NovelToon NovelToon
Pendekar Elang Putih

Pendekar Elang Putih

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Kultivasi / Wuxia / Fantasi Timur / Dan budidaya abadi / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Ahli Bela Diri Kuno / Tamat
Popularitas:5.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adi Kusma

Terlahir dengan bakat bela diri di atas rata-rata. Membuat Mahesa menjadi pendekar dengan kemampuan olah kanuragan tak tertandingi diusia yang masih sangat muda.

Pembunuhan, fitnah, dan kekacauan terjadi di dunia persilatan. Menggerakkan hati Mahesa untuk mencari titik terang.

Hidup di antara daerah yang saling berperang, dengan asal usul yang belum jelas. Menempatkan Mahesa pada posisi yang sulit. Dia adalah pendekar dari Utara yang berdarah Selatan.

Mampukah Mahesa menciptakan perdamaian antara Utara dan Selatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adi Kusma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pheromone lll

"Nona, jangan takut. Sekarang kalian sudah bebas." Mahesa membuka kerangkeng dan membantu gadis desa turun dari pedati. Kemudian dia menghancurkan kerangkeng, membersihkan pedati.

Mahesa membiarkan gadis-gadis desa menenangkan diri terlebih dahulu. Diantara para gadis, ada yang masih menangis ketakutan. "Nona, saya bisa mengerti apa yang kalian rasakan. Akan tetapi, tidak bijak jikalau harus terpuruk seperti ini."

"Tuan Pendekar, terimakasih. Apakah Tuan akan mengantar kami pulang?" tanya seorang gadis.

Mahesa hanya menarik napas. Kemudian dia melangkah menghampiri tempat pria yang tadi bersembunyi. Ternyata, pria itu masih berada ditempat.

"Wah,,, wah,,, ternyata Tuan adalah seorang Pendekar hebat. Mohon terima hormat saya Tuan Pendekar." Pria itu membungkuk hormat berulang kali.

"Pak, saya ingin meminta bantuan Anda. Apa bapak bersedia?" tanya Mahesa.

Pria itu terlihat bingung, dia tidak bisa menerka bantuan apa yang diharapkan dari seorang pemburu sepertinya. Untuk menolak, pria itu tidak memiliki keberanian.

Mahesa tersenyum, dia menjelaskan pada pria untuk mengantarkan gadis-gadis pulang kedesa mereka masing-masing. Kuda, pedati dan seluruh uang yang dibawa pasukan pengawal Mahesa bagikan kepada mereka secara adil.

"Sebaiknya, sekarang juga kalian tinggalkan tempat ini," ucap Mahesa. Kesemuanya menurut. Keselamatan merupakan hal yang utama.

Setelah semuanya pergi, Mahesa masih berdiri tegap ditempatnya. Meskipun demikian, konsentrasi Mahesa tetap tertuju pada titik dimana pedang yang ia lemparkan terjatuh. Mahesa masih merasakan energi besar dari seorang pendekar yang bersembunyi dibalik pohon.

Benar saja, saat pedati sudah tidak nampak, seorang pendekar berusia sekitar 30-an mendekati Mahesa sambil tangannya membawa pedang yang tadi Mahesa lempar. Pendekar itu menatap Mahesa dengan tajam, seolah matanya sedang menyelam hingga dasar tubuh Mahesa.

Mahesa menyatukan kedua tangannya didepan dada, memberi hormat. "Mohon maaf, Tuan. Pedang hanya punya mata, namun tidak memiliki hati. Benda itu terlalu menuruti keinginan saya. Sedikitpun, saya tidak berniat menyinggung Anda."

"Aku melihat, kau seorang pendekar hebat. Ada dendam apa dirimu dengan kelompok Konde Emas?" tanya Pendekar itu tiba-tiba.

"Konde Emas?" gumam Mahesa. Ternyata benar dugaannya. Kawanan penculik itu berasal dari kelompok Konde Emas.

"Saya hanya berkepentingan dengan Kepala Penculik Konde Emas. Suatu kehormatan besar bila Tuan Pendekar sudi memberi petunjuk." Mahesa masih memberi hormat.

"Kau sudah mendapatkan informasi yang sangat lengkap. Apa kau akan gunakan kemampuanmu untuk menekan setiap Pendekar demi menemukan apa yang kau inginkan?"

Mahesa mengerutkan dahi, mereka belum saling bertemu tiba-tiba saja Pendekar dihadapannya bicara seolah mereka pernah berurusan. "Mohon maafkan keterbatasan pengetahuan saya Tuan. Saya hanya kura-kura yang tidak mengetahui tingginya langit. Saya sangat senang jika Tuan bicara terus terang."

Pendekar itu tidak menjawab, melainkan mengeluarkan aura bertarung yang sangat tinggi. Tangannya terlihat berkilau cahaya putih.

"Tapak Naga Terbang?! Yang benar saja," ucap Mahesa dalam hati. Tentu Mahesa begitu mengenal jurus itu.

Mahesa mengabaikan maksud perkataan pendekar tadi, ada hal lain yang mulai mengganggu benaknya. Berselang beberapa tarikan napas, pertukaran serangan telah terjadi berulang kali. Mahesa menyambut dengan jurus Tapak Naga Terbang pada tingkat yang sama. Keduanya bertukar beberapa gerakan. Sebelum akhirnya secara bersamaan mereka menghentakkan energi tenaga dalam.

"Duarrr!!!" dua naga berwarna putih adu kambing di udara. Menimbulkan gelombang getaran yang tinggi.

Angin yang tercipta berhembus mengacak-acak tanaman perdu terdekat. Rambut Mahesa berderai menutup mata kanannya. Rambut yang sengaja tidak diikat itu menciptakan aura tersendiri, mampu menciptakan gelombang getar di hati siapapun gadis yang memandang. Sayangnya, lawan yang sekarang dihadapi Mahesa adalah seorang pria.

"Ah, kiranya Ningrum tidak berdusta." Pendekar itu membatin. Pendekar yang bertarung dengan Mahesa adalah Citra Genjing. Kakak sepupu Citra Ningrum dari Padepokan Naga Putih.

"Tuan Pendekar, ilmu tenaga dalam Anda sungguh sangat tinggi. Terimakasih, sudah mengalah. Anda bersedia masih memberi kesempatan untuk saya masih menarik napas." Mahesa memuji kemampuan lawannya.

Citra Genjing masih mengatur napasnya yang terasa menjadi berat. Dadanya bak tertekan batu besar. Dia tidak menjawab perkataan Mahesa. Melainkan hanya berdiri mematung sambil matanya menyapu bersih setiap titik tumbuh Mahesa. Citra Genjing memang mempercayai ucapan Ningrum. Akan tetapi, dia tidak menduga kemampuan lawan bisa setara dengannya.

Mahesa masih tegak ditempat semula. Sama sekali dia tidak menunjukkan sikap akan kembali menyerang. Membuat Citra Genjing kehabisan cara untuk menebak lawan.

"Kau. Siapa kau sebenarnya?" tanya Citra Genjing. "Tidak ada Pendekar yang menguasai jurus Naga Terbang selain padepokan kami. Tapi kau ...." Citra Genjing kehabisan kata-kata.

Mahesa menatap lebih seksama. Dia merasa memiliki garis wajah yang sama. "Saya tidak berani menebak, tapi apa Tuan memiliki hubungan dengan seorang gadis yang juga memiliki ilmu Tapak Naga Terbang? Jika benar, saya merasa berhutang maaf." 

"Sekarang, apa yang akan kau lakukan?" tanya Citra Genjing.

Mahesa menghembuskan napas berat. "Saya akan menemukan semua sarang kelompok penculik. Saya tidak akan berhenti sebelum menemukan teman saya."

Citra Genjing tersenyum sambil berjalan mendekat. "Pendekar. Namaku Citra Genjing dari Padepokan Naga Putih. Usiaku sekarang 31 tahun. Lalu, dengan siapa sekarang saya berbicara?"

"Saya Elang Putih. Sepuluh tahun lebih muda dari Anda. Suatu kehormatan bisa berkenalan dengan pendekar hebat seperti Tuan. Jurus Tapak Naga Terbang milik Tuan begitu sempurna. Mohon untuk Tuan sudi membimbing saya." Mahesa menyambut Citra Genjing dengan antusias. Dia membungkuk hormat.

"Gadis yang membuat masalah denganmu adalah adik sepupuku. Aku tidak pernah menyalahkan dirimu Pendekar Elang. Usiamu baru 21 tahun, tapi sudah memiliki kemampuan tenaga dalam yang sangat tinggi. Diusia yang sama, aku bahkan belum bisa apa-apa. Kau adalah Pendekar yang sangat berbakat." Bukan sekedar pemanis bibir, Citra Genjing berbicara apa adanya. Padepokan Inti Naga sekalipun, tidak pernah mencatat nama pendekar yang menguasai Tapak Naga Terbang diusia semuda Mahesa.

Pendekar Naga Suci, merupakan satu-satunya Pendekar terhebat milik Padepokan Inti Naga, menyempurnakan ilmu Tapak Naga Terbang pada usia 24 tahun. Sebelum akhirnya mengembara, dan mampu mencapai kemampuan sempurna Sepuluh Tapak Penahluk Naga diusia 37 tahun. Dan pada usia 50 tahun, disebabkan salah paham, bersama sang kekasih tanpa sengaja menghancurkan Padepokan Inti Naga dan sebagian besar Pulau Tengkorak. Hingga tokoh dunia persilatan selatan begitu mengucilkan siapapun pemilik ilmu Tapak Naga Terbang.

Padepokan Naga Putih, adalah padepokan yang didirikan oleh keturunan asli Padepokan Inti Naga yang luput dari maut. Dengan menyembunyikan identitas serta kemampuan, Padepokan Naga Putih berhasil menurunkan Ilmu Tapak Naga Terbang pada Citra Genjing dan Citra Ningrum.

Yah, Mahesa merasa wajah mereka berdua sedikit mirip. "Benar kata Puspita. Kemungkinan besar saya adalah seorang anak Selatan yang terdampar di Utara. Kenyataan ini sangat sulit untuk dipercaya."

"Apa yang sedang kau pikirkan adik?" Citra Genjing membangun Mahesa dari lamunan.

"Kakak. Saya ingin menjadi saudara mu." Tiba-tiba kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Mahesa.

Citra Genjing terkejut. Tapi kemudian dia tertawa lepas. "Tentu. Aku begitu bersenang hati. Selain kita memiliki kemampuan yang sama, aku merasa wajahmu sangat mirip denganku. Terus terang, aku hanya memiliki seorang adik sepupu perempuan. Menjadi saudaramu, dengan begitu aku punya saudara laki-laki."

Deg....

Jantung Mahesa bergetar. Ada aliran aneh menjalar didalam aliran darahnya.

"Semua orang berharap bisa menjadi saudara Pendekar hebat seperti Tuan. Sungguh saya merasa sangat beruntung." Mahesa tersenyum hangat.

"Hahaha... Adik, kau terlalu berlebihan. Mari kita berjanji." Ucap Citra Genjing, dia sedikit risih mendengar Mahesa selalu memuji kemampuannya dengan berlebihan. Dia tahu, ilmu tenaga dalam Mahesa sangat tinggi. Bahkan, Citra Genjing tidak berhasil mengukur batasnya.

Mahesa dan Citra Genjing berlutut bersamaan. Dengan mengangkat tangan kanan, mereka berujar.

"Saya Citra Genjing, usia 31 tahun ..."

"Saya Elang Putih, usia 21 tahun ..."

"Dibawah langit, diatas bumi, disaksikan matahari dan gunung-gunung. Kami bersumpah setia sebagai saudara angkat. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Bersumpah, akan selalu menjaga persaudaraan hingga maut memisahkan."

"Hahaha ...." Keduanya berdiri dan saling berpelukan.

"Kakak angkat, Anda sangat rendah hati, saya sungguh merasa salut" ujar Mahesa.

Citra Genjing tertawa kecil, "Adik Elang, jangan terlalu memujiku. Sungguh, aku merasa tidak nyaman."

"Ah, maaf. Saya hanya mengatakan apa yang ada didalam benak saya. Kakak Angkat, kita harus merayakan hal ini." Mahesa mengeluarkan botol arak dari balik pakaiannya. Dua guci arak berukuran kecil, arak terbaik yang dibelinya dikota Pungguk Lalang.

Mahesa memberikan satu guci arak pada Citra Genjing. Citra Genjing menerima dengan sedikit sungkan. Sebenarnya, dia tidak terlalu suka minum arak. Di Padepokan Naga Putih, sama sekali tidak ada arak. Mungkin, seumur hidup Citra Genjing, baru beberapa kali menelan air bernama arak.

"Bersulang !!!" Mahesa mengangkat guci arak ditangannya diikuti Citra Genjing dengan senyum hangat.

Mahesa menenggak habis satu guci arak layaknya minum air kelapa muda. Berbeda dengan Mahesa yang sudah terbiasa minum, Citra Genjing hanya menelan beberapa teguk kecil. Itu saja berhasil membuat wajahnya memerah, hampir lehernya putus karena tersedak.

Mahesa tersenyum memaklumi. Tidak semua Pendekar kuat minum, apalagi Pendekar aliran putih. Tidak seperti dirinya, apalagi beberapa hari terakhir, saat Puspita menghilang, arak selalu menemani perjalanan Mahesa.

"Kakak angkat, saya tidak akan terlalu lama menunda perjalanan. Teman saya tidak bisa lama menunggu," ucap Mahesa.

Citra Genjing mengangguk. "Adik Elang, sebagai kakak. Aku tidak akan membiarkan kau seorang diri memasuki sarang penjahat Konde Emas. Aku akan menyertaimu."

"Kakak angkat, saya hanya menambah bebanmu. Jika memiliki kesempatan, saya akan membalas kebaikan yang kakak angkat berikan."

"Hahaha ... Kepribadianmu sangat menarik. Kau seorang pendekar yang sangat rendah hati. Aku bangga bisa mengangkat saudara denganmu. Ayo, sebaiknya kita berangkat sekarang."

Citra Genjing dan Mahesa segera melompat ke punggung kuda. Dua saudara angkat itu menuju sarang Kelompok Konde Emas.

°°

Wakil ketua kelompok Konde Emas, Nyi Brirang berdiri bingung didepan ruang tahanan. Masih ada belasan gadis yang mereka tahan. Lebih dari separuh telah mereka jual dengan harga murah.

"Kemana Nyi Susur, mengapa belum juga menampakkan batang hidungnya?" gumam Nyi Brirang.

Seorang perempuan yang menemaninya bernama Nyi Mawar. Wanita paruh baya itu hanya mengangkat bahu.

Nyi Brirang mendengus kesal, "Gadis Pheromone, apa Nyi Susur berhasil menangkapnya? Lantas, mengapa tidak mengirim pesan?"

"Nyi Brirang, saya yakin Nyi Susur berhasil mendapatkan gadis Pheromone. Pasti dia sengaja menyembunyikan gadis itu sampai Lebur Saketi menukarnya dengan ratusan koin emas," jawab Nyi Mawar yakin.

"Tapi tidak seharusnya dia membahayakan kelompok Konde Emas. Kau tahu, sekarang banyak pendekar sesat mengincar gadis Pheromone itu. Jika ada mengetahui sebelum Lebur Saketi tiba, pasti tujuan mereka adalah kita," Nyi Brirang menggaruk kepalanya.

"Brirang, katakan saja kau takut aku menguasai uang itu sendirian!!!" terdengar suara teriakan Nyi Susur.

Keduanya serentak menoleh. Nyi Susur sudah berdiri tidak jauh dari mereka, raut wajahnya masam.

Nyi Brirang tidak menjawab. Dia mengalihkan pandangan ketempat lain.

"Dengar. Aku sengaja menyembunyikan Gadis Pheromone jauh dari sini agar kelompok kita terhindar dari bahaya. Aku menitipkan Gadis Pheromone di markas Penjahat Gunung. Hehehe ... Biar saja si Topeng Besi menanggung semua resiko." Nyi Susur tersenyum licik.

"Jadi benar, ketua berhasil menemukan Gadis Pheromone?" tanya Nyi Mawar.

"Hahaha ... Kau meragukan kemampuan yang aku miliki Mawar? Aku tidak menyangka!" hardik Nyi Susur.

Nyi Mawar menelan ludah. Dia sangat paham, Nyi Susur memang sangat tinggi hati dan begitu mabuk pujian.

"Ternyata, dia bukan gadis biasa. Dia seorang Pendekar. Aku terpaksa menggunakan serbuk penghilang tenaga ditambah racun waktu untuk menjinakkannya," cerita Nyi Susur.

Dia menambahkan, bahwa Gadis Pheromone sulit untuk dianalisis secara kasat mata. Bahkan, sebenarnya dia belum terlalu yakin jika gadis yang berhasil dia tangkap merupakan gadis dengan kandungan Pheromone murni. Barulah setelah berhubungan dengan abdi Lebur Saketi dia menjadi yakin.

"Aku tidak akan berlama-lama. Aku harus memastikan Topeng Besi tidak bertindak macam-macam. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, aku bisa segera membawa kabur Gadis Pheromone. Oh ya, tindakan kalian telah tepat. Menjual sebagian besar tawanan. Jika perlu, jual saja semua."

Nyi Susur kembali meninggalkan markas penjahat Konde Emas. Dia sama sekali tidak menduga, dua orang pendekar muda sedang menuju markasnya. Elang Putih dan Citra Genjing sudah memasuki wilayah kaki bukit.

Bersambung ...

 

Hai, Readers tersayang ... Ada yang pengen ketemu Mahesa dan Puspita di dunia modern? Hari ini Mahesa dan Puspita sedang berkunjung ke Perusahaannya Tuan Wijaya loh, Pasti pada penasaran kan? Yuk intip Novel karya kak **Lina** yang judulnya **Fell in Love with my Arogan Fiance**. Author nya kece badai. Ramah. Beliau adalah guru, kakak, sekaligus teman saya. Monggo mampir, saya jamin bakal baper terus ketagihan baca cerita beliau. \(•‿•\)\(•‿•\) Dan yang tidak kalah menarik, cerita dari kak *Deeta Pratiwi* dengan judul **Best Friend forever**. Semoga suka ya.

 

1
Irwandy Kamal
𝚋𝚞𝚔𝚊 𝚜𝚊𝚓𝚊 𝚝𝚘𝚙𝚎𝚗𝚐𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚕𝚎𝚜𝚊𝚒 𝚖𝚊𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑𝚗𝚢𝚊, 𝚕𝚊𝚐𝚒𝚊𝚗 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚊𝚍𝚊 𝚊𝚕𝚊𝚜𝚊𝚗 𝚔𝚞𝚊𝚝 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚖𝚋𝚞𝚗𝚢𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚠𝚊𝚓𝚊𝚑𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚗𝚗
Irwandy Kamal
𝚙𝚊𝚍𝚎𝚙𝚘𝚔𝚊𝚗𝚗𝚢𝚊 𝚛𝚊𝚓𝚊𝚠𝚊𝚕𝚒, 𝚓𝚞𝚛𝚞𝚜𝚗𝚢𝚊 𝚌𝚊𝚔𝚊𝚛 𝚎𝚕𝚊𝚗𝚐 🤔
merah putih
bagusss...thor....hanya sj msh terlalu banyak ungkapan2. kurangi ungkapan2 terutama saat bertarung.
Hamka Bahri
Luwuk Banggai Parigi Moutong 🤣🤣🤣🤣
Nggenk Topan
mahesa lebay...
Nggenk Topan
galih janda bahenol
Yuniar Hadi
iya
Nggenk Topan
kok bikin bingung...?
Nggenk Topan
tambah hebohhhhh
Mely Kanzafaiz
cerita yg ga jlas
Rivan Zuhri
jadi menikah dengan siapa saja
Rivan Zuhri
Luar biasa
Rizal Sude
Biasa
Yanah Tjan
Luar biasa
Tabri Bong Plaju
ceritanya bagus,typonya gak ada,mudah di ikuti jln ceritanya.... semangat terus tor...
@ ubaydah_*😄
harus kembaran Puspita cewek aja,biar ceritanya tambah seru
Adi Kusma: Mksh kk
total 1 replies
@ ubaydah_*😄
kenapa si Puspita GA bunuhdiri aja biar siluman jahatnya ikutan mati.
Denmas
agak rumit di pahammi
Irhakim
kak permisi mau promo dulu kak tentang fantasi constelasi
Thomas Andreas
ngeri julukannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!