Apa jadinya bila mencintai seseorang yang tidak seharusnya? Perjalanan asmara gadis bernama Sacha Nessa yang jatuh cinta dengan kakak iparnya sendiri. Mengantarkan perempuan itu pada cinta yang salah pada Gama Hardiyoga.
Aku tahu hubungan ini salah, tapi untuk mengakhirinya pun tidak semudah itu.
Entah dipersatukan atau tidak
Entah rasa ini sampai kapan?
Entah hubungan ini sampai kapan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
Pria itu memberikan sapaan dan sentuhan-sentuhan sayang. Yang entah semakin lama semakin menggila. Bahkan Nessa sendiri begitu terlena dengan perlakuan manisnya selama ini.
"Jangan katakan apa pun, aku ingin malam ini hanya ada aku dan kamu. Lupakan semua status kita, lupakan semua yang menghalangi perasaan kita. Please ... Nessa, aku hanya ingin menghabiskan malam ini berdua."
Gadis itu mengangguk, rasanya terlalu sayang momen ini untuk ditolak. Apalagi jatah magangnya yang hampir berakhir, tentu saja sebentar lagi ia tidak punya banyak kesempatan bertemu di tempat kerja. Di rumah, Nessa juga berencana kembali kost setelah masa magang selesai. Jadi, gadis itu benar-benar akan menghilang. Biarlah malam ini menjadi perpisahan termanis untuk mereka berdua. Sebelum semuanya menjadi biasa saja.
"Bagaimana kalau kita nonton? Di kamar aja," usul Gama yang sepertinya boleh juga.
"Aku mandi dulu ya? Biar nyaman," ujar pria itu berlalu. Nessa hanya menyahut dengan anggukan.
"Ness ... kamu duluan aja deh, aku harus menghubungi Bayu sebentar," ujar pria itu menyela.
Nessa mengiyakan, ide yang bagus, sepertinya mandi akan membuat otaknya fresh dan tubuhnya segar.
Gama mengabari pada Bayu untuk agenda besok yang harus ia kerjakan. Pria itu menyiapkan minum dan cemilan yang telah ia pesan melalui layanan kamar. Sepertinya akan sangat cocok untuk menemani nonton mereka malam ini.
Sementara Nessa terlihat sudah bersih dengan rambut tergerai indah. Memakai kimono yang tersedia di kamar hotel. Gama tersenyum menatapnya, walaupun tanpa polesan make up Nessa terlihat begitu cantik dan menawan.
"Udah? Aku mandi juga ya? Kamu bisa pilih dulu mau nonton apa?" ujar pria itu berlalu.
Berbeda dengan Nessa yang memakai kimononya. Gama membiarkan saja dadanya tetap terekspos nyata dengan percaya diri hanya memakai handuk saja. Menempatkan duduk tepat di samping Nessa.
"Eh, udah? Kenapa nggak pakai baju?" tanya Nessa mendadak salah tingkah saat pria itu duduk semakin rapat.
"Nggak pa-pa gerah," ujarnya cukup santai.
Perasaan baru mandi kenapa harus gerah? Itulah kenyataannya.
Nessa mendadak gagal fokus dan tak berani menatap matanya. Ia menyibukkan diri dengan memindah-mindah chanel TV yang entah film yang mana.
"Ness," panggil Gama lirih memainkan mahkotanya sambil menyender sofa.
"Hmm ... kamu tidak suka nonton ini?" sahut Nessa menjadi kaku. Situasi yang cukup rumit untuk dicerna.
"Kamu sukanya yang mana?" ujar pria itu sambil menyambar minuman berkarbonat di atas meja.
Malam mendadak begitu syahdu dan romantis. Gama juga tanpa canggung terus membuat obrolan santai di antara keduanya. Alih-alih mau menghindar, Nessa malah begitu tenggelam dengan suasana dan ikut menikmatinya.
"Nanti kalau masa magang kamu habis, aku rekomendasikan untuk jadi karyawan tetap di perusahaan ya?" tawar Gama di luar ekspektasi.
"Hah! Beneran? Emang bisa? Aku bahkan baru saja mau mengambil skripsi."
"Bisa lah, kamu bisa atur waktu kuliah kamu dulu, nanti jam kerjanya biar nggak bentrok. Lagian kan udah nggak full masuk 'kan? Ini kesempatan langka loh, dan jarang adanya."
"Semacam suka-suka bos gitu, mau merekrut karyawan mana aja?"
"Ya, aku mempunyai wewenang penuh untuk hal itu, tapi tentunya aku juga melihat backgroundnya juga. Kamu sangat berkompeten, bahkan aku yakin sekali perusahaan tadi langsung begitu tertarik karena kamu cukup lihai mempresentasikan di depan mereka."
"Aku banyak belajar lah, terima kasih sudah membantu."
Kenapa Nessa menjadi lebih bersemangat, padahal kemarin dia masih galau dan ingin cepat selesai magang lantaran tidak ingin terlibat pertemuan terus menerus dengan kakak iparnya. Hati kecilnya tetap tidak bisa dibohongi, ia merasa bahagia di dekatnya. Seandainya pria yang ada di sampingnya itu bukan suami kakaknya, kebahagiaan ini pasti akan lebih sempurna.
Tiba-tiba tayangan TV tengah mempertontonkan adegan dua puluh satu plus. Mendadak Nessa salting sendiri dan langsung bergerak mengambil remot yang ada di samping Gama. Tanpa sadar perempuan itu begitu menempel pada tubuhnya hingga membuat pria itu menahan napas.
"Sorry?" ucapnya nyengir. Gama hanya menyahut dengan senyuman.
"Jangan dipindah, katanya suka film romantis?" ujarnya menarik remot dari tangan Nessa kembali.
Kedua Netra itu bertemu dalam diam, tanpa kata tangan Gama terulur mengusap bibir ranum Nessa yang sedari tadi begitu menggoda. Entah setan apa yang merasuki keduanya hingga Gama begitu berani membisikkan kata keramat itu pada perempuan yang kini seperti tersihir. Seakan memberikan akses lebih, ia menutup matanya begitu saja.
Pria itu tersenyum, lalu dengan cepat mempertemukan bibir mereka. Menyatukan napas keduanya dengan begitu minat dan penuh kerinduan. Melupakan semua aral yang melintang. Seakan tak ingin melewatkan sejengkal pun kebersamaan ini, mereka begitu menghayati kebersamaan yang tercipta malam itu.