NovelToon NovelToon
DiBuang Suami Di Pungut Om

DiBuang Suami Di Pungut Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AmeeraKa94

Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..

selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.

malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.

seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.

plak
plak
plak

"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.

pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.

Cring

Zzzzzrrkkk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Diam Yang Berisik

"Arsen.. Kok nggak ketok pintu dulu sih, Nak," ujar Rita. Ia ngasih peringatan ke anaknya sambil senyum.

Arsen nyunggingin senyum tipis. Matanya ngelirik kesal ke dua wanita cantik beda generasi itu. "Dasar wibu-wibu. Kalau udah asyik ghibah, lupa segalanya. Lupa sama anak-anaknya," cibir Arsen.

Ia sengaja nyindir. Dua wanita di depan dia itu masing-masing punya anak. Tapi malah asyik ngobrol sampai lupa ada dua manusia kecil: dia dan Queen.

Rita dan Netha langsung saling lirik. Terus ketawa kecil.

"Oh aku tahu," kata Netha sambil nahan senyum. "Sepertinya para anak-anak kita lagi ngambek nih, Omma. Eh ralat. Omma bukan anak aku sih. Tapi lebih tepatnya bayi besar Omma ya... itu tuh," Netha nunjuk dagu ke arah Arsen.

Sontak Arsen nggak terima. Matanya melotot "Lo tadi bilang apa?"

Netha langsung nyengir kuda. "Ih nggak bilang apa-apa kok, Ya kan Omma? " Netha mencari pembelaan.

"Gue tadi denger ya. Lo ngatain gue bayi besar. Maksud lo apa bicara kayak gitu?" ketus Arsen. Ia maju selangkah. Berdiri tepat di depan Netha.

Netha jadi gugup. Tapi tetap ngeyel. "Kok nyolot sih, Om? Orang aku tadi nggak ngomong apa-apa kan, Omma?" Ia lirik Rita minta pembelaan. "Om paling yang salah denger."

"Ckkk..." Arsen berdecak. Kesal.

"Ayo, Nak. Kita pulang," ajak Netha. Ia langsung ngambil Queen dari gendongan Arsen.

Arsen mendengus. Tapi nggak nolak.

Netha ngabaikan tatapan nyalang Arsen. Ia balik ke Rita. "Omma, Netha sama Queen pamit pulang dulu ya. Makasih atas waktunya hari ini. Jadi sedikit ngurangin beban pikiran Netha."

Rita senyum tulus. Netha cium tangan Rita, gantian sama Queen.

"Kenapa nggak nginep aja? Setidaknya perasaan kamu lebih tenang, sayang," kata Rita lembut.

Netha geleng pelan. "Makasih tawarannya, Omma. Tapi lebih baik Netha sama Queen pulang aja. Nggak enak juga dilihat orang kalau Netha nginep di sini cuma berdua tanpa suami."

Itu jujur. Itu yang dia rasain sekarang.

Rita narik napas panjang. "Ya udah kalau itu keinginan kamu. Tapi kayaknya lebih baik kamu jangan pulang sendiri sama putri kamu aja."

Arsen langsung buang muka. Hatinya nggak enak.

Rita lirik Arsen sebentar. Lalu balik ke Netha. "Arsen, kamu bisa kan anterin Netha sama putrinya pulang ke rumahnya?"

"Oh nggak usah, Omma," tolak Netha halus. "Netha bisa pulang sendiri naik taksi kok."

"Kali ini Omma nggak mau ada penolakan," tegas Rita. "Mungkin kamu bisa nolak tawaran Omma sebelumnya. Tapi nggak dengan sekarang. Kondisi kamu lagi nggak baik-baik aja. Jadi Omma mohon, turuti kata Omma kali ini ya, Netha sayang. Kasihan putri kamu kalau kenapa-kenapa di jalan."

Netha pasrah. "Baiklah. Kali ini Netha nurutin permintaan Omma."

Senyum Rita langsung mengembang. "Nah gitu dong, sayang. Kalau gini kan Omma tenang."

Ia balik ke Arsen. "Arsen?"

"Ya, Ma," jawab Arsen males.

"Bisa kan anterin keponakan kamu pulang?"

"Hmm," jawab Arsen singkat. Ia langsung jalan duluan keluar kamar. Langkahnya berat.

Netha nyusul dari belakang, digandeng Rita.

"Kalau gitu Netha pamit pulang ya, Omma," kata Netha di depan pintu utama. Arsen udah duduk di dalam mobil.

"Hati-hati ya, sayang. Kalau udah sampai rumah jangan lupa hubungin Omma," pesan Rita.

"Baik, Omma. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam," jawab Rita.

Netha jalan ke mobil. Buka pintu. Duduk di kursi penumpang. Nggak lama, Arsen langsung nyalain mesin dan tancap gas.

---

Di sepanjang perjalanan, hening. Nggak ada yang buka suara. Cuma ada celoteh Queen yang muterin video lucu di TikTok dari HP Mama.

"Ehemm..." Arsen dehem buat mecahin suasana.

"Mama cerita apa aja sama kamu?" tanyanya. Mata tetap ke depan. Fokus nyetir.

"Nggak cerita apa-apa kok," jawab Netha singkat.

Arsen senyum miring. "Nggak usah bohong."

"Siapa juga yang bohong!" ketus Netha.

"Aku tahu pasti Omma udah cerita banyak tentang keluarga aku. Tentang masa lalunya. Kehidupan Papa sama Mama mertua kamu, kan?" tanya Arsen. Ia lirik Netha sekilas, lalu fokus lagi ke jalan.

Netha noleh. Tatapan mereka ketemu. Tapi Netha langsung ngebatin. "Itu bukan urusan Om. Itu rahasia kami berdua. Jadi Om nggak usah kepo jadi cowok."

Arsen salah tingkah. "Oh gitu ya... Oke. Kalau itu mau kalian, aku diem."

"Ya syukurlah kalau mau ngerti," kata Netha.

"Ckkk... Dasar wanita emang makhluk paling ribet sedunia," gerutu Arsen pelan.

Netha denger. Tapi diem aja. Ia fokus ke Queen yang lagi ketawa nonton video kucing jatuh dari sofa.

Hening lagi. Tapi kali ini nggak canggung. Lebih ke... nyaman.

"Om," panggil Netha pelan.

"Hmm?"

"Makasih ya... udah mau nganterin," kata Netha tulus.

Arsen nggak jawab. Cuma mengangguk kecil. Tapi ujung bibirnya naik dikit.

Mobil berhenti di depan rumah Netha.

"Nah, kita udah sampai," kata Arsen. Ia turun. Buka pintu belakang. Ambil koper Netha.

Netha gendong Queen. Ikut turun.

"Queen, bilang makasih ke Om," bisik Netha ke anaknya.

Queen malah ketawa. "Maka... Sih... Om..."

Arsen mengusap lembut pipi gembil Queen. "Sama sama sayang.. " ucapnya tulus

Arsen ngangkat koper. "Sini aku anterin ke dalam."

"Nggak usah, Om. Netha bisa sendiri," tolak Netha.

"Gue tahu kamu bisa, tapi aku tetep harus yang anterin," kata Arsen tegas.

Netha nggak bisa nolak. Mereka jalan ke teras. Arsen taruh koper.

"Udah. Aku balik," kata Arsen singkat.

"Om, minum dulu. Biar nggak haus di jalan," tawar Netha.

"Ngga usah. Buru-buru," jawab Arsen. Tapi matanya nggak langsung pergi dari wajah Netha.

Netha diem. Lalu bisik. "Hati-hati di jalan, Om."

Arsen angguk. Lalu jalan ke mobil. Sebelum masuk, ia berhenti. "Tha..."

"Hmm?"Netha kembali noleh kearah Arsen yang kini berdiri didepan mobilnya

"Jaga diri kamu. Sama Queen juga," katanya pelan.

"Iya, Om."

Arsen kemudia masuk mobil. lalu tancap gas. Dari kaca spion, ia liat Netha masih berdiri di teras. Gendong Queen. Ngeliatin dia pergi.

Dadanya anget. Tapi juga sesak.Arsen tersenyum tipis sambil megangin dadanya yang terasa anget.

---

Sementara itu, di apartemen Keenan.

"Ra... Clara..." panggil Keenan. Ia lagi ngerapihin kemeja. Gulung kancing lengan.

Clara keluar dari kamar mandi. Cuma pakai bathrobe tipis sampai paha. Ia langsung rangkul leher Keenan dari belakang.

"Iya, Keen. Kenapa sih kok panggilnya teriak-teriak gitu, sayang? Hmm?" suaranya manja banget.

"Kamu liat HP aku nggak? Dari kemarin aku cari nggak ada," tanya Keenan.

Bibir Clara langsung diem sepersekian detik. Otaknya muter cari alasan. Karena HP Keenan emang dia yang sembunyiin sejak sebelum akad.

"Aku nggak tahu, sayang. Mungkin kamu lupa naruhnya," alibi Clara. Wajahnya tenang.

"Ah masa sih aku lupa. Orang kemarin aku inget kok. Sebelum akad, aku simpan di laci meja rias kamu," kata Keenan yakin.

"Yaudah, nanti juga ketemu," Clara ngalihin topik. "Sekarang aku mau ganti baju dulu ya. Kamu turun aja. Mama sama Papa udah nunggu buat sarapan bareng."

"Tapi Ra, gimana HP aku? Dari kemarin aku belum sempet kabarin Netha. Pasti dia khawatir karena aku nggak kasih kabar," kekeh Keenan.

"Please deh, Keen. Stop mikirin Netha kalau kamu lagi sama aku," Clara langsung berubah. Matanya berkaca-kaca. "Aku mohon, hargai aku sebagai istri kamu juga sekarang... hiks hiks..."

Clara mulai main drama. Pura-pura nangis.

"Clara... aku... bukan maksud bikin kamu sedih. Please jangan nangis, Ra," Keenan panik. Gugup.

"Kamu tau nggak sih, Keen? Aku sedih kalau kamu terus-terusan mikirin wanita lain pas lagi sama aku," isak Clara. Tangannya usap perut rata-nya. "Apa kamu lupa kalau aku dan calon anak kamu juga butuh perhatian dan kasih sayang kamu? Tapi kenapa kamu nggak ngerti hal itu?"

"Aku minta maaf, Ra. Aku nggak ada maksud bikin kamu sedih," Keenan langsung bersalah.

"Tapi kenyataannya kamu udah bikin aku sedih. Nyakitin perasaan aku, Keenan," Clara makin kenceng nangisnya.

Keenan langsung peluk Clara erat. Cium pucuk kepalanya berkali-kali.

"Ya udah, sekali lagi maafin aku ya. Sumpah aku bakal jadi lebih baik. Maafin aku ya. Oke, jangan nangis lagi," lirih Keenan.

"Huhuhu... janji ya, sayang. Nggak bakal mikirin wanita lain pas sama aku. Meskipun wanita itu istri pertama kamu."

"Iya, sayang..." jawab Keenan.

Dalam hati, Clara senyum kemenangan. Rencana dia berhasil lagi.

---

Malamnya, di rumah Netha.

Netha udah mandiin Queen. Sekarang lagi nyuapin bubur.

HP-nya bunyi. Chat dari Omma Rita.

Omma Rita: Udah sampai rumah, sayang?

Netha: Udah, Omma. Makasih ya udah nyuruh Om Arsen nganterin.

Omma Rita: Sama-sama. Kamu udah makan?

Netha: Baru suapin Queen. Nanti Netha makan.

Omma Rita: Jangan telat makan. Jaga kesehatan.

Netha: Iya, Omma. Omma juga.

Netha senyum sendiri baca chat.

Tiba-tiba ada notifikasi lain. Nomor tak dikenal lagi.

088103648XXX: Gimana, Netha? Udah cerai belum? Kasian banget sih jadi istri yang ditinggal. Hahaha.

Netha ngeblok lagi. Tanpa ragu.

Ia liat Queen yang udah kenyang. Lalu peluk anaknya erat. "Maafin Mama ya, sayang. Mama belum bisa kasih kamu keluarga yang utuh."

Queen malah ngusap pipi Mama. "Mama... nggak boleh sedih."

Netha ketawa kecil. "Iya. Mama nggak sedih. Kan Ada Queen."

---

Jam 9 malam. Netha mau tidur. Tiba-tiba ada ketukan pintu pelan.

Tok... tok...

Netha kaget. Jam segini siapa?

Ia intip dari CCTV HP. Nggak ada siapa-siapa. Cuma ada paket di depan pintu.

Netha buka pintu. Ambil paket. Nggak ada nama pengirim. Cuma tulisannya: "Untuk Netha."

Di dalam paket, ada surat tulisan tangan dan satu gantungan kunci bentuk hati.

Suratnya singkat: "Kamu nggak sendiri. - A"

Netha langsung tahu itu dari siapa. Dari inisialnya aja udah ketebak.

Ia pegang gantungan kunci itu lama. Hatinya anget lagi. Tapi juga bingung.

"Om Arsen..." bisiknya pelan.

Ia masuk ke kamar. Taruh gantungan kunci di meja. Lalu rebahan.

Hari ini capek. Tapi hatinya nggak kosong kayak kemarin.

Karena ada seseorang yang diam-diam jagain dia dari jauh.

TBC

1
Anwar Ghazi
bagus cerita nya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!