Nathan adalah seorang petani stroberi dengan pribadi yang taat dan takut akan Tuhan. Ia selalu berdoa agar segera menemukan seorang istri dalam hidupnya.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Bella, seorang penghibur pria hidung belang sehingga membuatnya sangat membenci dirinya sendiri. Ia merasa memiliki hidup yang berantakan, sehingga membuat Bella merasa tidak pantas untuk mencintai Nathan. Namun siapa sangka, Nathan hadir dengan ketulusan tanpa memandang masa lalu Bella.
Meski memiliki perasaan yang sama terhadap Nathan, Bella kerap dihantui rasa oleh bersalah jika ia bersama dengannya. Hal tersebut membuat Bella kerap mengalami konflik batin hingga memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Nathan.
Namun, sejauh apa pun Bella pergi dan menghindarinya, Nathan selalu menemukannya kembali. Seberat apa pun cobaan yang Bella hadapi, Nathan selalu berusaha untuk meyakinkannya dengan segenap cinta yang dimilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Paul membuka tempat minumnya dan minum banyak-banyak, kemudoan ia menutupnya lagi. Saat ia selesai menutup tempat minum, Paul melihat Angel datang dan duduk di hadapannya. Paul menatapnya dan mengerutkan kening berat.
Paul yang kesal beranjak dari tempat duduknya dan mendekat, ia mengayunkan tempat minumnya bolak-balik di depan wajah Angel dan ia berkata, “Apakah kamu ingin minum?" Paul melemparkan tempat minum itu ke pangkuannya.
Angel membuka tutupnya, mengelap bekas jejak mulut Paul dengan selendangnya, barulah Angel minum. Setelah selesai Angel menyeka mulutnya, lalu menutupnya lagi, ia mengangkat botol minum itu ke arah Paul. "Terima kasih," ucapnya, tanpa melihat wajah Paul.
Paul kembali dan duduk di bawah pohon dan menghabiskan daging sapi buatan Nathan. Ia terlihat marah, lalu ia mulai makan apel. Ketika ia menghabiskan setengah apelnya, Paul kembali menatapnya Angel. "Lapar?"
"Ya," ucap Angel singkat, masih tetap tidak memandang Paul.
Paul melemparkan makanan yang masih tersisa, kemudian ia beranjak dan ia kembali ke mobil mengecek stroberi di belakang bagian mobil aman. Paul melirik ke arah Angel, ia melihat Angel mencabut batang apel yang masih menempel di apel, sebelum Angel menggigitnya. Angel terlihat dingin dan terus diam, membuatnya tidak nyaman. "Ayo pergi!" Paul duduk di mobil, menunggunya dengan tidak sabar.
Angel pun beranjak dari tempat duduknya dan masuk mobil bersama Paul. “Bagaimana caramu bertemu dengan Nathan?” tanyanya sembari menyalakan medin mobil dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.
“Dia datang ke tempat ku bekerja.”
“Jangan membuatku tertawa! Nathan tidak akan menginjakkan kaki di lubang bau itu. Dia tidak minum dan dia tidak berjudi, dan aku yakin tidak pernah bergaul dengan pela*ur.”
Angel tersenyum, mengejek. "Lalu bagaimana menurutmu semua itu terjadi, tuan?"
“Aku membayangkan seorang gadis dengan tingkah sepertimu akan memikirkan sesuatu. Kau mungkin pernah bertemu dengannya di pabrik dan memberitahunya bahwa keluargamu telah meninggal dan kau sendirian di dunia, meminta belas kasihan padanya agar kakakku mau membawamu pergi.Dan setelah kau bosan dengan Nathan kau pergi."
Angel menertawakan Paul. “Yah, tuan kau benar. Kau bahkan tidak perlu bertanya-tanya lagi. Sekarang setelah saya pergi, kau dapat memiliki Nathan sepenuhnya."
Buku-buku jari Paul memutih, mencengkran kemudi. Beraninya pela*ur ini menertawakanku. Paul menginjak rem, dan mobil itu seketika berhenti.
Angel menegang, waspada. "Mengapa kamu berhenti?" tanyanya.
"Kau berutang sesuatu padaku untuk perjalanan ini."
Angel diam untuk beberapa saat, mencerna ucapan Paul. "Apa yang ada dalam pikiranmu?"
"Apa yang kamu punya?"
“Aku pikir kau tahu ketika seseorang membantumu, kau tidak berutang apa pun kepada orang itu. Bukankah begitu?" Angel memalingkan mukanya dari Paul.
Paul menangkap lengan Angel erat-erat, dan ia menatap wajah Angel yang mulai memucat. Paul melotot ke mata biru Angel yang sinis. “Kamu berutang padaku untuk perjalanan ini.” ia melepaskan cengkraman tangannya.
Kali ini Angel tidak berpaling, Angel menatapnya tanpa ekspresi.
"Kau tahu, aku tidak pernah berhasil naik ke atas kamarmu," ucapnya dengan ketus, sembari membuka ikatan rambut Angel. “Aku tidak memiliki uang untuk membeli undian, kalau pun aku pernah membelinya beberapa kali aku tidak pernah memenangkannya."
Paul turun dari mobil, ia berputar dan membuka pintu mobil Angel, lalu menariknya keluar. Angel melupakan sesuatu, bahwa semuanya membutuhkan biaya. Ia menghela napas dan sedikit memiringkan kepalanya. "Aku akan membayar ongkos perjalanan ini setelah aku sampai di gang senggol dan mendapatkan uang dari Madam."
"Aku tidak mau uang kotormu, aku bisa mendapatkan uang dari Nathan secara cumma-cuma," ucapnya sembari menutup pintu mobil.
"Lalu?"
Paul menarik Angel ke tepi jalan dan mendorongnya ke semak belukar dengan kasar. "Tidak butuh waktu lama bagimu untuk kembali ke cara lama, bukan?" ia melotot pada Angel dengan jijik. Paulus dipenuhi dengan ketidaksukaan terhadap Angel. “Itu bahkan tidak mengganggumu, kan? Kamu sudah memiliki moral ular.”
"Tidak, aku tidak ingin melayanimu," tolak Angel.
"Kalau begitu silahkan kau jalan tiga puluh mil untuk sampai ke terminal dan kau tidak punya uang untuk naik bis kembali ke Jakarta." Tanpa menunggu jawaban Angel, ia menarik gadis itu dan membuka bajunya dengan paksa. "Kau mau aku tinggalkan di tempat ini atau melayaniku??"
Tak ada pilihan lain Angel pun terpaksa melayani Paul. Paul memukulnya ketika menyadari Angel hanya setengah hati melayaninya. "Aku mau kau memperlakukanku seperti pelangganmu yang lainnya, jala*g!!"
Hampir satu jam Angel melayaninya, hingga Paul puas kemudian Angel melangkah kembali ke mobil, ia tidak sabar untuk sampai di Jakarta dan lepas dari Paul. Tubuh Angel mulai gemetar, ia mengikat kamisolnya dan mengancingkannya pinggang kemejanya, memasukkannya ke dalam rok.
Keringat berkeringat muncul di dahinya, ia merasa dingin di seluruh. Ia menutup matanya, melawan rasa mualnya. Jangan pikirkan itu, Angel. Kau tidak mengkhianati Nathan, batinnya. Angel Berpura-pura itu tidak terjadi.
"Ayo cepat!" teriak Paulus, melihat Angel tak kunjung masuk mobil. "Aku ingin sampai di sana sebelum gelap." Paul memelototinya dari kursi kemudi.
Perlahan Angel masuk ke mobil. “Kamu tahu, Angel? Kau dinilai terlalu tinggi. Padahal sebenarnya kau tidak seharga lebih dari dua buah bit." ledek Paul
"Dan berapa nilaimu?" Mata Angel menyipit.
"Apa maksudmu?" Paul mendekat dan menyambar syal Angel dari kursi kemudi.
"Aku tahu siapa aku. Aku tidak pernah berpura-pura menjadi orang lain. Tidak sekali. Tidak pernah!" ia meletakkan tangannya di tepi kursi gerobak. “Sementara dirimu, memakai mobil Nathan, memakan makanannya, menerima uangnya dan juga menggunakan istrinya." Angel menertawakannya. “Apa ini yang kamu sebut dirimu sendiri? Saudara laki-laki satu-satunya?"
Wajah Paul seketika berubah dari putih menjadi merah, lalu putih lagi. Ia mengepalkan tinjunya dan tampak seolah-olah ingin membunuh Angel. “Aku harus meninggalkanmu di sini. Seharusnya aku membiarkanmu berjalan sepanjang sisa perjalanan.”
“Kamu tidak bisa meninggalkanku di sini, karena aku sudah membayarmu.”
Mereka tidak berbicara sepatah kata pun selama sisa perjalanan.
Akhir yang bahagia, kamu berhak mendapatkannya Bella.