Zella, mahasiswi baru di Universitas Swasta Indonesia telah membuat Leon, ketua BEM yang tegas dan penuh wibawa jatuh cinta pada pandangan pertama saat OSPEK Mahasiswa.
Tidak hanya itu, Levi, seorang dosen jutek, galak, dan tidak banyak bicara yang juga putra pemilik Universitas tersebut juga ternyata diam-diam menaruh hati pada Zella.
Zella yang belum menginginkan untuk berpacaran harus terus menerus mendapatkan teror dari mahasiswi yang mengidolakan Leon dan Levi.
Leon dan Levi pun terus berjuang dengan cara mereka masing-masing untuk mendapatkan hati Zella.
Siapakah diantara mereka berdua yang mampu memenangkan hati Zella?
Adakah Leon atau bahkan Levi yang memenangkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AdindaRa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
Alarm di ponsel Zella berdering dan Zella langsung meraih ponsel dan mematikannya. Ia membuka matanya dan mengerjapkan matanya berulang kali saat melihat sosok yang tertidur di sofa kamarnya.
"Pak Levi." gumamnya mengingatkan apa yang sudah terjadi tadi malam. Zella turun dari tempat tidurnya dan mengambil selimutnya. Ia menyelimuti Levi yang tampak kedinginan akibat suhu ruangan di kamar Zella.
Zella menarik selimut sampai ke leher Levi dan memandang ke wajahnya. "Pak Levi memang bener-bener tampan." batin Zella menelusuri wajah Levi dengan jarinya.
Hap! Levi memegang tangan Zella dan membuka matanya menatap ke arah Zella membuatnya sedikit terperanjat.
"Kemarilah," Levi duduk dan menarik tangan Zella agar duduk di sampingnya. "Kamu pasti belum puas menikmati wajah tampan saya bukan?" tanya Levi memandang Zella intens dan membuat Zella menggelengkan kepalanya.
"Ti tidak, pak. Saya hanya . . . Hanya mau . . . Membersihkan kotoran di mata bapak." jawab Zella menutupi rasa kagetnya.
"Kamu sudah pintar berbohong sekarang ya." sanggah Levi menoel hidung Zella.
"Emm, saya akan membuatkan minuman hangat untuk bapak," ucap Zella beranjak dari duduknya.
Tapi dengan sigap Levi kembali menarik Zella hingga membuatnya jatuh ke pelukan Levi. "Tidak perlu, tetap disini seperti ini." pinta Levi memeluk tubuh Zella dan menyembunyikan kepalanya diceruk leher Zella.
Zella merasakan tubuhnya sedikit menegang akibat perbuatan Levi, tapi ia justru menikmati pelukan Levi. "Jangan pernah membuatku cemas, Zella!" bisik Levi membuat Zella meremang.
"Pak Levi." panggil Zella dengan suara tercekat. Levi tidak menghiraukan panggilan Zella dan makin memeluk Zella dengan erat. Kini Zella membalas pelukan Levi.
"Sungguh, aku takut melebihi batasanku." batin Levi. "Aku hampir tidak dapat menahan hasrat ini." gerutunya dalam hati.
"Zella, apa kamu mencintai saya?" tanya Levi membuat Zella melepaskan pelukannya.
"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud untuk menggoda anda." ucap Zella sedikit menjauh dari Levi.
"Saya tidak menganggapmu begitu. Tolong jawab pertanyaan saya." pinta Levi.
Zella mencoba menguasai dirinya, "Mana mungkin saya mencintai orang yang tidak mencintai saya." jawab Zella memancing Levi mengungkapkan perasaannya.
"Bagaimana jika saya mencintaimu, apa kamu akan membalas perasaan saya?" tanya Levi membuat Zella terdiam lama tak mampu berkata apa-apa.
Levi mendekatkan dirinya dan mengecup bibir Zella sekilas. "Jawab, Grizelle Alexandria." pinta Levi menunggu jawaban Zella.
Zella memberanikan dirinya mencium Levi dan memberi ruang untuk Levi menikmati ciuman Zella. Makin lama perasaan Zella menuntut untuk melakukan lebih, sedangkan Levi yang sudah tidak bisa menahan hasratnya melepaskan pagutan Zella.
"Sudah saya jawab Pak Levi." ucap Zella tersipu malu dan pergi meninggalkan Levi.
Levi tersenyum melihat kepergian Zella. "Kau sudah berani nakal ya ternyata." ucap Levi sambil senyum-senyum sendiri mengingat keberanian Zella barusan.
Levi menyusul Zella ke lantai dua dan nampak Zella sedang membuatkan minuman untuknya. "Sayang, boleh aku pinjam handukmu?" tanya Levi semakin berani memanggil Zella dan mulai mengikis jarak antara mereka dengan "aku", tidak lagi formal.
"Pak Levi, jangan memanggil saya seperti itu." ucap Zella yang sudah seperti kepiting rebus sambil menyodorkan teh hangat yang baru ia buat.
"Ayolaaaah, ini bukan di kampus sayang." ucap Levi mengikuti langkah Zella yang melangkahkan kakinya ke kamar.
"Jangan membuatku malu," ucap Zella memberikan handuk pada Levi. "Aku tidak mau yang lain dengar."
"Baiklah, aku hanya mengatakannya jika sedang bersamamu." ucap Levi masuk ke kamar mandi dengan membawa handuk yang Zella berikan.
Zella tersenyum sendiri melihat perubahan Levi dalam sekejap. "Ternyata ini yang orang bilang kalau cinta bisa membuat orang jadi gila." gumam Zella yang memang baru pertama kali jatuh cinta.
Zella mengambil handuknya dan mandi di kamar mandi lantai dua. Nay belum bangun sebab ia sudah tau kalau hari ini libur. Setelah mandi, Levi langsung mengganti pakaiannya yang selalu ia persiapkan di mobil.
"Aku akan mengadakan meeting dadakan untuk semua dosen. Hari ini semua jadwal kuliah diliburkan." ucap Levi saat melihat Zella masuk ke dalam kamar.
"Istirahatlah, aku akan menghubungimu, nanti." pamit Levi meninggalkan Zella.
Zella tersenyum dan mengangguk, "Baiklah. Terima kasih." ucap Zella.
***
Seluruh dosen sudah siap berkumpul di ruang meeting khusus dosen, termasuk Bu Karenina yang belum mengetahui sebab putranya dipanggil ke kantor polisi.
Levi dengan sigap naik ke atas podium dan memimpin jalannya meeting. Semua yang disampaikan oleh Levi adalah bersifat rahasia besar Kampus Universitas Swasta Indonesia (USI) tentang kejadian tadi malam yang melibatkan beberapa mahasiswinya.
Levi tidak menyebutkan nama mahasiswi yang terlibat, hanya saja ia akan menindak lanjuti masalah ini dengan baik tentu saja dengan bantuan dosen yang lain.
Renata yang dari awal meeting memandang Levi tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun makin terobsesi untuk memiliki Levi.
"Ingat, Renata. Jangan bertindak di luar batasmu atau karirmu akan hancur." bisik Dion yang memperhatikan Renata memandang Levi.
"Dia benar-benar sangat memukau, Dion. Bantu aku ya untuk lebih dekat dengan Levi." pinta Renata dan Dion menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak akan menjerumuskan diriku dalam setiap permainan gilamu, Ren." tolak Dion.
Setelah menyampaikan inti meeting kepada seluruh jajaran dosen, kini Levi memperkenalkan Renata sebagai dosen baru. Renata berdiri dari duduknya dan sedikit menundukkan kepalanya memberi salam. Setelah itu Levi juga mengumumkan siapa saja yang akan mengikuti pertukaran dosen ke Australia.
Selesai meeting, Levi langsung mengajak Dion ke kantor polisi untuk mengetahui lebih lanjut tentang kejadian semalam. Sesampainya di Kantor Polisi, Levi mendapat informasi bahwa dalang kejahatan di kampusnya bertambah 2 orang yang juga merupakan mahasiswinya.
Carina, Laluna dan Winda sudah ada di hadapan Levi dengan memakai baju tahanan.
"Jelaskan alasan kalian melakukan semua ini!" hardik Levi.
"Karena saya mencintai Pak Levi," jawab Laluna berani. "Saya tidak suka bapak memberi perhatian lebih pada Zella." jelas Laluna kemudian.
"Alasan yang tidak masuk akal." ucap Levi ketus. "Winda! Kenapa kau lakukan ini pada Zella?" tanya Levi dengan suara tinggi.
"Saya mencintai Leon." ucap Winda dan membuat Carina marah dan menarik rambut Winda.
"Kau gila! Berani-beraninya kau mencintai Leonku." serang Carina tanpa ampun.
Polisi pun melerai keduanya dan kembali memasukkan ke dalam sel yang terpisah. Di luar sudah ada orang tua Carina dan Laluna yang sedang kalut atas perbuatan putrinya. Tak lama, Papa Green juga tiba di kantor polisi.
Mereka meminta maaf pada Levi atas perbuatan putri mereka. Mereka juga sangat malu setelah mengetahui alasan putri mereka melakukan kejahatan.
Mama Carina dan Laluna memohon pada Levi untuk tidak memberatkan hukuman putrinya saat persidangan esok, mereka juga menyatakan siap menebus berapa pun agar putrinya bebas. Berbeda dengan Papa Green yang sebenarnya sudah muak dengan Winda.
"Kita tunggu kepastiannya besok di pengadilan, penentuan keputusan bukan pada diri saya." ucap Levi dan undur diri dari kantor polisi.