Grace Eloise seorang wanita lulusan mahasiswi tingkat atas yang sekarang sudah menjadi seorang dosen jurusan kedokteran di suatu kampus terbilang cukup elit tidak kalah terkenal dari kampus lainnya.
Wanita satu ini tidak kenal lelah karena hidupnya sangat keras sehingga dia menjadi orang yang mampu berdiri di kakinya sendiri.
Dikatakan keluarganya juga tidak terlalu mewah karena ayahnya bekerja di suatu bar kecil ibunya telah tiada dan sekarang hidup mereka sudah terbilang cukup lumayan akan tetapi sang ayah hanya menghabiskan uangnya hanya untuk berjudi dan mabukan.
Grace pernah melarikan diri dari rumah karena begitu marahnya terhadap sang ayah sebab dia sangat tidak di hargai sebagai seorang anak.
Bukankah anak perempuan sangat bermanja dengan ayah mereka?
Namun tidak untuk Grace, dia hanya tahu mencari uang untuk melanjutkan kehidupan mereka.
Sampai suatu ketika dia bertemu lagi dengan mantannya di sebuah cafe brsma seorang wanita.
Yuk ikuti kisahnya... 😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwa Yang Besar?
...『⇒Bab 35⇐』...
•Malam sebelum Grace di bawa ke apartemen oleh Elya•
Tepat di basman khusus memarkirkan mobil Elya melihat Grace sedang merebahkan kepalanya di bagian bangku mobil dan Elya merasa tak tega untuk membangunkan Grace yang tampak tertidur lelap namun kedua alis mata Elya menjadi saling bertautan karena ia mendengar suara hembusan nafas Grace terlihat tak beraturan bahkan keringat yang bercucuran di bagian dahinya keluar begitu saja tanpa henti.
"Grace, hei... Grace!" Elya menggoyangkan sebelah bahu Grace namun masih tak ada respon makanya terlihat raut wajahnya yang sedikit gelisah dan terus memanggil nama Grace berulang kali.
Nafas Grace terasa panas ketika mengenai tangan Elya sehingga ia secara langsung memegang dahi Grace seketika.
"Ya tuhan, suhu tubuhnya terlalu dingin tapi nafasnya terasa panas, apa yang sedang terjadi dengannya? bagaimana caranya aku membawa Grace ke dalam kalau begini?" riuh Elya merasa bingung sendiri seolah ia tampak begitu gelisah dan tak tahu harus berbuat apa.
Sejenak Elya berfikir dengan memejamkan matanya serta sesekali ia menoleh ke arah Grace yang masih dalam kondisi tidak baik.
"Kalau aku menghubungi Tama tidak mungkin aku meminta bantuannya untuk memapah Grace, coba aku hubungi Gibran saja!" gumamnya pula berbicara sendiri sehingga ia langsung meraih ponsel genggamnya serta mencari nomor kontak anaknya itu.
Tuttt
Tuuutt
Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan...
"Astaga, apa dia sudah tertidur?" gumamnya lagi, namun ia masih terus berusaha menghubungi Gibran tetapi tetap tidak tersambung. "Bagaimana ini? siapa yang harus aku hubungi?" gerutunya pula sehingga ia bertambah panik sendiri namun jemari telunjuk tangannya tampak sedang mengetuk-ngetukkan dahinya.
"Hanya satu yang bisa aku hubungi sekarang! ya, cuma dia yang berada dekat dengan daerah ini."
Elya langsung mencari kontak yang ingin ia hubungi setelah mendapatkan nomor tersebut ia pun menekan tombol memanggil dan melekatkan ponsel genggamny ke arah telinga serta tampak ia menyeka perlahan keringat yang membasahi wajah Grace menggunakan tisu.
Yap, saat ini Elya sedang berusaha menghubungi seorang wanita berusia 30 tahun merupakan orang kepercayaan keluarga Lais untuk menemani nenek Gibran ketika berada di rumah, sebut saja namanya Sekar yang sudah jelas umurnya berada di bawah Elya akan tetapi Sekar sangat lihai dalam menjalankan pekerjaannya secara profesional sebab itulah ia di pertahankan untuk menjaga orang tua kandung dari Elya sendiri.
Sekar berasal dari daerah manado namun setelah ia bercerai dari suaminya yang ketahuan berselingkuh dengan wanita lain ia pun merantau menenangkan dirinya sekaligus mencari pekerjaan supaya bisa menghidupkan kedua orang tuanya yang masih berada di manado saat ini lagipula ia belum memiliki anak makanya ia bisa pergi kemanapun asal ia tetap mengirimkan uang pada orangtuanya.
Ibunda kandung Elya bernama Emma dan sekarang sudah berumur 68 tahun tentu saja akan banyak penyakit yang di alami olehnya lantaran faktor usianya tersebut bahkan urusan pola makan setiap harinya sudah di atur oleh Sekar sendiri sebab ia di berikan wewenang untuk mencegah apapun yang berhubungan dengan kesehatan sang ibunda.
Setiap harinya Sekar datang dan setelah pekerjaannya selesai ia pun pulang ke kontrakannya kembali padahal Elya sudah menyarankan untuk tinggal di rumahnya saja namun Sekar menolak lantaran tidak ingin menjadi beban keluarga Lais lagipula beberapa pengurus rumah Elya juga masing-masing telah di berikan kamar khusus untuk tempat tinggal mereka tetapi Sekar tetap ingin tinggal di rumahnya sendiri mungkin ia merasa lebih leluasa jika berada di dalam rumah miliknya.
Tutt
"Halo," sahut Sekar pula di sebrang sana.
"Maaf sudah menganggu malam-malam begini, apa kau sudah tidur Sekar?" tanya Elya setelah panggilannya di jawab oleh Sekar sembari ia pun membuang nafas leganya.
"Belum nyonya muda, ada apa nyonya? apa ada masalah yang terjadi pada nyonya besar?" riuh Sekar di balik ponselnya dan seketika ia bangkit dari kasurnya terdengar sedikit panik karena tidak biasanya Elya sampai menghubunginya larut malam begitu.
"Tidak ada masalah dengan ibu saya, hanya saja saya ingin meminta bantuan pada mu Sekar," sambut Elya menjawab kepanikan yang terdengar olehnya.
"Bantuan apa nyonya muda?" tanya Sekar lagi dari balik ponselnya sehingga ia membuang nafas lega karena tidak ada hubungannya dengan Emma dalam topik pembicaraan mereka saat ini.
"Kalau kau tidak keberatan apakah kau bisa datang ke alamat yang saya kirim sekarang? sepetinya tidak jauh dari lokasi rumah mu," tutur Elya secara pelan ia berkata demikian sembari mematikan AC mobilnya karena ia melihat Grace sudah menggigil sebab mulutnya tampak gemetaran bahkan ia menggenggam erat jemari tangan Grace untuk memberikan kehangatan padanya.
"Oh baik nyonya muda, saya akan secepatnya ke sana!" turut Sekar pula sehingga ia dengan sigapnya untuk bersiap diri.
"Terimakasih Sekar saya akan kirim alamatnya melalui pesan," cakap Elya pula terdengar merendah sebab memang ini sudah bukan lagi jam kerja Sekar namun dia tetap tidak berat hati untuk menolong Elya.
"Sama-sama nyonya muda," turut Sekar lagi dari sebrang.
"Baiklah, saya matikan dulu ya Sekar?" imbuh Elya pula.
"Iya nyonya," sahut Sekar lagi dengan ramah.
Panggilan terputus...
Setelah pembicaraan mereka terhenti kini Elya dengan sigapnya mengetik pesan yang akan ia kirim pada Sekar.
Pesan terkirim
Elya membuang nafas panjang sembari merapikan rambut Grace yang terlihat menutupi wajahnya itu kemudian tak hentinya ia menghembuskan nafas dari mulutnya berulangkali ke bagian punggung tangan Grace.
"Sabar lah Grace, kau harus bisa menahannya sebentar saja!" gumam Elya dengan raut wajah yang terlihat takut karena Grace belum juga merespon dirinya.
.
.
.
"Begitulah ceritanya nona, makanya nona ada di sini."
Sekar menjelaskan semuanya pada Grace secara rinci apa yang telah terjadi dengan dirinya di waktu malam itu sehingga Grace terduduk di sofa hanya terdiam seolah ia merasa sudah banyak merepotkan Elya yang terus membantunya.
"Nona, saya melihat nyonya muda begitu khawatir pada anda nona sampai-sampai nyonya merawat nona hingga subuh baru pulang," ungkap Sekar mengatakan apa yang di lihat olehnya.
Setelah mendengar pengakuan dari Sekar barusan Grace begitu tidak menduga karena Elya sangat perduli padanya.
"Apa tante tidak memiliki keluarga? kenapa sampai pagi merawat ku?" tanya Grace seketika membuat Sekar heran dengan pertanyaan Grace barusan.
"Apa nona baru mengenal nyonya muda?" balik bertanya pula.
Grace hanya anggukan kepala mengiyakan pertanyaan Sekar padanya.
Sekar malah menautkan kedua alis matanya melihat respon Grace yang tampak memang tidak tahu asal usul Elya.
Kenapa nyonya muda sampai sejauh itu menolong gadis ini? apa ada sesuatu yang di inginkan oleh nyonya? batin Sekar berbicara dalam benaknya sebab ia juga tak menduga kalau Elya merawat Grace seperti anak sendiri.
"Nyonya muda sudah menikah serta memiliki anak lelaki masih menjalankan study kuliahnya, adapula seorang ibu yang sudah tua dan kebetulan saya lah orang yang merawat ibunda dari nyonya muda," cakap Sekar secara jelas sehingga ia mengatakan yang sebenarnya lagipula ia paham betul kalau Grace merupakan orang yang penting untuk Elya dari apa yang ia lihat sebelumnya.
"Oh begitu... Lalu kenapa anda masih di sini? bukankah seharusnya berada di rumah tante? ayo cepatlah pergi nanti anda bisa terlambat," riuh Grace merasa panik sendiri setelah mendengar cerita dari Sekar.
"Justru saya di sini atas perintah nyonya muda untuk merawat nona sementara waktu," ucapnya secara tersenyum ramah di hadapan Grace.
"Perintah? aku baik-baik saja jadi anda bisa kembali lagi, kasihan ibunya siapa yang akan merawat nantinya?" tanya Grace pula sejenak membuat Sekar jadi tersenyum kecil.
"Mungkin kalau saya kembali sudah pasti di pecat nona, hehehe!" kekehan kecil baru saja keluar dari mulut Sekar padahal dia tipe orang yang susah berbaur pada orang lain namun untuk kali ini ia malah senang bisa berbicara pada Grace.
"Ah, kok..."
"Sudah nona, sekarang pergi sarapan dan di atas meja saya juga telah siapkan obat yang akan nona minum, ohya ada pesan dari nyonya muda kalau nona di larang pergi ke kampus sebelum kesehatan nona kembali pulih," seru Sekar terdengar ingin menghentikan pembicaraan mereka supaya Grace lebih cepat mengisi perutnya.
"Baiklah, ayo sarapan denganku!" ajak Grace pula serta tampak senyuman tipis di wajahnya.
"Saya sudah sarapan sebelum nona bangun, jadi nona saja sarapan saya masih ada pekerjaan lain, permisi nona!" tolak Sekar secara sopan sebab tak mungkin ia setuju dengan ajakan Grace sebab ia merasa tidak enak jika terlihat oleh Elya nantinya.
Sekar berlalu begitu saja sementara Grace berniat ingin memaksanya untuk makan bersama namun Sekar terlihat terburu-buru pergi darinya.
Grace bangkit dari duduknya lalu ia mengarah ke meja makan dan setelah ia berada di ruangan meja makan ia melihat begitu lengkapnya tersedia di atas meja tersebut seperti bubur, sop daging sapi, jus jeruk hangat, serta beberapa macam potongan buah.
Betapa ia belum terbiasa di perlakukan layaknya tuan rumah seperti itu karena ia tak pernah merasakan hal tersebut sebelumnya malah ia tak pernah sekalipun di sediakan sedemikian rupa saat ini.
^^^To be continued^^^
^^^🍁 aiiWa 🍁^^^
...Kutipan :...
Hidup bukan tentang mendapatkan serta memiliki tetapi ini tentang memberi dan menjadi sesuatu. ~ Grace Eloise.
kisah perjuangan seorang Grace wanita hebat dan tangguh yang menjalani kehidupannya dg ayahnya dg kekuatannya sendiri...
sangat suka dg cerita seorang wanita tangguh yg sll di suguhkan author u para readers dg jalur cerita yg sangat menarik u di baca...
semangat ya thor u semua karya2 mu yg luar biasa. God bless always.
anak tiri di sayang sayang anak kandung di sia sia kan... sungguh ayah yg tidak bertanggung jawab terhadap anaknya
ngakak aq beb boy dpet baju ocha, warna apa sih.. jan bilang pink boy🤣🤣
untung aja OCHA msh selamat, bhya gk bisa renang