NovelToon NovelToon
Suami Dadakan

Suami Dadakan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Duda / Tamat
Popularitas:9.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: IPAK MUNTHE

Lanjutan dari Dokter Cantik Milik Ceo

Namanya Sahara Putri Baskara, ia adalah seorang dokter muda, memiliki paras cantik dan pesona yang begitu luar biasa. Namun sayang ia terpaksa harus menikah dengan mantan suami wanita yang sangat ia benci, demi membebaskan dirinya dari jerat hukum yang akan ia jalani.

"Kalau kau masih mau hidup bebas dan memakai jas putih mu itu maka kau harus menikah dengan ku!" ucap Brian dengan tegas pada wanita yang sudah menabrak dirinya.

"Tapi kita tidak saling mengenal tuan," kata Sasa berusaha bernegosiasi.

"Kalau begitu mari kita berkenalan," jawab Brian dengan santai.

Lalu bagaimanakah nasip pernikahan keduanya, Sasa setuju menikah dengan Brian karena takut di penjara. Sementara Brian menikahi Sasa hanya untuk menyelamatkan pernikahan mantan istrinya, karena Sasa menyukai suami dari mantan istrinya itu.

Hanya demi menebus kesalahannya, Brian mengambil resiko menikahi Sasa, wanita licik dan angkuh bahkan keduanya tak pernah saling mengenal.


---
21+

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

BRAKKK......

Brian lepas kendali hingga akhirnya ia menggebrak meja maka, dan Sasa sangat shock melihat Brian demikian.

"Kau bisa tidak untuk tidak mengatakan itu lagi! Bisa tidak....." teriak Brian dengan mengeratkan giginya, di tambah lagi telunjuknya mengarah pada muka Sasa.

"Ish......nggak usah marah-marah begitu juga, tau Mas," lirih Sasa yang kini berdiri menatap Brian.

"Kalau begitu jangan pernah bicara hal itu, apa kau mengerti?" terang Brian lagi dengan begitu tegas.

"Iya, makanya jangan kaku kayak robot. Maunya apa sih, minta cerai nggak di kasih? Aku nya di marahi terus. Mas itu dingin banget tau nggak sih?" jawab Sasa.

"Aku tidak mau ada kata perpisahan, kecuali aku yang meminta, paham! Jadi kalau aku yang katakan kita berpisah baru boleh, kau mengerti?" tanya Brian.

"Enak banget!" Sasa kesal dengan ucapan Brian sebab ia seperti melakukan hanya sesuka hatinya tanpa memikirkan perasaan orang lain, "Aku mau pisah, kalau kamu terus bertingkah dingin sama aku," kata Sasa lagi tidak kalah tegas.

"Kau," Brian mencengkram dagu Sasa dengan cukup kuat, "Aku sudah banyak mengalah, tapi kau malah semakin menjadi-jadi," Brian terus mencengkram Sasa hingga Sasa sulit bernafas.

"Ma......s....." Sasa terlihat sulit bernafas dan Brian melepaskannya, "Uhuk....uhuk....uhuk...." Sasa terbatuk-batuk saat Brian melepaskannya, dengan tubuh lemahnya ia terduduk di lantai.

"Awas kau berani berkata itu lagi," Brian mengambil gelas dan melemparnya di dinding.

KRANG........

Terdengar suara gelas yang terhempas di dinding.

Sasa tersentak, ia sangat terkejut dengan apa yang di lakukan Brian.

Namun bagaimana dengan Brian? Brian langsung pergi dari sana. Ia sangat takut lepas kendali saat Sasa menjawab setiap perkataannya. Brian masih belum mampu melupakan di mana dulu istri yang sangat ia cintai berhiyanat bersama sahabatnya sendiri, bahkan di depan matanya sendiri Jesie lebih memilih selingkuhannya dari pada dirinya. Dan sejak saat itu Brian benar-benar menutup hatinya bagi setiap wanita. Brian hanya menjadikan wanita itu sebagai pelampiasan saja, tapi untuk kali ini ia tidak mau kehilangan Sasa seperti ia kehilangan Jesie dulu. Lalu siapakah sebenarnya Sasa, mengapa Brian terlihat begitu memperjuangkan Sasa.

Sementara kini Sasa hanya bisa menangis, Sasa tidak tau apa yang terjadi pada dirinya hingga ia bisa secengeng itu. Yang jelas saat ini Sasa sangat takut dengan Brian yang kembali berkap seperti mereka baru menikah, Sasa terdiam di lantai ia merasa kepalanya cukup pusing bahkan sekitarnya kini terlihat berputar. Namun Sasa tetap berusaha untuk tidak kehilangan kesadaran, setelah ia rasa dirinya lebih tenang Sasa bangun ia berjalan menuju kamar.

Hari sudah sore, namun Brian belum juga pulang ke apartemen. Sementara Sasa merasa sangat lapar, ia juga ingin minta maaf atas apa yang terjadi tadi pagi. Sasa sadar ia bersalah, bagaimana pun Brian adalah suaminya dan ia tidak boleh berbicara semaunya, hingga akhirnya Sasa memutuskan untuk menemui Brian di kantor saat ini lalu mengajak Brian untuk makan bersama nantinya.

Sasa keluar dari apartemen nya, ia masuk kedalam lift dan kini ia berada di lobi. Sasa melangkahkan kakinya keluar dari gedung itu hingga kini ia berdiri di sisi jalanan, Sasa memberhentikan taxi lalu menumpanginya. Sasa duduk dengan tangan yang mimijat kepala nya, dan akhirnya Sasa memutuskan untuk memeriksakan dirinya terlebih dahulu di rumah sakit sebelum menemui Brian di kantor. Sasa turun dari taxi, ia menyusuri lorong-lorong rumah sakit menuju ruangan sahabatnya Daniel.

TOK.....TOK....TOK.....

Sasa mengetuk pintu.

"Masuk," suara Daniel yang terdengar mempersilahkan dari dalam sana.

CLEK....

Sasa membuka pintu dan masuk.

"Sasa....." Daniel langsung berdiri dan menghampiri Sasa, tak lupa keduanya saling berpelukan. Keduanya hanya seperti saudara dan tidak lebih dari itu.

"Daniel," apa kabar tanya Sasa dengan bahagia.

"Baik, duduk yuk," Daniel duduk di sofa begitu juga dengan Sasa, "Maaf ya Sa, aku kebiasaan kalau lama nggak ketemu kamu langsung meluk gitu. Padahal sekarang nggak boleh begitu kan?" Daniel merasa bersalah karena sudah memeluk Sasa yang kini berstatus istri.

"Iya sih Niel, hehehehe...." Sasa tertawa renyah mengingat statusnya kini adalah istri dari Brian.

"Kamu pucat banget Sa?" tanya Daniel sambil memegang kening Sasa.

"Iya Niel aku demam nih," kata Sasa.

"Ya....udah kamu berbaring coba biar aku periksa," kata Daniel.

"Ya....udah deh."

"Sa kamu hamil ya?" tanya Daniel.

"Hamil?" Sasa dengan cepat mendudukkan dirinya dan shock dengan apa yang di katakan Daniel.

"Iya, untuk lebih jelasnya. Kamu temuin Veli atau Anggia, akukan dokter bedah," jelas Daniel yang tidak mengerti mengenai kandungan, "Tapi aku rasa sih iya Sa, kamu hamil," jelas Daniel lagi.

"Nggak mungkin Niel," Sasa tertunduk lesu memikirkan apa yang di katakan oleh Daniel.

"Sa, kamu nggak boleh ngomong begitu. Anak kamu bisa sedih kalau denger kamu ngomong begitu," Danie mengerti dengan perasaan sahabatnya itu, namun ia pun kasihan pada janin yang di kandung Sasa.

"Niel, aku nggak tau gimana kedepannya hubungan aku sama Mas Brian. Kadang dia meneduhkan kadang dia mengerikan, kadang dia mudah untuk di atur kadang dia berubah kasar," terang Sasa mengingat sipat Brian yang barusan saja masih sangat jelas.

"Kalau memang kamu positif hamil, aku minta kamu pertahankan rumah tangga kamu. Buat dia mencintai kamu Sa, kamu bersabar sedikit menghadapi dia," jelas Daniel lagi.

"Makasih Niel, aku nggak tau kalau kamu nggak ada di samping aku," Sasa tersenyum, ia masih bersyukur karena Daniel selalu ada untuknya dalam susah maupun senang.

"Sekarang aku antar kamu ke ruangan dokter Anggia, abis itu kamu pulang kalau hasilnya menyatakan kami hamil. Kamu langsung bilang ke suami kamu, aku yakin dia pasti perlahan berubah."

"Ya," Sasa tersenyum, semua sudah terlanjur dan kini ia akan berusaha untuk menerima takdir yang ia jalani.

TOK....TOK.....TOK......

Sasa mengetuk ruangan Anggia.

"Masuk," kata Anggia.

CLEK.

"Assalamualaikum....." ucap Sasa.

"Walaikum salam....." jawab Anggia dan Anggia sedikit terkejut ternyata yang menemuinya adalah Sasa, "Kamu Sa, ayo....masuk," kata Anggia lagi.

"Iya makasih," Sasa masuk, sementara Daniel langsung pergi setelah berpamitan.

"Duduk dong.....kenapa berdiri aja, kamu gemukkan ya Sa," kata Anggia yang memperhatikan bentuk tubuh Sasa yang jauh lebih berisi.

Sasa tersenyum kecut dan ia mendirikan dirinya di sofa, begitu pun dengan Anggia.

"Anggia, aku demam ni," kata Sasa dengan to the point.

Anggia mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Sasa, "Mau USG?" tanya Anggia yang juga tho the point.

Sasa menatap Anggia penuh tanya, "Pantes tuan Bilmar tergila-gila sama kamu, orang kamu itu selain cantik juga sangat pintar," Seloroh Sasa.

"Badan kamu itu tidak bisa berbohong dokter Sasa," jelas Anggia tersenyum.

"Aku takut Ngi, aku juga belum tau. Tapi kalau boleh jujur aku belum siap," Kata Sasa dengan mata yang berkaca-kaca.

***

Banyak like dan Vote Othor up lagi.

1
cetom😘😘
profesi torr
nissa
dasar nenek2 hehe
nissa
bagus banget nama nya
nissa
woi belum mandi itu si lila nya
nissa
duh bahagia nya yang sudah belah duren
nissa
hehe, si rendi jadi ke pingin juga tu
nissa
haha, salah lho sendiri mo nyerein lila
nissa
kok ciut nyali si rendi hehe
nissa
hehe ada yang lagi merayu
nissa
la kan lila sendiri yang pingin cerai
nissa
sabar ren jangan emosi, awas naik ke ubun2 lho
nissa
haha, dasar si banci bikin si brian takut aja hehe
nissa
ya ela
nissa
rasain lho kena kerjain brian hehe
nissa
rendi sama aja dengan brian maksa hehe
nissa
bar bar bener si lila hehe
nissa
bener tuh
nissa
waduh, kok gak ada yang nolongin sasa ya
nissa
enak bener jadi istri nya boss, minta ini itu di beliin baik banget deh si brian
nissa
ehem
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!