"Jangan pernah Lo ikut campur dalam urusan gue!!" Alifa Zea Amanda~
"saya akan ikut campur. karena apa yang kamu lakukan itu salah!" ghibram Naufal Rizal~
Alifa, seorang mafia terjebak dalam pesantren demi memenuhi janjinya untuk nenek. ia selama disana tak tinggal diam. beberapa kali ia mencoba kabur, namun ada seorang Guz yang selalu menggagalkan rencananya.
seperti apa kisah lanjutan nya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alcanbery, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. chapter tiga puluh empat
Jangan lupa vote, vote, dan vote.
Komen, like dan bintang...
Jangan lupa taruh di daftar bacaan, agar kalian tidak ketinggalan dengan cerita berikut nya.
Follow IG bunny @quensha_sha
______________________
Happy reading...
•
•
•
Elang sangat bosan tanpa kehadiran Alifa. Elang melampiaskan rasa bosannya dengan melempar batu di sungai. Hanya itu yang ia bisa lakukan untuk menghentikan rasa rindunya.
"Sedang apa duduk sendiri disini?" Tanya gus Rizal entah datang darimana? Gus Rizal ikut duduk di samping elang.
"Lo sendiri ngapain ikut kesini?" Ketus elang sambil melempar batu kedalam sungai.
"Apa kamu merindukan Manda?" Tanya Gus Rizal the point.
"Ya iyalah. Kan udah lama sekali dia ngak balik kesini." Jawab elang.
'apa gue harus cerita ke Gus Rizal?' batin elang ragu-ragu.
"Gus Rizal, ada yang mau gue omongin." Ujar elang raut wajah nya mendadak menjadi serius.
"Katakan saja." Jawab Gus Rizal.
Huh...
Elang menghembuskan napas kasar sebelum memulai pembicaraan.
"Alifa sudah tahu rahasia itu."
"Apa?!"
Gus Rizal membulat nya matanya sempurna.
"Kok dia bisa bisa tahu darimana?"
"Mana gue tahu. Gue awalnya juga terkejut saat Alifa memberikan gue sebuah dokumen."
"Dokumen apa yang Manda berikan pada kamu?"
"Riwayat penyakit bang Reza."
"Apa dia udah tahu semuanya?"
"Gue kira sih belum. Jika iya, mungkin Lo tahu sendiri dampaknya buat Alifa."
Gus Rizal diam saja. Ia mencerna semua ucapan elang. Memori kenangan Alifa terlintas di otaknya. Memori detik-detik saat Alifa berada dititik lemah nya, memori kesedihan Alifa yang sangat dalam dan memori dimana Alifa menunjuk kesedihan nya.
'*aku ngak bisa bayangkan jika Manda sampai tahu semua ini. Apa yang terjadi pada Manda andai itu terjadi?' batin Gus Rizal.
'gue ngak akan biarin Alifa tahu rahasia ini. Biar ini tetap menjadi rahasia yang tidak diketahui Alifa. Gue ngak mau kehilangan sahabat gue lagi.' batin elang*.
"Cepat atau lambat pasti Manda akan tahu." Gumam Gus Rizal masih didengar oleh elang.
"Lo mungkin ngak tahu sikap Alifa sebenarnya." Ujar elang tersenyum pahit.
"Maksud kamu?"
"Sejak kecil Alifa sangat pandai sekali. Apapun yang ia mau pasti akan terwujud. Apalagi, Alifa bukan kayak cewek-cewek lainnya yang suka mementingkan kecantikan. Alifa, sosok cewek yang penuh teka-teki. Sangat sulit memahami dirinya." Ujar elang panjang lebar. Elang terkekeh sendiri mengingat momen-momen masa kecil bersama Alifa.
Gus Rizal memilih diam saja. Memang semua ucapan elang sangat benar sekali.
***
Kediaman Oberoi:
Siska memandangi pemandangan kota di balik kaca jendela kamar. Kota yang sangat padat dan dipenuhi kemacetan.
Cekrek...
"Nona, makan dulu gih."
Bibik jutik menaruh obat, makanan dan minuman diatas nakas.
"Buat apa gue minum obat?"
Bik jutik diam saja.
'nona muda nasib anda sangat malang sekali.' batin bik jutik.
"Buang saja semua itu. Gue ngak nafsu makan."
"Tapi, nona nanti akan sakit."
"Gue bilang bawa pergi!" Ujar Siska dengan nada tinggi.
Bibik jutik membawa kembali nampan itu. Ia pamit undur diri dari kamar Siska.
"Alifa, gue ngak akan bikin Lo bahagia."
"Lo udah buat gue lumpuh."
"Gue akan membuat keluarga Lo hancur berkeping-keping ditangan gue."
"Gue akan membunuh Lo sampai Lo sendiri meminta kematian Lo."
***
Rumah sakit:
Seperti biasa Lia membawa bekal makanan untuk Rangga. Semakin hari hubungan Rangga dan Lia semakin dekat. Kemesraan mereka membuat para dokter, suster dan pasien patah hati setelah mengetahui kedua dokter itu pacaran.
Kabar pacaran kedua dokter jenius itu menggemparkan seluruh rumah sakit. Namun, itu tak membuat hubungan Rangga dan Lia tenggang. Malah hubungan mereka semakin bertambah erat.
Cekrek...
Lia membuka pintu ruang kerja Rangga. Lia menghampiri Rangga dan menaruh rantang makanan diatas meja.
Rangga belum menyadari bahwa Lia berada disampingnya. Ia disibukkan dengan banyaknya berkas-berkas disamping nya.
"Kham..."
Lagi-lagi tidak ada respon dari Rangga.
"Kham..."
Sama seperti awal tak ada respon.
"Aku ada ide..." Gumam kecil Lia terkekeh sendiri.
Terlintas ide jahil di otak Lia. Lia diam-diam mendekati kearah Rangga.
Cup...
Satu kecupan mendarat di pipi kanan Rangga. Rangga terkejut, Namun ia malah tersenyum memandangi Lia.
Rangga menarik pinggang Lia, hingga Lia jatuh didalam pangkuan Rangga.
"Kamu sudah mulai berani sayang." Goda Rangga memegang dadu Lia.
'apa-apain ini.' batin Lia kesal.
Lia tak dapat menyembunyikan rona merah di pipinya. Pipinya sudah sangat merah seperti tomat matang.
"Le---lepaskan. Nanti kalo ada yang tahu bagaimana?" Tanya Lia malu-malu kucing.
Melihat tingkah konyol Lia, membuat Rangga terkekeh. Rangga sangat senang bisa menggoda dengan Lia.
"Habisnya kamu lucu. Aku ingin memakan mu." Bisik Rangga.
Brak...
Pintu terbuka paksa di ruangan Rangga. Mereka berdua kompak memandangi kearah itu. Betapa terkuat Rangga melihat Alifa ada dihadapannya.
''habislah gue...' batin Rangga.
Lia cepat-cepat turun dari genggaman Rangga. Mereka berdua bertingkah seperti biasanya. Seolah-olah tidak terjadi apapun.
'wow, si playboy dapat umpan lagi.' batin Alifa.
"Kamu boleh pergi!" Titah Alifa memberi perintah pada bodyguard.
Bodyguard itu mengangguk kepalanya. Ia pamit undur diri dihadapan Alifa.
Rangga membantu mendorong kursi roda Alifa.
"Kenapa wajah kalian masam? Apa gue datang di waktu yang salah?" Goda Alifa.
'sialan Lo, Alifa!' batin Rangga.
Lia menggaruk lengannya yang tidak gatal. "Maaf nona muda, saya..." Ucap Lia terpotong.
"Gue udah tahu kalian berdua pacaran kan?"
"Darimana Lo tahu?" Tanya Rangga.
"Apapun gue tahu. Termasuk hubungan asmara Lo." Ejek Alifa.
"Sialan Lo, Alifa!" Ujar Rangga tak dapat menahan rasa malunya lagi.
"Nona muda ini tidak seperti yang anda bayangkan." Elak Lia.
"Jangan panggil gue nona muda. Panggil gue Alifa saja."
"Tapi..."
"Ngak ada penolakan!" Titah tegas Alifa tak suka ditawar lagi.
"Udah turutin saja. Dia itu keras kepala." Kekeh Rangga.
"Awas Lo!" Ancam Alifa seringai jahat.
"Ampun... Ampun Alifa..." Kekeh Rangga membuat Lia dan Alifa ikut terkekeh sendiri.
"Ohh ya, buat apa Lo kemari?" Tanya Rangga.
"Gue mau balik ke pesantren."
"Kondisi Lo belum pulih Alifa. Gak boleh. Gue ngak ngijinin."
"Bang, gue mau semester disana. Udah banyak pelajaran yang gue lewatkan."
"Tetap ngak boleh."
Alifa tersenyum tipis. "Bener ngak boleh? Kalo gue bilang di pesantren itu ada mafia selain gue bagaimana?"
'mafia???' batin Rangga
Rangga menyeritkan kening nya. "Maksud Lo?"
"Seperti yang gue katakan."
Lia sontak terkejut mendengar ucapan itu. Lia menutup mulutnya tak percaya.
"Ma---mafia????" Ujar Lia syok.
"Tolong jangan bocorkan pada siapapun." Ujar Rangga diangguki Lia.