[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Kecurigaan
Bima ikut bergabung, ia membawa kameranya. Tadi Mamanya ingin lihat foto yang mereka ambil saat camping. Bima berganti baju, celananya pendek. Mata Mamanya melirik. Ia mencari luka yang tadi disebut Bima. Tak ada. Ah, anak ini bohong. Benar-benar bohong. Ia benar-benar berkelahi.
Bagaimanapun, Mamanya terlihat seneng. Tak disangka anak lelakinya bisa juga punya teman. Mayang menunjuk foto yang ia ambil. Foto Bima sedang mengajari temannya bermain gitar, yang lain terlihat serius memperhatikan.
"Ini Bima lagi ngapain?" Tante Asti bertanya.
"Itu ngajarin Edo main gitar. Mayang yang foto diam-diam," Mayang yang menjawabnya sembari tertawa. Bima hanya diam saja. Ia tahu Mamanya senang.
"Loh ini kenapa nangis. Mayang juga nangis," Papa Mayang terlihat khawatir.
"Oh, ini lagi ngomongin perpisahan. Terus anak-anak minta maaf satu sama lain. Ya gitu lah intinya," Bima menjelaskan.
Tante Asti melihat foto-foto itu lagi dengan teliti. Mencari Bima dalam foto, ia ingin melihat kapan anak itu terluka bibirnya. Ia lihat di awal foto bibir Bima belum terluka.
"Bima ke studio ya. Mau pindahin file."
"Mayang ikut Mas Bima ya," ia minta izin ke Papanya.
Bima dan Mayang asyik mengedit video momen mereka dan teman-teman. Juga video lain yang meraka buat.
Papa Mayang dan Mama Bima tinggal berdua.
"Ris, kamu tadi nanya nggak bibir Bima kenapa sobek begitu?"
"Katanya ditonjok temannya. Ah siapa tadi namanya. Ketua kelas pokoknya."
"Hah, kok bisa?"
"Katanya Bima dikira maling. Bima kencing malam-malam terus ribut-ribut nabrak sesuatu. Dia diserang dari belakang."
Tante Asti terlihat tak percaya. Seperti ada yang aneh dari cerita ini. "Bima sendiri, Ris yang cerita?"
"Iya," jawabnya singkat lalu kembali menyeruput kopinya.
"Siapa tadi nama temannya yang mukul dia?"
"Aduh, siapa ya tadi. Ba...Bani? Ah bukan. Ba..."
"Bagas?" Tante Asti menebak.
"Nah iya."
"Kamu yakin?
"Iya Bagas. Tadi pas jemput aku juga ketemu anaknya.
Hal mengganjal itu tersingkap sudah. Bima, tak mungkin anak itu tak bertengkar. Mana mungkin jatuh seperti itu. Kakinya tak luka sedikitpun seperti yang ia bilang.
Sebenernya, Mama Bima membersihkan kamar Bima. Pekerjaannya sudah agak sedikit ringan. Tinggal beberapa yang ia selesaikan. Ia di rumah itu sendirian, berpikir pasti Mayang dan Bima pasti sedang bersenang-senang. Lalu teringat Mayang yang hari ini ulang tahun, ia teringat putri kecilnya. Bayi malang itu. Ah seandainya dia masih hidup. Ia tiba-tiba rindu. Kenangan buruk dan kehilangan membuatnya menyingkirkan semua barang-barang yang mengingatkannya pada kesedihan. Tapi ia ingat, Wira sempat memotret bayi kecilnya beberapa ssat setalh ia lahir. Bima menyimpan fotonya. Ia mencamfinya di kamar Bima.
Ia tak menemukannya. Entah dimana aanakitu menyimpan. Tapi ia menemukan hal lain. Surat itu. Ia baca karena penasaran. Tangannya gemetar. Surat cinta, ada nama Mayang disebut-sebut. Hatinya mencelos. Ia baca sekali lagi. Tapi ia mengenali tulisan tangan Bima. Ini bukan tulisan Bima. Ditelusurinya surat itu. Akhirnya ia menemukan nama. Terulis di sampulnya. "Bagas."
Ia bertanya-tanya mengapa surat itu ada di laci Bima. Apakah Mayang malu dan memberikannya pada Bima karena bingung. Bagaimanapun Mayang sepolos itu. Mungkin ia malu mengatakan pada Papanya. Tapi siapa Bagas?
Sore ini pertanyaan dalam kepalanya terjawab. Anak itu. Bagas. Ia yakin penulis surat itu, dia pasti Bagas yang sama dengan Bagas yang memukul Bima.
Kenapa Bima dipukul? Pertanyaan berganti. Dan surat itu? Bagaimanapun ia pernah remaja. Tiba-tiba ia merasa takut. Bimanya tak pernah berhubungan dengan gadis manapun. Apa mungkin Bima dan Mayang...Ah, ia buang jauh-jauh pikirannya itu.
Ia mengalihkan perhatiannya. Papa Bima masih ada di depannya. Menikmati kopi sambil memandangi layar ponselnya.
"Ris, apa Mayang pernah pacaran?"
Haris nampak terkejut. Ia menggeleng cepat. Putri kecilnya, apa iya dia secepat ini dewasa?
"Kenapa, Ti?"
"Nggak papa. Cuma nanya. Kalau ada yang suka sama Mayang? Gimana? Kalau Mayang juga suka."
"Yaudah. Nggak papa. Lagian kamu tahu aku kan, Ti. Aku yang bakalan nganterin mereka pacaran kemana-mana. Awas saja ada yang berani macam-macam sama anakku. Aku pernah muda juga, Ti. Aku nggak ngelarang anakku cinta-cintaan. Tapi ya, rasanya kok belum rela putri kecilku tumbuh dewasa cepat sekali."
Asti mengangguk-angguk. Ia menikmati kopinya kembali. Ingin rasanya ia bertanya. Kalau Bima yang suka gimana? Nyatanya ia urungkan. Diapun tak siap sebenarnya dengan perasaan itu.
"Aku lihat anak-anak dulu ya, Ris."
Mama Bima membuka pintu studio Bima dengan hati-hati. Terlihat Bima tertidur di karpet dengan berselimut. Ia memang kadang suka tidur di studio ini dibandingkan dengan kamarnya sendiri. Dia atasnya ada Mayang yang tidur di sofa. Memakai selimut yang sama. Biasanya ia akan membiarkannya. Tapi kali ini kenapa rasanya berbeda ya. Prasangkanya membawa pikirannya kemana-mana. Akhirnya ia kembali ke Haris. Ia ingin banyak lagi mengobrol hal-hal serius.
Bima terbangun. Dilihatnya Mayang. Ia tertidur pulas. Ia benahi lagi selimutnya, tadinya tertarik ke bawah kareba sebagian ia pakai. Sofa itu memang dirancang nyaman karena Bima sering tidur malam di situ. Tetapi badannya agak sakit, seharian tadi. Ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya mengambil bantal dan selimut untuk dirinya sendiri agar nyaman. Ia membuka pintu dengan hati-hati, takut mengagetkan Mayang.
Bima berjalan pelan menuju kamarnya. Dilihatnya sekilas ada dua bayangan di teras samping. Rupanya Mamanya dan Papa Mayang. Ia terhenti sejenak. Mamanya nampak bersandar dengan nyaman di bahu Om Haris. Om Haris mengelus rambut Mamanya di belakang. Ada perasaan tak suka muncul dalam hatinya. Ia kembali ke studio tanpa rasa tenang sama sekali. Pikirannya melayang jauh. Ia tak bisa tidur malam itu.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹