Alesha Az-Zahra jatuh cinta pada pandangan pertama dengan guru SMA nya yang tampan, setahun memendam perasaan suka pada guru itu akan kah Alesha memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya?
"Hm," jawaban pak Rezel yang singkat padat dan tidak jelas itu membuat Alesha ingin menembaknya dengan serius, menembak dengan pistol, senapan atau sniper kalau perlu.
Mencintai pak Rezel itu melatih kesehatan mental Alesha, selain sikap nya yang galak dan menyebalkan dia juga kalau bicara sangat tidak jelas. Bicara pendek menyebalkan, bicara panjang malah lebih menyebalkan!
Di mata seorang Alfarezel Savian, Alesha adalah seorang gadis yang terlihat sangat mirip dengan seseorang di masalalu nya. Hal itu membuat nya cukup tertarik pada gadis itu, sampai suatu hari gadis itu datang dan menyatakan perasaan pada nya.
Siap mengikuti cerita mereka? Jangan lupa klik favorit terlebih dahulu agar mendapat notifikasi saat update :)
follow akun ig @_lisaautmptri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisaautmptri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ide Gila : Perjodohan
Akhir pekan yang membosankan seperti biasa nya, Alesha bergulingan tidak jelas di kasur nya. Gadis itu belum keluar kamar sejak pagi, dia masih sibuk berbalas pesan dengan
pak Rezel.
“ Dek? Di panggil bunda!” suara Andri terdengar dari luar, Alesha malas sekali menjawab nya.
“ Dek, dengar gak sih? Di panggil bunda!” sekarang kepala nya muncul dari balik pintu, membuat Alesha terpaksa menoleh.
“ Iya bang, tunggu sebentar!” Alesha dengan malas turun dari tempat tidur, melempar ponsel nya ke sembarang arah lalu keluar dari
kamar.
“ Kenapa bunda?” tanya Alesha menghampiri ruang makan, bunda nya sedang minum teh dengan santai.
“ Ayah belum keluar dari ruang kerja?” pertanyaan kedua menyusul setelah gadis itu duduk dan mencomot buah.
“ Nanti ikut bunda yuk,
ketemu sahabat lama bunda.”
“ Yang mana? Teman arisan bunda ya?” tanya Alesha malas, dia punya pengalaman tidak mengenakkan kalau ikut bunda nya ke acara arisan. Bunda nya itu akan lupa waktu karena bergosip dan dia di tinggalkan sendiri di antara para ibu-ibu lain yang obrolan nya
tidak dia mengerti sama sekali.
“ Bukan, teman bunda waktu kuliah dulu. Kemarin bunda belanja di butik, eh ternyata butik nya punya teman bunda itu. Bunda baru tahu lho kalau itu punya dia, padahal itu butik
langganan bunda.”
“ Kok bisa?”
“ Ya dia jarang datang, sibuk dirumah aja kata nya. Nanti siang mau ketemuan di kafe, ikut bunda ya. Dia punya anak cowok lho, ganteng katanya.” Bunda bercerita dengan antusias
mengenai teman lama nya. Alesha menyimak sembari menghabiskan apel besar yang
baru berkurang beberapa gigitan.
“ Jangan bilang bunda mau main jodoh-jodohan, aku gak mau ah bun.”
Biasa nya kalau udah ngajak ketemuan sambil bahas anak begini pasti mau
jodoh-jodohan,di novel kan suka nya begitu. Anak sekolah udah di jodohin di
suruh nikah, kata nya perjanjian dari kecil. Udah gitu di jodohin sama om-om
yang umur nya beda jauh atau sama teman satu sekolah, ketua osis atau cowok
nakal, ih amit-amit!
Alesha sudah ngeri sendiri dengan pemikiran nya, lagi pula hari begini memang nya masih ada orang tua yang menjodohkan anak nya dengan anak teman lama mereka. Padahal masih sekolah sudah di paksa menikah, sudah gitu nanti si anak teman nya ini ternyata
adalah musuh bebuyutan atau orang yang menyebalkan dan nanti mereka akan jatuh
cinta setelah pernikahan. Hihh itu sih nama nya kebetulan yang terlalu di paksakan, Alesha tidak bisa membayangkan kalau dia mengalami hal semacam itu.
“ Hahaha bukan gitu sayang, kenalan aja dulu sama anak nya, hitung-hitung nambah teman gitu.” Bunda semakin berinisiatif dan Alesha semakin malas.
“ Teman aku udah banyak di sekolah bunda, gak perlu nambah lagi.” Menggigit besar apel merah nya.
“ Aku juga udah punya pacar, jadi jangan jodoh-jodohin aku. Ini kan bukan zaman Siti Nurbaya atau dunia novel bun,”
“ Iya-iya kamu mikir nya kejauhan atuh, kita cuma mau ngobrol aja sama tante Rita.”
Alesha akhirnya menyetujui setelah lelah mendengar bujuk rayu bunda nya, bunda nya itu kan kalau sudah menyuruh sesuatu harus di turuti. Dan karena itu pula lah sekarang
dia ada di kafe ini bersama bunda nya, sudah hampir setengah jam, namun wanita
yang bernama Rita itu belum juga nampak batang hidung nya. Alesha sudah kesal
sekali, padahal niat nya dia ingin berleha-leha saja di kamar sembari berkirim
pesan dengan pak Rezel, tapi pacar nya itu juga kata nya ada keperluan di luar.
“ Bun, teman bunda kapan datang nya sih?” Alesha mengaduk-aduk gelas nya yang hanya tersisa bongkahan es batu.
“ Sebentar lagi.” Bunda berujar tenang, wanita itu masih sibuk memilih barang di aplikasi belanja online.
Alesha merengut semakin kesal, kenapa juga mereka harus janjian disini, kafe ini isi nya semua anak muda yang sedang kencan!
Hanya Alesha dan bunda nya
saja yang tidak bersama pasangan nya dan ada seorang pemuda yang tidak jauh
dari meja mereka, sepertinya sedang menunggu kekasih nya juga.
Seorang wanita paruh baya nampak dari pintu, sepertinya wanita itu yang di tunggu Alesha dan bunda nya. Alesha menyikut bunda nya, saat wanita itu mendekat ke meja mereka.
“ Aduh Laras, maaf sekali aku terlambat,” ujar nya dengan nada sungkan, wanita itu menaruh tas nya di meja lalu berpelukan singkat dengan bunda.
“ Tidak apa-apa, kami juga baru sampai.” Ujar bunda ramah lalu kembali duduk.
Baru sampai apa nya? Minuman bunda sudah habis itu, minuman ku juga!
Alesha mendengus saja.
“ Ini?..,” wanita itu menunjuk Alesha dengan tatapan tanya.
“ Ini anak bungsu ku, nama nya Alesha. Ayo sayang perkenalkan diri sama tante Rita.” Bunda menyenggol bahu Alesha.
“ Halo tante, aku
Alesha.” Alesha tersenyum sopan dan mencium tangan wanita yang kulit nya sudah
nampak garis halus namun penampilan nya masih modis itu.
“ Wah Alesha sudah besar ya, cantik nya. Kamu masih sekolah?” tanya Rita sembari mencium singkat pipi Alesha.
“ Iya tante masih sekolah hehehe,” Alesha kembali duduk setelah wanita itu melepaskan kedua bahu nya.
Setelah nya obrolan mereka larut seputar kesibukan sehari-hari dan masalah pekerjaan. Yang di takutkan Alesha sekarang benar-benar terjadi, dia hanya akan menjadi pendengar
setia yang planga-plongo tidak jelas menyimak obrolan bunda nya dan tante Rita.
Entah membahas apa saja dua wanita itu, dari membahas kenangan masa kuliah
mereka, model baju kekinian, sampai membahas harga garam yang kata nya naik dan harga cabai yang mahal nya sudah seperti harga emas.
Gadis itu hanya mengaduk gelas nya tidak jelas sembari mengamati sejoli yang duduk di depan mejanya, si cowok merangkul mesra dan menyuapi kekasih nya.
Alesha melotot tajam, harus apa mengumbar kemesraan di tempat umum begini? Membuat iri saja! Gadis itu membuka ponsel, namun pesan nya belum juga di balas oleh pak Rezel.
Semakin membuat nya kesal.
“ Anak mu tidak jadi datang?” bunda bertanya antusias, sudah penasaran sekali setampan apa anak nya tante Rita itu,
“ Sebentar ku hubungi dulu,” Rita mengambil ponsel dari dalam tas nya.
“ Halo nak,” suara nya terdengar keras setelah nada tersambung, wanita itu mendekatkan ponsel ke bibir. Alesha menahan senyum, kebiasaan yang satu ini sepertinya terjadi pada
semua orangtua ya. Kalau menelfon dengan suara keras setengah berteriak,
mendekatkan ponsel ke mulut segala.
“ Jadi datang tidak? Teman mama dan anak nya sudah menunggu lho,”
Tidak tante, saya tidak nunggu anak tante tuh! Cuma bunda yang nunggu!
“ Oh jadi belum selesai? Ya sudah tidak apa-apa, lain kali kita atur lagi.” Suara tante Rita berubah kecewa, setelah menutup telfon dia tersenyum sungkan dengan rasa
bersalah.
“ Ternyata pekerjaan anak saya belum selesai,” ujar nya dengan senyuman tertahan.
“ Wah rajin sekali, akhir pekan begini masih di sibukkan dengan pekerjaan. Anak mu idaman sekali Rita,” bunda semakin semangat membahas anak nya tante Rita yang tidak jelas
nama dan wujud nya itu. Alesha sama sekali tidak tertarik untuk mendengarkan.
“ Ya dia memang bekerja di perusahaan kami, jadi hanya bekerja setiap akhir pekan.”
“ Wah, pantas saja perusahaan suami mu jadi yang terbesar di kota ini ya. Aku iri sekali,” bunda berujar penuh kekaguman.
“ Suami mu juga terkenal sekali di kota ini, aku iri.” Tidak mau kalah mengungkapkan kekaguman.
“ Bagaimana kalau kita jodohkan saja anak kita,” tanya bunda semangat. Alesha dan tante Rita tersedak mendengar nya. Gadis itu menyikut lengan bunda nya.
“ Bunda, jangan malu-maluin ah!” bisik Alesha kesal lalu tersenyum pada tante Rita.
“ Aku juga ingin nya sih begitu, tapi bagaimana ya. Anak ku sudah punya kekasih,”
“ Saya juga punya pacar kok tante.” Jawab Alesha semangat, enak saja dia mau di jodohkan dengan orang
tidak jelas. Mana sudah bekerja lagi, pasti sudah tua.
Aku udah punya calon suami yang tampan, pintar dan pekerja keras. Kurang apa lagi
coba?
“ Yah sayang sekali ya,” dua wanita itu berujar kompak dengan nada kecewa.
“ Tapi kita tetap harus mempertemukan mereka, siapa tahu mereka akan jatuh cinta pandangan pertama dan
menerima perjodohan ini walaupun sudah punya kekasih, kan kalian bisa
memutuskan hubungan.” Ide gila tante Rita tercetus, wanita itu menatap Alesha
dan bunda nya bergantian.
“ Wah iya juga, kalau begitu kita atur pertemuan selanjut nya. Makan malam keluarga saja bagaimana?
Setelah itu membicarakan tanggal pertunangan,” bunda menyahut dengan ide yang jauh lebih gila.
Hei-hei! Apa-apaan sih ini, mau jodohin anak kok kayak mau belanja online aja gampang
nya! Aku gak mau, aku sudah punya pak Rezel yang sempurna tahu!
“ Bunda, tante. Apa tidak sebaiknya kita pulang, sudah sore.” Alesha menunjuk kaca jendela, di luar sana sudah temaram dengan rintik hujan kecil. Alesha harus cepat mengakhiri pembahasan tidak masuk akal ini sebelum kedua wanita itu benar-benar
merealisasikan ide gila nya.
semangat thor 😊
enak kan zel pak rezel 🤣🤣🤣🤣🤣