Berkisah tentang seorang pria berumur 23 tahun bernama Reynald, yang biasa saja kehidupannya namun di suatu hari di siang bolong ketika ia ingin pergi keuniversitas untuk belajar, ia melihat seorang wanita yang sedang melamun di jalan, lalu tiba-tiba saja ada sebuah mobil truk yang ingin menabraknya, Reynald yang tak memikirkan apapun lagi secara spontan ia berlari dan mendorong wanita tersebut, di akhir hayatnya ia bisa melihat wanita tersebut selamat, Reynald sedikit bangga dengan itu, lalu tiba-tiba semuanya menjadi gelap dalam hatinya ia berkata "Apa ini akhir dari kehidupan seorang perjaka?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOTHING TO LOSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 Damra
Kami masih mengobrol di ruang kerja milik Alphonso, lalu tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu Alphonso.
Alphonso pun mengizinkan orang itu untuk masuk, ternyata yang masuk adalah Maidnya Alphonso.
Maid itu memegang sebuah surat, kemudian maid itu menyerahkan surat yang ia pegang ke Alphonso.
Setelah itu maid itu pun pergi, dan Alphonso pun mulai membuka surat itu dan membacanya.
Ketika dia membaca surat itu dia tidak menunjukan ekspresi buruk justru dia tersenyum aku tidak tau apa isi surat itu tapi sepertinya isi surat itu membuat Alphonso senang.
"Sudah kuduga hahaha." Ucap Alphonso
"Ayah apa isi surat itu?" Tanya Alex yang penasaran.
"Apa? Ouhh isi surat ini?"
"Isinya tentang Gilbert yang menyatakan perang dalam waktu dua hari lagi." Ucap Alphonso tanpa beban sama sekali.
"APAA??????? Paman menyatakan perang?" Alex yang terkejut.
"Bukankah itu akan menjadi bahaya ayah, ayah tau sendiri bukan."
"Hahhaha kau tenang saja walaupun ayah belum mempersiapkan apapun ayah yakin di setiap masalah pasti ada jalan santai saja." Ucap Alphonso tanpa beban.
"Ayah juga sudah mempersiapkan 50 pasukan bayangan yang sangat kuat."
"Tapi ayah itu saja tidak cukup ayah tau sendiri bukan bagaimana kekuatan paman."
"Iya ayah tau tapi tenang saja ayah pasti akan menang dalam pertarungan ini."
"Iya kak Alex tenang saja lagi pula ada aku." Ucapku.
"Reynald apa kau yakin ingin membantuku dalam pertarungan ini?" Tanya Alphonso.
"Eh tentu saja paman lagi pula kau adalah ayah mertuaku bukankah sudah biasa jika menantu membantu mertua." Aku tidak peduli jika aku di manfaatkan oleh Alphonso yang penting anaknya jadi istriku.
Wanita lebih penting dari pada harta dan tahta, Ada harta ada tahta tapi ga ada wanita sama saja dengan bohong.
"Terima kasih." Ucap Alphonso dengan senyuman yang terlihat sangat tulus.
Sebenarnya aku tidak tau dia senyum tulus atau tidak tapi perasaanku mengatakan itu adalah senyuman tulus.
"Walaupun ada dirimu tapi tetap saja melawan paman Gilbert tanpa persiapan apapun itu sama saja dengan bunuh diri." Ucap Alex.
"Tenang saja Alex percayalah pada ayahmu ini, ayah sudah menyiapkan semuanya." Ucapnya yang tersenyum penuh makna.
Melihat senyuman itu Alex pun terdiam, sepertinya Alex tau apa arti senyuman Alphonso.
Ah hampir saja aku lupa surat itu.
"Paman ini ada surat dari Damra."
"Damra mengirim surat padaku?" Alphonso yang mengangkat alisnya seperti tidak percaya.
"Iya paman." Aku pun memberikan surat itu pada Alphonso.
Alphonso pun mulai membuka dan membacanya Alphonso ketika membaca surat itu dia menunjukan wajah terkejut.
Setelah beres membaca surat itu dia langsung berdiri "Reynald ayo kita pergi." Ucap Alphonso.
"Pergi kemana paman?" Tanyaku yang penasaran.
"Menemui Damra." Ucapnya tanpa beban.
"Ayah aku ikut." Sahut Alex.
"Alex sepertinya kau tidak bisa ikut."
"Kenapa ayah?"
"Karna syarat dari orang ini hanya kami berdua saja yang harus kesana."
"A-apa bukankah itu terlalu bahaya."
"Baiklah paman ayo pergi, kak Alex tenang saja ada aku kok yang akan melindungi paman." Sahutku aku sekali lagi ingin bertemu dengan orang aneh bernama Damra ini.
"Kau tenang saja Alex lagi pula ada Reynald disisiku, Alex ingat jangan sampai mengikuti kami, dan bantu aku untuk menyembunyikan bahwa kami keluar rumah."
"Baiklah ayah aku tidak akan mengecewakanmu." Ucapnya.
"Baguslah aku percaya padamu Alex."
"Reynald apa kau bisa berteleport ke tempat pertarungan tadi?"
"Tentu saja bisa paman memangnya kenapa?"
"Damra menunggu kita disana."
"Ouh baiklah."
Aku pun berteleport bersama dengan Alphonso, aku sungguh tak mengerti dengan jalan pikir orang bernama Damra ini sebenarnya dia ingin apa.
Dan apa isi surat itu mengapa Alphonso terkejut ketika membacanya sungguh aneh.
Akhirnya kami sampai, ketika kami sampai kami melihat seorang pria yang duduk santai sambil minum dia tidak lain adalah Damra.
"Bagaimana Alphonso apa keputusanmu?"
"Sudah jelas bukan jawabannya adalah aku setuju."
"Hahahahhah sudah kuduga kau adalah orang cerdas."
Tunggu sebenarnya apa yang mereka bicarakan setuju, setuju apa? Aku sama sekali tak mengerti.
"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?" Tanyaku yang kebingungan plus penasaran.
"Reynald kau tadi bilang mau membantuku kan?" Tanya Alphonso.
"Iya paman." Jawabku ntah kenapa perasaanku jadi tidak enak.
"Baiklah kalau begitu paman hanya ingin memintamu agar menerima Damra sebagai anak buahmu."
"HAAAAAAH?" Teriakku yang terkejut.
Tunggu tunggu sebenarnya apa yang terjadi apa isi surat itu aku tidak paham sama sekali.....Tarik nafas Reynald tenang tenang huft.......
"Maaf aku tadi terkejut paman jadi maksudnya apa ya paman?"
"Maksud Alphonso adalah aku akan menjadi anak buahmu dan kau akan menjadi tuanku apa kau tak mengerti tuan Reynald."
"Masalah itu aku mengerti maksudku itu kenapa kau mau menjadi anak buahku."
"Hhahaahah jawabannya karna kau lebih kuat dariku jadi aku ingin mengikutimu lagi pula kau itu sepertinya unik."
"Hah (Menghela nafas lelah) Baiklah serah dirimu saja tapi yang pasti jangan sampai menyesalinya." Aku menerima dia itu semua karna Alphonso jika tidak aku mana mau.
Tapi sebenarnya ada untungnya juga sih yah tapi bagaimana caranya aku membayar dia bukankah dia sangat mahal biaya sewanya.
Aku hampir lupa aku kan bisa menjual batu, bukan batu ginjal tapi batu permata.
"Hahahaha tenang saja aku tidak akan menyesali keputusanku tuan Reynald." Ucapnya yang langsung hormat padaku.
Dari tadi sebenarnya aku penasaran jika ia ingin menjadi anak buahku kenapa dia harus mengirim surat segala kepada Alphonso bukankah itu tindakan yang merepotkan kenapa dia tidak langsung meminta kepadaku saja.
"Tuan pasti sekarang sedang berpikiran kenapa aku harus mengirim surat kepada Alphonso."
"Eh kok bisa tau?"
"Hahhaha tentu saja aku tau karna aku ini adalah orang yang hebat hehehe, aku melakukan itu semua tuan, agar tuan dapat menerimaku jadi anak buah tuan, jika aku tidak melakukan itu mungkin tuan akan langsung menolakku dan tuan harus tau di tolak itu rasanya sakit."
Apa yang dikatakan Damra ada benarnya juga, Sepertinya benar apa yang dikatakan oleh Alex orang ini sangat licik, aku tak bisa membayangkan jika orang ini bersatu dengan Alphonso apa yang akan terjadi?
"Kau benar juga."
"Hohoho aku ini memang selalu benar."
"Jangan berbangga diri dulu."
"Baiklah tuan maafkan aku."
"Baiklah saatnya kita kembali jika terlalu lama aku takut orang yang berada di rumah menjadi khawatir."
"Kau benar juga paman."
"Baiklah ayo kita kembali."
"Kenapa kau diam saja apa kau tidak ingin ikut?" Tanyaku pada Damra.
"Eh aku ikut."
"Iya tentu saja kau sekarang kan anak buahku jadi kau harus mengikutiku kemana pun juga bukan?"
"Ah iya kau benar juga tuan." Ucapnya dengan senyuman.
Aku baru pertama kali melihat senyumnya ternyata dia tidak buruk juga.
Aku Alphonso Damra akhirnya berteleport kembali ke kediaman Alphonso lebih tepatnya ke ruang kerja Alphonso.
Tapi bener dah melakukan sihir teleportasi itu lumayan melelahkan apa lagi jarak dari tempat tadi dan rumah Alphonso sangat jauh.
Karna semakin jauh berteleport maka semakin banyak mana dan stamina yang terkuras apalagi jika di tambah dengan orang lain.
Sepertinya akhir-akhir ini aku kurang olahraga makanya aku jadi gampang lelah seperti ini.
buat author semangat nulisnya
buat author semangat nulis nya