Menikah dengan teman sendiri? Tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Dulu kami saling bermusuhan. Em, no! Bukan bermusuhan. Lebih tepatnya berteman, bersahabat, tapi jarang sekali kita bisa akur.
Dan sekarang kami harus terlibat dalam suatu pernikahan.
Tidakk!!
Rumah tangga yang bagaimana yang akan kami jalani nanti?
Apa rasa sayang sebagai teman bisa berganti menjadi rasa sayang sebagai suami?
Tolong! Tolong katakan padaku kalau ini hanya mimpi!
Katakan padaku ini tidak nyata!
- Carissa Amalina -
Harus tinggal satu atap dengan perempuan yang bawel dan cerewet tak pernah terbayangkan olehku.
Kami berteman sejak kecil. Walaupun tidak bermusuhan tapi juga jarang akur.
Kami lebih banyak berdebat, tak ada yang mau mengalah. Apa jadinya kalau dikumpulkan didalam satu rumah?
- Raka Putra Wibawa -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhessy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TTM 35
aku tau part ini pendek. tapi tolong, jangan di protes 😅😅
Happy reading temans 🤗
❤️❤️❤️
Suara itu tak pernah Raka dengar sebelumnya. Namun, sanggup membuatnya jatuh cinta begitu dalam sejak pertama kali dia dengar. Suara yang menghentak begitu kuat bak hentakan kaki kuda yang berlari.
Suara itu adalah suara detak jantung buah hatinya dengan Rissa.
Raka tak sanggup menahan air mata haru ketika mendengarnya pertama kali. Tangannya menggenggam erat tangan Rissa.
Rissa pun tak kalah terharu. Mendengar detak jantung janin sudah biasa baginya. Namun mendengar detak jantung dari anaknya sendiri, tentu rasanya jauh berbeda. Terharu dan bahagia.
Di dalam tubuhnya, kini ada dua jantung yang berdetak.
Rissa masih tak percaya bahwa dirinya akan segera menjadi seorang ibu. Belum juga sepenuhnya percaya bahwa Raka adalah orang yang berperan banyak dalam kehamilannya.
Bagian dari Raka, sedang bersemayam dalam rahimnya.
Dua orang yang dulunya tak pernah akur ternyata bisa bekerja sama dalam mempersatukan dua hal yang kini ditakdirkan untuk menjadi bagian dari mereka yang mereka sebut "anak".
"Jenis kelaminnya sudah terlihat belum, dok?" Tanya Raka penasaran.
Dokter tersenyum mendengar pertanyaan Raka. Pertanyaan yang biasa di tanyakan oleh calon bapak atau bahkan yang sedang menanti anak kedua atau seterusnya.
"Belum kelihatan, Pak. Coba nanti waktu USG bulan selanjutnya, ya."
Raka mengangguk paham. Sebenarnya bukan masalah bagi Raka anak pertamanya mau laki-laki atau perempuan, yang penting Rissa dan bayinya sehat.
Setelah berkonsultasi sebentar, keduanya segera meninggalkan klinik. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya satu tangan Raka menggenggam tangan Rissa.
Terkadang Rissa di buat meleleh saat Raka menciumi tangan dan jari-jarinya. Kalau tidak begitu, punggung tangan Rissa di usap lembut dengan ibu jari Raka.
"Mau makan apa, yang?" Tanya Raka tanpa mengalihkan pandangannya. Matanya tetap fokus melihat ke depan.
"Cari bakmi jowo, Mas. Kayaknya enak malam-malam begini."
Rasanya masih aneh ketika Rissa memanggil Raka dengan sebutan Mas. Namun perlahan Rissa merasa nyaman dengan panggilan tersebut. Terasa lebih... Mesra.
Raka sendiri sekarang tidak pernah memanggil nama Rissa. Selalu panggilan sayang yang dia pakai untuk memanggil istri tercintanya itu.
🌹🌹🌹
Sepasang suami istri saling diam. Tak ada satupun dari mereka yang berniat untuk membuka percakapan. Hanya denting sendok yang beradu dengan piring yang memecah keheningan malam mereka.
Windi merasa malu. Tak cukup nyali untuk sekedar menampakkan wajahnya di hadapan Krisna. Kesalahannya benar-benar fatal. Mungkin saja Krisna malu memiliki istri sepertinya. Atau bisa saja Krisna sudah tidak lagi mencintainya.
Pulangnya Krisna ke rumah dengan membawa makanan bukan jaminan kalau laki-laki itu masih mencintai Windi.
Pikiran Windi begitu buruk. Bisa saja Krisna memberinya makan hanya karena kasian pada dirinya karena tengah mengandung anaknya. Atau hanya sebatas tanggungjawab karena dia masih berstatus istri dari Krisna.
Dadanya terasa sakit dan kian sesak. Selama ini dia terlalu dibutakan oleh ambisinya tanpa bisa melihat kalau Krisna begitu mencintainya.
Harusnya Windi sadar akan hal itu. Meskipun pernikahan mereka terjadi karena Windi yang telah hamil terlebih dahulu, tak membuat Krisna berubah sifat.
Dia tetap mengutamakan Windi. Dia tetap memperlakukan Windi dengan penuh cinta.
Hanya saja, Windi yang tidak tahu diri. Dia sudah menjatuhkan harga dirinya sendiri dan harga diri suaminya di hadapan banyak orang.
Windi merasa dirinya hina, kotor, dan tidak pantas bersanding dengan Krisna.
Air matanya berjatuhan. Windi tak dapat lagi menahannya. Namun dia malu kalau harus menangis di hadapan Krisna.
Windi segera beranjak dan meninggalkan meja makan membuat Krisna terkejut.
Windi berjalan menuju kamar yang beberapa hari ini dia tempati. Sekali lagi, dia malu kalau harus berhadapan dengan Krisna. Apalagi harus satu kamar dengan Krisna.
"Win..." Panggil Krisna. Dia segera beranjak untuk menyusul Windi yang tak menghiraukan panggilannya.
"Windi, tunggu!"
Krisna berhasil menghentikan langkah Windi dengan memegang tangan Windi. Secepat-cepatnya Windi berlari, tetap saja tenaganya masih kalah dengan Krisna. Apalagi keadaannya sedang hamil.
"Kenapa?" Tanya Krisna lembut pada Windi yang tidak berani menatap dirinya. Hal itu membuat Windi semakin terisak.
Krisna memegang kedua lengan wanita yang dia cintai dan menatapnya dengan lembut. Kalau ditanya apa dia tidak sakit hati dengan apa yang telah Windi lakukan, jawabannya tentu iya.
Namun cinta adalah memaafkan. Ketika Windi mau berubah dan bisa memperbaiki kesalahannya, Krisna sudah mengikhlaskan semuanya. Tugasnya adalah membimbing, bukan menghakimi.
Masa lalunya memang buruk. Merebut Windi dari Raka dengan cara yang salah. Namun, sekarang dia sudah bertaubat dan memohon maaf atas segala kekhilafannya di masa lalu.
"Kenapa nangis begini, sih? Makannya nggak di habisin lagi."
"Aku malu sama kamu. Kesalahan aku udah fatal, tapi kamu masih baik sama aku," ucap Windi di sela isakannya.
Krisna tersenyum. Beberapa hari ini memang Krisna membiarkan Windi untuk sendiri. Windi meminta pisah kamar pun dia setujui. Hal itu Krisna lakukan untuk memberi waktu pada Windi agar Windi dapat memikirkan apa yang telah dia perbuat.
Dan Krisna tersenyum lega karena sekarang Windi sudah menyadari semuanya.
"Kamu itu istri aku, dan selamanya akan jadi istri aku. Sudah seharusnya aku bersikap baik sama kamu."
Windi semakin terisak mendengarnya. Bedanya, kini dia sudah berani menatap kedua mata Krisna.
"Aku minta maaf, Kris. Aku udah buat kamu malu karena kesalahan aku."
"Ssstt..." Krisna menempelkan telunjuknya ke bibir Windi. "Semua sudah berlalu. Yang terpenting sekarang kamu harus berubah menjadi lebih baik lagi. Kita perbaiki diri kita sama-sama. Aku mau hidup sama kamu, bukan hanya di dunia saja. Tapi juga di akhirat nanti. Pelan-pelan kita berproses, ya."
Windi begitu terharu. Dia tak tahan lagi untuk tidak memeluk Krisna. Windi mendekap erat tubuh Krisna sembari mengucapkan kata maaf berulangkali.
🌹🌹🌹
jangan lupa follow Ig @pena.dhee 😅 nggak susah kan permintaanku. author mulai perhitungan. 😝😝😝
syarat rajin up itu. 🤣🤣 canda!
usia 27 udah jadi spesialis kandungan .
wah Rissa termasuk jenius nii.