Anandi, gadis yang di anggap mati oleh ayah nya, hanya karena satu kesalahan yang tidak di sengaja.
Karena kesalahan itu lah membust mereka selalu bersama.
Akan kah kebersamaan itu membuat mereka saling jatuh cinta.
Mari kita ikuti kisah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AdlanAdam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Menjual Rumah Ini
Kaizal Menyugar rambutnya, ia merasa sangat prustasi, Andini mendekatinya hanya karna ada maunya, jika ia yang mendekati istrinya makak akan berujung ke kamar mandi.
Kaizal sempat berpikir kalau Andini hanya berpura-pura, agar bisa mengerjainya. Ternyata tidak, karena Kaizal sudah menncobanya dengan memaksa untuk memeluk istrinya, yang berung terkena muntahan Andini.
Kaizal pun memberanikan diri untuk menelepon dan bertanya pada Bik Darsih, hanya wanita paruh baya itu lah yang berani ia tanyai, Kaizal bertanya dan mengatakan tentang sifat istrinya selalu menjengkelkan dan membuatnya pusing.
Bik Darsih yang mebdengar Kaizal, hanya bisa tersenyum dan menyarankan agar membawa Andini ke dokter. Walaupun Kaizal merasa bingung tapi ia tetap menuruti saran Bik Darsih.
Sekarang mereka sudah ada di depan rumah sakit, tapi Andini tidak mau keluar dari mobil, membuat Kaizal merada prustasi.
"Ayo lah Andini! kau harus di periksa. Masa sudah seminggu masuang dan mualmu nggak sembuh-sembuh juga." Kaizal terus mengajak Andini. Ia sudah seperti mbujuk anaknya yang tidak mau pulang dari taman bermain. Tapi yang di ajak tetap menggeleng tanda tidak mau.
"Kalau kau tidak mau keluar sendiri, biar aku yang membantumu keluar, kurasa tenagaku masih cukup untuk menggendongmu!" cetus Kaizal, yang sudah mulai geram melihat istrinya.
Jangan coba-coba mendekat, atau aku akan muntah lagi." Andini tetap menolak. Mereka memamg satu mobil, tapi Andini duduk di belakang karna tidak mau duduk di samping Kaizal.
Kaizal tidak perduli dengan ucapan istriny, dia tetap keluar dari mobil, membuka pintunya menyuruh Andini keluar dari mobil itu, kalau tidak Kaizal akan masuk untuk mengangkatnya.
"Oke..., oke, aku keluar sekarang!" cetus Andini. Ia meminta Kaizal untuk menjauh dari pintu mobil agar ia bisa keluar, Kaizal pun menuruti istrinya.
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Andini di depan, sedangkan Kaizal mengekor di belakang dengan jarak sekitar 2 meter, itu pun atas mermintaan Andini.
Tidak perlu mengantri, Kaizal langsung membawa istrinya masuk ke ruang pemeriksaan. Susterpun meminta Andini berbaring sedangkan Kaizal menceritakan gejala yang Andini alami. Tanpa rasa malu Kaizal juga mengatakan kalu sudah seminggu ini ia tidak bisa menyentuh istrinya karena tidak mau di dekati.
Kaizal yang bercrita, tapi Andini yang merasa malu karna sudah mengatakan semua keluahnya pada dokter. Dokter yang mendengarkan pun ikut rersenyum. Membuat Andini bertambah malu.
Setelah mendapat hasil pemeriksaan, Dokter wanita itu tersenyum. "Selamat ya Pak, istri anda positif hamil," ucap dokter itu sambil mengulurkan tangannya.
"Istri saya hamil Dok?" ulang Kaizal memastikan.
"Iya Pak. Selamat ya," jawab dokter itu lagi.
Setelah mendengar jaeaban dokter itu, barulah Kaizal menerima uluran tangannya. Dokter itu mengira Kaizal tidak bahagia mendengar kabar yang ia sampaikan, karna Kaizal hanya berdiri tanpa reaksi.
Tapi di menit berikutnya, Kaizal berlari ke arah Andini yang sudah duduk di atas brangkar, ia memeluk istrinya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Kau Hamil Din, Aku akan menjadi Ayah," ucapnya masih dengan tangisan. Tangisan bahagia tentunya.
Andini juga membalas pelukan Kaizal, tanpa mereka sadari kalau mereka sudah saling menempel dan Andini tidak muntah lagi.
"Terima kasih Sayang, kau memberikanku hadiah yang paling berharga, aku bener-benar bahagia mendengarnya. Andini hanya mengangguk, tetap betah ada di pelukan suaminya.
"Sekali lagi selamat ya Tuan, di jaga istri dan kandungannya, agar keduanya tetap sehat sampai waktunya dia bertemu dengan kita," ucap dokter itu. Membuat pasangan suami istri tersadar, mereka pun melepaskan pelukannya.
"Iya Dokter, saya juga berterima kasih," balas Kaizal. Mereka berpamitan pada dokter dan susster yang ada di ruangan itu. Sebelum meninggalkan rumah sakit, Kaizal mengurus administrasi dan menebus obat yang sudah dokter itu sarankan.
Kaizal melajukan mobilnya, mereka sudah duduk berdampingat, tapi keduanya belum sadar dengan itu, karna mereka merasa sangat bahagia.
Di tempat lain, Ayah Raja sedang bertengkar dengan istrinya, karna Bu Annis terus menyalahkan suaminya, yang sudah meminjam uang, di tambah lagi suaminya sudah tidak bekerja karna ketahuan menggelapkan uang.
"Lalu kita harus bagai mana Yah? dapat uang sebanyak itu dari mana?" bu Annis bertanya pada suaminya. Dan suaminya hanya bisa diam tidak tauhu menjawab apa atas pertanyaan istrinya.
"Ayah sudah menjual rumah ini Bu, sebentar lagi orangnya akan datan." setelah diam beberapa saat barulah ayah Raja menjawab. membuat bu Annis terduduk lemas di sofa.
"Ibu Ayah, ada apa ini?" tanya Clara, saat melihat ibinya duduk di sofa, sedangkan ayahnya berdiri di depan ibunya.
"Ayahmu Clara, hanya karna mengikuti ke egoisan dan gengsinya yang terlalu besar_." jawab Bu Annis. tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Clara yang mendengar jawaban ibunya merasa bingung karna tidak mengerti apa yang di maksud ibunya.
"Maksub ibu apa? Clara tidak mengerti!" lanjut Clara.
"Ayahmu menggelapkan uang, hanya untuk mencari muka dengan teman-temannya, karna dia berpikir akan kembali duduk di kursu gubernur. Ternyata tidak dia ketahuan menggegelapkan uang dan harus menggantinya, jadi lah dia meminjam uang pada temannya. Sekarang Rumah ini akan di jual untuk membayar hutang Ayahmu."
Buk Annis menjelaskan semua pada putrinya. Clara yang mendengar penjelasan ibunya sangat terkejut, dia tidak menyangka hal ini akan terjadi pada ayah dan ibunya.
"Udah..., ibu gak usah sedih, kan masih ada Clara, untuk sementara kita bisa tinggal di rumah," balas Clara. Ia meminta Ayah dan ibunya mengurus semuanya.
"Bagai mana dengan Nak Andra? ibu gak mau membuat kalian terbebani dengan kehadiran kami," ujar Bu Annis, merasa tidak enak.
"Udah Ibuk tenang aja, Mas Andra pasti setuju kok Buk." Clara mencoba meyakinkan ibunya. Bu Annis mengangguk, mencoba untuk percaya.
Setelah membereskan barang-barang yang bisa mereka bawa, ayah Raja menelpon orang yang akan membeli rumahnya, karna Pak Hendri sudah mengancam akan memenjarakannya jika ia tidak segera mengembalikan uangnya.
Siang harinya, rumah sudah terjual, uangnya pun sudah di berikan pada pak Hendri. Bik Iyem yang sudah cukup lama bekerja di rumah itu harus berhenti, karena tuannya juga akan pindah dari rumah itu.
"Maaf ya Bik..., Aku juga tidak menyangka kalau ini semua akan terhadi," ucap Bu Annis. Ia menangis saat memberikan gaji terahir pembantunya.
"Iya Nya, mudah-mudahan kita di beri kesehatan, agaar kita bisa bertemu lagi," balas bik Iyem. Ia menerima gaji terahirnya, setelah itu berpamitan pada majikannya, yang akan menjadi mantan majikannya.
"Bu Annis melihat ke pergin pembantunya. Memandangi Rumah itu, lalu mereka juga pergi dari rumah yang penuh dengan kenangan itu.
Menempuh perjalanan 20 menit, sampailah mereka di Rumah yang Clara dan suaminya tinggali, Clara memang sudah tidak satu rumah lagi dengan mertuanya, itu semua atas ke inginan Andra.
"Ayo Bu, kita masuk, Jam segini mas Anra masih di kantor, ahir-ahir ini mas Andra selalu pulang malam, katanya lagi banyak kerjaan," ucap Clara. terus bercerinta. Padahal ibunya sama sekali tidak bertany.
"Iya Nak," balas bu Annis. Mereka bertiga masuk kedalan rumah. Ayah Raja hanya diam karna banyak penyesalan di hatinya.
Mohon dukung krya mak ya🙏🙏🙏
Dengan like komen favorit dan vote nya🙏🙏🙏
Love you sekebun buat kalian semua 💓💓💓💓💞💞
mantap Kaizal lindungin istrimu