Keisha, meski memiliki paras yang cantik dan bentuk tubuh yang mendekati sempurna, tapi sama sekali tidak pernah tertarik untuk masuk ke dunia hiburan mengikuti jejak ibu ataupun sahabatnya. Namun, hidup Keisha dikelilingi dengan orang-orang dari dunia hiburan. Bertemu mantan pacar saat SMU yang sekarang menjadi sutradara, Keisha sempat menjalin kembali hubungan dengannya, tapi harus kandas karena suatu hal. Lalu menjalin hubungan yang intim dengan seorang model ternama, dia pun kembali harus mengalami kekecewaan yang bahkan jauh lebih dalam daripada sebelumnya. Akhirnya Keisha memutuskan untuk bersama dengan seorang laki-laki yang sudah menyayanginya sejak kecil. Namun apakah akhirnya Keisha bahagia dengannya? Apalagi setelah laki-laki yang selama ini mengisi hatinya datang kembali dan memintanya untuk menikah dengannya.
.
image cover from Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scarlettema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Proposal
"Sepertinya ini terlalu mewah untukku." Keisha menatap dirinya di cermin, dengan memakai gaun bridesmaid off shoulder berwarna baby blue yang menutupi tubuhnya sampai ke mata kaki dan sebuah kalung Paper Flowers dari Tiffany & Co. yang sedang dipasangkan Zio di lehernya. Kalung yang tampak sangat mewah dan elegan, dibuat dengan pin platinum di tengahnya, masing-masing motif bunga dihidupkan dengan menggunakan berbagai berlian putih, berlian kuning Tiffany dan tanzanite biru yang selaras dengan gaun baby bluenya.
"Nope. Kalung ini hanya sepersekian persen kalau dibandingkan dengan kecantikanmu." Zio selesai memasang kalung dan saat ini sedang menatap perempuan pujaan hatinya dari cermin besar dihadapannya.
Mereka sedang berada di presidential room sebuah hotel berbintang lima, tempat Zafri dan Anggun melangsungkan pesta pernikahannya malam ini dengan super mewah sesuai rancangan Anggun sendiri dibantu dengan Keisha. Zio sengaja menyewa beberapa presidential room di hotel tersebut untuk dirinya sendiri dan sahabat-sahabatnya agar tidak perlu menyetir mobil di malam Minggu yang jalanannya pasti padat. Mereka juga berencana untuk mengadakan pesta reuni kecil-kecilan setelah pesta pernikahannya usai nanti.
"Aku mengatakan kepada Papa dan Mama untuk membatalkan acara pertunangan kita bulan depan dan mereka setuju, termasuk orang tua kamu."
Keisha yang terkejut langsung berbalik menghadap Zio, "kenapa?"
"Karena aku menggantinya dengan pesta pernikahan."
Zio berlutut dan memegang kedua tangan Keisha.
"Aku tidak akan mengatakan 'will you marry me?' karena aku tidak mau menerima penolakan. Aku hanya akan mengatakan tinggallah bersamaku seumur hidupmu, menjadi satu-satunya istriku yang akan kucintai sampai habis usiaku. I love you so much and I need you to be with me all my life, Keisha." Zio mencium punggung tangan Keisha.
Merasa tidak ada respon, Zio menengadahkan kepalanya, lalu dilihatnya Keisha yang sedang tersenyum manis sambil sebutir air mata mengalir di pipinya. Zio langsung berdiri dan menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.
"Kenapa menangis? Nanti makeupnya rusak."
"Aku ingin memelukmu, tapi takut makeupku akan mengotori tuksedomu." Keisha meneteskan beberapa air mata lagi.
Zio memutar tubuh Keisha lalu memeluknya dari belakang, agar makeupnya tidak menodai tuksedonya yang berwarna putih, tapi ternyata hal itu membuat air mata Keisha turun semakin deras.
"Kalung itu untuk lamaranku barusan, cincinnya nanti saja waktu menikah ya. I really love you, Kei."
"I love you too, Zio. I love you."
"Aduuuhhh, Keisha kenapa menangis? Makeupnya jadi luntur kan." Adzkia datang mendekatinya, lalu membersihkan air mata di wajah Keisha dengan tisu yang diambilnya entah darimana.
"Terima kasih, Kia. By the way, kamu semakin berisi ya sekarang?"
"Ada junior kami di dalam perutnya." Bhisma menjawab pertanyaan Keisha dengan ceria.
Adzkia hanya tersenyum sendiri sambil mengelus-elus perutnya yang sudah hamil tiga bulan. Keisha memeluk sahabatnya dengan hati-hati dan mengucapkan selamat kepadanya atas kehamilannya. Zio juga tidak mau kalah, dia bergantian memeluk Bhisma dan Adzkia yang sudah menikah sebulan setelah acara pertunangan Zafri. Tidak lama kemudian Rendra datang, lalu mereka berlima meninggalkan kamar dan menuju ke ballroom tempat acara pernikahan Zafri berlangsung.
Pesta pernikahan Zafri yang malamnya dilanjutkan dengan pesta pribadi di salah satu presidential room, reuni antara member BERSERK dan pasangannya, mengakhiri akhir tahun ini dengan bahagia.
***
Satu minggu kemudian.
"Pak Kristo ada?" tanya Keisha kepada Silvi, sekretaris Kristo.
"Ada, masuk saja, Bu Keisha sudah ditunggu." Silvi sekarang sudah kembali ramah kepada Keisha saat dia dan Kristo sudah berbaikan.
Keisha pun melangkah masuk ke ruangan kantor Kristo yang sangat luas. Dia melihat Kristo sedang duduk di sofa sambil membaca sebuah berkas dokumen.
"Ada apa, Kak, menyuruhku datang ke sini?"
"Duduk sini, Kei, sudah makan?"
"Belum." Keisha duduk di sofa di samping Kristo.
"Aku pesankan pizza ya, aku juga lapar nih, belum makan dari pagi."
"Oke."
Kristo menelepon Silvi dan menyuruhnya memesan pizza segera, lengkap dengan Beef Bruschetta dan Pepperoni Cheese Roll kesukaan Keisha.
"Apakah Zio tahu kalau kamu datang ke sini menemuiku?"
"Tahu. Aku sudah bilang ke dia kok."
"Dan dia tidak marah?"
"Kalau dia marah, aku tidak mungkin berada disini sekarang." Keisha berhasil mendapatkan ijin dari Zio setelah perdebatan yang cukup sengit.
"Baguslah, paling tidak dia sudah semakin dewasa sekarang." Lalu Kristo menyerahkan sebuah dokumen dalam folder kepada Keisha, "ini untukmu."
"Apa ini?"
"Baca saja sendiri." Kristo beranjak bangun dari sofa lalu berjalan menuju ke dinding kaca di sisi utara ruangan kantornya yang menampakkan pemandangan ibukota dari lantai 15.
"Kak Kristo menyerahkan kepemilikan saham dan keseluruhan perusahaan +vl kepadaku?"
"Ya, itu semua untukmu. Aku terlalu sibuk mengurus mall, aku tidak ada waktu lagi untuk mengurus yang lainnya." Kristo menatap pemandangan melalui dinding kaca, membelakangi Keisha yang duduk di sofa. "Dan itu juga untuk hadiah pernikahanmu. Kamu harus tetap berkarya meskipun sudah menikah, aku tidak rela orang secerdas kamu cuma berdiam diri di rumah setelah menikah nanti."
Keisha bangun dan menghampiri Kristo. Ditariknya lengan Kristo hingga laki-laki itu menghadap kepadanya. "Kakak sudah tahu?"
"Aku pikir kalian akan bertunangan dulu. Aku sangat terkejut saat Kellan cerita kalian akan menikah bulan depan." Kristo menatap dalam mata Keisha.
"Rencananya memang kami akan bertunangan dulu bulan depan. Tapi Zio tiba-tiba menggantinya dengan acara pernikahan, dan dia sudah mendapatkan ijin dari semuanya termasuk orang tuaku. Undangannya baru akan jadi besok, kakak harus datang ya."
"Iya, aku pasti akan datang." Kristo tersenyum dan memandang Keisha. "Dia benar-benar tidak membuang-buang waktu ya. Seolah-olah dia takut akan kehilanganmu lagi kalau kalian tidak segera menikah."
Keisha hanya tertawa mendengarnya.
"Kamu bahagia kan, Kei?" Kristo masih saja menanyakannya meski dia sudah bisa melihatnya sendiri dari senyuman Keisha.
"Aku sangat bahagia, Kak."
"Aku serius waktu bilang kalau dia menyakitimu lagi, aku akan mengambilmu dari dia."
"Dia tidak akan berani melakukannya." Kali ini Keisha tertawa lebih keras. Tawanya terhenti saat merasakan tangan Kristo menyentuh pipinya.
"Aku cemburu dengan Zio yang bisa membuatmu sebahagia ini. Tapi di sisi lain aku juga senang melihatmu selalu tersenyum cerah seperti ini."
"Last hug, please?" Kristo mendekat ke Keisha.
Keisha hanya tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya yang mengisyaratkan persetujuannya. Kristo memeluk erat tubuh Keisha dan merasakan tubuhnya yang hangat. Berat untuk melepaskannya, melepaskan perempuan yang dengannya akhirnya Kristo bisa merasakan cinta dan indahnya hidup. Tapi takdir berkata lain, perempuan ini dijodohkan Tuhan dengan laki-laki lain, bukan dengan dirinya. Beberapa menit kemudian Kristo melepaskan pelukannya dari tubuh Keisha dan melepaskan juga perasaan cintanya kepada perempuan itu.
Tok tok tok...
"Pak Kristo, pizzanya sudah datang." Terdengar suara Silvi dari balik pintu ruangan Kristo.
"Makan dulu baru pulang ya, Kei. Mungkin saja ini makan bersama kita yang terakhir."
"Kenapa begitu?"
"Memangnya Zio akan mengijinkanmu makan berdua saja denganku kalau sudah menikah nanti?"
Keisha hanya tertawa mendengarnya.
Satu jam kemudian Keisha meninggalkan kantor Kristo dengan perut kenyang. Sampai di lobi seseorang mengagetkannya karena tiba-tiba merangkulkan lengannya di pinggulnya. Hampir saja Keisha memukulnya dengan tas yang dia pegang.
"Ini aku."
"Zio? Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu mengikutiku?"
"Iya. Untung kamu sudah keluar. Aku hampir saja mau naik dan membuat keributan di kantor Kristo."
"Kamu tidak mungkin melakukannya." Keisha tidak percaya.
"Kata siapa? Aku bisa melakukan apapun untukmu." Zio kembali merangkulkan lengannya dengan posesif ke pinggul Keisha dan membawanya ke mobil yang sudah menunggu di depan kantor.
"Jadi, untuk apa dia memintamu datang ke kantornya?" Zio mulai menginterogasi Keisha saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Dia memberiku ini sebagai hadiah pernikahan kita." Keisha menyerahkan folder yang diberikan Kristo kepadanya.
Zio menerima lalu membaca isi dokumen di dalam folder tersebut, yang kemudian membuatnya mengeraskan rahang.
"Apa maksudnya? Dia pikir aku tidak bisa memberikan nafkah untukmu? Sampai dia harus memberikan ini kepadamu?"
"Bukan. Katanya biar aku sibuk dan tidak bisa sering-sering berduaan denganmu."
"Brengsek si Kristo. Ben! Putar balik, kembali ke kantor tadi." Zio langsung tersulut emosi.
Ben, sopir Zio, langsung berhenti mendadak dan bersiap untuk putar balik.
"Ben, tidak usah, jalan terus saja," kata Keisha dengan tenang.
"BEN!" Zio berteriak saat melihat Ben tidak menurutinya.
"Aku cuma bercanda."
Zio yang baru sadar masuk ke dalam perangkap Keisha, memajukan bibirnya cemberut.
"Jadi, saya kemana ini, Pak?" tanya Ben yang kebingungan.
"Langsung pulang ke rumah saja." Zio kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Keisha, kedua matanya yang tampak gelap karena cemburu dengan jelas mengarah ke bibir Keisha.
"Zio, ada Ben." Keisha melirik ke arah Ben sambil menutup bibir dengan telapak tangannya.
"I don't care." Zio melepaskan tangan Keisha lalu ******* habis bibir lembut yang membuatnya kecanduan.
"Kenapa kamu suka sekali menggodaku?"
"Kenapa kamu suka sekali aku goda?"
lanjutttt
satu hari z tanpa kabar uhhhh
sakittttt