Damien De Santis merupakan pembuat senjata dengan spesifikasi luar biasa. Dia jadi pemasok beberapa organisasi mafia Italia. Namun, dirinya dibuat jengkel, saat berurusan dengan Patrizio Mazza. Damien yang hilang kesabaran memutuskan menghabisinya, kemudian membawa pergi adik tiri pria itu yang bernama Crystal Guida Mazza.
Crystal dijadikan tawanan, hingga rahasia besar tentang gadis itu mulai terkuak. Damien bahkan rela melindungi, setelah mengetahui jati diri Crystal yang ternyata akan sangat menguntungkannya.
Siapakah sosok Crystal? Mengapa dia jadi incaran mafia lain? Lalu, apa alasan Damien mati-matian melindungi gadis itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Kecil
Tanpa banyak bicara, Damien langsung menuju ruang tamu. Dia tertegun sejenak, melihat Oriola yang langsung berdiri menyambutnya.
"Apa kabar, Damien?" sapa Oriola hangat, diiringi senyum manis. Dia terlihat sangat cantik, dengan rambut panjang menutupi punggung.
"Baik. Ada apa?" tanya Damien. Dia melangkah gagah ke dekat sofa, kemudian mempersilakan Oriola agar kembali duduk. Meski demikian, penyambutannya dirasa kurang dari etis. Terlebih, untuk gadis secantik Oriola.
Oriola tetap tersenyum, meskipun sikap Damien terlihat tidak ramah. "Aku hanya kebetulan lewat. Kupikir, tidak ada salahnya mampir dan menyapamu," ucap Oriola, seraya mengalihkan perhatian ke meja. Di sana, ada paper bag dengan logo salah satu merk fashion ternama. "Ini. Untukmu." Dia meraih, lalu memberikan paper bag tadi kepada Damien.
"Apa ini?" tanya Damien.
"Itu hanya hadiah kecil dariku. Anggap saja sebagai tanda perkenalan kita," jawab Oriola, yang tak segan memperlihatkan kaki jenjang khas para supermodel.
Damien sempat melihat betis mulus Oriola sesaat, sebelum kembali mengarahkan perhatian pada gadis cantik itu. "Terima kasih. Kau tak perlu repot-repot begini, Nona D'Franco."
“Tidak ada yang direpotkan. Aku senang memberikan hadiah pada orang-orang yang kuanggap istimewa,” bantah Oriola, berusaha mengakrabkan diri. Gadis itu berpikir kecantikan serta kemolekan tubuhnya, bisa membuat Damien jatuh hati.
“Istimewa?” ulang Damien, seraya memicingkan mata.
Oriola tersenyum manis nan menggoda. Bahasa tubuhnya dibuat seindah mungkin di hadapan Damien. “Kau adalah putra Tuan Emanuele. Sahabat dekat ayahku. Tak salah jika kuanggap dirimu istimewa. Kurasa, kita juga bisa berteman baik," jelasnya enteng.
“Begitu, ya?” Damien tersenyum samar. “Sejauh ini, aku tidak pernah berteman baik dengan wanita.”
Oriola tertawa renyah mendengar ucapan Damien. Dia menganggap itu sebagai candaan, meskipun sebenarnya tidak lucu sama sekali. “Aku sangat memahami itu, Damien. Tidak ada persahabatan yang benar-benar murni, antara pria dan wanita. Begitukan, kan?”
Damien tersenyum kecil. “Ya. Itulah kenapa, aku tak ingin bersahabat dengan wanita manapun.”
Oriola menggeser duduknya jadi lebih mendekat, meskipun berada di sofa berbeda. “Jangan katakan jika kau takut membuat komitmen serius,” pancing gadis itu, setengah berbisik.
Damien tak segera menjawab. Dia menatap lekat gadis cantik berpenampilan anggun dan elegan itu. Entah mengapa, tiba-tiba bayangan Crystal yang justru hadir di pelupuk mata.
“Komitmen?” ulang Damien datar, dengan setengah bergumam. Pria itu menelan ludah dalam-dalam, ketika hatinya mulai dilanda rasa gelisah tanpa alasan yang jelas.
“Ya.” Oriola tak melepas senyum manisnya yang menggoda. “Apakah komitmen dalam hubungan terlalu berat untukmu?"
“Aku tidak tahu, kenapa kita harus membahas masalah seperti ini. Kurasa itu terlalu berlebihan, untuk dua orang yang baru bertemu kurang dari tiga kali. Lagi pula, bila kedatanganmu kemari tanpa ada tujuan yang jelas, sebaiknya —”
“Maaf mengganggu.” Suara lembut Crystal menyela ucapan Damien.
Oriola langsung menoleh. Dia menatap penuh selidik pada gadis cantik bermata biru itu.
“Aku sudah membuatkan makanan kesukaan Anda, Tuan. Sekarang waktunya bersantap siang,” ucap Crystal sopan. Membuat Damien langsung menoleh.
“Semua sudah siap di meja makan, Tuan,” ucap Crystal lagi, diiringi senyum manis yang disertai kerlingan penuh makna.
“Ya.” Damien menanggapi singkat ucapan Crystal. Dia beranjak dari duduk, lalu menoleh pada Oriola. “Apa kau ingin makan siang di sini, Nona D’Franco?” tawarnya.
“Aku sangat terkesan, Damien. Bagaimana mungkin kutolak tawaran itu,” balas Oriola, seraya berdiri sehingga posturnya yang indah terlihat jelas.
“Mari,” ajak Damien. Dia mengarahkan tangan ke salah satu ruangan, yang berada sedikit di belakang ruang tamu.
Dengan penuh percaya diri, Oriola berjalan di sebelah Damien. Sementara itu, Crystal hanya terpaku beberapa saat di tempatnya berdiri, sebelum berbalik dan melangkah ke arah yang sama dengan Damien serta Oriola.
Di meja makan sudah ada Emanuele dan Santiago. Mereka cukup terkejut melihat Oriola, yang muncul bersama Damien. Namun, kedua pria paruh baya itu langsung menyambut hangat putri Ricardo D’Franco. Mempersilakannya bergabung di meja makan.
“Kau juga, Crystal. Bergabunglah di sini bersama kami,” ajak Emanuele, saat melihat gadis itu hanya berlalu di ruang makan.
“Tidak usah, Tuan. Aku bisa ___”
“Masih ada kursi kosong, Nak,” sela Emanuele segera, sebelum Crystal sempat melanjutkan kalimatnya. Dia berdiri, kemudian memundurkan satu kursi untuk si pemilik rambut cokelat gelap tersebut.
Melihat sikap Emanuele terhadap Crystal, membuat Oriola menautkan alis. Dia merasa tergelitik untuk menanggapi. “Anda sangat baik karena mengajak pelayan makan bersama.”
“Crystal bukan pelayan,” bantah Damien datar, tapi terkesan sangat tegas. “Dia adalah asisten pribadiku.” Pria itu mengarahkan pandangan pada Crystal, yang menatapnya dengan sorot penuh arti.
“Oh, begitu. Asisten pribadi,” ulang Oriola, seraya ikut menatap Crystal. “Aku benar-benar minta maaf,” ucapnya, meski terlihat tidak terlalu tulus.
“Tidak apa-apa,” balas Crystal singkat, diiringi senyum simpul.
“Kau sudah menyiapkan makanan di meja. Padahal, di sini ada banyak pelayan. Aku menghargai kerja kerasmu,” ucap Emanuele.
“Aku sudah biasa melakukan itu, dari semenjak Tuan Damien masih tinggal di Palazzo De Santis," jelas Crystal.
“Begitu.” Emanuele manggut-manggut, lalu beralih pada Oriola. “Aku tidak tahu kau berkunjung kemari.”
“Maaf karena tanpa membuat janji sebelumnya. Aku hanya ingin membawakan hadiah kecil untuk Damien," ucap Oriola.
amiliano
alisiano
berharap ada season 2 nya