Dijual oleh keluarganya sendiri sejak kecil, Viona Lin tumbuh sebagai pembantu keluarga Jiang. Hidupnya berubah ketika ia dipaksa mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan Dylan Jiang, pewaris keluarga yang berkuasa.
Mengetahui pengorbanan itu, Dylan membawa Viona pergi dari keluarga Jiang. Namun alih-alih mendapatkan kebebasan, Viona justru terjebak dalam perhatian dan obsesi Dylan yang semakin sulit ia hindari.
Ketika seorang pria bertekad menjadikan dirinya miliknya selamanya, masih bisakah Viona menemukan jalan untuk bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Beberapa menit kemudian.
Mobil keluarga Jiang melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Moly terus memegang tangan Sanny yang masih belum sadar.
“Sanny... bangun. Jangan membuat Mama takut,” ucapnya dengan suara bergetar.
Delvin duduk di samping putrinya dengan wajah suram.
Sesampainya di rumah sakit, beberapa perawat segera membawa ranjang dorong.
“Cepat! Pasien tidak sadarkan diri!” seru salah seorang perawat.
Sanny langsung dibawa menuju ruang gawat darurat.
Lampu di atas pintu ruang pemeriksaan menyala.
Delvin dan Moly hanya bisa menunggu dengan wajah penuh kecemasan.
Hampir satu jam berlalu.
Pintu ruang pemeriksaan akhirnya terbuka.
Seorang dokter keluar sambil membawa hasil pemeriksaan awal.
“Tuan Jiang.”
Delvin segera berdiri.
“Bagaimana kondisi putri saya, Dokter?”
“Untuk sementara kondisi Nona Jiang sudah stabil. Kami berhasil menyadarkannya.”
Moly mengembuskan napas lega.
“Lalu kenapa dia tiba-tiba pingsan?”
Dokter melihat hasil pemeriksaan di tangannya.
“Pingsannya diduga bukan karena kelelahan biasa. Dari hasil pemeriksaan awal, kami menemukan beberapa nilai fungsi hati yang tidak normal.”
“Fungsi hati?” tanya Delvin dengan nada terkejut.
Dokter mengangguk.
“Benar. Namun ini baru pemeriksaan awal. Kami perlu melakukan CT scan dan beberapa pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebabnya.”
“Apakah kondisinya berbahaya?” tanya Moly dengan cemas.
“Untuk saat ini saya belum bisa menyimpulkan. Hasil pemeriksaan lengkap baru bisa diketahui setelah seluruh tes selesai.”
“Kapan hasilnya keluar?” tanya Delvin.
“Jika tidak ada kendala, sebagian besar hasilnya akan keluar besok. Setelah itu saya akan menjelaskan kondisi Nona Sanny secara menyeluruh.”
Delvin mengangguk pelan.
“Lakukan pemeriksaan terbaik.”
“Baik, Tuan.”
Dokter kembali masuk ke ruang perawatan.
Delvin menatap pintu ruang rawat dengan wajah muram.
Moly menggenggam lengannya.
“Delvin... semoga Sanny tidak mengalami penyakit yang serius.”
Delvin tidak menjawab.
Tatapannya hanya tertuju ke arah pintu.
Keesokan paginya.
Matahari baru saja terbit ketika Delvin dan Moly kembali datang ke rumah sakit.
Keduanya hampir tidak bisa tidur semalaman.
Tidak lama kemudian, seorang perawat menghampiri mereka.
“Tuan Jiang, Dokter sudah menunggu di ruang konsultasi.”
“Baik.”
Delvin dan Moly segera mengikuti langkah perawat.
Di dalam ruang konsultasi.
Seorang dokter spesialis penyakit dalam yang menangani Sanny sedang membuka hasil pemeriksaan di layar komputer.
“Silakan duduk!"
Keduanya duduk dengan wajah tegang.
“Bagaimana kondisi putri kami, Dokter?” tanya Moly tidak sabar.
Dokter menarik napas pelan.
“Kami telah menerima seluruh hasil pemeriksaan darah, USG, dan CT scan.”
“Lalu?” tanya Delvin.
“Hasilnya menunjukkan bahwa fungsi hati pasien mengalami penurunan yang cukup berat.”
Wajah Moly langsung memucat.
“Bagaimana bisa?”
“Dari pemeriksaan, kami menduga pasien menderita penyakit hati kronis yang selama ini berkembang perlahan tanpa disadari.”
“Apakah masih bisa diobati?” tanya Delvin.
“Masih bisa menjalani pengobatan untuk memperlambat kerusakan hati. Namun, kondisi hatinya sudah tidak sebaik orang normal.”
Dokter kembali melanjutkan.
“Untuk saat ini kami akan memberikan obat dan melakukan pemantauan rutin. Kalau kondisinya membaik, tentu itu yang kami harapkan.”
“Namun...”
Dokter berhenti sejenak.
“Jika suatu hari fungsi hatinya terus menurun hingga mencapai gagal hati, maka pilihan yang paling efektif adalah transplantasi hati.”
Moly langsung menutup mulutnya.
“Transplantasi?”
Dokter mengangguk.
“Perlu saya jelaskan, transplantasi bukan tindakan yang dilakukan sekarang. Itu hanya menjadi pilihan apabila pengobatan tidak lagi mampu mempertahankan fungsi hati.”
Delvin terdiam.
Tatapannya perlahan berubah suram.
“Kalau sampai membutuhkan transplantasi... apakah donor hidup bisa dilakukan?” tanyanya.
“Bisa,” jawab dokter. “Asalkan pendonor memiliki kecocokan dan memenuhi seluruh syarat medis. Biasanya yang didonorkan adalah sebagian hati, bukan seluruhnya.”
“Baik, Dokter. Kami mengerti.”
Setelah keluar dari ruang konsultasi, Delvin berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Moly mengikuti di sampingnya.
“Delvin... jangan bilang kau sedang memikirkan...”
Delvin menghentikan langkahnya.
Tatapannya berubah dingin.
“Kalau suatu hari Sanny benar-benar membutuhkan donor.. aku sudah tahu siapa orang yang paling cocok untuk menyelamatkannya.”
Moly menatap suaminya.
Delvin menatap Moly dengan wajah dingin.
"Masih ingat hasil pemeriksaan Viona saat operasi donor ginjal?"
"Masih. Semua berkasnya ada di brankas rumah."
"Bagus."
"Kenapa?"
"Kalau suatu hari Sanny benar-benar membutuhkan transplantasi hati, kita tidak perlu mencari donor lagi."
Moly langsung memahami maksud suaminya.
"Kau ingin menggunakan Viona lagi?"
"Benar. Saat operasi donor ginjal, seluruh kondisi kesehatannya diperiksa secara menyeluruh. Kalau dokter saat itu menyatakan tubuhnya layak menjadi pendonor, berarti dia adalah pilihan terbaik yang kita miliki."
"Tapi Dylan tidak akan menyerahkan Viona."
Delvin tersenyum dingin.
"Bukan Dylan yang menentukan. Selama Viona masih bernapas, aku punya cara untuk membuatnya kembali mengorbankan dirinya demi keluarga Jiang."