NovelToon NovelToon
Adek Gue BAD

Adek Gue BAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Contest / Keluarga / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Dendam Kesumat / Pihak Ketiga
Popularitas:80.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Biru

Terlahir dengan nama Ulyana Zahra Fitriangsih, orang tuanya berharap anak mereka tumbuh elok seperti namanya.

Namun, itu semua hanyalah angan semata. Masa lalu mengantarkannya untuk menapaki dunia hitam yang tak seharusnya ia jamah. Bahkan, ia yang memegang kendali atas semuanya.

Satu nama yang tersamarkan di publik, nama yang memuat banyak rahasia. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik punggungnya, tapi ketidaktahuan itu lebih baik dari pada membawa petaka.

Darel Ario Kusuma, seorang kakak yang sangat menyayangi Zahra. Gadis itu segalanya, hidupnya.

Lantas, bagaimana cara Rio menjaga Zahra tanpa kehadiran kedua orangtuanya?

****

Simak terus cerita ini, jangan lupa dukungannya dengan vote, like dan komen.
Terimakasih 🌹

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Mulai Cerah

Sudah satu minggu Zahra bersikap aneh, kedua kakaknya sampai heran melihat sikapnya. Gadis itu selalu mengikuti mereka kemana pun, tergantung ia posisinya lagi dekat dengan siapa, ya itu yang dia ikuti.

Di kampus juga Zahra terlihat lebih pendiam dari biasanya, dia cuma banyak bicara dengan Devan. Ardelia yang cerita panjang lebar tentang kakeknya yang masuk rumah sakit, sampai koma gara-gara perampokan hanya dijawab iya-iya saja.

Devan jadi sering mengajak Zahra ke rumahnya, soalnya kalau di rumahnya Zahra terhibur. Bisa ngobrol, masak, bercanda bareng ibu sama ayahnya. Pernah satu kali, saat itu Devan mengajak Zahra ke taman dan mall, tapi reaksinya hanya diam saja, merespon seperlunya. Lalu, Devan membawa Zahra ke rumahnya, baru dia bisa terbahak bersama ibunya.

Rizki menduga saat ini Zahra sedang kesepian, yang dia butuhkan hanya orang-orang yang dia sayang ada di dekatnya. Makannya, dia selalu mengikutinya atau Rio. Menjahili bibi, padahal bibi lagi banyak kerjaan. Kadang juga merengek meminta diantar ke rumahnya Devan saat hari sudah malam. Alhasil, Zahra menginap di sana.

Duo R sedang mencari tahu, sebenarnya apa yang terjadi dengan adik mereka. Yang mereka tahu, Zahra bersikap aneh saat mereka mendapatkan panggilah dari Revan hari itu. Mereka tentu terkejut ketika adiknya dikabarkan berhalusinasi dan mendapatkan satu luka tembak. Mereka sempat membawanya pada dokter Ana, tapi Zahra tetap seperti itu.

Mereka sekarang sedang makan pagi, alias sarapan.

"Nanti gue mau nyambangin proyek mall di daerah Senayan, lo mau ikut?" tanya Rio.

"Atau lo mau ikut gue, hari ini mau ke pabrik yang di daerah Bekasi. Lo kan suka jalan-jalan, tuh," tawar Rizki.

Zahra tersenyum menatap kedua kakaknya, lalu dia menggeleng. "Gue udah ada janji sama orang, mungkin lain kali."

Mereka balas tersenyum, keadaan Zahra jauh lebih baik pagi ini. Samuel menelepon Zahra semalam dan memberi tahu kalau keadaan Wahyu membaik, tapi pria berambut putih itu masih memejamkan mata. Zahra meminta bertemu pagi ini.

"Kak, gue duluan." Zahra pergi ke kamarnya setelah ia selesai makan.

Satu minggu berlalu, kini saatnya berubah. Zahra mulai melanjutkan kembali aktivitas seperti biasanya.

Ia memasuki kamarnya. Gadis itu tersadar setelah berbicara empat mata dengan Putra kemarin. Zahra bukan seperti ini, ini bukan dirinya. Zahra bukan gadis yang lemah, banyak yang harus ia kerjakan dari pada menyesali apa yang sudah terjadi.

Gadis itu tahu bahwa ia banyak merepotkan kedua kakaknya, bibi dan juga keluarga Devan. Karena nasihat Putra kemarin, ia kembali mendapatkan citranya sebagai Ulyana Zahra—ditambah kabar baik dari Samuel yang kian membuat hatinya lega.

Zahra membuat janji dengan Samuel jam 9 pagi, sekarang masih jam 7, artinya ia masih mempunyai waktu luang selama 2 jam.

Gadis itu membanting diri ke ranjang, memikirkan apa yang akan ia lakukan 2 jam ke depan. Ia sudah izin untuk tidak masuk kampus hari ini.

Zahra sempat membuka kulkas sebentar sebelum sarapan, bahan makanan tinggal sedikit, mungkin hanya sisa untuk makan siang. Setelah bersih-bersih Bi Heni sepertinya akan pergi belanja. Apa ia ikut saja?

Gadis itu beranjak dari acara berbaringnya, berjalan menuju bibi yang sedang menyapu di dapur.

"Bi," sapanya tersenyum lima jari, menampilkan deret gigi putihnya yang tersusun rapi

"Hm ... kamu ngapain di situ? Ngalangin bibi nyapu aja!" Bibi menunjuk Zahra dengan dagunya.

Gadis berkaus biru muda dengan gambar laut lepas itu memberengut, membuat Bi Heni tertawa dengan ekspresi yang ditampilkannya.

"Bibi! Apa, sih?" ucapnya kesal.

"Apa? Bibi ga ngapa-ngapain, ya?" Bibi melanjutkan pekerjaannya, mengabaikan Zahra yang tetap melanjutkan aksi merajuknya.

"Bi, Rio berangkat dulu." Tampak seorang pria dengan blazer navy, menuruni tangga dengan tergesa. Zahra terkejut melihat kakaknya yang masih berada di rumah, padahal ini sudah jam 7 lewat 10 menit.

"Kamu hati-hati. Jangan ngebut nyetirnya!" pesan bibi setelah Rio melepaskan tanganya.

"Katanya ada proyek, kok jam segini baru berangkat, cih!" Setelah pamit dengan Bi Heni, Rio juga berpamitan pada gadis kecilnya ini.

"Proposal gue nyelip, ini baru ketemu."

"Proyek lo kan udah mulai, kok proposal lo baru maju?"

"He–he, kemaren yang asli ketinggalan. Gue ingatnya pas mau nyodorin proposalnya, untungnya dia nerima presentasi gue. File yang ada di laptop, salinannya gue kasih ke dia."

"Ga profesional banget sih, kalau gue jadi dia, udah gue batalin kontraknya. Ga jadi kerjasama sama orang yang ga profesional."

"Yeu, malah nasehatin gue lo. Gue berangkat dulu, kalau mau pergi hati-hati." Tangannya terulur mengusap kepala Zahra, kemudian mengecupnya.

"Dahhhh ...."

"Kamu ga ngampus?" Bibi mendudukkan diri di samping Zahra.

Gadis dengan seribu wajah itu tersenyum. "Udah izin sama kakakmu emang?" tanya bibi lagi.

"Tadi pas mereka belum berangkat mereka ga bahas apa-apa. Di meja makan tadi, mereka malah nawarin buat ikut mereka, aku nolak, soalnya aku udah aja janji lain. Mereka senyum doang, kemungkinan mereka ngizinin kan?"

Bibi mengangguk.

"Bibi habis ini mau belanja?"

"Iya."

"Ikut ya, Bi?"

"Oke. Ya udah, bibi siap-siap dulu."

"Nanti kalau udah selesai langsung ke depan aja, aku tunggu di depan."

Bibi kembali mengangguk.

...****...

Zahra sudah kembali dari acaranya berbelanja bahan makanan bersama bibi, kini dia disibukkan oleh beberapa file yang menunggu giliran untuk dicek.

Sehabis berbelanja Zahra langsung masuk ke kamarnya, handphone-nya membludak sebab Elvin terus mengiriminya email. Zahra segera menyambungkan file itu ke komputer, akan lebih mudah memeriksa file lewat komputer dari pada lewat HP.

Jari-jari lentiknya begitu lincah menari di atas keyboard, menyempurnakan beberapa proposal untuk proyek terbarunya di Bali. Ia akan mengembangkan sebuah hotel di sana, yang nantinya akan jadi tempat menginap rekan kerjanya saat mereka ada di Bali. Kantor cabang yang di Bali sudah siap kerja dan sedang memasukkan segenap karyawan baru.

Setelah selesai dengan proposalnya Zahra segera mengirimnya kembali pada Elvin, biar segera di print. Ia nanti akan mampir setelah dari tempat Samuel, sekedar membubuhkan tanda tangan dan mengecek segala persiapan.

Sebelum masuk kamar mandi Zahra teringat sesuatu, ia langsung menghubungi bodyguard-nya.

"Halo, Bona."

"Yes, Nona."

"Di mana Mr. Ronald?"

"Saya kembalikan pada anak istrinya, pastinya mereka membutuhkan Tuan Ronald."

"Baguslah. Serahkan Mr. Ronald dan bukti kejahatannya pada Thamrin sore ini. Biar kedua saudaraku yang mengurusnya. Tapi sebelum itu, tutup mulutnya untuk tidak membeberkan kejadian satu minggu yang lalu."

"Jika dia tidak mau. Apa saya harus memberikannya kembali pada, Nona?"

"Ya. Serahkan padaku."

"Baik, Nona."

Zahra segera masuk kamar mandi. Jam menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Jangan sampai Samuel menunggu diriya terlalu lama. Mengingat jarak tempuhnya ±20 menit untuk mencapai tempat kerja Samuel.

Ia mengendarai mobil seperti biasa, pengguna jalan lain tak henti membunyikan klakson mereka karena ulah Zahra.

Tepat pukul 9 kurang 3 menit Zahra telah sampai di basement Suryaprima Group. Zahra memarkirkan mobilnya dan segera menuju loby perusahaan.

Setelah sampai di loby, Zahra menuju meja resepsionis. "Permisi, Mbak."

Resepsionis itu menoleh dengan senyum anggunnya. "Ya. Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya ingin bertemu Tuan Samuel? Apa beliau ada?"

"Maaf, sudah membuat janji?"

"Sudah."

"Akan saya hubungi Tuan Samuel. Maaf, atas nama siapa?" tanya resepsionis itu.

"Ulyana Zahra, Mbak."

"Baik, mbak Ulyana Zahra, silahkan menunggu dulu," ucapnya sambil menunjuk sofa dengan warna merah menyala.

"Maaf, saya nunggunya di kantin saja. Soalnya saya janjiannya di kantin. Tolong disampaikan, ya?"

"Baik, Mbak. Mbak mau diantar?"

"Makasih. Saya permisi."

Zahra melangkahkan kaki jenjangnya menuju kantin yang ada di Primasurya. Kantinnya luas dengan berbagai menu makan siang dan cemilan.

"Waiters." Zahra melambaikan tangannya.

"Ya, Mbak. Mau pesan apa?"

"Saya mau mocachino satu. Camilannya ada apa aja?"

"Kami menyediakan stik, tahu kres, dan beberapa kripik."

"Widihhh, camilan lo anti ngantuk juga, ya?"

Pelayan itu tersenyum.

"Pasti stik dan kripiknya banyak variannya. Ya, gak?" Zahra mengubah bahasa formalnya menjadi bahasa santai.

"Iya."

"Kalau gitu stiknya gue mau yang dua paling enak, sama kripiknya gue mau semua."

"Baik, saya catat dulu. Permisi." Waiters pergi.

Samuel yang baru saja memasuki kantin mengedarkan pandangan mencari seorang gadis yang telah menunggunya.

"Itu Zahra bukan, sih?" Ada seorang gadis di sana, ya hanya dia. Karena kantor saat ini masih jam kerja, jadi semua orang masih sibuk di ruangannya masing-masing.

"Zahra!" Gadis itu menoleh sambil tersenyum. Samuel menghampiri gadis itu dengan senyum kecil.

"Silahkan duduk, Om."

Samuel menarik kursi tepat di depan gadis itu. "Sudah lama?" tanyanya.

"Baru juga duduk."

Samuel terkekeh. "Om kira kamu sudah menunggu lama."

Zahra tersenyum. "Jadi, bagaimana keadaan kakek?"

Samuel tentu tahu untuk apa gadis di depannya ini mengajak bertemu secara privat. "Kakek kamu baik-baik saja, semalem alat bantu napasnya sudah mulai dilepas, karena pernapasannya membaik. Luka jahitannya juga sudah menutup sempurna. Kamu berdoa saja semoga Tuan Wahyu cepat sadar!"

"Iya, Om. Saya juga berharap kakek cepat sadar. Lalu, siapa yang memimpin perusahaan ini jika kakek masih di Rumah sakit?"

"Harusnya putra pertamanya, tapi Den Rivan sepertinya tidak tertarik dengan dunia bisnis seperti ini. Dia lebih tertarik untuk mengelola kebun bunga milik almarhum ibunya. Lalu menantunya juga sudah memiliki pekerjaan sendiri, jadi saya yang sementara menggantikan beliau."

Zahra mengangguk. "Lalu cucunya? Kakek pernah cerita kalau dia punya cucu?"

Samuel terkekeh. "Nona Lia sepertinya juga tidak terlalu tertarik dengan bisnis, ia mengambil ilmu pendidikan di kampusnya. Sepertinya memilih menjadi guru."

Mereka membicarakan banyak hal sampai tak terasa jika sudah waktunya Zahra untuk berpamitan. Ia akan mengunjungi perusahaan yang telah lama telantar olehnya, meskipun diurus oleh orang kepercayaannya.

Sampai disana ia disambut oleh beberapa karyawan yang kebetulan sedang melintas.

Zahra menuju ruangannya di lantai delapan dan memanggil Elvin untuk menghadap. Besok mereka akan mengajukan proposal pada kepala daerah, proyek ini tidak boleh gagal atau ditolak. Keuntungan yang dihasilkan jika  membangun proyek di sana tergolong besar.

...****...

Di ruangnya, seorang pria dengan jabatan CEO sedang mengecek grafik perkembangan perusahaan dari waktu ke waktu. Pandangannya terfokus pada tablet yang digenggamnya, di sana menampilkan grafik-grafik dengan perkembangan signifikan yang cukup memuaskan. Sejauh ini perusahaan tidak ada masalah di bawah kendalinya.

Dering telpon membuyarkan konsentrasinya, di sana suara anak buahnya menyapa. Setelah menutup telepon, pria itu segera menelpon seseorang yang telah menjadi bagian di keluarganya.

"Nanti balik agak siangan, jangan terlalu sore. Ada yang harus dibicarakan"

"...."

"Balik aja, gue tunggu di rumah!"

"...."

Setelah mendapat apa yang diinginkan, ia kembali meneruskan pekerjaan. Tak lama seorang karyawan masuk, menunjukkan laporan-laporan tertentu yang harus segera di periksa.

...***...

Kediaman Ario malam ini terasa sepi dan mencekam. Biasanya di sana tercipta obrolan tidak penting yang menjalar kemana-mana, dengan sebuah tawa hangat yang menggema. Tetapi kini, tak ada satu pun suara yang terdengar. Bahkan, suara hewan enggan menunjukkan eksistensinya.

Sementara itu tuan putri dari keluarga Ario masih berkutat dengan laporan-laporan kerja yang bersliweran di meja kerjanya. Sehabis dari kantor tadi siang, ia pulang dengan membawa segebok berkas-berkas yang harus diperiksa sebelum ia setujui dan diluncurkan. Juga beberapa laporan keuangan.

Tak lama suara ketukan pintu terdengar, gadis itu segera merapikan berkas-berkas yang ada di meja belajarnya. Ia masukkan semua berkas itu ke laci, berjaga-jaga jika nanti ada yang masuk ke kamarnya dan melihat kertas-kertas itu ada di mejanya.

Bisa gawat kalau ketahuan. Tidak! Belum saatnya mereka tahu!

Ketukan pintu kembali terdengar dan terlihat tibak sabar.

"Dekk ... lo di dalam, kan?" Sang pengetuk mulai curiga karena pintu tak kunjung terbuka. Biasanya kalau pintu tak kunjung terbuka, ia masuk dan tak menemukan seorang pun di dalam. Ya! Ia kecolongan!

Zahra berjalan dengan tergesa menuju pintu, ia membuka pintu dengan raut kesal yang tercetak jelas di wajahnya. "Kenapa, sih?"

"Ikut gue, ada yang mau kita omongin!" Setelah itu Rio turun, menuju ruang tamu, Zahra mengekori kakaknya. Di sana ada Rizki dan seorang paruh baya.

Rio duduk di samping Rizki dan Zahra duduk di sigle sofa, dirinya berada di antara kakaknya dan seorang paruh baya itu.

Zahra memandang kedua kakaknya meminta penjelasan yang lebih berarti, keduanya menganggukkan kepala kepada paruh baya tersebut. Zahra menatap mereka dengan pandangan bingung. "Jadi ...?"

Paruh baya itu menatap Zahra dengan pandangan yang sulit diartikan. "Maafkan bapak ya, Nakk," katanya lirih.

Zahra mengerutkan dahi tak mengerti. "Maksudnya apa, ya?"

Pria paruh baya itu mulai menceritakan perbuatannya tanpa menambah atau mengurangi setiap kejadian, dia juga bercerita keluarganya yang mengalami krisis ekonomi dan sangat membutuhkan biaya. Maka dari itu, ia tergiur dengan nilai yang diberikan oleh bossnya. Maka ia memilih jalan pintas dengan berusaha melenyapkan seorang gadis yang diminta bossnya.

Zahra memutar memori menuju kejadian satu bulan lalu, di mana dirinya hampir saja terluka oleh seorang pria misterius. Ternyata pria di depannya inilah yang ingin berbuat buruk padanya. Zahra menatap pria di depannya, untuk yang kedua kalinya.

"Tolong maafkan saya, saya berjanji tidak akan berbuat seperti itu pada nona kembali. Saya benar-benar terdesak dan tidak ada pilihan lain saat itu. Maafkan saya, Nona."

"Dek ...." Rio menyenggol lengan adiknya karena melihat Zahra tak kunjung memberikan respon.

"Ehhh, iya." Zahra memberikan senyum kikuk.

"Lo ga papa, Ra?" tanya Rizki dengan mengernyit.

Zahra menggeleng sambil tersenyum, kemudian mengalihkan atensi pada pria yang baru saya meminta maaf padanya. "Saya sudah maafin bapak kok."

Karena kesenangan mendapat maaf, pria itu tak sadar telah menggenggam tangan Zahra sambil menggumamkan kata terimakasih.

"Pak, he-he." Zahra mengangkat tangannya dan membuat pria itu tersadar akan perbuatannya.

"Maaf, refleks."

"Ga papa," jawab Zahra sambil tersenyum.

Setelah memberikan beberapa wejangan, duo R memberikan izin bagi pria itu untuk pergi, ia pulang dengan diantar oleh Thamrin sendiri. Dia tidak jadi diserahkan pada pihak berwajib setelah permohonan dari Zahra untuk melepaskan pria itu. Tapi Zahra sudah menjamin keamanannya dan keluarganya. Supaya iblis itu tak kembali memanfaatkan pria itu untuk kepentingannya.

Selepas kepergian pria paruh baya itu mereka bernapas lega.

Rio menengok sekilas pada pemuda di sampingnya. "Lo udah telepon Robby buat cari data orang itu?"

Rizki menyenderkan badan di sofa dan memejamkan mata, ia lelah. Susah juga untuk membuat pria paruh baya itu mengaku, padahal semua bukti-buktinya sudah ada. Kalau saja ia tadi tak mengancamnya, pria paruh baya itu mana mau mengaku. "Udah, tinggal tunggu kabar aja."

"Baguslah. Dek, kamu tau sama pria yang bernama Dioniel Alfareza? Dia yang incer kamu." Pastinya itu pertanyaan untuk tuan putri.

"Ada fotonya ga? Yang namanya Dion kan banyak, minimal ciri fisiknya gitu. Oh ya, gue inget ... om gue dulu namanya juga ada Dion-dionnya, tapi ga tau Dion siapa," jelas Zahra.

Mereka menghela napas, merasa lelah dengan semua yang terjadi.

"Kita cuma dapat nama orangnya aja, buat motif dan datanya belom ada, masih nunggu Robby. Tapi lo tenang aja, selama lo ada di pengawasan kita lo akan baik-baik aja," kata Rizki.

"Kamu ga ada kabar apa-apa dari Bandung tentang saudari tirimu dan om tantemu itu?" tanya Rio.

"Kakak tau sendiri kan, sejak dijemput sama papi gue ga pernah ke sana lagi. Meskipun gue suka bepergian, Bandung tetep tempat yang saat ini masih gue hindari. Ada waktunya sendiri kalau gue mau ke sana." Sungguh mengingat kejadian itu, Zahra menggelengkan kepala. Ia tak habis pikir.

Bukankah om-nya sudah mendapatkan apa yang diinginkan? Lalu kenapa masih juga menginginkan dirinya?

"Ga papa?" Rio mengusap sebulir air mata yang sudah jatuh ke pipi Zahra. Gadis itu hanya tersenyum tipis.

Zahra berpindah duduk ke tempat pria tadi, ia kini berada di depan duo R. "Ceritain dong tentang mama Areta, lo belum pernah cerita ke gue tentang mama," pinta Zahra pada Rizki.

Akhirnya Rizki menceritakan kehidupan masa lalu pada abang dan adiknya, hingga ia menjadi sukses seperti sekarang.

"Mmm, gue udah lama ga ziarah ke makam mama. Kalau ga sibuk, kalian mau ikut?" tanya Rizki pada kedua saudaranya.

Zahra menatap Rizki dengan berbinar. "Mau-mau," ucapnya bersemangat.

"Mau merengek buat mindahin makam orang lagi?" Rio melirik malas adiknya.

Zahra cengengesan. Sebenarnya ia penasaran, jasad siapa yang ada di pemakaman papi dan mamanya sebenarnya? "Kalau Kak Rizki ga keberatan, gue minta pindahin makam mama ke makam khusus keluarga kita. Soalnya makan orang tua kita ada di situ semua."

Rizki mengernyit bingung dengan penjelasan Zahra.

"Jadi, makam mama sama papanya Zahra sama makam mami yang di Bandung udah dipindahin ke sini, makam keluarga Ario. Alasannya sih biar kalau mau ziarah ga jauh-jauh," jelas Rio.

"Lagian waktu itu di Bandung makamnya ga keurus juga, ya gue minta pindahin ke sini aja biar lebih terurus."

"Gue si ga papa kalau makam mama mau dipindah, tapi mindahinnya sehabis kita dari sana aja."

Zahra mengangguk senang. "Mau bobo bareng ga?" tawarnya.

"Di tempat lo ya?"

Zahra mengangguk. "Cuma sebatas bobo, habis bangun langsung out!" Perkataan Zahra sukses diangguki kedua kakaknya. Mereka tidur bersama, dengan posisi Zahra di tengah. Karena kasur Zahra termasuk king size, jadi muat-muat saja untuk ketiganya. 

Jangan lupa like sama komen yaa

See you, Dear❤️

1
Zalma Fauzia
karya ini sangat sangat sangat bagus ☺️☺️
💞 Lily Biru 💞: terimakasih kak zalma uda baca Uda mampir... untuk up masih aku usahakan ya kaka... makasih bnyak sehat selalu ❤️😭
total 1 replies
Zalma Fauzia
lanjut terus KK ke BAB selanjutnya KK😉
Ir Syanda
Mereka seakan berkata, "Abang2 juga harus ikut!"
Ir Syanda
Simple sih, mereka hanya terlalu sayang sama kamu, Zahra ...
Ir Syanda
Hati2 over dosis weh ...
Ir Syanda
Zahra kenapa?
Ir Syanda
Kembali ke rutinitas, ye kean ...
Ir Syanda
Biasalah ...😌
Ir Syanda
Janinmu tak salah apa2 loh, janganlah sampe diaborsi ...
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
sip lah
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
good 👍😎
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
wow
Radiah Ayarin
Zahra perduli dan tak ingin terulang kesalahan yang kedua
Zaenab Usman 💓
luar biasa 🌹
..
gk baik buruk sangka hrs ttp baek sangka
..
lah adeke nangis lais kowe 🚶🚶
..
wkwkwkwk kutukan cinta
ᖴαуѕнα
kan si Putra malah usaha deketin Una padahal dia masih jadi pacar Zahra, emang gk bener si Putra ini🙄
ᖴαуѕнα
astaga Ra, napa gk sama Devan aja sih daripada sama Putra yg badboy itu
ᖴαуѕнα
Zahra sama Putra kayaknya sering bolos ya🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!