Kisah ini dibumbui dengan air mata, emosi, kesabaran, perjuangan, kecerdasan, dan permainan otak.
Berawal dari dilecehkan calon suaminya, hamil, lalu keguguran, dijebak sampai terkena sindrom trauma pelecehan seksual dan dikhianati orang-orang kepercayaan sampai gagal menikah di hari-H. Tidak hanya disitu, setelah dia menikah dengan pemuda kaya nan rupawan dari Negeri Ginseng yang telah menyelamatkan hidupnya, wanita ini harus menghadapi beberapa wanita pengganggu yang sering kali ingin merebut suami berharganya. Namun, saat ini tidak mudah untuk berhadapan dengannya, karena dia wanita tangguh, cerdik dan pandai bersilat lidah.
Aku sarankan jangan mengusik ketenangannya, apalagi sampai berniat merebut suaminya! Kalau tidak, hidup kalian akan dibuat merana seperti para pelakor yang ada di dalam cerita ini. Yuk, simak, cerita yang bikin greget gemes degdeg serrr ini...
...
Mampir juga ke karyaku yang lainnya, 'Istri Kecil Yang Nakal' sangat direkomendasikan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Alyazahras, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penculikan I
.
Esme diseret masuk ke dalam mobilnya. Ternyata, di dalam mobil sudah ada dua orang lelaki yang sedang menunggu, mereka juga memakai penutup wajah.
Esme mengatur nafasnya, ia berusaha tenang dan mengikuti mereka dulu, lalu ia akan mengatur strategi agar bisa kabur di waktu yang tepat.
Di sepanjang perjalanan Esme hanya terdiam, tangannya pun di ikat tali. Esme mengetahui orang yang menculiknya ini bukanlah orang sembarangan, mereka menguasai ilmu bela diri. Jadi, Esme tidak akan gegabah mengambil tindakan, jika Esme gegabah, mungkin saja keselamatannya akan terancam.
Mobil terhenti, Esme melihat ke luar kaca jendela mobil. Dimana ini? Tempatnya sangat gelap, yang terlihat hanyalah pohon-pohon besar.
Saat ketiga orang penculik itu ke luar dari mobil. Esme merogoh kantung celananya diam-diam, ia membuka ponselnya dan segera mengaktifkan lokasinya saat ini.
Duk... duk... duk...
Salah satu penculik itu menggedor-gedor kaca mobil, hingga membuat Esme terkejut. Esme segera menyelipkan ponselnya ke dalam baju, lalu ia keluar dari mobil itu dengan hati-hati.
"Cepat!" ucap penculik itu sedikit mengotot.
Tubuh Esme di dorongnya masuk menuju sebuah rumah. Ia berjalan di atas rerumputan yang penuh dengan sampah.
Esme segera menjatuhkan ponselnya di samping pohon besar, sebelum para penculik itu mengambil ponselnya.
"Pastikan dulu, tidak ada yang dia bawa !" kata salah satu penculik itu.
Bruk...
Esme menendang kaki si penculik yang akan meraba tubuhnya. "Jangan coba-coba kau menyentuhku!" kecam Esme. "Aku tidak membawa apapun. Tasku tertinggal saat kau menyeretku masuk ke dalam mobil!"
Raut wajah Esme tidak bersahabat, membuat para penculik bingung menyikapi wanita yang diculiknya.
"Ayo, cepat masuk!" Para penculik sedikit meragukannya.
Esme pun mengikuti setiap perintahnya. Ia masuk ke dalam rumah kosong tak berpenghuni. Keadaan rumahnya sangat kumuh.
Sebenarnya... siapa dalang di balik ini semua? (Batin Esme terus bertanya-tanya)
Esme diperintahkan duduk di sofa, kemudian para penculik itu keluar. Mereka mengunci pintu, menempatkan Esme di ruangan yang kurang pencahayaan. Esme menelan salivanya karena ia sangat takut kegelapan, apalagi jika malam hari tiba. Pendengarannya menajam tanpa perintah, suara jangkrik dan suara binatang lainnya terdengar begitu jelas di telinga Esme. Keringatpun mulai bercucuran, tubuhnya sedikit gemetar. Perasaannya menjadi tidak tenang.
Berpikir positif, Esme. Tidak ada hantu disini!! Tidak ada!! (Esme meyakinkan dirinya sendiri sambil terus berdoa di dalam hati)
....
Sudah pukul 04:03 WIB
Esme tidak dapat tidur, ia hanya terus berpikir dan mencari celah untuk kabur. Sayangnya para penculik sangat ketat mengawasinya di luar. Di rumah itu pun tidak ada jendela yang bisa di buka. Semua jendela di tutupi dengan kayu.
Kedua matanya makin di paksakan semakin berat. Saat akan memejamkan kedua matanya, tiba-tiba saja ada seorang pria masuk ke dalam.
Duk...
Duk...
Duk...
Siapa itu? Langkah kakinya semakin dekat, tapi Esme tak dapat memastikan siapa orang itu karena pencahayaan yang redup.
.
*********
Satu hari telah berlalu.
Saat ini pukul 05.12 WIB, di kediaman Tn.Harits.
Sudah subuh begini Tn.Harits masih tak kunjung tidur, entah kenapa sejak malam perasaannya tidak enak. Sudah menjalankan ibadahpun perasaannya masih belum tenang.
Tn.Harits menoleh ke arah Ny.Hilda yang masih tertidur menghadapnya, dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya.
Ia beranjak perlahan dan melangkah keluar dari kamarnya dengan hati-hati. Tn.Harits terheran karena dari semalam tidak mendengar suara Esme. Biasanya, setiap Esme pulang kerja selalu memberi salam dan menyapa kedua orang tuanya, dan setiap subuh begini Esme selalu terbangun untuk shalat dan mandi, suara keran air dari dalam kamar mandinya pasti terdengar. Tapi kali ini berbeda, maka dari itu Tn.Harits penasaran, ia berjalan tanpa sadar menuju kamar Esme.
Setelah sampai di depan pintu kamar anaknya, Tn.Harits membukanya tanpa ragu. Ternyata pintunya di kunci.
Terlihat dari celah pintu, kenapa lampunya mati? Tidak ada cahaya yang terpancar dari dalam.
Bukankah Esme tidak suka mematikan lampu saat malam hari, karena ia sangat penakut sejak kecil.
Hal janggal ini membuat Tn.Harits merasa lebih penasaran. Ia berjalan perlahan menuju kamar Bi Inah, berniat meminjam kunci cadangan kamar Esme, karena hanya Bi Inahlah yang menyimpan kunci cadangan itu.
Tok... tok... tok...
Tn.Harits mengetuk pintu secara perlahan, ia tidak ingin membuat anak dan istrinya terbangun.
Tidak lama, pintu pun terbuka.
Pak Lampir dengan keadaan mata ngantuk dan sarung yang melilit di pinggangnya menatap heran. Ada hal penting apa yang menjadikan tuannya subuh-subuh begini datang ke kamarnya? Ia tertunduk sungkan.
"Tuan, ada apa?" tanya Pak Lampir sedikit gugup.
"Mm, maaf mengganggu tidurmu. Tapi, aku kemari ingin meminjam kunci cadangan kamar Esme. Bukankah istrimu memilikinya?" Tn.Harits sedikit malu karena sudah menganggu waktu istirahat Pak Lampir.
Betapa senangnya Pak Lampir memiliki majikan yang juga menghargainya.
"Ah, kunci kamar Non Esme?" Pak Lampir mengerutkan keningnya. "Memangnya ada apa, Tuan?"
Tn.Harits menggaruk hidungnya yang tak gatal. "Tidak ada apa-apa. Hanya ingin memastikannya saja," kata Tn.Harits.
Memastikan?
Tiba-tiba saja Bi Inah menyingkirkan tubuh Pak Lampir. "Ada apa, Pak?" tanyanya sambil mengucek kedua matanya.
Saat pandangannya sudah jelas, sontak Bi Inah terkejut melihat majikannya sedang berdiri di depan kamarnya. "Ah, T-Tuan?" ucapnya gugup.
"Inah, aku ingin pinjam kunci kamar Esme," pintanya.
Tubuh Bi Inah menegang. Apakah ia harus memberitahukannya pada Tn.Harits bahwa sebenarnya Esme sudah di usir ke luar oleh istrinya sendiri. Tapi, Ny.Hilda menyuruhnya bungkam. Bi Inah dan Pak Lampir sangat gelisah.
"Inah, kenapa kalian diam saja? Mana kunci cadangannya!" Tn.Harits semakin tidak sabaran.
Ah masa bodo dengan Ny.Hilda yang jahat itu. Aku harus memberitahukannya pada Tuan. Kasihan Non Esme... (Batin Bi Inah)
"B-begini Tuan. Se-sebenarnya, Non Esme... Non Esme di usir oleh Nyonya saat Tuan masuk rumah sakit," jelasnya sangat gugup.
Kedua mata Tn.Harits terbelalak. Ia sangat-sangat terkejut dengan apa yang Bi Inah bicarakan. "Apakah benar Hilda mengusir Esme?" Tn.Harits mulai geram.
Bi Inah mengangguk cepat.
Tn.Harits menyapu kasar wajahnya, ia membuang nafas yang terasa sangat berat. Lalu berjalan cepat menuju kamarnya dengan kepalan tangan.
Bi Inah dan Pak Lampir sedikit ketakutan, entah kegaduhan apa yang akan terjadi di rumah ini setelah melihat raut wajah Tn.Harits yang penuh amarah seperti itu.
.
Bruk...
Tn.Harits mendorong kasar kamarnya dengan amarah yang menggunung.
Ny.Hilda yang saat itu sedang merapikan tempat tidur terkejut. "Sayang, ada apa denganmu?" katanya, sedikit panik karena wajah Tn.Harits sangat menakutkan.
...
Hey mau kemana? Sebelum NEXT
Like, Komen dulu dong ❤