NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 KELUARGA HARUS BERHENTI TAKUT

Naya mencondongkan tubuh sedikit. “Bang.”

“Hm?”

“Nanti sampai rumah… Ibu pasti nanya.”

Arkan diam.

Lampu merah masih menyala.

Angin dari kendaraan yang lewat di jalur sebelah menyapu ujung jaketnya. Ia bisa mendengar kekhawatiran dalam suara Naya. Bukan hanya penasaran. Naya takut. Takut uang itu datang dari tempat yang salah. Takut Arkan melakukan sesuatu yang berbahaya demi dirinya.

Ketakutan itu membuat dada Arkan sakit.

Ia tidak mau Naya berpikir seperti itu.

“Naya,” ucapnya pelan tanpa menoleh, “uang tadi bukan dari hal buruk.”

Naya terdiam di belakang.

“Abang serius?”

“Iya.”

“Abang nggak minjam ke rentenir?”

“Tidak.”

“Abang nggak…” Naya berhenti sebentar, seolah takut melanjutkan kalimatnya. “Nggak ngelakuin hal aneh-aneh kan?”

Arkan hampir tertawa pahit.

Hal aneh?

Ia baru saja mendengar sistem di kepalanya menyebut tiga triliun sebagai uang pembuka dan dua puluh lima triliun sebagai aset level satu.

Kalau itu bukan hal aneh, Arkan tidak tahu apa lagi namanya.

Tapi ia tidak bisa mengatakan itu.

“Abang nggak melakukan hal buruk,” jawabnya lebih tegas. “Percaya sama abang dulu. Nanti abang jelaskan pelan-pelan.”

Naya tidak langsung menjawab.

Lampu merah berubah hijau.

Motor-motor di sekitar mereka mulai bergerak. Arkan menarik gas pelan. Mesin tua itu kembali mengeluarkan suara kasar, seperti protes karena dipaksa melanjutkan hidup.

Sistem langsung berbicara.

[Kendaraan kembali aktif.]

[Suara mesin masih memalukan.]

[Rekomendasi: pembaruan kendaraan masuk prioritas tinggi.]

Arkan mengabaikannya.

Naya akhirnya bersuara lirih, “Naya percaya sama Abang.”

Kalimat itu membuat Arkan merasa lebih berat daripada sebelumnya.

Kepercayaan Naya bukan hadiah kecil. Itu beban yang harus ia jaga. Kalau ia salah langkah, bukan hanya dirinya yang jatuh. Ibunya, Naya, rumah mereka, bahkan masa depan yang baru saja terbuka bisa ikut hancur.

Ia tidak boleh gegabah.

Meski sistem terus menyuruhnya membeli yayasan, membeli kendaraan, membeli hidup baru seolah semua itu semudah menekan layar, Arkan tahu ia tidak bisa berubah terlalu cepat di depan keluarganya. Mereka bukan angka. Mereka manusia. Mereka butuh waktu untuk percaya.

Ia sendiri pun butuh waktu.

Namun sistem tampaknya punya pendapat lain.

[Analisis rute pulang selesai.]

[Estimasi waktu sampai rumah: 18 menit.]

[Dalam durasi tersebut, sistem menyarankan Tuan Rumah mempertimbangkan tiga keputusan awal.]

[Keputusan pertama: akuisisi Yayasan Pendidikan Bintang Khatulistiwa.]

[Keputusan kedua: pembaruan kendaraan.]

[Keputusan ketiga: relokasi keluarga ke tempat tinggal yang lebih layak.]

Arkan menelan ludah.

Tiga keputusan itu terdengar seperti rencana hidup beberapa tahun bagi orang biasa.

Sistem menyebutnya bahan pertimbangan selama delapan belas menit perjalanan pulang.

“Kenapa harus secepat itu?” batin Arkan.

[Karena Tuan Rumah telah berubah status.]

[Menunda semua perubahan terlalu lama dapat menciptakan risiko.]

“Risiko apa?”

[Risiko sosial.]

[Setelah transaksi hari ini, subjek Hendra dan pegawai administrasi telah mengetahui bahwa Tuan Rumah memiliki akses dana yang tidak sesuai dengan status ekonomi lama.]

[Potensi rumor: sedang.]

[Potensi penyelidikan tidak resmi: rendah, tetapi meningkat.]

[Potensi orang lama mendekat karena uang: akan terjadi.]

Arkan terdiam.

Kali ini sistem tidak sedang mengejek.

Atau setidaknya, tidak sepenuhnya mengejek.

Ada kebenaran yang tidak bisa ia bantah. Pak Hendra sudah melihat transfer itu. Rina juga tahu. Naya jelas akan bertanya. Dan kalau orang seperti Pak Hendra merasa penasaran, bukan mustahil cerita itu keluar dari ruangan administrasi.

Pemuda miskin yang datang dengan motor tua tiba-tiba membayar tunggakan tanpa berkedip.

Mungkin bagi orang lain jumlah itu belum fantastis.

Tapi bagi mereka yang mengenal kondisi Arkan, itu cukup untuk menimbulkan pertanyaan.

Arkan melirik spion lagi.

Wajah Naya terlihat lebih tenang daripada tadi, tetapi matanya masih menyimpan banyak hal.

Ia menarik napas.

“Untuk yayasan,” batinnya kepada sistem, “jangan dulu.”

[Alasan?]

“Aku belum tahu efeknya. Kalau tiba-tiba yayasan berpindah tangan setelah aku keluar dari sana, mereka pasti curiga.”

[Benar.]

Sistem diam sebentar, lalu melanjutkan.

[Keputusan Tuan Rumah tidak sepenuhnya bodoh.]

Arkan hampir merasa tersinggung.

“Hampir saja itu terdengar seperti pujian.”

[Jangan terlalu berharap.]

Arkan menggeleng kecil.

Naya memperhatikannya dari belakang. “Bang?”

“Nggak apa-apa.”

“Abang sering ngomong sendiri dari tadi.”

Arkan membeku sedikit.

Sistem langsung bersuara.

[Kesalahan perilaku terdeteksi.]

[Rekomendasi: kurangi ekspresi wajah saat berkomunikasi internal.]

Arkan menahan napas.

Ia harus belajar mengendalikan diri lebih baik. Kalau tidak, keluarganya akan mengira tekanan hidup benar-benar membuatnya kehilangan akal.

“Abang cuma lagi banyak pikiran,” jawab Arkan.

Naya tidak membantah.

Motor mereka memasuki jalan yang lebih kecil menuju lingkungan rumah mereka. Jalan itu tidak selebar jalan utama. Beberapa bagian aspalnya retak, dan genangan bekas hujan kemarin masih tersisa di pinggir. Anak-anak kecil bermain bola di dekat gang. Seorang ibu menjemur pakaian sambil mengobrol dengan tetangga. Di depan warung, beberapa bapak duduk sambil menyeruput kopi, membicarakan harga barang dan kabar orang-orang sekitar.

Arkan mengenal semua pemandangan itu.

Terlalu mengenalnya.

Inilah dunia lamanya.

Dunia yang menilai seseorang dari motor yang dibawa pulang, dari berapa sering membeli lauk, dari kapan listrik rumahnya telat dibayar, dari apakah anaknya bisa lanjut kuliah atau tidak.

Dunia yang sempit.

Dunia yang selama ini ia kira harus diterima.

Namun sore itu, ketika motor tuanya masuk ke gang kecil, Arkan merasa seolah ia membawa sesuatu yang terlalu besar untuk disembunyikan di balik jaket lusuhnya.

Tiga triliun di rekening.

Dua puluh lima triliun dalam otoritas aset.

Sistem sinis di kepalanya.

Dan keluarga yang belum tahu apa-apa.

Ketika rumah kecil mereka mulai terlihat di ujung gang, Arkan memperlambat motor.

Rumah itu sederhana. Dindingnya tidak baru. Pagar kecilnya sedikit miring. Di teras, beberapa pot tanaman milik ibunya berjajar rapi meski sebagian sudah retak. Sandal rumah tersusun di dekat pintu, dan tirai jendela bergerak pelan tertiup angin dari kipas dalam rumah.

Tidak ada yang mewah.

Tidak ada yang berubah.

Tapi sebentar lagi, semuanya mungkin harus berubah.

Arkan mematikan mesin motor.

Suara kasar itu berhenti.

Naya turun lebih dulu, masih memeluk mapnya. Ia menatap pintu rumah beberapa saat, lalu menoleh pada Arkan.

“Bang,” katanya pelan, “Ibu harus tahu sekarang?”

Arkan membuka helmnya perlahan.

Ia menatap rumah kecil itu.

Di balik pintu itu ada ibu mereka. Wanita yang mungkin sedang menghitung sisa beras, memikirkan obat, dan menunggu kabar apakah berkas Naya berhasil keluar atau tidak.

Arkan ingin masuk dan mengatakan semuanya selesai.

Ingin mengatakan mereka tidak perlu takut lagi.

Ingin mengatakan rumah ini mungkin tidak lagi menjadi batas hidup mereka.

Tapi lidahnya terasa berat.

Karena bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa dunia mereka berubah hanya dalam satu sore?

Di dalam kepalanya, sistem berbicara lebih pelan dari biasanya.

[Rekomendasi: mulai dari kabar baik.]

[Informasi tentang nominal ekstrem dapat ditunda.]

Arkan memegang helmnya erat.

Untuk sekali lagi, ia setuju.

Ia menatap Naya dan mengangguk.

“Kita bilang berkas kamu sudah keluar dulu.”

Naya mengangguk pelan.

Mereka berjalan menuju pintu.

Namun sebelum Arkan sempat mengetuk, pintu rumah terbuka dari dalam.

Ibu mereka berdiri di sana.

Wajahnya lelah, tetapi matanya langsung mencari map di tangan Naya. Begitu melihat map itu, napasnya tertahan. Harapan dan takut bercampur di wajahnya.

“Naya…” suara ibu terdengar gemetar. “Berkasnya…”

Naya tidak mampu menahan diri.

Ia langsung memeluk ibunya.

“Sudah keluar, Bu.”

Ibu mereka membeku.

Lalu perlahan, tangannya naik memeluk Naya.

Arkan berdiri di depan pintu, menyaksikan dua orang paling penting dalam hidupnya berpelukan di rumah kecil yang selama ini terlalu sering menyimpan rasa takut.

Dadanya terasa penuh.

Untuk pertama kalinya sejak sistem muncul, Arkan tidak memikirkan angka.

Tidak memikirkan yayasan.

Tidak memikirkan dua puluh lima triliun.

Ia hanya menatap ibunya yang menangis pelan sambil memeluk Naya, lalu menyadari satu hal.

Kalau uang itu benar-benar nyata, maka ia tidak boleh hanya menjadi kaya.

Ia harus membuat keluarganya berhenti takut.

Dan di dalam kepalanya, sistem kembali berbicara dengan nada datar.

[Tujuan emosional terdeteksi.]

[Prioritas keluarga meningkat.]

[Catatan: keputusan baik.]

Jeda sesaat.

[Namun rumah ini tetap terlalu kecil untuk keluarga triliuner.]

Arkan memejamkan mata.

Bahkan di momen seperti ini, sistem tetap tidak bisa diam.

1
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!