NovelToon NovelToon
CINTA HABIS DI MANTAN

CINTA HABIS DI MANTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:285
Nilai: 5
Nama Author: AssaZahara

Catalea Yoora merupakan salah satu dari pewaris perusahaan Rotasi Company. Perusahaan yang bergerak di bidang makanan, bakery, dan kuliner yang sudah membuka cabang lebih dari lima provinsi. Beberapa menit menjelang akad nikahnya Alea menghilang. Gosip yang beredar Alea pergi karena ia tidak mencintai calon suaminya karena perjodohan keluarga. Kecurigaan itu beralasan, karena tamu yang dimaksud ternyata mantan Alea, Zahran Adrian Adiguna. Mantan kekasih yang pernah menjalin hubungan dengan Alea. Namun hubungan itu berakhir karena hubungan keluarga. Akhir-akhir ini hubungan kedua keluarga itu membaik. Tapi kejadian hilang nya Alea berkaitan Erat dengan Zahran. Beberapa orang menduga Alea di culik oleh Zahran karena dendam. Namun sebagian orang merasa alasan hilangnya Alea sangat sederhana ia masih cinta dengan mantan kekasih nya. Motif yang hanya bisa di ketahui publik ketika Alea di temukan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AssaZahara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alibi Zahran yang Sempurna Namun Mencurigakan

Setelah berhasil mendapatkan petunjuk tentang mantan kepala audit Reynald yang bersembunyi di Jawa Timur, Zahran dan Alea tidak membuang waktu. Mereka segera mengemasi peralatan dan meninggalkan pos logistik tersebut sebelum fajar menyingsing. Namun, di Jakarta badai yang mereka picu telah mencapai puncak kegilaannya.

Di kantor pusat Kepolisian Daerah Metro Jaya, sebuah ruangan interogasi tertutup tengah di duduki oleh Gautama Adiguna dan tim legal Adiguna Group. Di depan mereka, Kompol Hendrawan dengan sabar memutar rekaman suara dari dashcam mobil Zahran yang ditemukan oleh tim forensik di sebuah bengkel karoseri beberapa hari lalu.

"Saudara Gautama," ujar Hendrawan membuka pembicaraan dengan nada tenang yang menusuk. Mungkin sebentar lagi Gautama bisa dalam keadaan terjepit kalau salah langkah dalam berkata.

"Kami telah menelusuri alibi adik Anda. Zahran mengklaim bahwa pada hari hilangnya Nona Catalea, dia sedang melakukan survei lapangan untuk proyek pengembangan resor di pinggiran Bogor. Dia bahkan melampirkan log perjalanan, tanda terima tol, dan absensi di lokasi proyek yang ditandatangani oleh mandor lapangan." Ujar Hendrawan.

Gautama terdiam, wajahnya dingin dan tak terbaca.

"Itu benar, Kompol. Zahran adalah direktur yang sangat disiplin. Dia selalu mencatat setiap langkah yang dia ambil untuk keperluan audit perusahaan." Jawab Gautama tenang namun dalam hatinya sudah mulai berkecamuk.

Hendrawan tersenyum tipis, lalu menggeser sebuah map ke atas meja.

"Itulah masalahnya. Alibi itu terlalu sempurna. Kami mengecek data Base Transceiver Station (BTS) ponselnya. Pada pukul 09.00 pagi, saat dia seharusnya sedang menandatangani dokumen proyek di Bogor, ponselnya memancarkan sinyal dari sebuah menara telekomunikasi di area Hotel Grand Luminary." Ujar Kompol Hendrawan dengan menaik satu alisnya.

"Mungkin dia menitipkan ponselnya pada supirnya? Atau ada gangguan teknis pada sistem operator?" Jawab Gautama sambil mengerutkan kening.

"Kami sudah memeriksa supirnya, dan supir itu mengaku Zahran memintanya untuk mematikan mobil dan menunggu di titik yang berbeda," lanjut Hendrawan.

"Namun, yang membuat kami curiga bukan sekadar keberadaannya di hotel. Kami menemukan bahwa satu jam sebelum akad nikah dimulai, seseorang telah menyewa server VPN privat dari luar negeri untuk meretas sistem keamanan hotel selama sepuluh menit. Tepat sepuluh menit saat Nona Catalea meninggalkan ruangan."

"Apakah ada bukti bahwa itu Zahran?" tanya Gautama, suaranya sedikit meninggi.

"Tidak ada bukti langsung yang menghubungkannya dengan peretasan tersebut," jawab Hendrawan sambil bersandar di kursinya.

"Tapi, alamat IP yang digunakan untuk menyewa server tersebut berasal dari kartu kredit korporat yang terdaftar atas nama anak perusahaan Adiguna Land yang dikelola langsung oleh Zahran. Alibi Zahran tentang survei di Bogor terbukti benar secara fisik, karena ada saksi yang melihatnya. Tetapi di saat yang sama, identitas digitalnya digunakan untuk melakukan operasi penyusupan." Ujar Hendrawan menjelaskan.

Gautama merasakan dingin merambat di tengkuknya. Zahran, adik bungsunya yang selalu ia anggap terlalu idealis, ternyata telah menyusun alibi yang berlapis. Zahran memastikan kehadirannya secara fisik di lokasi lain agar tidak bisa dituduh sebagai penculik, sementara ia menggunakan sumber daya perusahaan untuk memastikan kelancaran pelarian tersebut secara digital.

"Ini adalah alibi yang sangat licin," gumam Gautama, lebih kepada dirinya sendiri.

"Dia tidak menculik Alea dengan otot. Dia menculiknya dengan protokol keamanan."

"Bagi saya," Hendrawan menatap tajam ke mata Gautama,

"ini adalah tindakan kriminal yang terencana dengan sangat matang. Zahran bukan hanya seorang pria yang jatuh cinta, dia adalah seorang arsitek yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan struktur bangunan tanpa harus menyentuhnya. Dan yang lebih mencurigakan, dia seolah-olah sengaja meninggalkan jejak yang hampir sempurna agar kami terus mengejarnya, sementara dia sendiri sudah berada jauh di luar jangkauan." Jelas Kompol Hendrawan lagi.

***

Di sisi lain, di sebuah kedai kopi pinggir jalan yang jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, Zahran sedang duduk di depan laptopnya, memantau pergerakan media dan polisi melalui proxy. Ia melihat berita utama di televisi yang melaporkan bahwa kepolisian mulai mencurigai adanya peretasan sistem keamanan hotel.

"Mereka mulai menyadarinya," bisik Zahran sambil tersenyum tipis, matanya tidak berkedip menatap layar.

Alea, yang duduk di sampingnya sambil memegang cangkir kopi panas, menatap layar itu dengan rasa ngeri yang bercampur kagum. Entah seberapa banyak perubahan dalam diri Zahran selama beberapa tahun ini. Entahlah.. hanya itu yang ada dalam hati Alea.

"Kamu meretas keamanan hotel kita sendiri?"

"Aku meretas celah yang sudah ada," jawab Zahran singkat.

"Aku hanya memastikan bahwa saat aku masuk ke basemen tuntuk menjemputmu, semua kamera di jalur itu akan mati secara bersamaan karena looping rekaman yang kubuat. Itu alibiku. Aku berada di Bogor, tapi sistem keamanan hotel 'gagal' pada saat yang tepat."

"Tapi bukankah itu justru membuatmu terlihat semakin bersalah?" tanya Alea.

Zahran menutup laptopnya, lalu menoleh ke arah Alea dengan tatapan penuh kepastian. Tatapan yang lebih tajam dari saat mereka memiliki hubungan.

"Justru itulah tujuannya. Jika aku membuat alibi yang lemah, mereka akan menangkapku dengan mudah. Tapi dengan membuat alibi yang 'sempurna namun mencurigakan', aku memaksa mereka untuk menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk membuktikan apakah aku terlibat atau tidak. Aku sedang bermain catur, Alea. Dan setiap kali mereka bergerak, mereka justru menjauh dari tempat kita yang sebenarnya." Ujar Zahran lagi.

Alea tertegun, Ia menyadari bahwa pria di depannya ini bukanlah pria yang sama dengan pria yang dulu ia putuskan hubungannya di Bandung. Zahran yang ini adalah pria yang telah belajar bahwa di dunia korporat, kebenaran hanyalah bagian dari narasi yang disusun. Ia tidak lagi bertarung dengan kejujuran, ia bertarung dengan logika yang lebih tajam dari musuh-musuhnya.

"Kamu membuat dirimu sendiri menjadi tersangka utama untuk melindungiku," gumam Alea, suaranya bergetar.

"Aku membuat diriku menjadi sasaran utama agar mereka tidak memikirkan kemungkinan lain," jawab Zahran sambil berdiri dan merapikan jaketnya.

"Selama mereka yakin bahwa aku bekerja sendirian dan menggunakan logika 'penculik', mereka tidak akan pernah menduga bahwa kita sekarang sedang melacak korupsi yang dilakukan Reynald. Mereka mencari penjahat, sementara kita sedang mencari keadilan." Lanjut Zahran berkata pada Alea

Zahran menatap Alea dengan lembut, lalu menyentuh tangan wanita itu.

"Siap untuk tahap selanjutnya? Kita harus segera pergi ke Jawa Timur sebelum mereka menghubungkan jejak digital ini dengan mantan kepala audit yang kita cari."

Alea mengangguk mantap. Ia bukan lagi sekadar pelarian yang ketakutan. Ia telah menjadi bagian dari rencana besar yang disusun oleh pria yang mencintainya. Dan bagi Alea, selama Zahran adalah nahkoda dari pelarian ini, ia tidak lagi peduli apakah ia akan dicap sebagai tersangka atau bukan. Karena dalam permainan ini, mereka tidak sedang kalah mereka sedang memimpin. Cinta memang gila bukan?? Bahkan dalam keadaan berbahaya pun akan di hadapi.

***

1
Ana Dww
elu nekattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!