Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Otorisasi Dua Sisi
Anak tangga besi melingkar itu terasa bergetar lebih halus kali ini, menyalurkan ritme mesin presisi yang sedang mengunci kedudukan panel baja di lantai bawah. Olin berjalan lambat di belakang Xavi, mengawasi setiap langkah kecil putranya yang menuruni undakan dengan sisa kantuk yang telah menguap sepenuhnya. Bau semen basah yang tadi mendominasi kini mulai bercampur dengan aroma khas isolasi kabel yang terbakar ringan akibat proses penyolderan cepat.
Laboratorium bawah tanah paviliun barat telah berubah rupa secara signifikan dalam waktu singkat. Dinding batako yang hancur sebagian kini telah ditutup oleh rangka baja hitam anti-peluru. Di bagian tengah, sebuah konsol kendali berbentuk silinder perak kusam berdiri kokoh, memancarkan pendar lampu indikator kuning yang berkedip cepat, menunggu perintah inisiasi.
Zayyan masih berdiri di posisi yang sama, bersandarkan tepi meja portabel dengan kedua lengan terlipat di depan dada. Kemeja abu-abu arangnya kini menampakkan bercak debu halus di bagian bahu, namun posturnya tetap tegak, memancarkan aura dominasi yang tak berkurang sedikit pun oleh atmosfer bawah tanah yang pengap.
"Kau lambat, Aureline," ucap Zayyan, suaranya bariton datar, matanya langsung beralih dari Olin dan mengunci sosok mungil Xavi yang melangkah mendekati konsol silinder.
"Protokol pembersihan biometrik membutuhkan waktu, Tuan CEO," sahut Xavi tenang, meniru gaya bahasa formal yang kerap digunakan Malikh. Bocah itu berdiri di depan bantalan pemindai kaca safir yang tersemat di puncak konsol. "Sistem hibrida ini menggunakan basis data Sentry-X versi modifikasi, bukan? Aku mengenali pola kedipan indikatornya."
Zayyan menegakkan tubuh, melangkah mendekati Xavi hingga bayangan tubuh besarnya jatuh menutupi konsol perak tersebut. "Memang. Dan sistem ini membutuhkan dua pasang sidik jari yang terdaftar dalam struktur genetik yang sama untuk mengunci enkripsi lapis kedua. Satu untuk Arsitek, satu untuk pelindung hukumnya."
Olin menghentikan langkahnya tepat dua meter di belakang mereka, rahangnya mengetat. "Kau tidak mengatakan bahwa aku juga harus mendaftarkan biometrikku ke dalam sistem ini, Zayyan."
Zayyan menoleh lamat-lamat, membiarkan sepasang mata elangnya menatap Olin dengan kedataran yang absolut. "Jika terjadi kegagalan sistem total dan Xavi tidak berada di dekat konsol, sistem ini membutuhkan otorisasi sekunder untuk membuka jalur evakuasi fisik paviliun barat. Kecuali... kau lebih memilih terjebak di dalam benteng ini saat faksi Kakek Albert memutuskan aliran udara utama."
Olin meremas jemarinya sendiri yang mendadak terasa dingin. Penjelasan Zayyan masuk akal secara taktis, namun ingatan tentang skrip pelacak tersembunyi di balik manifes makan malam beberapa menit lalu membuatnya enggan memercayai setiap inci perangkat keras yang disediakan pria ini. Dia melirik Xavi, mencari tanda peringatan, namun putranya justru memberikan anggukan kecil—sebuah kode rahasia yang hanya dipahami oleh mereka berdua bahwa data yang akan terekam di pemindai ini telah dilapisi oleh jalur manipulasi yang dibuat Xavi di atas tadi.
"Letakkan tanganmu di atas kaca, Jagoan," perintah Zayyan rendah.
Xavi menempelkan telapak tangan mungilnya pada permukaan kaca safir. Seketika, berkas cahaya laser hijau menyapu kulitnya dari pergelangan hingga ujung jari, diiringi bunyi dengung frekuensi tinggi yang halus.
BZZZT. Otorisasi Primer Diterima.
"Sekarang giliranmu, Aureline," Zayyan melangkah mundur satu tapak, memberi ruang bagi Olin di samping Xavi, namun matanya tetap mengunci pergerakan wanita itu dengan intensitas yang pekat.
Olin maju, membiarkan blus katun kasualnya bergesekan samar dengan kemeja Zayyan saat dia memangkas jarak. Dia menarik napas dalam, lalu menaruh telapak tangan kanannya di atas kaca safir yang terasa hangat bekas tanggapan Xavi. Pendar hijau kembali menyapu, merekam pola garis kulitnya yang kini telah disamarkan oleh algoritma tiruan milik putranya.
BZZZT. Otorisasi Sekunder Terkunci. Sistem Hibrida Aktif.
Bersamaan dengan bunyi klik mekanis yang berat dari balik dinding baja, seluruh lampu indikator di ruangan itu berubah menjadi hijau solid yang tenang.
Zayyan menatap panel kendali yang kini telah berfungsi penuh, lalu mengalihkan pandangannya pada Olin dengan kilat kepuasan yang tipis dan dingin. "Selesai. Mulai detik ini, tidak ada satu pun orang dari kediaman utama yang bisa melintasi batas paviliun barat tanpa persetujuan dari meja kerja di atas."
Olin menarik kembali tangannya, menyembunyikannya di balik saku celana jinsnya yang lurus. "Termasuk dirimu, Zayyan?"
Zayyan menarik satu sudut bibirnya, membentuk senyum sinis yang sarat akan kendali mutlak yang tak tergoyahkan. Pria itu berbalik menuju tangga, mengambil gawai hitamnya dari meja kerja portabel dengan gestur yang angkuh. "Aku yang memegang hak veto atas tanah tempat benteng ini berdiri, Aureline. Bersiaplah untuk besok malam. Panggung sudah diatur, dan perisai kalian sudah aktif."