Sekali dalam hidupnya Safana pernah jatuh cinta. Namun enam tahun lalu Ia mengubur semua hal tentang pria itu.
Hingga takdir mempertemukan mereka kembali, disaat Ia telah memiliki Ayu dan pria yang dicintainya memiliki Alia.
Akankah ia membiarkan pria itu memporak-porandakan hidupnya lagi demi sebuah cinta yang Ia ragukan pernah ada ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratna dks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan terbesar chapter 8
Sesuai permintaan Heidy, pernikahan digelar di hotel berbintang. Pesta meriah dengan mengundang lebih banyak teman dan kerabat Heidy dan orang tuanya.
Sepanjang berlangsungnya acara resepsi Pak Awi dan Bu Awi memaksa tersenyum. Mereka miris menyaksikan bagaimana Prapta bisa meninggalkan istrinya untuk seorang perempuan yang hanya mengejar materi darinya.
Menjelang pukul sepuluh malam pesta pun usai, Prapta dan Heidy masuk ke kamar pengantin yang dipersiapkan hotel untuk bulan madu.
Kamar dengan ranjang tertutup sprei merah maroon, taburan bunga dan keremangan cahaya yang disulap sedemikian rupa hingga terlihat eksotis dan romantis.
Heidy merebahkan tubuhnya diranjang, sementara Prapta berjalan ke meja dan menghubungi bar.
"Minta sebotol heineken dan sebotol vodka" selesai mengatakan pesanannya Prapta duduk di sofa samping meja.
Heidy yang mendengar beringsut duduk dan memandanginya dengan heran.
"Ini malam pertama Kita. Kenapa Kau ingin mengacaukannya dengan minum-minuman keras ?" Heidy menghardik marah.
Prapta tertawa sinis mendengar pertanyaan Heidy.
"Bukankah itu kenangan Kita ?. Heineken dan vodka, itu pantas untuk merayakan kemenanganmu memperdayaiku" Prapta menekankan kalimatnya.
Heidy yang mendengar tersulut amarah, Ia berjalan menghampiri Prapta dan hendak melayangkan tamparan.
Prapta sigap menangkap tangannya dan berdiri mendorong tubuhnya ke ranjang.
"Tidurlah. Aku tak mau bertengkar denganmu" Prapta kembali duduk di sofa. Saat bell pintu terdengar ia segera membukakan pintu dan mengambil dua botol minuman yang diantar roomboy.
Ia menutup pintu kembali dari dalam dan duduk menuang minumannya. Meneguk segelas demi segelas minuman keras tersebut sambil membayangkan safana istri yang dirindukannya.
Di Pekajangan Safana akhirnya mendapatkan rumah sewa minimalis dengan luas bangunan lima puluh meter persegi dan halaman didepannya.
Seharian tadi Sri mengantarnya ke Bank menyimpan uang hasil penjualan mas kawin dan pergi ke toko perabot. Safana membeli tempat tidur serta meja kerja untuk mengisi rumah kontrakannya.
Malam ini, malam pertamanya berada dirumah sewa. Tak ada Ibu, Ayah atau Mas Ardi yang bisa menemaninya.
Safana mengusap perutnya, matanya menerawang menatap pendar cahaya lampu kamar.
Ia masih sibuk berpikir apa yang bisa dikerjakannya untuk mendapatkan penghasilan. Membuka rumah makan sesuai keahliannya rasanya tak mungkin, sebentar lagi Ia melahirkan. Siapa yang akan menjaga bayinya kalau Ia sibuk memasak ?.
Melukis sesuai bidang yang Ia pelajari di kampus juga tak mungkin. Terlalu lama perputaran uangnya untuk Ia yang tak punya pemasukan lain. Padahal setelah melahirkan kebutuhan akan semakin banyak.
Menjual batik seperti yang dikatakan Bu Sri ?. Akan sulit baginya bersaing dengan pemain lama dalam memasarkan produk.
Safana menghela nafas, Ia terdiam dan memejamkan mata. Selintas ide mendadak muncul dibenaknya. Safana mengambil kertas putih dan pensil lalu mulai membuat sketsa.
Sebuah tudung lampu batik berbentuk bintang tertuang dalam goresan penanya.
Safana tersenyum, Ia sudah mendapatkan jalan keluarnya untuk bertahan hidup. Ia akan memproduksi tudung lampu batik dengan merangkul pengrajin untuk mewujudkan semua desain lampunya. Dan untuk pemasarannya Ia akan menyewa kios di Pusat Grosir Setono.
Ketika safana telah beranjak meninggalkan kemelut rumah tangganya sebaliknya prapta harus mulai merasakan dampak perbuatannya.
Pagi itu pak Awi meminta Prapta dan Heidy datang ke rumah. Mereka diminta menghadap di ruang kerjanya.
Prapta yang tak tahu apa-apa sibuk mereka-reka apa yang akan disampaikan Ayahnya.
"Lihat ini, apa yang sudah dilakukan istrimu !" Pak Awi melempar kertas ke hadapan Prapta.
Prapta meraihnya, sedang Heidy tertunduk ketakutan.
Prapta membaca proposal pencairan anggaran untuk keperluan riset desain terbaru dengan jumlah tak tanggung-tanggung sebesar empat ratus lima puluh juta, hampir setengah milyar.
"Aku mendapat laporan itu dari bagian keuangan perusahaan. Apa Kau yang menyuruh istrimu merampok perusahaanku ?" Pak Awi menatap selidik pada Prapta yang sudah lama dirumahkannya.
"Aku sama sekali tak tahu menahu. Kusarankan Papa memecatnya sebelum Kita menuju kebrangkutan" Prapta meletakkan lembar proposal ke meja dan menoleh tajam ke Heidy.
Heidy mengusap perutnya seolah mencari perlindungan dari janin yang dikandungnya.
"Istrimu benar-benar tidak tahu diri. Aku melunasi hutangnya yang ratusan juta sebelum Kalian menikah. Sekarang Ia masih meminta yang tidak-tidak. Memangnya siapa Dia ? Apa dia lebih baik dari Safana " Pak Awi melihat geram.
Heidy yang tak terima mendengar makian Ayah Prapta beranjak pergi dengan marah.
"Maafkan Prapta. Prapta akan mencoba menasehatinya. Prapta permisi" Prapta menyusul istrinya.
Pak Awi terduduk lemas, Ia marah bercampur kecewa melihat apa yang sudah diperbuat menantunya.
Safana pergi ke rumah Sri untuk minta diantar kembali menjelajahi kota kecil yang baru ditinggalinya.
"Sudah dipikirkan mau buka usaha apa ?"Sri meletakkan gelas tea ke meja tamu.
"Sudah Bu. Saya mau memproduksi tudung lampu batik" Safana mereguk sebagian isi gelas yang dibuatkan untuknya.
"Dimana Saya bisa dapat pengrajin batik dan kerangka lampu yang bagus ?"
"Desa Gumawang Kecamatan Wiradesa. Disana banyak perajin batik serat daun nanas, pelepah pisang, tanaman lidah mertua, akar wangi, mendong dan eceng gondok yang mungkin akan memperindah tudung lampu kreasimu."
"Lalu untuk pembuatan kerangka tudungnya sendiri ?"
"Di desa Kemplong banyak yang bisa mengerjakannya.”
Safana mengangguk paham, Ia lega. Walaupun sendirian dikota asing ini, Ia merasa jalannya mencari penghidupan untuk janin yang dikandungnya selalu dimudahkan.
Heidy berlari keluar ke rumah menuju camry-nya. Prapta menyusul dan menahan pundaknya yang hendak masuk mobil.
"Aku sama sekali tidak mengerti dengan dirimu. Bagaimana bisa Kau mencoba memiskinkan perusahaan orang tuaku ?. Apa sebenarnya yang ada di otakmu ?" Prapta membalikkan tubuh Heidy menghadap ke arahnya
"Kau menganggur sementara anggaran rumah tangga yang diberikan orang tuamu pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari. Darimana lagi Aku harus mendapatkan uang untuk masa depan anakku kelak kalau bukan dari kas perusahaan " Heidy mengarang alasan.
Prapta menatap tajam, Ia menarik nafas geram. Kalau bukan karena istrinya tengah mengandung mungkin Ia sudah mencekiknya.
"Kau benar-benar keterlaluan. Memanfaatkan janin yang Kau kandung untuk berbagai alasan yang tak masuk akal. "
"Lebih tak masuk akal lagi dirimu, tahu dirimu menganggur bukannya mencari kerja malah ongkang-ongkang kaki dirumah" Heidy menghardik kesal dan masuk ke mobilnya. Ia tak lagi mempedulikan suaminya yang masih berdiri termangu dan membiarkan Ia pergi.
semangat brkarya
seperti biasa karya kak Ratna selalu menarik untuk d baca❤❤❤
up
up
up
di tunggu up nya