Bahagia karena telah memenangkan tiket liburan di kapal pesiar mewah, Kyra berencana untuk mengajak kekasihnya liburan bersama. Namun siapa sangka di H-1 keberangkatan, Kyra justru memergoki kekasihnya berkhianat dengan sahabatnya.
Bara Elard Lazuardi, CEO tampan nan dingin, berniat untuk melamar tunangannya di kapal pesiar nan mewah. Sayangnya, beberapa hari sebelum keberangkatan itu, Bara melihat dengan mata kepalanya sendiri sang tunangan ternyata mengkhianatinya dan tidur dengan lelaki lain yang merupakan sepupunya.
Dua orang yang sama-sama tersakiti, bertemu di kapal pesiar yang sama secara tak sengaja. Kesalahpahaman membuat Kyra dan Bara saling membenci sejak pertama kali mereka bertemu. Namun, siapa sangka setelah itu mereka malah terjebak di sebuah pulau asing dan harus hidup bersama sampai orang-orang menemukan mereka berdua.
Mungkinkah Bara menemukan penyembuh luka hatinya melalui kehadiran Kyra? Atau malah menambah masalah dengan perbedaan mereka berdua yang bagaikan langit dan bumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmiLovi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Teman-Teman
Esoknya, hari Kyra menjadi bersemangat ketika teman-teman kantornya datang mengunjunginya di Rumah Sakit.
"Bagaimana kalian bisa kemari di jam kerja seperti ini?" tanya Kyra heran ketika Lena, Dwi, Puji dan Bu Meta sudah berada di kamarnya.
Puji mendekat ke ranjang Kyra setelah meletakkan sebuket buah-buahan segar untuknya.
"Kamu lupa, ya? Kamu kan spesial di kantor kami. Pak Ronald nggak akan berani menghalangi segala sesuatu yang berhubungan denganmu!" jelasnya dengan terkekeh.
Bu Meta membantu menata bantal di punggung Kyra agar lebih nyaman. Setelahnya, ia hanya menatap gadis yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri itu dengan penasaran.
"Benarkah kamu memiliki hubungan dengan Pak Bara?" selidik Meta masih tak percaya.
Kyra tak berani mengangguk, pun ia tak berani menggeleng. Kyra sendiri bingung, bagaimana status hubungannya dengan Bara. Mereka bukan sepasang kekasih, namun ada makhluk kecil yang sedang tumbuh di rahimnya, hasil olahan benih Bara dan dirinya.
"Aku sendiri bingung menjelaskannya pada kalian." Kyra menghela napasnya berat.
Dwi dan Lena yang sedari tadi hanya menyimak, mulai tertarik untuk mengetahui lebih jauh. Namun sebelum membuka mulut, Bu Meta mendahului.
"Kalau kamu nggak nyaman, nggak perlu cerita sekarang. Yang penting kami tahu, kalo Pak Bara memperlakukanmu dengan spesial, itu berarti memang kalian memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman."
"Betul!" Puji dan Lena menyahut bersamaan.
Dan sepanjang siang itu, mereka saling bercerita tentang kisah kehidupan masing-masing. Saat ini, Kyra merasa memiliki teman baru yang membuat hidupnya lebih berwarna. Bukan hanya satu teman, tapi empat sekaligus! Meskipun Sisil masih belum mau berteman, setidaknya ia sudah tak pernah berbuat jahat pada Kyra.
Menjelang siang, keempat teman Kyra berpamitan pulang karena mereka harus kembali ngantor setelah jam makan siang berakhir. Roni yang datang ketika teman-teman Kyra berkunjung, akhirnya menunggu di kantin sampai semua teman Kyra pulang.
Melihat ekspresi Roni yang tak sekalipun menyapa Kyra sejak ia masuk, membuat Kyra salah tingkah sendiri. Ia tahu bila semalam Roni memukuli Bara habis-habisan karena telah menghamili putri kesayangannya. Padahal itu bukan sepenuhnya kesalahan Bara, Kyra-lah yang memancing lekaki itu untuk menidurinya.
"Ayah," panggil Kyra ketika Roni mengacuhkan putrinya itu dengan menonton televisi.
Roni melirik sekilas. "Hm," sahutnya singkat.
"Ayah, aku minta maaf." Kyra menunduk sedih.
"Minta maaf untuk apa?" Roni mengambil remote dan mematikan televisi.
"Karena aku sudah membuat Ayah kecewa. Aku minta maaf." Air mata Kyra mulai menetes. "Aku tahu aku salah. Aku pantas dihukum karena sudah menyalahgunakan kepercayaan Ayah. Tapi jangan hukum Bara, Yah."
"Kamu mencintai Bara?" Roni bangkit dari sofa dan menghampiri ranjang putrinya. Melihat ekspresi Kyra yang terlihat sangat tertekan membuat hati Roni mulai luluh.
Meskipun Kyra anak tunggal yang selalu mendapatkan perhatian lebih, namun Roni tak pernah memanjakan Kyra secara berlebihan. Bila Kyra salah, ia akan menghukumnya. Bila Kyra berbuat baik, Roni pun tak segan untuk memujinya.
"Kyra, apa kamu mencintai Bara? Kenapa nggak menjawab?"
Kyra menggeleng, tangannya yang masih tertancap jarum infus bergerak naik dan menutupi wajahnya yang sudah basah oleh air mata.
"Aku nggak tahu apa yang aku rasakan sama Bara, Yah. Aku nggak tahu."
"Lantas bagaimana kalian bisa melakukan hubungan terlarang itu bila kalian nggak saling cinta? Kenapa seceroboh itu!?" Roni mulai naik pitam lagi. "Seorang anak harusnya tercipta karena orang tuanya saling cinta. Bila kalian tak memiliki rasa itu lantas bagaimana dengan nasib anak kalian, huh!?"
Kyra semakin menangis mendengar perkataan Roni. Salah satu tangannya turun dan mengusap perutnya dengan kasar.
"Aku ingin aborsi, tapi Bara melarangku."
"Jelas Bara melarang! Ayah pun nggak akan tinggal diam kalo sampai kamu berani mengugurkan janin itu. Jangan tambah dosamu dengan membuang janin tak tak bersalah itu. Cukup kalian berdua saja yang berdosa, sekarang waktunya kalian memperbaiki dosa dan kesalahan yang sudah kalian buat dengan merawat janin itu dengan baik!" saran Roni bijak.
Kyra tak lagi sanggup berkata-katanya. Hatinya mendadak suram, ia tak bisa membayangkan bagaimana masa depannya bila hidup bersama Bara. Terlalu banyak perbedaan yang sukar untuk disatukan. Meskipun Bara selalu memperlakukan Kyra dengan baik, namun hidup sebagai suami istri pastilah berbeda karena mereka akan hidup selama 24 jam nonstop.
Tok tok tok.
Kyra dan Roni menoleh secara bersamaan ke arah pintu. Secepat kilat Kyra menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Sepertinya ada tamu lagi. Ayah akan tunggu di luar." Roni berbalik dan membuka pintu dengan sigap.
Seorang wanita cantik sudah berdiri di depan pintu bersama dua orang pria berbaju safari hitam.
"Benarkah ini ruangan Kyra Sada?" tanya wanita itu dengan suaranya yang lemah lembut.
Roni menoleh ke ranjang putrinya. Ketika Kyra memberi kode dengan anggukan kepala, Roni pun mempersilahkan wanita itu masuk sementara ia menunggu di luar.
Dua pria itu menutup pintu dengan rapat ketika Nyonya mereka masuk ke dalam kamar rawat inap. Untuk berjaga-jaga, mereka pun berdiri di depan pintu.
"Benarkah kamu gadis bernama Kyra itu?" wanita itu menarik kursi dan duduk di dekat ranjang Kyra.
Dengan gugup, Kyra mengangguk. Melihat gayanya yang elegan dan anggun, sepertinya wanita ini masih memiliki hubungan dengan Bara.
"Saya Elena. Mamanya Bara," tuturnya lembut sembari mengulurkan tangan pada Kyra.
Untuk beberapa saat, Kyra hanya bisa mematung syok. Namun ketika menyadari bila wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu menatapnya dengan pandangan memindai, Kyra sontak membalas uluran tangan itu dengan kikuk.
"Maaf sebelumnya, ada keperluan apa Nyonya datang ke mari?"
"Benarkah kamu hamil anak Bara?"
Kyra terhenyak untuk beberapa detik. Apakah Bara sudah menceritakan hal ini pada orang tuanya?
"Bila aku boleh meminta satu hal. Bisakah kamu gugurkan janin itu?"
"A-apa?" Kyra terbelalak tak percaya.
Elena tersenyum sumbang, namun tatapannya masih tenang menelisik ekspresi Kyra.
"Aku tidak tahu apa tujuanmu menjerat Bara dengan bayi itu. Melihat gaya hidupmu yang sederhana dan apa adanya, aku pesimis bila motifmu adalah harta. Itulah mengapa aku memutuskan menemuimu untuk bertanya langsung, apa sebenarnya yang kamu inginkan dari putra kami?"
"Maaf, Nyonya. Jika anda menuduh saya materialistis, anda salah besar. Saya bahkan baru tahu bila status Bara seorang CEO setelah saya bekerja di perusahaan kalian. Sebelum itu, saya sempat mengira bila Bara hanyalah seorang Driver." Kyra memberanikan diri menatap Elena.
"Oh, ya?" tawa Elena pecah ketika mendengar kata Driver. "Sayangnya kamu begitu beruntung bisa memiliki calon anak dari seorang CEO. Entah aku harus berkata kamu malang atau beruntung!"
"Jadi tujuan anda kemari hanya untuk meminta saya aborsi?"
Elena mengangguk cepat. "Jangan membuat keadaan semakin sulit untuk Bara. Aku yakin kamu pun tidak mau hidup tersiksa bersama Bara yang notabene berbeda denganmu dalam segala hal."
Kyra tak menyahut, ia hanya menatap Elena dengan tatapan nanar.
"Bisa, kan? Aku akan membayar berapapun uang yang kamu mau, asal janin itu lenyap dan kamu pergi dari kehidupan Bara."
...****************...
gengsi aja di gedein pake ga ada cinta
di abaikan dikit udah kesel hahah