Dosenku istriku season 2
(Sebelum membaca kisah ini diharapkan membaca karyaku yang berjudul DOSENKU ISTRIKU)
Kisah ini dimulai ketika Nicholas Allendra, atau pria periang yang akrab dipanggil Nico dihadapkan pada sebuah pilihan antara mengejar cinta pertamanya atau menuruti kemauan sang Mama yaitu menikahi Diana, gadis lugu yang masih berusia sembilan belas tahun.
Tak ingin semakin menyakiti perasaan Mamanya akhirnya Nico menerima pernikahan tersebut. Dia harus siap menerima setiap tingkah kekanakan dan manjanya Diana. Juga menerima berbagai olokan dari teman-temannya.
"Kita memang menikah, kita suami istri tapi tetap saja aku menganggap mu seperti adik kecilku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Dewi Annisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 menanggung akibatnya
Dua orang yang sebelumnya terlihat begitu bersemangat kini seketika berubah menjadi lesu bahkan ketakutan juga. Pasalnya orang yang harus dia hindari justru kini berada di hadapannya.
"Kalian bukannya kerabat Nico kan?" Shaka bertanya santai namun dengan sorot matanya yang tajam.
"i-iya.. tantenya Nico." ucap tante Mila ragu.
"Ah ya.. kebetulan sekali, kalian pasti tahu siapa saya?" ucap Shaka lagi.
"kamu.. kakak iparnya Nico." jawab Tante Mila.
"Lebih tepatnya kakak Diana. Aku lebih senang dikenal begitu, kakak dari adik kesayanganku." Shaka semakin menajamkan tatapannya hingga membuat Tante Mila dan juga Ciara terlihat semakin gugup.
"Ngomong-ngomong apa yang kalian lakukan di rumah Mamaku?" tanya Shaka sambil melirik sebuah koper besar yang ada di samping Ciara.
"Emm.. i-itu, kami hanya ingin mengunjungi teman lama saja. Vanya adalah teman sekolahku."
"Mampus, kenapa aku tidak tahu kalau anak Vanya adalah Shaka? bisa-bisanya aku menjemput masalah baru lagi ini." gerutu Tante Mila dalam hati.
Tante Mila mulai panik sendiri dia benar-benar tak menyangka harus menghadapi Shaka pada akhirnya. Dia juga tahu bagaimana temperamen Shaka terhadap orang yang tak disukainya. Melihat tatapan dan aura intimidasi dari pria tersebut saja rasanya Tante Mila ingin menghilang saja dari muka bumi ini.
Berbeda dengan Ciara. Dia justru merasa tertarik terhadap Shaka. Meski tatapannya begitu dingin namun dalam hatinya dia benar-benar mengakui ketampanan Shaka.
"Sayang sekali mamaku sedang keluar. Atau kalian mau tunggu didalam saja?" tawar Shaka.
"Tidak, kami pulang saja." tolak Tante Mila seketika.
"Maa.. kok pulang sih. Kita capek-capek kesini tau. Numpang istirahat sebentar ya." rengek Ciara.
"Tapi Ciara.. " Tante Mila melototi putrinya agar menurut.
"Benar kata putrimu. Harusnya kalian santai dulu di dalam palingan mama tidak lama kok." Shaka masih mencoba basa-basi.
"Emm.. tidak perlu.." belum sempat Tante Mila meneruskan ucapannya tiba-tiba Ciara menyela.
"Iya makasih kak.. aku capek banget hari ini panas cuacanya." Ciara langsung menyelonong masuk dan membuat Shaka merasa senang. Senang karena rencananya berjalan sesuai harapan.
Tak perlu susah-susah dirinya mencari keberadaan dua orang itu akhirnya Shaka malah dipertemukan di depan matanya.
Jika Ciara memasuki rumah tersebut dengan antusias beda halnya dengan tante Mila yang tampak ragu. Sebab dia takut jika Shaka akan membahas masalah adiknya.
"Wah, ini rumahnya tante Vanya ternyata bagus dan nyaman banget. Nggak kalah keren sama rumahnya Om Nathan." puji Ciara.
"Kalian mau minum apa?" tanya Shaka.
"Apa aja boleh kak, oh ya kenalkan aku Ciara sepupunya kak Nico.". Ciara mengenalkan dirinya pada Shaka.
"Meskipun usianya tergolong sudah matang namun Kak Shaka masih terlihat keren banget. Apalagi dia seorang direktur perusahaan yang cukup besar. Pasti tajir banget deh." batin Ciara.
"Shaka.." jawab Shaka singkat.
Sambil menunggu minuman selesai dibuatkan oleh ART yang ada di rumah Mama Vanya, Shaka pun ikut duduk di sofa ruang tamu. Dia memperhatikan dua orang yang ada di depannya itu sambil sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya.
Ciara yang merasa dirinya sejak tadi ditatap oleh Shaka pun terlihat semakin senang. Bahkan dengan sengaja dia mencoba untuk menggodanya dengan gestur tubuh yang dibuat-buat.
"Tujuan kalian kesini sebenarnya apa? kenapa bawa koper besar begitu?" kini Shaka mulai mengorek pertanyaan.
"Emm.. itu, sebenarnya kami mau pulang ke rumah tapi mumpung masih ada waktu jadinya mampir dulu." cap Tante Mila beralasan.
"Mampir? bukankah arah bandara jauh dari sini? bahkan ini berlawanan dengan rumah Om Nathan." Shaka tersenyum smirk.
"Emm.. itu.. maksudku aku hanya ingin menyambung hubungan saja. Kan bagus kalau kita selalu berkomunikasi." Tante Mila mencoba mencari alasan.
"Hubungan yang mana? saling memanfaatkan? atau menjatuhkan?" ucapan Shaka langsung membuat tante Mila dan Ciara tersedak saat minum.
"Emm.. maksudnya kak Shaka apa ya?" Ciara mencoba menyela.
Shaka tak menjawab dan hanya tersenyum. Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya pada Tante Mila dan Ciara.
"Bacalah..." ucap Shaka.
"SEPASANG IBU DAN ANAK MENJADI DPO ATAS KASUS PENGGELAPAN DAN Penipuan INVESTASI BODONG. BILA MENEMUKAN BISA SEGERA MENGHUBUNGI KANTOR POLISI TERDEKAT" Terpampang foto Tante Mila dan Ciara dalam berita tersebut.
"Bukankah ini kalian?" Shaka tersenyum smirk.
Kedua netra Ciara dan Tante Mila membulat sempurna. Dia tak menyangka perbuatannya akan dilaporkan oleh seseorang.
"i-itu.. itu pasti bohong. nggak benar, nggak mungkin kami melakukan hal itu." Tante Mila langsung berdiri dengan tatapannya yang mulai kacau.
"Ma, mending kita pergi sekarang. Kita udah ketahuan." bisik Ciara kepada mamanya.
Ciara dan tante Mila pun segera beranjak dari tempat duduknya.
"Maaf Shaka, tante pikir sebaiknya tante harus berpamitan sekarang. Pesawat kami setengah jam lagi mau take off jadi kami harus bergegas. Terimakasih atas waktunya." Tante Mila langsung berjalan keluar rumah itu.
Namun baru saja dia membuka pintu langsung dikejutkan oleh dua orang berseragam polisi.
"Selamat siang, kami membawa surat penangkapan kepada anda, atas nama Milanina dan juga Ciara Savaya." Ucap salah satu polisi tersebut.
"Kalian salah orang Pak. Kami tidak melakukan apapun." Tante Mila langsung mengelak dan hendak kabur namun polisi tersebut langsung menahannya dan juga Ciara.
"Jelaskan saja nanti di kantor polisi." tangan Tante Mila dan Ciara langsung di borgol karena terus melawan petugas.
"Nggaakk.. aku nggak mau di penjara ma.. aku nggak mau.." Ciara terus merengek dan menangis.
Tante Mila menatap Shaka dengan penuh amarah. Dia tak menyangka kedatangannya untuk mencari bantuan malah mengantarkannya pada kesialan.
"Terimakasih Pak Shaka atas kerja samanya." ujar petugas polisi tersebut.
"Sama-sama Pak, saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Sebagai warga negara yang baik tentu harus taat pada aturan." Shaka tersenyum sambil menatap dua orang yang kini sedang digiring ke dalam mobil petugas kepolisian.
"AWAS KAU SHAKA.. AKU AKAN MEMBALASMU." Umpat tante Mila dengan penuh emosi.
"Aku bahkan tidak melakukan apapun." Shaka tersenyum mengejek sambil menggelengkan kepala.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti orang-orang kesayanganku." gumam Shaka lirih.
Sejak Shaka mendengar fakta bahwa Diana disakiti oleh Tante Mila dia pun menjadi berang dan marah. Awalnya dia ingin membalas langsung dengan cara yang sama namun dia kembali memikirkan reputasinya. Dia tak ingin gegabah sehingga meminta orang kepercayaannya untuk mencari tahu tentang latar belakang tante Mila dan Ciara. Fakta mencengangkan dia dapatkan bersamaan dengan itu beberapa korban penipuan investasi bodong yang dijalankan ibu dan anak tersebut ke polisi. Alhasil Shaka mendapatkan banyak kemudahan. Dia tak perlu membalasnya dengan ke kerasan hanya perlu memberi pelajaran dengan menyerahkan mereka ke pihak berwajib.
*****
Dengan sorot penuh kekecewaan Papa Nathan menatap dua orang wanita di depannya yang kini memakai baju tahanan. Wajah yang tak pernah dia sangkakan akan berada di tempat ini.
"Mas, aku mohon bantu aku dan Ciara, apa kalian nggak kasian lihat kami di tahan begini. Apalagi Ciara masih muda, masa depannya masih panjang." tante Mila terus memohon kepada Papa Nathan.
"Iya om.. aku harus kuliah, aku malu banget kalau sampai teman-temanku mengetahui ini. Om pasti carikan pengacara terbaik kan?" Ciara kini ikut merengek.
Papa Nathan tak mengatakan apapun. Sementara dia hanya bisa memijat keningnya. Kepalanya terasa begitu pusing memikirkan masalah yang ada.
"Mas.. ayolah jawab kami, tega kalau sampai kamu gak bebasin kami." Kini tante Mila berucap lebih lantang.
BBRRAAKK..
Papa Nathan langsung menggebrak meja di hadapannya. Hal itu membuat sepasang ibu dan anak itu langsung pias. Apalagi dengan tatapan tajam yang menyimpan emosi tersebut.
"CUKUP.. Kalian yang berbuat maka kalian yang harus menanggung akibatnya. Sudah berapa kali dulu ayah berurusan dengan polisi hanya karena ulahmu. Aku pun lelah harus menutupi semua kesalahan yang kau perbuat. Kali ini aku tak mau lagi membantu kalian. Nikmati saja semuanya, itu yang kalian harus hadapi." Papa Nathan pun beranjak dari duduknya dan mulai berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Mas.. jangan pergi, MAS.. TEGA KAMU SAMA ADIKMU SENDIRI MAS..." Tante Mila terus berteriak meski teriakan itu tak lagi direspon oleh Papa Nathan.
Papa Nathan kini sudah berada di dalam mobil. Dia langsung menyandarkan kepalanya pada sandaran jok mobilnya.
Dia menatap foto Mama Vania yang ada di ponselnya. Rasa rindu itu tak kuasa dia bendung sehingga dia segera menyalakan mesin kendaraannya dan melaju menuju tempat peristirahatan terakhir sang istri tercinta.
****
Sebuah makam yang masih baru bahkan bunga-bunga yang bertabur belum sepenuhnya layu karena beberapa kali Papa Nathan maupun Nico selalu mendatangi dan menabur bunga di atas gundukan tanah itu.
"Ma.. maafkan aku harus mengeluh lagi, kepada siapa lagi aku harus mengeluh jika tak kepadamu dan kepada Tuhan. Rasanya sungguh berat sendirian begini, aku butuh pelukanmu untuk sekedar menenangkan hatiku. Maaf aku terlalu egois, harusnya mama bahagia sekarang sudah tak merasakan sakit lagi, tapi merelakan mu untuk saat ini benar-benar belum bisa aku lakukan. Aku merindukanmu, aku... aku masih membutuhkanmu, kenapa kamu harus meninggalkanku secepat ini Vania. Aku bisa kehilangan arah." Air mata sudah mengalir membasahi pipi pria paruh baya itu yang tengah bersimpuh di atas pusara sang bidadari tercinta.
...****************...
makasih thor sudah memberikan karya yang sangat menarik..semangat terus berkarya thor
terimakasih untuk ceritanya thor
.
turut berduka cita dan berbela sungkawa juga buat Bianca
kenapa ga mau adopsi???