NovelToon NovelToon
PENGHIANAT

PENGHIANAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: nila edrina

Cinta pertama seharusnya indah.

Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.

Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.

Tapi di balik senyum mereka... ada darah.

15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.

Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.

Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.

Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.

Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."

Salah mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 : MASALAH BARU?

Langit pagi tampak cerah. Cahaya matahari menyinari halaman rumah keluarga Arkanza, membuat bunga-bunga yang ditanam Lay tampak bermekaran dengan indah.

Di dapur, Lay sedang menyiapkan sarapan sambil sesekali bersenandung pelan. Aroma nasi goreng, telur mata sapi, dan sup hangat memenuhi seluruh ruangan.

Tak lama kemudian, langkah kaki kecil terdengar dari arah tangga.

"Bunda..."

Lay menoleh dan langsung tersenyum.

"Selamat pagi, Putri."

Gadis kecil itu berjalan menghampiri Lay sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.

"Ayah sudah bangun?"

"Sepertinya masih bersiap-siap."

Belum sempat Lay menyelesaikan kalimatnya, Arkanza muncul dari ruang kerja. Pria itu sudah mengenakan jas hitam lengkap dengan dasi yang rapi.

Namun, wajahnya terlihat jauh lebih serius daripada biasanya.

Lay langsung menyadari perubahan itu.

"Kamu baik-baik saja?"

Arkanza mengangguk pelan.

"Aku baik."

"Kamu kelihatan sedang memikirkan sesuatu."

Arkanza tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

"Hanya pekerjaan."

Lay tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu suaminya akan bercerita jika sudah siap.

Mereka bertiga pun menikmati sarapan bersama.

Putri kecil mereka sibuk menceritakan rencananya menggambar keluarga lagi hari itu.

"Ayah nanti aku gambar pakai baju Superman."

Arkanza tertawa kecil.

"Kenapa Superman?"

"Soalnya Ayah pahlawanku."

Ucapan sederhana itu membuat Arkanza terdiam beberapa detik.

Ia mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Terima kasih, Sayang."

Sesampainya di perusahaan, suasana kantor tampak jauh lebih sibuk dari biasanya.

Beberapa karyawan terlihat mondar-mandir membawa berkas.

Arkanza baru saja duduk di kursinya ketika sekretaris mengetuk pintu.

"Silakan masuk."

"Selamat pagi, Tuan."

"Pagi."

"Ada kabar dari kantor pusat."

Sekretaris meletakkan sebuah map berwarna hitam di atas meja.

"Perusahaan kita mendapatkan proyek terbesar tahun ini."

Arkanza membuka map tersebut.

Nilai proyek itu mencapai angka yang sangat besar.

Namun tenggat waktunya hanya satu bulan.

Arkanza menarik napas panjang.

"Siapkan rapat dalam lima belas menit."

"Baik, Tuan."

Sepanjang pagi hingga siang, Arkanza tidak berhenti mengikuti rapat demi rapat.

Teleponnya terus berdering.

Dokumen terus berdatangan.

Bahkan makan siangnya hanya sempat beberapa suap.

Di sela kesibukannya, ia melihat foto Lay dan Putri yang menjadi wallpaper ponselnya.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Aku harus cepat menyelesaikan semuanya."

Di rumah...

Lay sedang bermain puzzle bersama Putri di ruang keluarga.

"Bunda, ini taruh di mana?"

"Coba cari yang warnanya sama."

Putri mengangguk semangat.

Tak lama kemudian, ponsel Lay berbunyi.

Nama Arkanza muncul di layar.

Lay segera mengangkatnya.

"Halo?"

"Maaf, hari ini aku mungkin pulang terlambat."

Lay tersenyum kecil.

"Tidak apa-apa."

"Aku masih banyak rapat."

"Jangan lupa makan."

"Iya."

"Dan jangan terlalu memaksakan diri."

Arkanza terdiam sejenak.

"Terima kasih."

Sebelum menutup telepon, terdengar suara Putri.

"Ayah!"

"Iya, Sayang?"

"Jangan pulang malam."

Arkanza menutup matanya sesaat.

"Maaf... Ayah akan berusaha."

Telepon pun berakhir.

Putri menatap Lay.

"Ayah kerja terus?"

"Iya."

"Kasihan Ayah."

Lay memeluk putrinya.

"Makanya nanti kalau Ayah pulang, kita sambut dengan senyum."

Putri mengangguk.

"Supaya Ayah senang."

Hari berganti malam.

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan.

Meja makan masih dipenuhi makanan hangat yang sengaja disimpan Lay.

Putri sudah beberapa kali menguap.

"Bunda..."

"Hm?"

"Ayah belum pulang?"

"Belum."

"Kita tunggu, ya."

"Iya."

Setengah jam berlalu.

Putri akhirnya tertidur di pangkuan Lay.

Lay mengusap lembut rambut putrinya.

Tatapannya sesekali mengarah ke pintu depan.

Ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama Arkanza pulang sangat larut.

Entah mengapa, hati Lay mulai dipenuhi rasa khawatir.

Ia mengambil ponselnya lalu mengirim sebuah pesan.

"Arkan, kamu sudah makan? Jangan lupa istirahat."

Pesan itu terkirim.

Namun hingga beberapa menit berlalu...

Tidak ada balasan.

Di saat yang sama, Arkanza masih berada di ruang rapat.

Ia bahkan belum sempat melihat ponselnya yang terus bergetar di atas meja.

Tanpa disadarinya, inilah awal dari kesibukan yang perlahan akan menguji keharmonisan keluarga kecil mereka.

Malam semakin larut.

Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul sebelas malam. Rumah yang biasanya dipenuhi suara tawa kini terasa begitu sunyi.

Lay masih duduk di sofa sambil memangku Putri yang tertidur lelap. Sesekali ia melihat layar ponselnya, berharap ada balasan dari Arkanza.

Namun layar itu tetap sepi.

Lay mengembuskan napas pelan.

"Semoga kamu baik-baik saja..."

Dengan hati-hati ia menggendong Putri menuju kamar. Setelah menyelimuti putrinya, Lay mengecup kening gadis kecil itu.

"Selamat tidur, Sayang."

Ia kemudian kembali ke ruang tamu.

Lampu teras masih menyala.

Lay sengaja tidak mematikannya karena tahu Arkanza tidak suka pulang ke rumah yang gelap.

Tak lama kemudian...

Suara mesin mobil terdengar dari halaman.

Lay segera berdiri dan bergegas membuka pintu.

Arkanza baru saja turun dari mobil.

Wajahnya tampak sangat lelah. Jas yang dikenakannya sedikit kusut, dan dasinya sudah dilepas.

Begitu melihat Lay masih terjaga, Arkanza langsung merasa bersalah.

"Kenapa belum tidur?"

Lay tersenyum tipis.

"Aku menunggumu."

Mendengar jawaban itu, hati Arkanza terasa hangat sekaligus bersalah.

"Aku minta maaf. Rapatnya lebih lama dari perkiraanku."

"Tidak apa-apa."

Lay mengambil tas kerja suaminya.

"Ayo masuk."

Begitu memasuki rumah, Arkanza melihat meja makan yang masih penuh dengan makanan.

"Kamu belum makan?"

Lay menggeleng pelan.

"Aku ingin makan bersama."

Arkanza terdiam.

Ia tahu Lay sengaja menunggunya.

Tanpa berkata apa-apa, Arkanza menarik kursi dan duduk di meja makan.

Lay menghangatkan kembali makanan yang mulai dingin.

Mereka makan dalam suasana tenang.

Sesekali Lay menyendokkan sup ke mangkuk Arkanza.

"Kamu kelihatan capek sekali."

"Proyek baru cukup besar."

"Kalau terlalu berat, jangan dipaksakan."

Arkanza tersenyum kecil.

"Aku ingin semuanya cepat selesai."

"Kenapa?"

"Supaya aku bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama kalian."

Jawaban itu membuat Lay tersenyum.

Namun di balik senyumnya, ia tetap merasa khawatir.

Keesokan paginya...

Arkanza sudah bersiap berangkat bahkan sebelum matahari terbit.

Saat Lay turun ke ruang makan, suaminya sedang mengenakan jas.

"Berangkat secepat ini?"

"Iya."

"Padahal sarapan belum siap."

"Aku makan di kantor saja."

Lay menghela napas.

"Jangan lupa makan."

Arkanza mengangguk.

Sebelum pergi, ia mencium kening Lay, lalu masuk ke kamar Putri.

Gadis kecil itu masih tertidur.

Arkanza membelai rambutnya dengan lembut.

"Maaf, Ayah harus bekerja."

Ia mengecup kening putrinya sebelum keluar rumah.

Lay memperhatikan mobil Arkanza hingga menghilang dari pandangan.

Entah mengapa, dadanya terasa sedikit sesak.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan pola yang sama.

Arkanza berangkat sebelum matahari terbit.

Pulang saat malam sudah sangat larut.

Kadang Putri sudah tertidur ketika Arkanza pulang, dan masih tertidur saat Arkanza berangkat.

Hal itu membuat gadis kecil itu mulai bertanya.

"Bunda..."

"Iya?"

"Ayah marah sama Putri?"

Lay terkejut.

"Lho, kenapa bilang begitu?"

"Soalnya Ayah sudah lama nggak main sama Putri."

Mata Lay terasa panas.

Ia memeluk putrinya erat.

"Bukan begitu. Ayah sedang bekerja keras."

"Terus kapan Ayah libur?"

"Sebentar lagi."

Putri mengangguk pelan, meski raut wajahnya masih terlihat sedih.

Malam itu, ketika Arkanza akhirnya pulang, ia melihat sebuah gambar di atas meja ruang tamu.

Gambar itu dibuat dengan crayon warna-warni.

Di dalam gambar terlihat Ayah, Bunda, dan Putri sedang bergandengan tangan.

Namun sosok Ayah digambar jauh di ujung, seolah berdiri sendirian.

Di bagian bawah gambar terdapat tulisan dengan huruf yang masih belum rapi.

"Ayah, aku kangen."

Arkanza membeku.

Tangannya sedikit gemetar saat memegang kertas itu.

Ia perlahan menoleh ke arah kamar Putri.

Pintu kamar sedikit terbuka.

Putrinya sudah tertidur sambil memeluk boneka kesayangannya.

Arkanza berjalan masuk dengan langkah pelan.

Ia duduk di samping tempat tidur lalu mengusap lembut kepala putrinya.

"Maafkan Ayah..."

Suaranya hampir tidak terdengar.

Di depan pintu, Lay berdiri diam.

Ia melihat semua itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Air matanya perlahan jatuh.

Ia tahu Arkanza bekerja demi keluarga mereka.

Namun ia juga tahu, keluarga kecil mereka mulai merindukan kehadiran pria itu.

Arkanza berdiri dan menghampiri Lay.

"Aku akan berusaha pulang lebih cepat."

Lay menggeleng sambil tersenyum tipis.

"Aku tidak marah."

"Tapi..."

"Aku hanya ingin kamu menjaga kesehatanmu."

Arkanza menggenggam kedua tangan Lay.

"Terima kasih sudah selalu mengerti."

Lay mengangguk pelan.

"Karena kita keluarga."

Mereka saling berpelukan di lorong rumah yang sunyi.

Namun tanpa mereka sadari, ponsel Arkanza yang berada di atas meja kembali berdering.

Layar ponselnya menampilkan sebuah pesan penting dari kantor.

"Tuan Arkanza, proyek utama mengalami masalah besar. Mohon segera datang ke perusahaan."

Arkanza menatap pesan itu cukup lama.

Senyumnya perlahan menghilang.

Ia sadar...

Ujian bagi keluarganya ternyata baru saja dimulai.

1
Alia Chans
Hadir thor
like + bunga biar semangat deh/Smile/
nila edrina: terimah kasihh 🥰😘😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!