Paris, 2021.
Tepat lima tahun Wulandari Laksana, 32 tahun, tinggal di kota yang dijuluki La Ville Des Lumiéres (kota cahaya) ini.
Dan tepat di tahun ke lima ini, pernikahannya dengan pria Perancis bernama Pierre, berakhir.
Hancur, tentu saja. Hidupnya seperti berada di titik nadir.
Namun, dia berusaha untuk mengumpulkan kepingan - kepingan hatinya yang hancur, dan mencoba bangkit kembali.
Berbekal kelulusannya dari Universitas Sorbonne, dia melamar menjadi guru Bahasa Inggris di sebuah SMA di pinggiran Paris.
Di sanalah dia bertemu dengan seorang murid bengal, 16 tahun, Maximilian Guillaume, yang membuat hidupnya kembali kacau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Magnifica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Don't Do This To Me.
"Okay, see you tomorrow. Don't forget to do your homework (baiklah, sampai jumpa besok, jangan lupa untuk mengerjakan PR kalian)."
Wulan melemparkan senyumnya pada seisi kelas. Ia menarik napasnya lega. Kelas 11 cukup menyenangkan. Mereka tidak serumit kelas 12, terkhusus kelas literasi. Dan yang membuatnya tenang adalah, ia tidak harus bertatap muka dengan Max.
Satu persatu dipandanginya para siswa yang mulai berhamburan keluar kelas. Ia masih menyunggingkan senyumnya. Namun senyumnya memudar ketika ia menoleh ke arah pintu dan mendapati Max berdiri di sana dengan senyum jahilnya seperti biasa.
"Oh, tidak," ucapnya lirih sembari memegangi dahinya. Ia buru-buru merapikan buku-bukunya dan beranjak dari tempat duduknya.
"Aku butuh bantuanmu." Max menggoyang-goyangkan buku bersampul warna merah yang sedang dipegangnya. "Ada tugas terjemahan dari Madame Bassett. Aku sedikit kesulitan."
Wulan memutar kedua bola matanya. "Yang benar saja, Max. Sejak kapan kau mau mengerjakan tugas?"
"Sejak sekarang. Ayolah, Miss. Aku tunggu di cafetaria, okay?"
"Maaf, Max ... aku tidak bisa."
Max mendecak sebal. "Kau mau aku laporkan ke Kepala Sekolah?" ancam Max dengan senyum miringnya yang sangat menyebalkan di mata Wulan.
"Apa maksudmu?"
"Guru menolak secara terang-terangan untuk membantu siswanya perihal pelajaran tanpa alasan yang jelas."
Wulan mendengus kesal. "Kau mengancamku?"
"Aku tidak punya pilihan, Miss." Max mengangkat kedua tangannya seraya mencebik.
"Tunggu aku di cafe," ujar Wulan malas. Namun Max tertawa senang mendengarnya. Ia pun menghilang di balik pintu. Meninggalkan Wulan sendirian di dalam ruang kelas yang telah kosong. Ia berkali-kali menghela napasnya dan meremas-remas wajahnya dengan gusar.
.
.
Buku berjudul Animal Farm karangan George Orwell itu Max letakkan di hadapan Wulan. Keduanya tengah berada di cafetaria yang cukup ramai.
Max membuka halaman pertama dan mencoret beberapa kata dalam Bahasa Inggris yang tidak ia mengerti dengan pensilnya dan meminta Wulan untuk menerjemahkannya.
"Apa kau tahu ada sebuah buku bernama Kamus?" sindir Wulan.
Max meringis. "Aku malas."
Wulan mendecak. Lalu memeriksa halaman buku dan menunjuk kata-kata yang telah dilingkari pensil oleh Max.
"Exhibited, ensconced, benevolent ... tushes ...." Wulan menyapu kosa kata yang dimaksud oleh Max dengan ujung jari telunjuknya.
Max memandangi Wulan sembari tersenyum dan menaruh kepalanya di atas kedua lengannya yang ia lipat di atas meja.
"Max, kau serius apa tidak?" tanya Wulan jengah.
"Aku serius, Miss," kekehnya.
"Lihat bukunya!" hardik Wulan sembari memukul ujung kepala Max gemas.
"Aku lebih tertarik melihat wajahmu."
Wulan membulatkan matanya. "Aku sedang tidak ingin bercanda, Max."
"Baiklah," ujar Max seraya menarik buku dan menutupnya. "Aku hanya ingin mengobrol denganmu."
Wulan mendengus kesal. "Sudah kuduga." Ia beranjak dari duduknya dan hendak melangkah pergi. Namun Max dengan cepat menahan lengannya.
"Tunggu, Miss. Duduk dulu."
Dengan sangat terpaksa Wulan kembali duduk di kursinya. "Kau mau apa, Max?"
"Masih menanti jawaban darimu."
"Jawaban apa? Pertanyaan yang mana?"
"Lihat aku, Miss," pinta Max seraya memasang wajah seriusnya.
Wulan menatap mata biru di hadapannya itu dengan perasaan kacau.
"Kau suka padaku atau tidak?"
"Please, don't do this to me (jangan lakukan ini padaku), Max," pinta Wulan dengan wajah memelas.
Max tersenyum lebar mendengar jawaban Wulan. "Aku anggap itu sebagai iya." Max menjentikkan jarinya.
Wulan menggeleng. "Dengar ya, Anak Nakal. Ini tidak semudah yang kau bayangkan. Dunia orang dewasa itu rumit. Kau masih harus banyak belajar, okay?"
Wulan kembali beranjak dari duduknya. Mengacak rambut Max sekilas, lalu berlalu dari hadapan pemuda itu.
Max hanya bisa termangu di tempat duduknya. Matanya memandangi sampul buku warna bergambar babi dan kincir angin di depannya itu, namun pikirannya entah berada di mana.
***
"Ada masalah, Wulan?" tanya Adrienne ketika melihat Wulan yang baru saja masuk ke ruangan mereka dengan wajah yang lesu.
"C'est compliqué (rumit)," jawab Wulan sembari menarik kursinya dan menghempaskan badannya di sana.
Adrienne sepertinya sudah dapat menebak apa yang menjadi masalah Wulan. Ia menggeser kursinya mendekat ke kursi rekannya itu.
"Maximilian?" tanya Adrienne membuat Wulan memijit keningnya yang mulai berdenyut.
Wulan mengangkat kepalanya, lalu memandang sekeliling ruangan. Hanya ada ia dan Adrienne. Paul dan Monique sepertinya masih mengajar.
"Kau jatuh cinta pada anak itu, ya?" Adrienne kembali bertanya. Lebih tepatnya menebak.
Wulan menelan ludahnya. Ia bingung harus menjawab apa. Ia hanya menghela napas dalam-dalam.
"Tenang saja, Wulan. Rahasiamu aman bersamaku." Adrienne menepuk-nepuk punggung tangan Wulan.
"Entahlah, Adrienne, aku benar-benar bingung dengan perasaanku sendiri."
"Aku sudah beberapa kali memperingatkanmu, Wulan. Bahkan sejak pertama aku melihatmu mulai dekat dengan Max."
Wulan mengelus rambutnya sembari memijit kepalanya. "Aku tahu, Adrienne, aku tahu. Entah sejak kapan perasaan itu muncul. Dan kenapa?Apa karena aku memang wanita yang benar-benar kesepian? Ya Tuhan!"
Adrienne menghela napasnya pelan. "Kau belum terlalu jauh dengan Max, bukan?"
Wulan menggeleng. Belum terlalu jauh? Adegan memalukannya dan Max di atas ranjang bagaimana?
"Ya, kalau kau tidak mau terkena masalah, jauhi Max segera."
"Aku sudah berusaha menghindarinya. Kau tahu, aku pindah mengajar di kelas 11 hanya untuk menghindarinya."
"Dan Max masih mengejarmu?" tanya Adrienne, dibalas dengan anggukan kepala Wulan. "Aku punya ide."
Wulan menaikkan alisnya. "Ide?"
"Kau pacaran saja dengan Damien."
"Oh tidak, tidak. Jangan Damien."
Adrienne mencebikkan bibirnya. "Memangnya kenapa? Dia tampan, dia berasal dari keluarga berada, dia menyukaimu, dan yang penting adalah dia seumuran denganmu, Wulan."
"Karena dia ...." Wulan menggantung kata-katanya. "Pokoknya aku tidak tertarik pada Damien."
"Apa salahnya mencoba membuka hatimu untuknya?"
"Tidak bisa!" jawab Wulan dengan tegas. "Maksudku, aku benar-benar tidak berminat."
Adrienne mendecak. Lalu mengelus hidungnya tanda ia tengah berpikir. "Tapi kau tetap harus mencari pacar, Wulan. Max pasti akan mundur dengan sendirinya kalau tahu kau sudah punya pria yang ... serius, misalnya. Kalau kau masih sendiri, anak itu akan terus mengejarmu dan lama-lama kau tidak bisa menolak pesonanya," kekehnya. "Ya, kuakui Maximilian memang bocah bengal yang tampan," guraunya. Membuat Wulan menyunggingkan senyum tipisnya.
"Mencari seorang pria untuk kujadikan pacar. Di mana aku bisa menemukan pria itu?" gumam Wulan.
"Teman-teman lamamu di Sorbonne?"
"Hilang kontak."
Adrienne berpikir sejenak.
"Ah, akan kukenalkan kau pada seorang temanku."
***
***
***
sunggu max bikin duniaq jungkir balik kak thor...q bener2 merasa max sosok yg nyata yg ingin q temui setiap menit.
karymu sunggu luar biasa ❤️❤️
tapi dr 2 novel (ben-laras,max-wulan)q merik kesimpulan bahwa kak lady menyukai laki2 bermata biru.🤭
modyaaarrrrr😡😡😡
bahsanya tidak monoton dan mudah dimengerti serta ceritanya juga menarik..semangat terus kak lady😍