Season 1: Bara x Retha
Jalinan cinta antara dua orang yang saling menguntungkan antara seorang duda dengan seorang guru yayasan yang memiliki pekerjaan sampingan. Bara membutuhkan wanita untuk mengobati kesepiannya dan Retha membutuhkan uang untuk melunasi hutang ayahnya.
Bagaimana perjalanan kisah cinta mereka dan lika-likunya menghadapi dunia? Akankah keduanya akan bersatu?
Season 2: Hendry x Citra
Cinta masa SMA yang dipertemukan kembali saat keduanya baru saja mengalami kegagalan berumah tangga. Hendry ditinggalkan istrinya karena permasalahan kesuburan. Sedangkan Citra memutuskan bercerai dari suaminya yang telah berselingkuh dan menghamili wanita lain.
Akankah mereka bisa menghadapi trauma hubungan sebelumnya? Bagaimana cara mereka bisa kembali membuka hati dan akhirnya hidup bahagia bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekecewaan
"Mas Bara jadi pulang hari ini?" tanya Retha lewat sambungan telepon.
"Jadi. Kamu sudah beres pindah ke apartemen, kan?"
"Iya, Mas. Aku sudah memindahkan semua barang ke apartemen."
Bara memberikan salah satu apartemen miliknya kepada Retha. Ia ingin kekasihnya tinggal di tempan yang lebih layak dan nyaman. Apalagi setelah tahu jika ternyata Retha telah dikeluarkan dari yayasan.
Tentu saja buka Retha yang bercerita. Bara tahu dari cerita putranya sendiri yang kembali menyuruhnya cepat pulang karena guru kesayangannya tidak mengajar lagi di sekolah. Seperti sebelumnya, Kenzo juga mogok sekolah lagi karena Miss Retha.
Retha telah menceritakan semua yang menimpanya, termasuk foto-foto dirinya yang tersebar saat bekerja di klab malam. Awalnya ia kira Bara akan marah, namun ternyata lelaki itu bisa memahami kondisinya. Bara sampai menyarankannya untuk pindah ke apartemen agar kekasihnya tidak perlu lagi tinggal di lingkungan yang sudah dicap negatif.
"Sebenarnya aku sudah sangat ingin bertemu denganmu. Tapi, besok masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Mungkin Lusa baru aku menemuimu."
"Iya, Mas. Kapan saja Mas bisa menemuiku, yang penting hati-hati di perjalanan pulang."
"Hahaha ... aku serasa sedang dinantikan oleh istriku di rumah. Jadi tidak sabar untuk menikahimu."
Ucapan Bara membuat wajah Retha bersemu merah.
"Kamu juga tidak perlu lagi bekerja di klab. Pakai saja kartu kredit yang aku berikan. Semua kebutuhanmu dan adikmu aku yang akan menanggungnya."
"Terima kasih, Mas."
Awalnya Retha ingin menolak kebaikan hati Bara. Ia sangat sungkan menerima pertolongan yang selalu Bara berika kepadanya. Rasanya ia sedang hidup sebagai benalu pada kehidupan orang lain.
Akan tetapi, mengingat kembali betapa sakitnya direndahkan oleh orang-orang hanya karena ia miskin, membuat Retha tak peduli lagi dengan penilaian orang. Lagipula, bukan maunya mendapatkan segala kemewahan tersebut. Bara yang suka rela memberikan padanya.
Ia juga teringat dengan perkataan adiknya waktu itu. Adiknya merendahkan dia karena bekerja di klab malam. Menjadi istri Bara mungkin pasti baik dari pada tetap bekerja di klab malam.
"Mas, aku pergi ke kontrakan Tiur dulu, ya?"
"Mau apa?"
"Mau membawa hadiah sekaligus mengucapkan terima kasih. Meskipun sebentar, dia pernah aku repotkan. Setidaknya aku harus berkunjung."
"Oh, oke. Asal kamu tidak tinggal lagi di sana tidak apa-apa."
"Hanya sebentar kok, Mas."
"Kalau begitu hati-hati di jalan."
"Iya, Mas juga."
"I love you."
"I love you too."
Retha mengakhiri telepon di antara mereka. Ia menenteng sebuah paperbag berisi ponsel yang harganya lumayan mahal. Ponsel itu akan ia berikan kepada Tiur yang telah banyak membantunya.
***
Retha membenarkan letak masker di wajahnya. Ia memarkirkan motor di area bawah seperti biasa. Penjaga di kontrakan Tiur sudah mengenali Retha, jadi ia hanya perlu naik ke lantai tiga untuk bertemu dengan Tiur.
"Sayangnya dia sudah keluar dari kontramanku!"
"Apa? Ah, tidak ... tidak seperti itu."
Dari arah depan kontrakan Tiur, Retha mendengar suara temannya seperti sedang menelepon seseorang.
"Katanya dia sudah berpacaran dengan CEO kaya. Bayangkan saja, orangnya Pak Bara, bukan main-main."
Mendengar nama Bara disebut, Retha langsung merasa sedang membicarakan tentang dirinya. Ingin rasanya ia langsung masuk tanpa peduli dengan ucapan Tiur.
"Aku sih tidak yakin kalau Pak Bara mau dengan wanita seperti itu. Tapi, kalau sekedar menyewanya sebagai pemuas n4fsu selama beberapa hari, itu masih bisa diteima akal. Orang seperti Pak Bara tidak mungkin serius dengan wanita biasa, apalagi dilihat dari asal-usul keluarganya juga parah."
Ucapan Tiur semakin tidak enak didengar.
"Pak Bara itu sebenarnya hanya kesepian karena ditinggal istri pertamanya. Kebetulan saja temanku datang di saat yang tepat. Kalau saja aku yang menerima tawaran pekerjaan itu, mungkin sekarang aku yang selalu ada dalam pelukan Pak Bara."
Retha mengepalkan tangannya. Ucapan Tiur yang tam sengaja ia dengar sangat menyakitkan. Padahal ia sudah menganggap Tiur seperti keluarga sendiri, namun wanita itu justru menjelek-jelekkan dirinya di belakang.
Sekalipun hubungan Bara dan dirinya tidak tulus, itu juga bukan urusan Tiur. Bara mungkin butuh kehangatan wanita sementara Retha butuh uang. Wajar jika keduanya saling menguntungkan.
Tiur terdengar memendam rasa iri kepada dirinya. Seakan Tiur menyesali akan keputusannya membantu Retha waktu itu.
"Aku yang telah menyebarkan foto-fotonya ke yayasan tempatnya mengajar dan sekolah adiknya.
Jiwa Retha seakan baru saja terpukul oleh batu yang sangat besar. Ia mendengarkan sendiri Tiur mengaku sebagai orang yang menyebarkan foto-foto *3**1nya. Teman yang sangat dipercayai dan telah dianggap saudara ternyata sangat mudah menipunya.
"Ayahnya itu pemabuk dan penjudi. Kamu pasti gampang menekan dia agar mau patuh!"
Brak!
Retha membuka kasar pintu kontrakan Tiur. Membuat pemilik kontrakan itu langsung mematung tak bisa berkata-kata.
"Ah, em, Retha, ternyata kamu datang." Tiur langsung salah tingkah dengan kehadiran Retha. Ia tak ada persiapan apapun untuk menyambut kedatangan Retha. Apalagi raut wajah Retha merah padam menahan amarah.
"Kamu jangan salah paham, Retha ... tadi aku sedang tidak membahasmu."
"Kenapa kamu tega menyebarkan foto-fotoku, Tiur?" tanya Retha dengan tatapan tajamnya.
Tiur tertawa kecil. "Kamu bicara apa sih? Aku sama sekali tidak ada kaitannya dengan kejadian itu," Tiur terus mengelak.
"Jangan mengelak! Aku sudah dengar semuanya!" teriak Retha. Ia melemparkan kotak hadiah yang hendak diberika kepada Tiur.
Tiur melihat kotak ponsel mahal yang sangat diidam-idamkannya. Muncul rasa kesal yang datang tiba-tiba saat menyadari bahwa kini Retha bisa mendapatkan apapun karena menjalin hubungan dengan Bara.
Tiur menunjukkan senyuman mengejeknya. "Memang aku yang menyebarkan foto-foto itu," ucap Tiur ringan.
"Kenapa?" Retha sangat ingin mendengarkan alasan dari sisi orangnya langsung. Ia masih kecewa dan tidak menyangka jika sahabatnya tega melakukan perbuata tersebut.
"Masih berani bertanya mengapa? Aku yang selama ini bekerja keras dari satu lelaki ke lelaki lain tapi kamu merampas hoki seumur hidupku untuk bertemu dengan Bara!"
"Apa?" Retha sungguh tidak paham dengan alasan yang Tiur kemukakan. "Kamu sendiri yang katanya malas pergi ke luar kota sampai dengan senang hati menyuruhku menggantikanmu." Ia merasa tidak bersalah.
Tiur merenungi sebentar kata-kata Retha. Memang, semua berawal dari salahnya. Ia mungkin hanya iri saja melihat sahabat baiknya justru mendapatkan keberuntungan di saat-saat yang dirinya sedang terpuruk karena kurang laris di antara lelaki yang menyewanya.
"Lebih baik kamu pergi sekarang. Aku sedang tidak ingin berbicaraan apapun," usir Tiur.
"Baiklah, aku kemari memang hanya untuk memberikan ini sebagai rasa terima kasih."
❤❤❤
Hai ... sempatkan diri untuk memberikan like atau komentar sebagai bahan dukungan.
ceritanya bagus
paling paling kau..
haaa
keluar juga sifat aslinya
guut Bara..
puas dah tawain thea