Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan
Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.
Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detektif Lilis Haibara
"Kayaknya ada masalah dengan program arkeologi dua kampus itu. Gimana kalau kita datangi besok di Unibraw baru ke Unair? Mumpung kita di sini. Sekalian aku pengen makan lontong balap, rawon setan dan rujak cingur ... Oh, pulang nanti mampir beli petis ya? Azizah sudah nitip mau buat tahu petis sama ...."
Kombes Fariz menutup mulut AKBP Teguh. "Soal kuliner, pikir belakangan! Lu mau bikin cacing gue demo di udara sedingin ini, woi!"
AKBP Teguh hanya nyengir. AKP Samsudin dan Iptu Cristiano hanya menggeleng gemas.
"Mas Cris, aku cari informasi yaaaa," celetuk Mbak Lilis dengan gaya mentel.
"Sok atuh. Mangga," jawab Iptu Cristiano dengan cueknya. Dia lebih fokus tidak melihat makhluk-makhluk menyeramkan di sana.
"Lilis comel pergi duluuuu!" pamit Mbak Lilis.
"Sekarang bagi tugas. Kita bagi dua tim buat cari info, kenapa proyek ini tidak dilanjutkan," putus Kombes Fariz. "Tapi sebelumnya, kita makan dulu. Bodo amat cuma diganjal Indomie rebus. Yang jelas, kalau cacing gue demo macam gini, gue kagak bisa mikir!"
Keempat pria itu pun menuju ke sebuah warung makan dan segera memesan Indomie rebus masing-masing dobel pakai telur. Burhan yang duduk bersama mereka, hanya terbengong-bengong melihat anak bossnya cuek saja.
Siapapun di Surabaya dan Jawa Timur, kenal Indrawan Santoso. Pengusaha kaya raya yang kalah sedikit dari keluarga Pratomo itu, memang dikenal keluarga humble. Burhan dan para pegawai perusahaan Santoso Group itu tidak menduga dua anak kembar Indrawan, memilih menjadi polisi karena ... Gabut! Sekarang dia melihat sendiri, Cristiano benar-benar serius jadi polisi dan detektif.
Dan Mas Cristiano sekarang makan dua porsi Indomie rebus!
***
Mbak Lilis menatap datar ke arah para anomali penunggu Gunung Kawi. Ada yang berbentuk Pak Gondo, monyet besar, serigala hitam, nenek-nenek dan macam-macam. Meskipun dia sendiri, tapi Mbak Lilis sudah terbiasa dilatih mental perkuntiannya di divisi gabut sejak dia menjadi arwah.
"Kamu dari Jakarta kan?" tanya nenek-nenek yang memakai tongkat.
Mbak Lilis yakin, kalau tongkat itu dipukul ke bukit, akan ada air keluar ... Sepertinya.
"Benar. Namaku Lilis dan aku adalah bagian dari tim kepolisian kasus dingin di Polda Metro Jaya. Well, tim tidak kasat mata sih ... tapi memang aku bagian mereka," jawab Mbak Lilis sopan.
"Ada apa kamu dan tim polisi kemari?" tanya Pak Gondo.
"Menyelidiki kematian kurator bernama Akbar Maulana. Kami tahu dia datang kemari. Apa kalian tahu apa yang dia lakukan di sini? Bukannya ini proyek Universitas Brawijaya dan Universitas Airlangga? Kenapa tidak ada satu pun dari pihak kedua universitas itu di sini?" cecar Mbak Lilis.
"Siji siji, Nduk. Kowe Wis ketularan dadi polisi," kekeh seorang kakek-kakek sambil merokok.
"Nuwun Sewu, Mbah. Kebiasaan," cengir Mbak Lilis.
"Jadi begini. Tahun lalu, memang ada laporan saat seorang penduduk menggali untuk menanam pohon baru karena yang lama roboh akibat usia. Pas dia gali, menemukan banyak artifak purbakala. Pemerintah Malang memanggil pihak Unibraw dan departemen budaya. Jadi mereka melakukan penggalian dan mulai mendata inventaris satu persatu. Unair pun datang. Tidak ada masalah awalnya, baik-baik saja layaknya penelitian ... Sampai ...." Nenek itu menoleh ke para penghuni di sana.
"Sampai ada seorang pengusaha dari Jakarta datang bersama dengan seorang tentara. Kami tahu siapa mereka karena sering minta kekayaan di sini," timpal makhluk berbentuk serigala itu.
"Bukannya di sini sempat berhenti?" tanya Mbak Lilis.
"Setelah revolusi tapi ... yang namanya manusia itu selalu serakah dan tidak pernah merasa cukup. Mau kamu sudah diberikan kenikmatan dan kekayaan, selalu tidak pernah cukup. Dan tololnya, minta pada kami yang sudah pasti ... Akan ada konsekuensinya!" seringai nenek itu.
"Jadi, mereka datang?" tanya Mbak Lilis.
"Dan mengambil alih semuanya padahal baru sekitar enam bulanan proyek ini berjalan ...."
"Diambil oleh pengusaha ini dan oknum jendral?" tanya Mbak Lilis lagi.
"Iya."
"Lalu Akbar datang?"
Semua makhluk mengangguk. "Dia mengkurator semua artifak."
"Lalu kapan mereka mulai pergi dari situs arkeologi itu?" tanya Mbak Lilis.
"Dua bulan lalu. Setelah membawa semua artifak dalam peti kayu."
Mbak Lilis mengangguk. "Biar detektif Lilis Haibara ini memberitahukan pada Mas Cristiano bukan Ronaldo itu tentang hasil penyelidikan Lilis."
"Apakah polisi yang paling muda itu indigo?" tanya Pak Gondo.
"Kenapa bapak bisa bilang begitu?" balas Mbak Lilis.
"Dia tidak mau melihat kami."
***
Ruang Kerja Tim Divisi Kasus Dingin Polda Metro Jaya Jakarta
"Pembunuhan banci?" Kombes Steven menatap AKP Ghafar yang mendapatkan permintaan dari tim Major Crimes.
"Iya Bang, sudah satu dekade ini. Tim Major Crimes sudah menyerah karena tidak ketemu pelakunya. Kan Bang Steven tahu sendiri, gimana komunitas banci atau boti paling alergi sama polisi," jawab AKP Ghafar.
"Itu kasus yang mana?" tanya Kombes Arief sambil mencari file kasus.
"Sepuluh tahun lalu. Aku belum gabung di sini. Namanya ...." AKP Ghafar membuka catatannya. "Thomas alias Nimas."
Semua orang saling berpandangan. "Serius itu namanya?" tanya Iptu Casey.
"Memang kenapa?" balas AKP Ghafar.
Tanpa komentar, Kombes Arief langsung memutar video klip lama milik Project Pop yang berjudul Jangan Ganggu.
"Permisi mas
Nama saya Nimas
Tapi kalo pagi saya jadi Thomas
Saya dari brebes Cantik-cantik pedes
Tapi saya gemes Sama cowo judes
Siapa gak mau senyum
Siap-siap tak cium
Siapa gak mau senyum
Siap-siap tak cium ..."
AKP Ghafar melongo. "Ada tho lagunya?"
***
Kediaman Dokter Wayan
Dokter Wayan yang sudah pensiun, sedang membuka file-file lama terutama kasus-kasus yang belum bisa dia pecahkan bersama tim kasus dingin. Kakek dua cucu itu merasa bersalah pada keluarga korban karena tidak ... belum memberikan penutup dan jawaban kenapa anggota keluarga mereka menjadi korban.
Sambil menyesap teh panasnya, dokter Wayan membaca kembali file-file yang dia simpan rapi di lemari folder. Tidak hanya dirinya yang kesal karena belum bisa mendapatkan pelaku, tapi juga tim medical Examiner termasuk Daisy dan Mamat.
"Kok aku malah penasaran dengan kasus si Nimas alias Thomas ya? Ada apa sih?" gumam dokter Wayan bingung.
Suara bel pagar rumahnya berbunyi dan dokter Wayan melihat dari layar tv khusus tangkapan cctv-nya. Pria itu tersenyum dan berjalan menuju pintu rumahnya dengan menggunakan tongkat. Tak lama, pintu pagarnya terbuka otomatis dan seorang pria masuk dengan wajah sumringah.
"Wah, Dean ... dalam rangka apa kemari?" sapa dokter Wayan sambil memeluk Irjen ( Purn ) Dean Thomas.
"Aku habis dari tengok kebun di Bogor terus aku kok pengen mampir kemari. Dekat kan dari pintu tol," senyum Irjen ( Purn ) Dean Thomas.
"Kebetulan kamu datang. Aku ingin membahas kasus."
"Hah? Kasus apa?"
***
Yuhuuu up malam yaaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
semangat berkarya mbak Hana...jangan lupa istirahat dan healing..
Hajar aja lah Dok Lucky 😄😄
udh kthuan aibnya,msih usaha buat jd pebinor.....cckkk....ga tau malu....🙄🙄🙄
blm tau dia kl mslh aib mh urusn gmpang,tnggal mnta tlong sm kluarganya....wasalam dehhh.....😛😛😛