Kematian sang ayah membuat Pandu Mahendra mendaki gunung untuk mencari ketenangan batin dalam bertapa. Alih-alih kesedihannya sirna, pendakian yang dilakukan saat malam Selasa Kliwon itu menelannya dalam entitas gaib yang menjadi momok menakutkan bagi para pendaki. Pandu mendatangi acara ngunduh mantu entitas bidadari sebagai mempelai pria!
Lantas bersama sahabatnya, mampukah Pandu keluar dari situasi pelik yang membuka rahasia keluarganya dan menggemparkan seisi rumahnya?
( Wajib baca Suamiku Seorang Ningrat terlebih dahulu untuk mengerti silsilah keluarga Pandu )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak tahan
Pandu merasa jantungnya tidak bisa tenang selama menunggu kedatangan ibunya. Dia tidak tenang dengan apa yang akan ibunya pertanyakan.
Hal seperti itu tidak mungkin terlewatkan di hari-harinya entah kapan, pasti hal itu akan terjadi. Ibunya lho walaupun bisa anggun dan berwibawa sebagai seorang wanita, ibunya itu nyeleneh. Salah satu yang tidak bisa bikin dia marah karena itu.
Pandu menarik napas dan mengeluarkannya. Begitu terus sampai tambah loyo.
“Pandu kenapa?” Dewi Laya Bajramaya bertanya sambil memegangi cup bubur kacang hijau santan.
“Pandu tidak makan? Makan dulu.” ucapnya dengan lembut.
“Aku nggak bisa makan sekarang, aku nunggu ibu.”
“Ibu mertua?”
“Ibuku, ibu mertuamu. Sudah kamu habiskan saja bubur itu biar nanti tidak malu kalau makan sendiri di depan mertua!”
“Aku tidak malu.” balas Dewi santai.
Pandu berdecak, dia tidak tahu kabar yang beredar di kalangan masyarakat bagaimana menyeramkannya ibu mertua. Yah... tapi itu Dewi Laya Bajramaya sih, kurang pengetahuan, kurang gaul, tapi bahaya juga kalau jadi anak gaul, nanti dugem, keluyuran malam dan gosip-gosip Pandu tidak bisa membayangkan itu terjadi!
Pandu menarik napas dalam-dalam seraya mengembuskan napasnya.
“Yang penting kamu kenyang, nanti ibu pasti bikin kamu sibuk. Ibu juga gurumu.” Pandu memberitahu.
Dewi Laya Bajramaya mengangguk. “Bapak mana?”
“Di rumah yang lain.” Pandu meringis ketika suara pintu gerbang karatan yang sudah lama tidak di servis dan tidak di beri oli terbuka, terdengar di kupingnya lalu suara mobil yang berhenti di depan rumah.
“Itu ibu datang. Ayo kita sambut.”
Dewi Laya Bajramaya menggeleng. “Belum mandi. Bau.”
“Gak masalah, Wi. Ibu nggak bakal marah kita belum mandi apalagi bau. Paling-paling ibu cuma mesem.” aku Pandu dengan gemas.
“Pandu bilang, mandi dua kali sehari pagi dan sore adalah peraturan Pandu. Pandu tidak mengikuti peraturan Pandu sendiri?” tanya Dewi Laya Bajramaya dengan lembut.
“Ngeyel sedikit saja itu boleh, Dewi. Tidak apa-apa.” Pandu mendesis. Tertampar aturan sendiri.
Mandi itu perkara susah yang tidak bisa di paksakan, harus ada kemauan dan tekad kuat untuk melakukannya. Dewi Laya Bajramaya jelas tidak tahu mandi adalah kegiatan resmi harian yang kadangkala membosankan dilakukan. Pandu menggeram.
“Bumi gonjang-ganjing...” Nanang mengetuk-ngetuk pintu kayu dapurnya. ”Ono opo, Le? Tumindak olo sampean?”
Pandu menoleh seraya mencibir kedatangannya. “Tuh, bapakmu datang!”
Nanang tersenyum lebar, punya anak lanang dan anak gadis yang keelokan wajahnya tak tercela membuatnya membayangkan bagaimana cucunya kelak.
Dewi Laya Bajramaya tersenyum. “Bapak.”
“Minta beli baju baru ke bapakmu, Wi.” sahut Pandu. “Yang banyak, minta warisan sekalian.”
Nanang tergelak sambil duduk di sampingnya. “Kamu itu kenapa, ngegas terus. Bensin full?” tanyanya lembut.
“Panjang ceritanya. Ibu mana?”
“Di dapur, nyiapin makanan. Ayo sarapan dulu, kamu pasti rindu masakan rumah.”
“Jelas, di sana kita gak makan apa-apa, makan angin sampai kembung. Berat badan turun banyak. Pasti ibu bakal cerewet, makan yang banyak.”
Dewi Laya Bajramaya terbatuk-batuk.
Nanang menyenggol lengan Pandu. “Tuh istrimu batuk-batuk, kamu ambilkan minum.”
Andai Pandu Mahendra masih istimewa dia mungkin bisa protes lewat batin ke omnya itu. Sekarang mana mungkin, menggerutu dalam hati yang dengar ya diri sendiri.
Pandu beranjak. “Ayo kita ke dapur, Wi. Ibu sudah masak buat kita.”
“Bapak tidak masak buat kita?”
Nanang menggeleng. “Bapak kerja kantoran dan seniman, bapak tidak masak!”
“Aku mau kerja seperti bapak, tidak masak.”
Nanang tergelak. Perubahan drastis yang terjadi pada Dewi Laya Bajramaya itu amatlah menggelikan. Di kahyangan, dia ampuh-ampuhan, di sini, gemes. Dia berusaha menjadi peniru, lembaran kertas putihnya sedang di isi dengan realita kehidupan manusia.
“Suamimu yang bekerja, kamu di rumah jadi ibu rumah tangga, harus bisa masak!” Nanang memberitahu dengan tegas, tapi nadanya tetap lembut kebapakan.
Dewi Laya Bajramaya mengangguk. “Bapak punya hp?”
Nanang langsung melirik Pandu yang setia berdiri di samping istrinya tapi dia melihat awan-awan di langit cerah.
“Ya, bapak punya hp. Kenapa?”
“Aku tidak punya hp, Pandu punya baru beli.”
“Oh...” Nanang mengangguk. ”Kapan-kapan bapak belikan, bapak nabung dulu satu tahun!”
Dewi Laya Bajramaya mengangguk, sementara di dapur, Rinjani yang mendengar mati-matian untuk tidak tertawa.
“Sudah... Sudah... ayo sarapan dulu, ibu lapar, ibu bawakan jamu pegel linu ini. Biar ilang capek-capeknya.”
“Iya.” Dewi Laya Bajramaya menaruh bubur kacang hijaunya di meja seraya menerima tangan Pandu yang membantunya berdiri.
Rinjani dan Nanang saling melempar senyum.
Pandu sudah pandai memperhatikan Dewi Laya Bajramaya.
“Duduk sini cah ayu.” Rinjani menarik kursi rotan untuk menantunya.
“Pandu tidak—”
“Aku iso dewe.” Pandu menarik kursi dan mendudukinya dengan mantap.
“Aku iso dewe.” Dewi Laya Bajramaya mengkopinya.
Kursi yang Rinjani siapkan akhirnya Nanang gunakan. “Terima kasih.”
Rinjani berdehem dengan ekspresi masam. “Ayo di makan, Pandu, istrinya di ajari yang bagus!”
Tuh dengar, nada peringatan!
“Nggih, Bu.” Pandu dengan kesabaran ekstra mengambil nasi dua centong, oseng-oseng usus dan kacang panjang, tempe goreng, lalu kerupuk. Tak lupa sambal balado.
Sabar, Rinjani dan Nanang melihat Dewi Laya Bajramaya mengambil porsi yang sama seperti Pandu.
“Gak usah!” Pandu memukul lembut punggung tangan Dewi Laya Bajramaya ketika menyendok sambal.
“Itu sambel, nanti kamu nangis lagi! Repot aku.”
“Sambel kok beda?”
”Sambel ada banyak macam-macamnya, Dewi. Tidak usah pakai sambel!” pungkas Pandu.
Rinjani menendang kaki Nanang di bawah meja, besan gadungan itu menyunggingkan senyum.
“Ada apa?”
“Dewi kemarin makan sambel ijo nasi padang sesendok. Nangis kepedesan, dua jam aku ngurus lidahnya. Capek.” sembur Pandu.
“Oalah, kasian. Perutmu tidak apa-apa, Nduk?” tanya Nanang.
“Masih kluthuk-kluthuk.”
Rinjani menekan punggung kaki Nanang dengan kuat-kuat, menahan tawanya agar tidak terlontar di depan anak-anaknya apalagi di meja makan.
Nanang mengangguk. “Kalau begitu sekarang tidak usah makan sambel, nanti perutnya tambah sakit. Nurut suamimu.”
Dewi Laya Bajramaya mengambil kerupuk seraya mengangguk. “Iya nurut sama, Pandu. Tapi tadi boleh ngeyel sedikit kata Pandu. Tidak mandi dua kali tidak apa-apa, bau tidak apa-apa.”
Rinjani beranjak seraya pergi ke kamar mandi, dia menghidupkan keran air seraya tertawa tanpa suara sembari mencengkeram tepi bak mandi.
“Mau nangis rasanya aku, mas. Pandu, anakmu. Dia memandu seorang anak hutan yang cantik sekali, Pandu pasti di penuhi perasaan campur aduk sekarang. Sepertimu dahulu.”
”Bun, udah, Bun. Aku tahu ibu ngapain di kamar mandi.” seru Pandu sembari mengetuk pintu alumunium. Suaranya yang nyaring seperti seng di terpa angin kencang membuat Rinjani keluar.
“Ibu gak tahan, Ndu. Maaf. Ibu pingin bicara empat mata sama kamu. Rahasia.”
Pandu mengikuti ibunya ke paviliun yang berada di depan rumah.
...***...
apa Dewi balik LG kebumi trs hidup LG sama pandu begitu
jadi Dewi ini to yg dilepas sama bapak nya pandu .njur Saiki jadi bojonya pandu Owalh jann..mantab ayah ku jadi istriku ya Ndu