...
nunggu Davis tantrum dulu ya ma
berhasil ya Davis 😆😆😆👍👍