Spin of Senandung Lara.
Baca Senandung Lara lebih dahulu agar tidak bingung dengan jalan ceritanya.
Dendam pada Friska membuat Raka melampiaskan pada Nira yang tak lain adalah adik dari Friska.
Raka memperkosa Nira hingga mengandung dan membuat Nira terpaksa menikah dengan Raka, pria yang tidak Ia cintai.
Akankah pernikahan mereka bahagia jika niat Raka hanya balas dendam, lalu bagaimana dengan kekasih Nira yang tak lain adalah Vans sahabat Raka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Vans terlihat mengamuk diruangannya, Ia sangat kesal dan kecewa pada anak buahnya yang tidak becus mencari Nira juga tidak membawa Nada kepadanya.
Dua malam ini Ia sangat membutuhkan Nada disampingnya namun Nada malah kabur, ya Nada ternyata gadis yang cerdik tidak seremeh yang Vans pikirkan.
"Sial, aku menghabiskan uangku untuk membayar kalian semua dan lihat, bahkan kalian saja tidak becus!" umpat Vans pada anak buahnya yang kini tertunduk diruangannya.
"Saya akan mencarikan gadis baru jika Bos masih-"
"Cukup!" potong Vans tak ingin mendengar apapun dari Boni.
"Aku tidak ingin siapapun, jika kalian tidak bisa membawa Nira untuk ku bawakan Nada malam ini. jika masih belum membawa salah satu kalian akan kupecat semua!" ancam Vans yang membuat semua anak buahnya ketakutan.
Sementara itu Zian tampak mencari Nada ke kantor. Zian mencari informasi tentang pekerjaan Nada di bio milik Nada yang tertinggal dirumah dan sekarang Zian berada didepan kantor Nada.
"Bukankah itu bosnya Nada." gumam Zian saat melihat Raka keluar dari kantor.
Zian segera berlari mengejar Raka yang akan memasuki mobil.
"Hey tunggu!" Zian menarik tangan Raka membuat Raka terkejut dan berbalik menatap Zian heran.
"Siapa kau?" tanya Raka yang seperti pernah melihat Zian namun entah dimana Raka lupa.
"Kau lupa padaku, kita pernah bertemu dirumah sakit." kata Zian yang akhirnya membuat Raka ingat jika pria didepannya itu adalah kakak Nada.
"Kau Kakaknya Nada?"
"Ya, aku kakaknya Nada!"
"Untuk apa kau mencariku?" heran Raka.
"Dimana Nada? apa dia masih didalam?"
"Dia sudah pulang apa masalahnya?"
"Kau pasti membantu dia kabur karena kau menyukai Nada!" tuduh Zian membuat Raka melonggo tak percaya.
"Apa maksudmu? aku tidak mengerti!"
"Jangan pura pura bodoh, aku tahu kau pasti memiliki hubungan spesial dengan Nada, sekarang katakan dimana Nada?" tanya Zian sambil mendorong tubuh Raka.
Raka tentu saja emosi dengan perlakuan Zian, dengan sekali sentakan tangan, Zian jatuh terpental.
"Aku benar benar tak mengerti apa maksudmu dan aku sama sekali tidak tahu dimana Nada jadi jangan sembarangan menuduh!" kata Raka merapikan kemejanya lalu memasuki mobil.
"Sial, dimana gadis sialan itu!" umpat Zian merasakan seluruh badannya sakit karena dorongan Raka.
Zian sampai dirumah dan Ia sudah ditunggu oleh Boni serta beberapa orang anak buah Vans.
"Kau belum menemukan adikmu?" tanya Boni terlihat emosi.
"Belum Bang-"
Belum sempat Zian menyelesaikan ucapannya, semua anak buah Vans langsung menghajar Boni hingga babak belur.
"Karena kau kita hampir dipecat, bagaimana bisa kau tidak becus menjaga adikmu!" umpat para anak buah Vans dan terus menghajar hingga babak belum.
Beruntung Ratna keluar rumah dan menjerit membuat semua anak buah yang menghajar putranya berhenti dan langsung pergi.
"Apa kau belum berhasil menemukan Nada?"
Zian menggelengkan kepalanya, merasakan bibirnya sobek karena pukulan para anak buah Vans.
"Kita kerumah sakit sekarang." ajak Ratna namun di gelengi Zian.
"Zian sudah tidak punya uang."
Ratna melotot tak percaya, "Bagaimana bisa kau menghabiskan uang sebanyak itu dalam waktu sehari?"
"Aku kalah judi."
Plakkk... Ratna memukul kepala Zian.
"Dasar bodoh, Uang sebanyak itu kau berikan pada orang lain!" Ratna kesal dan meninggalkan Zian yang kesakitan.
"Jika tidak membawaku kerumah sakit jangan memukul ku Bu!" teriak Zian sambil memeganggi kepalanya yang terasa sakit.
Sementara itu, Raka sampai rumah Aiden tengah malam. Ia masih merasa kesal karena ulah Zian yang menuduhnya sembarangan.
"Bagaimana bisa dia mengatakan aku suka adiknya, huh dasar menyebalkan!" umpat Raka memasuki rumah dan ternyata masih ditunggu oleh Nira.
"Ku pikir Kakak tidak akan pulang malam ini." ucap Nira saat mendengar suara mobil Raka, Nira langsung berlari keluar untuk membuka pintu.
"Aku mengusahakan untuk pulang meskipun larut malam seperti ini."
Nira tersenyum, tanpa sadar tangan Nira mengelus perutnya yang masih Rata, "Terima kasih kak."
Raka ikut tersenyum dan ikut mengelus perut Nira, mata keduanya bertemu memandangi satu sama lain.
"Ekhemm..." suara dari arah dapur mengejutkan keduanya.
"Aku hanya mengambil minum, lanjutkan saja." kata Aiden membawa segelas air minum dan langsung pergi ke kamarnya.
Raka berdecak melihat tingkah usil Aiden, tak menyangka Tuannya itu memiliki selera humor.
"Kakak sudah makan malam?"
Raka menggelengkan kepalanya, "Aku belum sempat makan malam, apa ada lauk yang tersisa?"
"Tentu saja ada, pergilah mandi. aku akan menghangatkan lauk untuk kakak." kata Nira langsung pergi ke dapur.
Raka tersenyum memandangi punggung istrinya yang kini sudah memasuki dapur. Raka masih tidak menyangka Nira akan memaafkannya secepat ini mengingat apa yang sudah Ia lakukan sangat keterlaluan.
Selesai mandi, Raka segera turun untuk makan malam dimana Nira sudah menyiapkan makanan untuknya.
"Siapa yang memasak?"
"Aku dan kak Lara, apa enak?"
Raka menganggukan kepalanya karena mulutnya penuh.
"Aku sudah belajar banyak resep dari Kak Lara. nanti jika kita sudah kembali kerumah, aku akan memasak setiap hari untuk Kakak."
Raka tersenyum, "Bukankah kamu memang suka memasak setiap hari?"
"Tapi rasanya masih belum seenak sekarang Kak."
"Masakan mu selalu enak." puji Raka.
"Ck, jangan membual Kak, aku saja tidak suka masakanku sendiri bagaimana bisa kakak bilang enak." protes Nira.
"Aku berkata jujur, masakanmu selalu enak menurutku." kata Raka masih sama.
Nira akhirnya hanya mengangguk, Ia tidak ingin berdebat dengan Raka lagi.
Selesai makan malam, Keduanya naik ke atas untuk tidur karena kantuk yang menyerang membuat keduanya segera terlelap saling memeluk satu sama lain.
"Kau mencintai Nira?" tanya Aiden pagi ini saat Raka bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Saya masih belum tahu."
"Kulihat kau sudah mencintainya." kata Aiden.
Raka tersenyum, "Kenapa Tuan bisa berkata seperti itu?"
"Karena kau rela menempuh perjalanan selama lima jam setiap hari bahkan sampai mengurangi waktu tidurmu, jika tidak cinta, kau tidak mungkin melakukan itu." jelas Aiden.
Raka terdiam, Ia sendiri bingung dengan perasaannya. Ia masih ragu, apa benar Ia sudah mencintai Nira atau mungkin apa yang Ia lakukan karena kasihan dengan Nira yang kini sedang mengandung darah dagingnya? entahlah Raka sendiri juga tidak tahu.
"Kak, bekalnya." teriak Nira dari pintu.
Aiden tersenyum, "Pikirkan lagi apa yang baru saja ku ucapkan." kata Aiden lalu pergi meninggalkan Raka.
Nira berjalan mendekat dan memberikan kotak bekal pada Raka, "Mulai hari ini aku akan membuatkan bekal untuk kakak setiap hari."
Raka tersenyum, "Tidak perlu, nanti kau lelah."
"Ck, tentu saja tidak kak. aku ingin Kak Raka selalu mengingatku meskipun Kak Raka sedang bekerja." ungkap Nira yang entah mengapa langsung membuat jantung Raka berdegup kencang.
"Kenapa pipi Kakak memerah, apa kakak sakit?" tanya Nira dengan polosnya saat melihat kedua pipi Raka merona.
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaa