Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percaya Diri
Wanita dengan tubuh hanya terbalut selimut di atas ranjang, terlihat menggeliat malas. Rambut kusutnya jatuh menutupi wajah, namun sorot matanya menatap genit ke arah lelaki di sampingnya.
Bayu yang baru saja terbangun, mengerjapkan matanya berkali-kali, seolah mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya.
Perlahan kesadarannya pun kembali. Begitu melihat kondisi di sekitarnya—pakaian yang berserakan di lantai, bau alkohol yang masih menempel di udara, serta wanita asing yang bersandar manja di bahunya membuat dirinya tersentak.
"Sialan...!" Rutuknya dalam hati.
“Morning, baby… eh, maksudku good afternoon, baby.” Suara manja wanita itu terdengar, seraya ia melingkarkan lengannya ke tubuh Bayu yang masih polos.
Bayu spontan mendorongnya dengan kasar. “Menjauh dariku.”
Bukannya tersinggung, wanita itu tersenyum nakal. “Kok kamu ngusir aku sih? Bukannya semalam kamu menikmati pelayananku ya? Kita bahkan melakukannya sampai berganti banyak gaya." Ucapnya tanpa malu.
Kalimat itu membuat kepala Bayu terasa pusing. Bukan hanya karena efek sisa alkohol, tapi juga rasa jijik pada dirinya sendiri. Meski berdirinya masih sedikit terhuyung, namun ia tetap memaksakan dirinya untuk mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai dan melangkah ke kamar mandi.
Air dingin yang membasahi wajah sedikit membantu menyegarkan pikirannya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—mata sayu, wajah kusut, dan tatapan penuh penyesalan.
"Apa yang udah aku lakuin?" Batinnya mulai menyesal.
Meski semalam ia sedikit sadar namun tetap saja penyesalan itu datang. Apalagi ini adalah kali keduanya ia berhubungan dengan wanita dalam kondisi mabuk seperti ini.
Tak lama, Bayu pun keluar dari kamar mandi.
Wanita yang menemaninya sejak semalam masih berbaring di ranjang dengan mata mulai menelisik ke arahnya “Mau kemana kamu? Setelah malam panas yang kita habiskan, kamu mau pergi gitu aja?” Nada bicaranya menantang.
Bayu hanya menatapnya datar. Ia tahu betul maksud wanita itu—uang. Dengan gerakan kasar, ia merogoh dompet, mengambil segepok uang, lalu melemparkan ke arah ranjang. Beberapa lembar mengenai tubuh wanita itu.
Wanita itu tersenyum miring. Meski sikap pria di depannya itu tengah merendahkan harga dirinya, tapi ia tahu dalam hubungan seperti ini, ia tak punya hak menuntut lebih.
“Ah, terima kasih sayang. Jangan lupa cari aku lagi kalau kamu butuh kepuasan ya.” Ia mengedip nakal sebelum berlalu ke kamar mandi dengan tubuh polosnya
Bayu mendengus, lalu segera keluar dari kamar hotel. Ia butuh pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Kali ini Bayu memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
Begitu tiba di rumah, Bayu langsung disambut tatapan tajam dari Dimas—Papanya yang duduk di sofa ruang keluarga.
“Kemana saja kamu dari semalam?” Suara Dimas berat, penuh tekanan.
Bayu menelan ludah. Sebelum ia sempat menjawab, suara lembut ibunya terdengar.
“Sstt… sudah, Pa.” Sana menenangkan suaminya.
Wanita itu bangkit, menghampiri Bayu dengan tatapan penuh khawatir. “Bayu, kamu seharian ini kemana, nak?” Tanyanya pelan.
Bayu menghindari pandangan ibunya. “Aku tadi malam nginap di tempat teman.” Suaranya terdengar datar.
Sana menghela napas, tak ingin memaksa anaknya meski ia tahu anaknya tengah berbohong. “Kamu sudah makan?”
Bayu menggeleng pelan.
“Yaudah, nanti Mama suruh bibi antarkan makanan ke kamarmu, ya.” Sana menepuk bahu anak lelakinya penuh kasih sayang.
Bayu hanya mengangguk, lalu bergegas menuju kamar.
Dimas masih menatapnya dengan sorot mata penuh kekecewaan. “Ma, Papa mohon jangan terlalu manjakan anak itu. Bayu itu udah dewasa Ma. Lihat akibat Mama terlalu manjain anak itu, kerjasama yang Papa harapkan dengan Merta Dirga Group hancur karena ulahnya.”
Sana menunduk. Tak berani membantah, maupun menjawab perkataan suaminya.
Bayu yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya, kini mulai merasakan kepalanya sedikit berdenyut. Tangannya refleks meraih ponsel, lalu menekan nomor Diana.
Berkali-kali ia mencoba menghubungi wanita itu, namun hasilnya nihil.
Panggilan pertama ditolak. Panggilan kedua diabaikan. Hingga akhirnya panggilan ketiga hanya dijawab suara operator.
Bayu mengepalkan tangan. Dari awal memang dirinya terpaksa mengikuti keinginan Diana untuk bertanggung jawab dengan menikahi. Namun sikap Diana yang sejak tadi malam seolah menyalahkan dan mencoba menjauhinya, membuatnya cukup frustasi.
•••
“Kamu nggak salah dengar. Papa mau kamu bantu adikmu, Diana, untuk bisa dekat dengan Renald.” Suara Arbian terdengar tegas, seolah keputusannya tak bisa diganggu gugat.
Alih-alih menjawab serius, Kinara justru tertawa. Tawa yang sarat dengan nada mengejek.
Rani, yang duduk di samping suaminya, geram melihat reaksi itu. Namun ia menahan diri, mencoba berbicara dengan nada lembut.
“Kinara sayang, tolonglah mengerti ya, Nak. Lagi pula Bayu dan Diana belum sampai pada tahap tunangan. Jadi, Mama dan Papa putuskan… kamu kembali dengan Bayu, sedangkan Renald untuk Diana.”
“Mama tahu, kamu pasti masih sangat menyayangi Bayu kan? Karena itu, kami tidak tega kalau hubungan diantara adik kamu dan dan Bayu dilanjutkan.” Tambah Rani dengan tatapan yang dibuat seolah penuh kasih.
Kinara menahan napas panjang. Amarah mendidih dalam dadanya. “Lalu dengan perkataan Papa yang akan menjodohkan Renald dan Diana… apa menurut Papa, Renald akan mau?” Tanyanya, nada suaranya meninggi.
Rani buru-buru menyahut, tak memberi kesempatan pada Arbian. “Tentu saja mau. Mama yakin, kemarin Mama lihat Renald punya perasaan pada Diana. Tapi…” ia terhenti, seakan memberi jeda dramatis.
“Tapi apa?” Kinara menatapnya tajam.
“Maaf ya, Nak. Mama rasa sikap dingin Renald kemarin pada Diana hanya karena dia ingin menjaga perasaanmu. Makanya sekarang Mama dan Papa bicara jujur. Kami tidak ingin kamu terluka ke depannya.”
Kinara menahan mual. Omong kosong apa lagi ini? Apa mereka pikir ia selemah itu?
Arbian menambahkan dengan suara mantap, “Sudahlah. Papa rasa kamu memang tidak cocok dengan Renald. Kamu lebih cocok dengan Bayu. Jadi Papa minta kamu bantu adikmu.”
Rani dan Diana saling pandang, senyum penuh kemenangan tersungging di bibir keduanya.
Kinara menggenggam tangannya erat, berusaha menahan emosi. “Kenapa, Pa?” suaranya lirih, tapi penuh penekanan.
“Karna—”
“Karena aku kakak dan dia adik, jadi aku harus ngalah terus begitu?!” potong Kinara, berdiri dengan sorot mata membara. “Jawabannya tidak. Aku nggak akan nurutin kemauan kalian lagi. Kalau kalian mau jodohkan Renald dengan Diana, lakukan sendiri. Itu pun kalau dia mau!”
Ia mengucapkannya dengan senyum sinis, lalu berdiri dan meninggalkan ruang tamu.
Diana dan Rani saling pandang, lalu tersenyum samar. Tapi Diana tak tinggal diam. Ia bangkit, mengejar Kinara hingga ke luar rumah.
“Tunggu!!” Serunya.
Kinara menoleh malas. “Mau apa lagi kamu?”
Diana menyeringai. “Aku sudah bosan dengan Bayu sejak kamu bawa Renald ke rumah. Jadi, mau nggak mau, kamu harus bantu aku dekat dengan Renald. Nanti aku balikin Bayu sama kamu, deh.” Ujar penuh percaya diri.
Kinara menatap adiknya itu penuh jijik. “Kok bisa ya aku punya adik setolol kamu, Diana. Siapa juga yang mau balikan sama cowok bekasmu? Aku jijik!”
Diana terdiam, wajahnya memerah.
Kinara menambahkan, nadanya penuh sindiran tajam. “Dan satu lagi… aku tahu semua kelakuanmu di luar sana. Jangan sampai kamu bawa penyakit, lalu menulari Bayu.”
Tanpa menunggu jawaban, Kinara melangkah pergi meninggalkan Diana yang terdiam kaku, wajahnya memerah karena kesal. Ia menghentakkan kaki dengan keras saat kembali masuk rumah.
Sementara Arbian yang sudah masuk ke dalam ruang kerja pribadinya, duduk dengan wajah muram. Ia tidak menyangka, anak yang dibesarkannya—yang ia pikir akan terus mengikuti keinginannya itu kini berani melawan secara terang-terangan.
Rani menyusul, masuk perlahan. Ia meletakkan tangan di bahu suaminya. “Pa…” panggilnya lembut.
Arbian menarik napas panjang, kepalanya menunduk. “Anak itu sudah terlalu jauh berani!”
Rani tersenyum samar, menyembunyikan isi hatinya. “Tenang, Pa. Kalau soal Kinara, biar Mama yang urus. Pada akhirnya dia juga akan tunduk sama keinginan kita.”