NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!
JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤
"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"
"MarcoI—itu apa?"
"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."
"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"
"Ssstttt, Cobalah... "
"Ini sakit!"
"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"
"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"
Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.
Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Tunggu!" gumamnya pelan.
Mauren menoleh. "Ada apa, Sayang?"
Liora menunjuk Marco dengan jari gemetar. "Jadi, dia adik angkat ibu?"
"Iya."
"Artinya dia paman angkatku?"
"Iya."
Liora langsung memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut. "Sial!"
Marco yang sedang melanjutkan minum hampir tersedak. "Hei! Kenapa reaksimu begitu?"
"Karena wajahmu sudah tua!"
"Aku masih dua puluh delapan anak muda, hanya saja aku masih harus melanjutkan S2!"
"Apa yang ku katakan kau tua dan kau menjadi paman!"
Mauren menahan tawa melihat keduanya. Marco menyeringai jahil lalu mendekat.
"Dengar Keponakan, aku masih muda."
"Jangan panggil aku keponakan!"
"Dengar aku, Keponakan cantik."
"Marco!"
"Mulai sekarang hormati pamanmu."
Liora mengejeknya. "Bermimpilah Marco!"
Mauren tertawa lepas. Sejak bertemu kembali dengan putrinya, mansion itu dipenuhi suasana hangat dan riuh oleh pertengkaran kocak antara paman angkat dan keponakan angkat yang usianya terpaut jauh.
"Argh bagaimana bisa aku tinggal dengannya."
Marco justru tersenyum puas. "Karena takdir sangat menyayangiku, Keponakan."
"Lihat, Bu! Dia mulai lagi!"
Mauren hanya menggeleng sambil menahan tawa. "Kalian baru bertemu lima menit sudah seperti kucing dan anjing."
"Bukan salahku," protes Liora cepat. "Dia yang menggangguku duluan."
"Aku hanya menyambut anggota keluarga baru," balas Marco santai.
"Dengan memanggilku gadis culun?"
"Itu karena kau memakai kacamata."
Liora langsung melepas kacamatanya. Marco memperhatikannya beberapa detik.
"Hm. Ternyata cantik juga."
Liora mendelik kesal, Mauren menatap Marco curiga. Marco sendiri tampak santai, seolah tidak mengatakan apa-apa. Sedangkan wajah Liora perlahan memerah.
"Dasar aneh!" gerutunya sambil mengenakan kembali kacamatanya.
Marco tertawa. "Aku hanya jujur."
"Ibu, sebaiknya aku ke kamar dulu. Tugas kuliahku masih banyak," ucap Liora sambil berdiri dari kursinya.
Mauren mengangguk pelan. "Baiklah, sayang. Jangan tidur terlalu larut."
"Iya, Bu."
Liora segera meninggalkan ruang makan. Ia mengikuti seorang pelayan yang mengantarnya menuju lantai dua mansion itu. Namun langkahnya perlahan melambat saat melihat deretan kamar yang begitu mewah.
"Kamarku yang mana tadi aku lupa?" tanyanya.
"Yang ini, Nona."
Pelayan itu membuka sebuah pintu besar berwarna putih gading.
"Ya Tuhan..." gumamnya.
Setelah pelayan pergi, Liora mulai menjelajahi kamarnya. Namun tiba-tiba ia mengernyit saat melihat sebuah pintu lain di sisi ruangan.
"Hm?"
Dengan rasa penasaran, ia mendekat. Saat memutar gagangnya, pintu itu terbuka. Dan di saat yang bersamaan.
"Kau sedang apa?"
Suara laki-laki membuat Liora hampir melompat karena terkejut.
"HAH!"
Di balik pintu itu berdiri Marco dengan kaus hitam, pria itu sudah mengganti pakaiannya dengan begitu cepat.
"Kenapa kau bisa masuk?"
Liora menunjuk pintu di antara mereka dengan wajah tidak percaya.
"Tunggu!"
Marco menghela napas panjang. "Ya. Itu pintu penghubung."
"Apa?"
Liora langsung menatap ke arah kamar Marco. Kamar itu ternyata berada tepat di sebelah kamarnya.
"Kita sekamar?"
"Bukan!" sahut Marco cepat. "Kamar kita berbeda. Hanya saja terhubung."
"Itu sama saja!"
"Tidak sama!"
Liora memegangi kepalanya. "Kenapa dari sekian banyak kamar di mansion ini aku harus berada tepat di sebelah kamarmu?"
Marco mengangkat bahu santai. "Mungkin takdir."
"Jangan bicara seperti itu!"
Marco tertawa kecil melihat ekspresi kesal gadis itu. Lalu dengan santainya ia menunjuk pintu penghubung tersebut.
"Tenang saja. Aku tidak tertarik masuk ke kamarmu."
"Bagus."
"Tapi kalau kau yang masuk ke kamarku tengah malam, aku tidak keberatan."
Wajah Liora langsung memerah padam.
"MARCO!" teriaknya
"Hahaha!"
Liora mendorong dada Marco. Pria itu terhuyung mundur kembali ke kamarnya kamarnya.
Brak!
Liora segera menutup pintu penghubung itu sekuat tenaga. Dari balik pintu masih terdengar suara tawa Marco yang membuatnya semakin kesal.
"Sial!" gerutunya sambil menjatuhkan tubuh ke atas kasur.
Baru hari pertama tinggal di mansion itu, dan ia sudah mendapatkan satu masalah besar bernama Marco. Hari ini terasa sangat melelahkan bagi Liora. Tubuhnya masih menggigil akibat hujan deras yang mengguyur dirinya beberapa jam lalu. Rambut panjangnya yang telah mengering masih terasa kusut, sementara kepalanya berdenyut pelan karena terlalu banyak kejadian yang terjadi dalam satu hari.
Setelah bertahun-tahun hidup dalam kesulitan, ia akhirnya menemukan keluarga kandungnya. Seharusnya itu menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Namun kenyataan tidak sesederhana itu. Liora menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk di kamar barunya.
"Ya Tuhan..." gumamnya sambil menutupi wajah dengan bantal.
Awalnya ia harus menghadapi hujan deras. Lalu kejutan tentang identitas keluarganya. Dan yang paling menyebalkan, Marco. Pria menyebalkan yang selama ini gemar menggodanya di kampus. Liora memejamkan mata kuat-kuat.
"Aku bisa menerima kenyataan kalau aku ternyata anak orang kaya. Hm. Aku juga bisa menerima kenyataan kalau aku punya ibu kandung yang sangat baik. Tapi kenapa harus Marco?" Liora langsung bangkit duduk. "Dan kenapa dari jutaan manusia di Amsterdam, dia harus menjadi pamanku?"
Semakin dipikirkan, semakin membuatnya kesal. Wajah Marco yang selalu memasang senyum jahil itu langsung terbayang di kepalanya.
"Hei gadis culun. Hei kutu buku. Hei kacamata."
Liora meremas bantal.
"Menyebalkan!"
Tok.
Tok.
Tok.
Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu kamarnya.
Liora mengerutkan dahi. "Masuk."
Pintu perlahan terbuka. Namun, saat melihat siapa yang berdiri di sana, wajah Liora langsung berubah datar.
"Kenapa kau?" Marco bersandar santai di ambang pintu.
"Aku hanya ingin memastikan keponakanku tidak pingsan setelah mengetahui aku pamannya."
"KELUAR!"
Marco tertawa keras.
"Hahaha! Wajahmu merah sekali."
Liora mengambil bantal lalu melemparkannya tepat di wajah Marco.
Marco menangkap bantal itu dengan mudah.
"Refleks yang bagus."
"Aku akan lebih senang kalau bantal itu mengenai wajahmu."
"Wah, keponakanku galak sekali."
"Jangan panggil aku keponakan!"
"Kalau begitu panggil aku Paman Marco."
Liora membeku. Kemudian menunjuk pintu.
"Keluar."
"Tapi—"
"Keluar."
"Tapi aku—"
"KELUAR!"
Marco akhirnya mundur sambil tertawa.
"Baiklah, baiklah. Selamat beristirahat, Keponakan."
Pintu tertutup. Kamar kembali sunyi.
Liora menjatuhkan tubuhnya ke kasur sekali lagi. Ia menatap langit-langit beberapa saat sebelum menghela napas panjang.
"Aku tidak akan pernah tenang selama pria itu tinggal di rumah ini."
Tanpa ia sadari, kehidupan barunya bersama keluarga kandungnya baru saja dimulai. Dan Marco kemungkinan besar akan menjadi sumber sakit kepala terbesar dalam hidupnya.