Bila kita membenci seseorang itu wajar, namun bencilah dengan sewajarnya. Karena kadang kala benci bisa berubah menjadi cinta.
Di sebuah ruangan.... Seorang wanita tengah di tarik paksa oleh seorang pria yang sangat ia benci, begitu pun dengan si pria yang sangat membenci si wanita.
"Tidak ada orang yang tidak menyukai aku!" tegas seorang pria bertubuh tegap yang bernama Aran Rianda, pada seorang wanita yang kini sedang berada di bawah kungkungannya.
Wanita yang bernama Velisya Khumairah itu tidak pernah mengenal kata takut hingga ia sama sekali tidak merasa gentar dengan pria yang kini tengah mengungkungnya, "Aku tidak menyukaimu dan tidak akan pernah...!" tegas Velisya Khumairah.
"Kau......" pria tersebut menarik paksa si wanita hingga tanpa sadar wanita itu ikut menarik si pria, dan keduanya terjatuh di sofa dengan Velisya yang berada di bawah tubuh kekar Aran.
Tanpa bisa di tolak lagi, seorang pria paruh baya menyaksikan itu semua.
"KALIAN HARUS MENIKAH.....!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Anggia berjalan keluar dan ternyata semua anggota keluarga sudah ada di sana, Anggia menatap Aran yang tengah menatap dirinya karena menunggu apa yang akan di katakan Anggia.
"Selamat ya Aran anak kamu perempuan cantik sekali seperti Mamanya," Anggia tersenyum penuh bahagia.
"Cucu Mami perempuan?" tanya Ratih dengan bahagia.
"Iya Mi," Anggia mengangguk.
"Aduh....cucu perempuan Mama nambah satu lagi," kata Sinta yang tidak kalah bahagia juga.
"Alhamdulillah.....ini cucu Mama yang pertama loh Ngi," Laras menangis haru, karena kini ia sudah menjadi seorang Oma.
Semuanya bergegas masuk karena ingin cepat-cepat melihat bayi mungil milik Veli, tapi tidak dengan Aran. Aran hanya berdiri mematung di depan pintu, hingga Bilmar menepuk punggung Aran.
"Lu kenapa bro?" tanya Bilmar.
"Emang gw kenapa?" Aran malah dengan bodohnya kembali bertanya.
"Masuk! Bini lu udah lahiran.....anak lu di dalam, emang lu nggak mau lihat?" tanya Bilmar sambil menarik Aran masuk.
"Iya.....ini bukan mimpikan Bil? Gw beneran jadi Papa?" Aran tanpaknya belum percaya, ia masih seperti kebingungan.
Bilmar mendekati Aran dan berbisik, "Hasil cetakan lu udah jadi bro," Bilmar menarik Aran mendekati bayinya.
Yang lain sibuk menciumi bayinya ia hanya diam sambil menatapnya saja, ia tidak percaya ternyata kini sudah memiliki seorang anak. Mata bayi itu masih tertutup, mulutnya bergerak seolah ia tengah mencari asi. Pipinya terlihat begitu tembem, Aran malah menitihkan air mata dan tidak tahu bagaimana cara untuk menjelaskannya.
"Aran, ayo azani anak mu," Ratih mendudukan Aran di sofa dan memberikan bayi itu pada Aran.
"Mi Aran nggak berani pegang......" tangan Aran gemetaran, dan keringatnya mulai keluar karena takut memegang bayi sekecil itu.
"Ayo azani anak kamu!" kata Ratih lagi.
"Iya tapi Mami aja yang pegang, Aran beneran takut Mi," pinta Aran lagi bahkan ia tidak berani bergerak sedikit pun.
"Sudah ayo azani dulu," kata Sinta juga.
Aran mulai mengazani bayinya, dan ia benar-benar tidak berani bergerak sedikit pun takut ia malah menjatuhkan bayinya atau pun malah bayi yang masih kecil itu malah patah tulang. Beberapa saat kemudian Aran selesai mengazani bayinya, ia menatap semua orang di sana.
"Mi tolong Mi, Aran takut," Aran ingin bayinya di ambil.
"Karena harus takut, itu anak kamu!" jawab Sindi.
"Iya...belajar dulu ya," Ratih terkekeh karena Aran memang tidak memiliki keberanian menggendong bayi.
Akhirnya Aran diam dan menatap wajah bayinya, ia malah kembali menangis dengan sesegukan hingga Ratih cepat-cepat mengambil bayi itu karena takut kenapa-kenapa.
"Kamu kenapa Ran?" tanya Ratih.
"Aran terharu Mi, hiks....hiks....." Aran malah menangis seperti anak kecil.
"Aduh....." Veli menepuk jidatnya, karena suaminya itu mendadak bodoh lagi.
"Ahahahhaha......" yang lainnya malah tertawa melihat Aran yang menangis dengan kencang.
"Veli.....hiks....hiks....."Aran memeluk Veli, ia seperti anak kecil bila di hadapan keluarganya, bahkan ia terkesan seperti anak ingusan yang meminta di belikan mainan.
"Mas, apasih....nangisnya nggak usah gitu banget, malu tau Mas," Veli mengingatkan Aran, jika di sana ada banyak anggota keluarga dam Veli tidak mau suaminya itu nanti menjadi bahan tertawaan.
"Tapi Mas terharu....."
"Iya tapi nggak usah begitu juga nangis," kata Veli sambil memeluk Aran.
CUP.
Aran malah mengecup bibir Veli, Veli terkejut dan matanya melebar dengan sempurna. Di sana bukan hanya ada Bilmar tapi ada mertuanya juga.
"Mas apasih....."
"Dasar bocah edan!" Ratih menarik telinga Aran dengan cukup kuat.
"Aduh....aduh Mi, pun Mi," Aran berusaha melepaskan diri tapi Ratih tidak melepaskan nya.
"Disini ana Papa mertua kamu juga, ada Papi Rianda ada Papa Hardy!" terang Ratih.
"Aduh," Aran mengelus telinganya, setelah Ratih melepaskannya, "Hehehehe......" Aran tertawa dengan terpaksa dan ia juga baru saja menyadari kebodohannya. Hilang sudah kesan dinginnya di hadapan Satria, sang Papa mertua yang biasa segan pada dirinya saat sedang meeting atau pun terlibat proyek bersama.
"Aran....Aran," Sinta mengelus punggung Aran.
"Khilaf Ma," jawab Aran.
"Aduh....cucu Oma cantiknya, namanya siapa ya?" tanya Laras yang menggendong cucunya itu.
"Mama maunya namanya siap" tanya Aran, karena ia tahu itu adalah cucu pertama Laras dan mungkin Laras sudah memiliki calon nama.
"Aduh siapa ya," Laras mengecup pipi cucunya.
"Memangnya lu belum punya nama buat bayi lu?" tanya Bilmar.
"Belum sih...." jawab Aran.
"Aduh, pikirin dong namanya siapa?" kata Bilmar lagi yang ingin menyudutkan Aran.
"Giliran lu yang mikirin namanya, gw kan udah yang buat," jawab Aran asal.
"Aran?!" Sindi menatap Aran yang malah berbicara asal.
"Ampun Ma," Aran menangkup dua tangannya pada Sinta.
"Ngomong aja asal," kata Sinta lagi memarahi Aran.
"Namanya Mama yang buat ya? Namanya Kiara," kata Laras.
"Iya jeng bagus kok.....jadi namanya Kiara Rianda ya," kata Ratih yang tidak boleh lupa dengan nama belakang keluarga mereka.
"Iya setuju Mi," kata Aran.
Aran dan Veli saling tatap, keduanya tersenyum bahagia. Andai saja di sana tidak ada siapa-siapa, mungkin ia akan menangis sang mengecupi Veli dengan bertubi-tubi.
"Kiara.....cucu Oma," Sinta mengecupi pipi bayi mungil itu.
"Udah ada cucunya akunya di lupakan," celetuk Aran.
"Kamu buat apa! Udah nggak guna!" jawab Sinta.
"Ahahahhaha........" semuanya tertawa melihat wajah Aran.
"Yaudah bawa itu cucu kalian," Aran mendekati Veli yang masih berbaring di ranjang, "Kita buat yang haru lagi yuk," bisik Aran dan hanya keduanya yang mendengar.
"Mas!" Veli mencubit lengan Aran.
"Sakit sayang!"
"Ngomong suka banget asal, sakit ini aja belum selesai udah bikin-bikin aja.....emang Mas pikir enak lahiran?!"
"Tapi buatnya enak Vel," bisik Aran lagi.
"Mas ish....ngomong yang lain ada nggak?"
"Ada!" jawab Aran cepat.
"Apa?" tanya Veli.
"Aku cinta pada mu," Aran menggabungkan jari ibu jari dan jari telunjuknya di depan wajah Veli.
Wajah Veli bersemu merah, ia sangat malu sekali di goda Aran. Rasa bahagia tidak bisa ia tutupi, rasa syukur tidak bisa ia katakan dengan kata-kata yang jelas puji sukur kepada Allah-lah yang saat ini bisa ia ucapkan. Cinta yang tulus sudah ia dapatkan, keluarga yang utuh sudah di berikan, bayi yang sehat pun sudah ia lahiran, lengkap sudah kebahagian. Tanpa ada satu pun kekurangan.
Jika yang lainnya sibuk mengerumuni bayi Veli dan Aran yang di beri nama Kiara oleh Laras, maka lain halnya dengan Veli dan Aran. Keduanya malah asik bercerita seolah hanya keduanya saja di ruangan itu, mungkin juga keduanya sedang berpacaran.
smangat thor
love u daddy Bilmar🥰🥰