Hidup bagai dalam dunia gelap bagi Rendra, Putra bungsu pak Arif. Aktif di malam hari dan Tidur di siang hari. Tidak ada aktivitas lain kecuali bermain main bersama geng Motor. Itulah kehidupan yang ia jalani karena masa lalu yang membuatnya rapuh. Tak ada manusia yang ia dengarkan bahkan ayahnya sendiri. Hingga suatu saat ia bertemu pembantu yang mampu meluluhkan hatinya. Pembantu bercadar bernama Mardiyah menjadi Pembantu Favoritnya di rumah itu.
Simak kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma .R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Semakin terbuka
"Sebenarnya...ada satu rahasia besar," ucap Rendra yang kini amat yakin untuk menceritakan semuanya pada Diyah.
"Memangnya tidak pa pa kalau saya tau rahasia yang sangat penting bagi keluarga pak Arif?" tanya Diyah yang merasa tidak enak
"Ya nggak pa pa lah, kan tadi saya udah bilang, kamu boleh tau semuanya,"
"Jadi apa rahasianya?"
"Sebenarnya kecelakaan yang menewaskan ibu kandungku..pelakunya adalah mama tiri ku," ucap Rendra dengan serius.
"Hah? mas Rendra nggak bohong kan?"
"Iya, saya serius diyah, bagaimana mungkin saya bisa memaafkan perempuan itu, saya masih ingat betul, saat itu saya melihat sendiri kecelakaan di depan mata saya, saat itu saya panik, bu Sinta turun dari mobil dan membantu membawa mama saya ke rumah sakit, tapi mama sudah tidak tertolong lagi, kata kata terakhir mama adalah supaya saya merahasiakan tentang Sinta yang menabraknya, dan supaya Sinta menikah dengan papa, mereka memang bersahabat, tapi Sinta telah mencelakai mama saya, saya tidak bisa memaafkan itu," jelas Rendra panjang lebar.
Diyah amat terkejut mendengar itu. Sungguh ia pun tak menyangka dengan fakta mengejutkan ini.
"Jadi itu sebabnya mas Ren selalu membenci Tante Sinta?" tanya Diyah setelah ia menyimak cerita dari Rendra.
"Tante? kamu panggil dia Tante?" tanya Rendra
"Iya...mas belum tau ya? kalau ternyata nyonya Sinta adalah Tante saya,"
"Maksudnya?"
"Saya juga baru tau kalau Tante Sinta ternyata adik dari almarhum ayah saya, awalnya saya juga nggak percaya, tapi semuanya begitu meyakinkan kalau memang dia adalah Tante saya,"
Rendra terdiam sejenak mendengar penjelasan diyah itu.
"Kenapa? mas mau benci saya juga?"
"Nggak...saya cuma kaget aja, apa jangan jangan..Sinta memang sengaja membawa kamu ke rumah dengan alasan untuk jadi pembantu?" tanya Rendra yang asal tebak.
"Saya nggak tau mas, kemarin Tante Sinta juga menyuruh saya untuk berhenti jadi pembantu, tapi saya menolak, mana mungkin saya numpang hidup di keluarga pak Arif hanya karena saya punya hubungan keluarga sama Tante Sinta," tutur Diyah, kini ia pun semakin terbuka pada Rendra.
"Kenapa nolak? kamu jangan khawatir, meskipun kamu adalah keluarga Sinta, saya tidak akan membenci kamu,"
Diyah tersenyum lega mendengar itu. "Makasih mas Ren,"
"Tapi...bukan berarti saya memaafkan Sinta,"
"Sampai kapan mas Rendra berencana untuk membenci Tante Sinta, setahun? dua tahun? atau selamanya?"
"Entahlah diyah,"
"Mas Ren...maaf jika ini akan menyinggung, tapi memang segala sesuatu yang terjadi termasuk meninggalnya ibu kandung mas Rendra itu pasti karena memang sudah takdirnya untuk meninggal, bahkan saya dan mas Rendra pun tidak bisa apa apa jika Allah ingin mencabut nyawa kita saat ini, lagi pula kecelakaan itu tidak di rencanakan, dan Tante Sinta amat menyesali itu," tutur Diyah dengan lembutnya.
Tak sadar keduanya telah berjalan berkeliling komplek selama mereka mengobrol di sepanjang jalan.
"Saya belum rela mengikhlaskan itu diyah,"
"Ikhlaskan saja mas Ren supaya hidup mas rendra lebih tenang, tidak ada gunanya mas Rendra dendam pada Tante Sinta, sejauh ini Tante Sinta tidak pernah membenci mas Rendra meski mas Rendra selalu membencinya,"
*
Sementara itu, Satria sedang mengobrol dengan papa dan mamanya. Tampak keduanya amat serius membahas pernikahan.
"Gimana? apa sudah ada jawaban dari diyah?" tanya papa.
"Belum pa, mungkin dia masih berpikir," balas Satria.
Mama Sinta pun ikut mengobrol. Ketiganya mengobrol santai sambil minum teh berhubung ini adalah hari Minggu.
"Kemarin..mama sudah menyuruh diyah untuk berhenti menjadi pembantu, tapi dia menolak, padahal mama ingin dia tinggal di sini sebagai anggota keluarga, bukan pembantu," tutur mama yang jadi sedih mengingat Diyah.
"Loh kenapa nolak? kan hidupnya akan lebih baik kalau dia tinggal di sini," balas Papa yang terheran dengan diyah.
"Ya begitulah yang terjadi mas, diyah sama sekali tidak ingin menuruti permintaan ku itu, katanya..dia tidak ingin memanfaatkan hubungan keluarga kami hanya demi materi," jelas mama Sinta.
"HM...padahal semua orang pasti menginginkan itu, tapi diyah malah menolak," pak Arif sampai geleng kepala mendengar cerita tentang Diyah. Jarang sekali ada orang seperti diyah yang justru lebih memilih jadi pembantu dari pada hidup mewah dengan tantenya.
*
Siang itu Diyah tampak melamun sembari membersihkan ruang tamu. Tatapannya tampak kosong saat ia mengelap meja di sana.
"Aku sudah putuskan untuk tidak menikah dulu, usiaku saja baru 20 tahun, aku masih ingin bekerja, tapi gimana cara nolaknya ya," batin Diyah yang sedari tadi melamun.
"Diyah..kamu kenapa sih ngelamun Mulu.." sapa Bu Maryam mengejutkan Diyah.
"Eh ibu..aku bingung Bu, gimana caranya menolak lamaran itu, aku belum mau nikah Bu, lagian kenapa sih Bu ..dari banyak nya wanita kok aku yang di lamar," ucap Diyah mencurahkan keluh kesahnya.
"Itu karena kamu spesial di mata tuan Satria, jangan khawatir, tidak akan terjadi apa apa kalau pun kamu menolaknya,"
"Semoga aja deh Bu,"
"Gimana dengan tuan Rendra? dia udah tau kalau kamu di lamar?" tanya Bu maryam
"Kayaknya sih dia nggak tau Bu, emang kenapa?"
"Sepertinya tuan Rendra suka sama kamu nak," lanjut Bu Maryam, ia agak khawatir jika di rumah akan ada pertikaian lagi.
"Ah nggak mungkin lah Bu, ibu bisa aja, lagian ya..tipe diyah itu laki-laki yang Soleh...baik..taat beragama.. pokoknya gitu deh Bu, diyah nggak butuh yang kaya, yang penting ilmu agamanya," jelas Diyah membayangkan kriteria laki-laki idamannya.
*
Malam hari,
Rendra tak sengaja mendengar pembicaraan Satria dengan papanya. Ia mendengar semua tentang Satria yang sedang menunggu jawaban dari Diyah.
"Apa? kamu melamar Diyah kak?" tanya Rendra dengan nada tinggi hingga mengejut kan pak Arif dan Satria.
"Iya..emang kenapa?" Satria tampak melotot.
"Nggak bisa cari perempuan lain apa? ingat usia mu kak, diyah itu terlalu muda untuk kamu," balas Rendra dengan ketus.
"Hanya beda 8 tahunan, emang kenapa? kamu merasa dirugikan? nggak kan? jadi stop ikut campur!" tegas Satria.
"HH...jangan harap diyah mau menerima lamaran itu," Rendra tersenyum sinis seolah meremehkan.
"Maksud mu apa sih?" Satria pun berdiri dari duduknya, ia menatap Rendra dengan tajam.
"Udah... stop! kalian ini apa apaan sih, kenapa jadi ribut, kamu juga Rendra ...kalau kakaknya mau nikah ya di dukung dong," tegur pak Arif menghentikan perdebatan anak anaknya.
"Oke..semoga lancar ya kak, jangan sedih kalau di tolak," ucap Rendra tersenyum sinis. Dari raut wajahnya tampak ia bukannya mendukung tapi malah menjatuhkan harapan kakaknya.
Sampai di situ saja perdebatan keduanya. Rendra buru-buru mencari diyah untuk menanyakan hal ini.
it is so cute 😭
ta bantu doa
tapi saya suka gayamu Rend 💪