NovelToon NovelToon
Cinta Pertama

Cinta Pertama

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Ketos / Tamat
Popularitas:71.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhirie Fitrii

"Andai semua seindah saat pertama kali kita jatuh
cinta..."

Molly dan Getta adalah teman sekelas yang baru ngerasain cinta pertama mereka di penghujung SMP. Tapi, Chika, sahabat Molly satu-satunya, bikin perasaan mereka nggak pernah terungkapkan sampai hari kelulusan. Walaupun ketemu lagi di tahun kedua di SMA saat Getta memutuskan pindah ke sekolahnya Molly, mereka tetap aja belum bisa jadian. Molly yang baru sadar kalau ia mengidap disleksia makin jadi penyendiri dan sering dibully sama yang lain, sedangkan Getta udah semakin dekat sama Chika.

Episode kedua cinta pertama Molly dilanjutkan dengan hadirnya teman-teman bermasalah - Lara, the most hated person yang pacaran diam-diam sama Pak Heru, guru terkeren di sekolah, Jonas yang ngejar-ngejar Lara setengah mati dan punya andil dalam usaha Chika memisahkan Molly dan Getta, serta Yuna, maniak K-Pop yang naksir Getta, plus sang Kakak kelas keren, Richard, yang kayaknya suka sama Molly. Nggak lengkap rasanya dengan perjuangan Chika yang berusaha agar Getta benar-benar menjadi miliknya.

Mereka meramaikan hari-hari Molly yang alot untuk dapat menyatakan cinta pada Getta dan memenangkan hatinya dari Chika sebelum kesempatan keduanya kandas....

(Karya ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat saya mohon maaf)

ooOoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhirie Fitrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 34

...Broken Home Season 3...

"Ada apaan sih?" Jonas kelihatan bete karena tingkah teman-teman sekelasnya yang lain agak jengkelin. Ia pun menghampiri kelompok yang lagi mengobrol itu. "Woi, ada apaan?!"

"Lo nggak perlu teriak-teriak kali, Jonas," cetus salah seorang cewek di antara mereka.

"Habis, tingkah lo semua pada aneh. Emang ada apaan?" tanya dia, jutek.

"Masa lo belum tahu sih?" balas salah seorang yang lainnya. "Di luar tuh pada ribut ngomongin Pak Heru sama Lara pacaran!"

Jantung Molly seakan meloncat keluar mendengarnya. Tiba-tiba juga, Getta menoleh ke belakang -ke arahnyanya dengan wajah terkejut.

"Apa?" Jonas membelalak.

"Kan kemarin mereka dipanggil gara-gara masalah itu. Makanya si Lara nggak masuk, kayaknya dia malu banget tuh," kata salah seorang lagi.

Jonas benar-benar syok. Ia kembali ke Molly, Yuna dan Getta. "Ma. . .masa sih?" suaranya gemetaran dan ia menatap Getta yang sepertinya tahu sesuatu dengan tegang. Jonas tampak menuntut penjelasan darinya.

Tapi, Getta cuma buang pandang. Gimana cara menjelaskannya?

"Itu nggak mungkin!" kata Yuna, lirih. "Guru sekaliber Pak Heru, gitu lho"

Getta diam. Molly diam. Sedangkan Jonas tampak mendesak Getta dengan tatapan sendunya.

****

"Terus terang. . .," Richard tampak menarik nafas. "Aku juga kaget."

Molly sudah menduganya. Tapi, ia merasa kalau semua itu memang gossip. Sampai sekarang nggak ada bukti yang memastikan kalau Lara dan Pak Heru punya hubungan. Cuma omongannya Bu Sandra yang menuduh karena sebenarnya dia cemburuan -bukannya semua tau kalau dia suka Pak Heru, dari caranya bicara dan bersikap setiap guru keren itu ada di sekitarnya?

"Soal Pak Heru perhatian sama Lara itu aku tau kok. Tapi, kalau pacaran kayaknya itu nggak mungkin," komentarnya.

"Iya sih. . .," sahut Molly pelan. "Kak Cariss cantik begitu. . ."

Richard tiba-tiba tersentak dan mulai tertawa sendiri. "Kenapa bawa- bawa Kak Cariss sih?" tanyanya.

"Kan kakak bilang pacarnya Pak Heru itu Kak Cariss," katanya dengan polos.

"Aduh, Molly, kalau kamu sampai bilang begitu sama orang lain, Pak Heru bisa marah banget sama aku kalau dia sempat dengar nama Kak Cariss disebut-sebut," katanya masih tertawa-tawa.

Molly mengernyit, maksudnya?

Richard menyapukan rambut kecoklatannya ke belakang, sambil menatap lurus ke depan, memperhatikan jalan. "Yah. . .itu urusan pribadinya dia. Kan aku udah bilang Pak Heru itu orangnya tertutup," jelasnya.

"Aku kasihan sama Lara," kata Molly. "Hari ini dia nggak masuk, Kak"

"Lara emang sering bolos," kata Richard. "Waktu kelas satu, kita sekelas kok. Emang sih banyak yang nggak suka karena dia kelewat jutek. Tapi, dia itu cuma nggak suka diganggu atau dideketin. Dia terbiasa sendiri."

Molly mengangguk-angguk mengerti. Kenapa ya ia jadi kepikiran untuk ngelakuin sesuatu, seperti saat Lara menolongnya dari gangguan Karina cs?

"Udah sampai!" seru Richard, begitu mobil berhenti. Ia kembali tersenyum.

Mereka sudah sampai di Maretha. Molly bergegas turun karena ia cuma punya lima menit sebelum kelasnya dimulai. Pasti Cariss juga sedang menunggu kedatangannya.

"Nanti aku jemput ya?, Richard berpesan, sebelum Molly turun.

"Aku pulang sendiri aja ya, Kak. Kan nggak enak udah diantarin, juga dijemput. Tiap hari lagi. . .," kata Molly tertunduk.

"Sampai kamu terbiasa kok," ujar Richard. "Aku nggak mau kamu nyasar pulangnya"

Molly pun terdiam. Itu yang bikin Richard nggak pernah membiarkannya lepas dari pengawasan.

"Dag!" Richard melambaikan tangan sebelum mobilnya melaju lagi.

Molly menarik nafas panjang. Cowok yang benar-benar baik. Cowok yang kebaikannya benar-benar nggak bisa ditampung lagi, pikir Molly saat menuju ke kelasnya.

Dari luar ia sudah bisa mendengar suara piano dimainkan. Sepertinya, Molly benar-benar udah telat.

Dengan perlahan ia mengetuk pintu yang tertutup lalu membukanya dengan hati-hati. Terlihat Cariss duduk di kursinya dan anak-anak lain diam mendengarkan musik yang tengah mengalun indah di ruangan itu.

Cariss berisyarat agar ia segera masuk tanpa suara. Molly melangkah mengendap-endap ke salah satu kursi kosong yang berada paling belakang. Dan begitu ia duduk, musik pun selesai dimainkan.

Sang pemain musik itu saat Carris menghampirinya.

"Permainan yang bagus. Ayo semua, tepuk tangan untuk Chika!" katanya lantang dan langsung disambut tepuk tangan meriah dari anak-anak di sekitarnya.

Sementara Molly terperanjat. Ia pandangi sosok itu baik-baik. Wajahnya, rambutnya dan tatapan matanya serta senyum yang selalu penuh percaya diri itu. Semuanya benar-benar adalah milik Chika -sahabat lamanya yang entah kenapa bisa ada di sini.

****

Suara lenguhan terdengar jelas dari saat Getta masih berdiri di depan pintu. Ia memandangi sebuah kartu nama yang diberikan seorang pria asing yang menyelamatkannya kemarin. Alamat yang tertera di sana benar adalah alamat tempat kumuh ini. Kira-kira apa yang dilakukan pria itu di sini?

Getta membuka pintu kayu lusuh itu dengan perlahan. Dan rasa penasaran itu segera terkuak begitu ia melihat sebuah laga di atas ring tinju. Beberapa samsak tergantung pada langit-langit dan bergoyang ke sana kemari dipukul oleh orang-orang yang sedang berlatih. Barbell dan alat angkat berat berada di salah satu pojok ruangan. Ruangan itu sangat berisik dari yang bisa ia dengar di balik pintu.

Getta mulai mencari-cari pria itu di antara orang-orang yang tengah berlatih fisik.

Di ruangan yang cukup luas itu, ada beberapa orang pria yang bentuk fisiknya hampir sama dengan pria itu. Tapi, mereka kelihatan sibuk sekali. Mereka sedang melatih pejuang mereka.

Akhirnya pria itu muncul juga. Dia masuk dari pintu yang sama dengan pintu yang membawa Getta ke sini. Nggak butuh waktu lama baginya menyadari kehadiran Getta karena ia masih mengenakan seragam putih abu-abunya. Dia menemukan Getta kebingungan di antara orang-orang itu, lalu menghampirinya.

"Jadi. . .gimana?" tanya dia angkuh, dengan rokok tertancap di mulutnya dan mengepulkan asap putih yang menutupi wajahnya selama beberapa detik. "Apa lu punya nyali?"

Getta nggak langsung menjawab. Ia pandangi sekitarnya. Satu hal yang muncul di pikirannya -menjadi petinju sama sekali nggak pernah terbayangkan. Dari kecil yang ia tahu, ia harus rajin belajar, masuk sekolah favorit, mendaftar di sekolah penerbangan dan menjadi pilot, seperti cita-citanya. Tapi, terkadang orang bisa berubah karena keadaan. Ia ingat lagi keadaannya yang sekarang. Menjadi pilot tetap akan menjadi mimpi. Yang nyata sekarang adalah melakukan apa yang bisa dilakukan untuk masa depan.

Satu anggukan pelan cukup bagi pria itu. Ia berisyarat mengajak Getta ke ruangan lain. mengenalkan ia pada sebuah lingkungan baru yang akan menjadi tempat ia menghabiskan waktu sepulang sekolah nanti. Ruang ganti, para pelatih dan pejuang-pejuang mereka yang usianya masih sangat muda.

***

1
Ummu Sakha Khalifatul Ulum
Lanjut
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow, fav, & vote sebanyak-banyaknya
total 1 replies
🐤
terima kasih ceritanya kaka author
disini dapat banyak pelajaran hidup jg
kita bisa lebih bersabar dlm menghadapi cobaan hidup karna nantinya buah dari kesabaran itu sendiri yg akan membuat kita bahagia
walaupun memiliki kekurangan tp kita tdk boleh berkecil hati harus tetap bangkit untuk org org di sekitar yg menyayangi kita
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow & favorit ya!!!
total 1 replies
Khanza Orioncraft
terimakasih ka utk karya yg luar biasa ini,selain nostalgia masa sekolah.jg ilmu parenting jg utk sya yg saat ini SDH jd orangtua...Krn mental health itu penting bgt.di masa sekolah ank zaman skrg
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow, vote & favorit ya!!!
total 1 replies
Melanie Kusbandini
aku mampir
🅸🅶@racyun.ciwi: sipoke
total 3 replies
Pia Momo
bagus banget ceritanya kak.. semoga makin banyak yg baca ya,
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow & vote ya!!!
total 1 replies
🅸🅶@racyun.ciwi
Alhamdulillah, terimakasih para pembaca setia. Jgn lupa follow, vote & komen !!! Miss you !!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!