Di malam pertunangan Daniel dan Moza, Tiara kehilangan kesuciannya. Kehormatan Tiara direnggut oleh Daniel calon kakak iparnya sendiri.
Sejak malam itu Daniel tidak mau melepaskan Tiara malah memaksa Tiara untuk menjadi istri simpanannya. Tidak ada cinta atau kehamilan, Daniel hanya menginginkan tubuh Tiara semata.
Apa yang terjadi kalau akhirnya Tiara hamil?
Tamat perseason.
1-55 Daniel dan Tiara
Diko dan Laura
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiara Hamil Anak Siapa?
Kini, Daniel tau kalau Diko memang sengaja mengirimnya kembali ke Paris agar ia bisa leluasa mendekati Tiara. Anak itu benar-benar licik.
"Tiara milikku, hanya milikku!" Sepertinya Daniel harus membuat perhitungan dengan Diko.
"Daniel, kalau kau punya masalah biarkan kali ini papa membantumu, biarkan papa memperbaiki kesalahan papa di masa lalu termasuk membuatmu menjadi penerus papa di perusahaan, setelah papa keluar dari rumah sakit, papa akan menyerahkan jabatan papa kepadamu."
Remon tetap yakin dengan keputusannya, sementara Mike sudah mengepalkan tangan ingin segera menarik Daniel agar kembali ke tempatnya semula.
Daniel menyimpan kembali ponselnya lalu berdiri tegak di samping ranjang pasien.
"Baiklah pa, Daniel terima tawaran papa asalkan serah terima jabatan itu dihadiri semua orang yang ada dibawah naungan papa termasuk Diko dan Mike." Daniel menepuk bahu Mike. "Kau tidak keberatan, 'kan Mike?" tanya Daniel.
Mike menghempaskan tangan Daniel. "Lihat saja apa yang akan aku lakukan, nanti! Lebih baik kau pergi dari sini sebelum terkurung selamanya di tempat.ini!" serunya, wajahnya sama sejali tidak bersahabat.
"Bicaralah yang sopan dengan kakakmu, Mike!" sentak Remon.
Mike semakin kesal ia membanting pintu dan keluar dari ruangan Remon.
"Papa akan meminta Diko kembali ke Paris agar serah terima jabatan itu bisa cepat dilakukan," ucap Remon.
Daniel mengulas senyum kemenangan.
***
Usia kandungan Tiara masih memasuki tiga minggu, perutnya masih terlihat datar, ukuran janinnya pun masih sangat kecil. Dokter belum menganjurkan Tiara untuk melakukan USG lebih lanjut lagi, nanti setelah melewati trismester pertama yaitu tiga bulan penuh barulah USG bisa dilakukan di mana janin sudah mulai terbentuk jelas.
"Jangan jauh-jauh." Diko menggenggam tangan Tiara ketika mereka berjalan di koridor rumah sakit. "Kamu mau ke mana lagi? Atau ada yang mau kamu beli?"
"Nggak ada, pengennya sih ketemu kak Moza tapi nggak mungkin karena kak Moza masih di luar kota, jadi kita pulang aja ya."
"Kenapa harus kembali lagi ke sana? Lebih baik kamu kembali ke rumah atau tinggal di apartmen, karena trmpat itu terlalu jauh dan sepi, aku takut kamu merasa bosan di sana."
"Aku lebih nyaman di sana, kak. Kalau di sini aku takut ketemu sama Daniel."
"Kamu nggak perlu khawatir karena Daniel nggak ada di kota ini, dia sudah pergi jauh."
Langkah Tiara terhenti diikuti Diko yang masih memegang tangannya.
"Tau dari mana Daniel nggak ada di kota ini?" selidik Tiara hati kecilnya sedikit kecewa karena Daniel tidak sedikitpun mencarinya.
Diko menjadi gugup namun berusaha menetralkan sikapnya. "Karena memang aku menjalin kerja sama dengannya, jadi aku tau kalau dia juga ke luar kota ngurus bisnis."
Tiara semakin yakin kalau memang harus melupakan segala sesuatu tentang Daniel yang sudah lebih dulu berhasil melupakannya.
Dua hari kemudian.
Beberapa hari ini Diko selalu menemani Tiara, hingga penduduk kampung mengira mereka memiliki hubungan khusus, apalagi desas desus kehamilan Tiara sudah terdengar di telinga mereka, namun baik Tiara ataupun Diko sama-sama menyanggahnya.
"Tiara aku harus kembali ke luar negri," ucap Diko ketika Tiara masih menyirami bunga di halaman, ia sudah siap dengan tas ransel ditangannya.
"Kenapa mendadak?" tanya Tiara, seperti tidak rela ditinggal pergi.
"Karena mama pun baru memberi kabar kalau kondisi papa kritis di rumah sakit." Diko membelai rambut Tiara. "Aku janji setelah kondisi papa membaik aku pasti mengenalkanmu ke mereka yang ada di sana dan aku akan mengakui anak ini sebagai anakku, jadi kamu jaga diri di sini ya. Tunggu aku kembali."
"Apa pada akhirnya semua orang akan pergi meninggalkan aku?" Mata Tiara sudah mulai berkaca-kaca, hormon kehamilan membuat ia menjadi lemah.
"Tidak." Diko menjatuhkan ransel miliknya dan memeluk Tiara. "Aku pergi untuk sementara, aku pasti kembali lagi untukmu." Diko mengencangkan pelukannya seolah ini yang terakhir kali ia bisa sedekat ini dengannya.
Diko benar-benar pergi, karena mama sudah mendesak agar ia cepat kembali ke Paris. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 17 jam hingga ia sampai ke rumah, Diko disambut pemandangan yang berbeda.
Tepat di ruang tamu ia melihat Papa, Mama, Laura dan Daniel tertawa bahkan papa terlihat segar bugar.
"Diko?" Laura berlari dan memeluk Diko. "Kenapa baru pulang? Aku kangen sama kamu," ucap Laura manja.
Diko tidak menghiraukan Laura, ia hanya fokus melihat Daniel yang juga sudah melihatnya.
"Diko, kau sudah pulang, Nak? Kemarilah kau tidak merindukan papa?" Remon merentangkan tangan. Diko melepaskan diri dari Laura dan menyambut pelukan Remon.
"Aku dengar papa sakit," ucap Diko ia memastikan kondisi Remon yang segar bugar.
"No I am Fine. Aku sudah baik-baik saja. Aku harus melakukan cara ini agar kau mau pulang ke rumah," ucap Remon.
Raut wajah Diko tampak kesal, kalau tau akan seperti kejadiannya tidak mungkin dia meninggalkan Tiara.
"Sepertinya kau keberatan kembali ke sini, apa ada yang kau tinggalkan di sana?" Daniel ikut bersuara, ia menahan diri untuk tidak menghajar Diko yang kemarin sudah lancang memeluk Tiara.
"Hidup dan masa depanku ada di sana," jawab Diko, ia melirik tangan Daniel yang sudah mengepal kakaknya pasti tau apa yang ia maksud.
Delia meminta Diko istrahat di kamar sebelum suaminya memulai membahas soal pekerjaan.
Di dalam kamar Diko merebahkan dirinya di atas tempat tidur, sebenarnya ia pun sedang menahan diri untuk tidak menghajar Daniel laki-laki pengecut yang telah meminta Tiara untuk menggugurkan kandungannya.
Laura mengetuk pintu kamar Diko dan masuk tanpa dipersilahkan, ia duduk tepat di samping Diko.
"Kau sudah bertemu dengan perempuan itu?"
Pertanyaan Laura membuat Diko membuka mata.
"Bukan urusanmu," jawab Diko sinis, ia memunggungi Laura, seolah tidak menghiraukan kehadirannya.
Laura memegang punggung Diko. "Kita sudah dijodohkan, kenapa kau masih saja memikirkan wanita dari masa lalumu itu?" tanya Laura.
Diko duduk disamping Laura. "Tapi aku tidak menerima perjodohan ini, sebaiknya kau kembali ke rumahmu dan katakan pada orang tuamu kalau kau menolak perjodohan ini."
"Dulu aku menyukai Daniel, bahkan kami sudah dijodohkan sebelum kau datang ke rumah ini. Semua berubah karena kehadiranmu, kini aku pun tidak bisa lagi merebut hati Daniel dan kau pun menolakku?"
Perjodohan ini tidak boleh batal, sebab hanya ini jalan supaya Laura bisa memperkuat kedudukannya di rumah ini seperti perintah orang tuanya.
"Lalu harus bagaimana lagi? Aku pun tidak bisa meninggalkan dia dalam keadaan hamil seperti sekarang!" sentak Diko.
Laura terkejut setengah mati. "Kau baru bertrmu dengan dia tapi kau sudah menghamilinya?"
"Iya ... Tiara mengandung anakku!" jawab Diko lantang.
Pintu kamar Diko dibuka dari luar, Daniel berdiri dengan tatapan ingin membunuh.
Diko dan Laura sama-sama berdiri.
"Tiara hamil anak siapa?" tanya Daniel, suaranya pelan namun terdengar menakutkan.
semangat teroos kaa,,karena bagi aq skalipun ada kemiripan dengan novel yg lain nya aq akan tetap stay..asalkan cerita nya seru, alur nya bagus dn minim typo plus g ada kata2 ato kalimat2 yg rancu...💪💪
I like it...
😍😍😍😍😍👍