NovelToon NovelToon
DENDAM MAWAR

DENDAM MAWAR

Status: tamat
Genre:Thriller / Roh Supernatural / Balas Dendam / Horor / Tamat
Popularitas:283.4k
Nilai: 4.5
Nama Author: Muzu

Sebut saja Mawar, sebuah nama yang diambil dari tumbuhan perdu, berduri, berbau wangi, dan berwarna indah. Mawar juga melambangkan romantisme, cinta, keindahan, dan keberanian. Namun, gadis yang bernama Mawar ini tidaklah seperti gambaran dari definisinya. Tragedi mengerikan membuat sang mawar menjadi layu, kering, dan dipenuhi oleh dendam yang membara.


Dari tragedi itu, Mawar tidak hanya menjadi korban kebiadaban para penjahat, ia pun harus menanggung fitnah yang mengarah padanya.


Dalam kondisi batin yang terguncang hebat, Mawar meneguhkan hatinya untuk membalas dendam tragedi nahas yang menimpa diri dan keluarganya.


Bagaimana cara Mawar dalam membalaskan dendam dan siapakah yang dapat menghentikannya? Simak terus ceritanya dalam novel yang kalian baca ini!


Kisah ini murni dari karangan dan imajinasi author. Selamat Membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mawar Berkabung

Mawar terdiam, matanya membelalak tidak percaya. Hatinya berdegup kencang, mencoba memahami apa yang baru saja ia lihat. Rasanya seperti ada yang tidak beres, dan sebuah kecemasan mulai merasuki pikirannya.

“Tidak mungkin … ini tidak mungkin. Sore tadi Ucrit ada ber ….” Mawar tiba-tiba mengingat keganjilan Ucrit yang sebelumnya diabaikan. 

Ucrit yang datang menemuinya terlihat pucat dan kulit tubuhnya terasa dingin. Mawar baru menyadarinya, tetapi sudah terlambat. Ia kalut dan terasa mau meledak isi kepalanya. 

“Aku harus memastikannya, harus, harus, harus …!” teriak Mawar sambil memukuli kasur dengan keras.

Mawar yang diselimuti kemarahan hampir meledakkan seisi kamar dengan kekuatan sihirnya, beruntung bisa meredakan sedikit emosinya sebelum menjadi terlalu destruktif. Pikirannya langsung tertuju pada pesawat telepon di dekatnya, menggebu untuk mencari kepastian atas apa yang baru saja ia saksikan di berita.

Dengan gerakan tangan yang cepat, Mawar menggenggam gagang telepon dan memutar nomor Gracia, berharap mendapatkan jawaban atas kebingungannya.

“Halo, Nona Gracia,” sapa Mawar begitu panggilan terhubung.

“Halo juga, Nona Mawar. Apa yang bisa saya bantu?” jawab Gracia dengan ramah.

“Saya baru saja melihat berita tentang kecelakaan yang terjadi siang hari tadi tak jauh dari bandara. Bolehkah saya meminta informasi apa pun terkait berita itu?” Mawar bertanya dengan nada tegang.

“Tentu saja. Mohon Anda menunggu sebentar. Saya akan mencetak berita terkait dan mengirimkannya segera kepada Anda,” Gracia menjawab dengan sigap.

“Terima kasih, Nona Gracia.” Mawar segera memutus sambungan, menanti dengan cemas atas informasi yang akan segera diterimanya.

Tak berapa lama kemudian, bel berbunyi dan Mawar bergegas untuk membukakan pintu. Tanpa banyak percakapan, Mawar menerima lembaran cetak berita dari tangan Gracia dengan ekspresi serius, siap menyelami setiap kata yang tercetak di atas kertas tersebut.

“Solihin,” desis Mawar begitu menyebutkan nama sang kekasih yang termuat dalam berita.

Retina matanya melebar, tatapannya nanar, dan tubuhnya bergetar keras begitu membaca ciri-ciri yang sama dengan Ucrit.

“Ucrit masih hidup, dia tidak mungkin mati. Benar, kan, Nona Gracia?” Mawar mencengkeram pundak Gracia dengan kekuatan yang membuat wanita muda itu meringis kesakitan, matanya mencari-cari jawaban di mata wanita di depannya.

“Jawab aku, benar kan, Ucrit masih hidup? Jawab!” gertak Mawar memaksa Gracia untuk memberikan jawaban yang diinginkannya.

Keringat dingin mengucur deras dari pori-pori kulit wajah Gracia. Wajahnya pucat dan matanya memancarkan ketakutan yang tak tersembunyi saat dihadapkan pada kemarahan Mawar yang memenuhi ruangan. Adanya tekanan dan intimidasi membuatnya tak mampu berbicara, hanya mematung seperti patung tanpa ekspresi.

Mawar, merasa semakin terdesak oleh kebuntuan situasi, melepaskan cengkeramannya dan beralih memukuli dinding di dekatnya dengan penuh keputusasaan, hingga membuat kepalan tangannya berdarah dan menggema kesakitan yang melingkupinya.

Gracia tersungkur jatuh dalam ketakutan, tubuhnya bergetar dan dia menahan rasa ngilu di pundaknya yang masih terasa oleh cengkraman Mawar. Meskipun demikian, dia berusaha semampunya untuk menyikapi situasi dengan tenang, menjaga profesionalisme yang telah diembannya. Dengan napas yang dalam, dia mencoba menenangkan diri, mengumpulkan keberanian untuk menghadapi keadaan yang tidak terduga ini.

Saat Mawar memperlihatkan tanda-tanda bahwa amarahnya mulai mereda, Gracia berdiri tegak, menunggu dengan sabar sambil menahan rasa sakit di pundaknya. Wajahnya tetap tenang meskipun jantungnya masih berdebar keras. Dia tahu bahwa dia harus tetap berada dalam kendali untuk memberikan bantuan yang diperlukan.

Setelah beberapa saat, amarah Mawar mulai mereda, wajahnya lemas dan tersandar di dinding yang kotor oleh darahnya sendiri. Gracia dengan lembut mengusap punggung sang gadis, mencoba memberikan sedikit ketenangan.

“Nona Mawar, mari kita masuk ke dalam kamar,” kata Gracia dengan suara lembut, memimpin Mawar ke dalam kamar dan menyandarkannya di atas sofa.

“Jika Anda membutuhkan bantuan apa pun, tolong hubungi saya,” tambahnya dengan ramah sebelum meninggalkan Mawar sendirian dalam keheningan kamar.

"Tunggu!" desis Mawar dengan tegas, suaranya memecah keheningan ruangan.

Gracia yang hampir melangkah keluar dari kamar, segera menghentikan langkahnya dan dengan sigap berbalik menghadap Mawar. Matanya penuh perhatian, siap untuk memberikan bantuan apa pun yang diperlukan.

"Dengan senang hati, Nona. Apa yang bisa saya bantu?" ucapnya dengan ramah, wajahnya tetap tenang meskipun dalam hatinya ia merasa gelisah.

“Aku harus pergi melihat kekasihku. Bisakah Nona meminjamkan kendaraan?" kata Mawar dengan cepat, langkahnya mendekati Gracia.

"Tentu saja. Mari ikut saya!" jawab Gracia dengan mantap, lalu memimpin Mawar ke luar menuju parkiran yang berada di lantai dasar.

Mawar dengan cepat menyusul Gracia dan segera memilih mobil sedan yang tersedia begitu sampai pada area parkir khusus. Tanpa menunggu lebih lama, ia langsung mengendarai mobil tersebut, meluncur cepat meninggalkan area bandara, hatinya dipenuhi oleh kekhawatiran dan keinginan yang mendesak untuk menemui kekasihnya.

Di tengah malam yang sunyi, jalanan sepi dan seolah-olah berbicara dengan kesepian. Mawar memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, mengabaikan semua rintangan di jalan. Lampu-lampu jalan menyinari jalanan kosong dengan sinarnya yang redup, menciptakan suasana yang semakin suram di sekitar.

Tak butuh waktu lama bagi Mawar untuk sampai di sebuah gang yang sempit, di mana kediaman Ucrit berada. Di tembok gang, terlihat bendera kuning berkibar lemah ditiup angin malam. Hatinya berdesir, dan jantungnya berdegup kencang, seolah-olah mencoba untuk melonjak keluar dari dadanya. Bayangan-bayangan mengerikan melintas di benaknya, memenuhi pikirannya dengan ketakutan yang menggelisahkan.

Mawar membayangkan bagaimana tubuh Ucrit mungkin terbaring kaku dalam balutan kain kafan di dalam rumahnya, atau mungkin saja hanya tinggal kenangan yang tersisa, sebuah kuburan yang dihiasi oleh kelopak bunga yang layu di atas tanah basah. Kedua pikiran itu begitu menakutkan bagi Mawar, membuatnya merasa hampir kehilangan akal sehat. Akan tetapi, di tengah keputusasaan dan ketakutan itu, dia tahu bahwa dia harus menghadapinya, apa pun yang menunggunya di depan sana. 

Setelah memarkir mobilnya di depan warung yang sudah tutup, Mawar melangkah dengan langkah berat memasuki gang yang gelap. Cahaya remang-remang dari lampu jalan hanya menyoroti sebagian kecil dari jalanan sempit yang dipenuhi dengan deretan rumah. Udara malam yang dingin menyelimuti langkahnya, menciptakan aura kesunyian yang menyeramkan di sekelilingnya.

Beberapa langkah pertama di dalam gang, Mawar menemui sebuah adegan yang tidak terduga. Sekelompok bapak-bapak tampak sedang berdiri di tengah jalan setapak, sementara suara perdebatan yang keras dan tegang terdengar dari mereka. Satu di antara mereka, yang tampak paling emosional, dengan keras mencoba meyakinkan yang lain tentang sesuatu yang tidak Mawar mengerti.

Tidak ingin terlibat dalam urusan mereka, Mawar mencoba melewati mereka dengan hati-hati. Namun, keingintahuannya tak terbendung ketika mendengar potongan-potongan kata-kata yang terucap dari mulut mereka. Mereka membicarakan tentang darah yang masih menetes keluar dari mulut jenazah. Detik itu, kisah Ucrit yang mengunyah kelopak mawar berdarah langsung muncul di benak Mawar. Hatinya berdegup kencang, dan rasa cemas melanda dirinya seperti ombak yang menghantam pantai. Apakah ini sebuah firasat? Ataukah hanya kebetulan? Mawar tidak bisa mengabaikan perasaan aneh yang menyelinapinya. 

Langkah Mawar terhenti di ambang pintu yang terbuka, memperlihatkan pemandangan yang tak terbayangkan sebelumnya. Di dalam ruangan terbaring seorang manusia yang terbungkus kain kafan, dikelilingi oleh sekelompok ibu-ibu yang tengah membacakan ayat-ayat suci dengan suara hening.

“Neng Mawar,” lirih suara Bu Ijah menyapa, menciptakan getaran kecil di ruangan yang sepi. Tatapan Mawar masih terpaku pada jenazah yang terletak di depannya. Bu Ijah bangkit dari tempat duduknya dengan langkah gemetar, lalu merangkul Mawar dengan erat.

Mawar masih terdiam, matanya terus memperhatikan jenazah tanpa bisa memikirkan apa pun. Namun, ketika Bu Ijah membantunya mendekati jenazah, ekspresi wajah Mawar berubah menjadi sangat sedih. Ia duduk di samping kepala jenazah yang masih tertutup rapat oleh kain kafan. Dengan gemetar, Bu Ijah membuka pelan kain yang menutupi wajah jenazah.

Saat wajah jenazah terungkap, tangisan Mawar pecah dengan tak terbendung. Ia bahkan berteriak histeris sambil memeluk erat tubuh jenazah, menangis tersedu-sedu di dalam ruangan yang diliputi oleh kesedihan yang mendalam.

1
𝓐𝔂⃝❥Ŝŵȅȩtŷ⍲᱅Đĕℝëe_👻ᴸᴷ
Org menerka² belum tentu benar padahal ya 🚶
𝙸𝚗𝚍𝚊𝚑 𝙵𝚊𝚝𝚒𝚖𝚊𝚑
ambil paket sekolah bisa juga mawar
〈⎳ 小祖ᴹᵘᶻᵘ🍒⃞⃟🦅: Paket C ya 😁
total 1 replies
Hartini Donk
namanya lucu banget thor violeta van tjoeran sama dengan kran dong pancuran...🤣🤣🤣
Hartini Donk
mengerikan
Hartini Donk
bahasamu kayak puisi ....halus menggetarkan jiwa
〈⎳ 小祖ᴹᵘᶻᵘ🍒⃞⃟🦅: Terima kasih sudah berkenan membacanya
total 1 replies
Hartini Donk
gambaran terlalu nyata utk dibayangkan sadis thor perih perutku...
falea sezi
othor nya cwek apa cwok
falea sezi
anjirr mual bacanya
falea sezi
tolol harusnya lu sembunyi bukan malah menjerit tolol
falea sezi
kaya tp g punya satpam atau bodyguard hadeh bodohnya lu harusnya sewa bodyguard bayangan
neng ade
ayah nya Gavin target selanjut nya..
ga nyangka aja bisa berbuat busuk sm Mawar ..
neng ade
ngeri .. sereemm bikin merinding
neng ade
ayah dan anak sama2 bejad nya
neng ade
karya yang luar biasa.. cerita nya bagus tapi horor juga
neng ade
disini nama2 tokoh nya bikin ngakak padahal cerita nya tegang 😂
neng ade
Brama blm tau siapa Mawar sebenar nya dia bisa membaca rencana licik mu itu
neng ade
Mawar masih bisa sekolah meski pun dipindahkan.. apakah Mawar akan melanjutkan sekolahnya
neng ade
Paijo.. Paijo .. 😂
neng ade
dalam suasana tegang dan mencekam gitu jadi ketawa juga pas dengar nama nya Paijo Icikiwir..
neng ade
dendam Mawar semoga dapat terbalaskan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!