[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [32]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Bukan hubungan namanya jika tidak ada pertengkaran hebat untuk memahami sifat satu sama lain....
...-Zhein Anggara-...
Setelah kejadian Revan yang menampar Iris, ponsel miliknya terus saja berbunyi, dan orang yang menganggu ketenangan hidupnya itu adalah Revan.
Dan saat ini Zhein sedang terlelap dalam tidurnya, sedangkan Iris masih saja risih dengan dering ponselnya yang terus berbunyi.
"Berisik banget si," ucap Iris sambil mematikan ponselnya.
"Angkat aja ris, siapa tau penting," ujar Zhein yang memejamkan matanya.
"Lo keganggu ya?" tanya Iris.
"Engga," jawab Zhein.
"Siapa yang nelpon? sampai gak mau di angkat?" tanya Zhein.
"Revan," jawab Iris.
"Revan?" tanya Zhein sambil menatap kearah Iris.
"Iya," jawab Iris.
"Sini, biar gue aja yang angkat," ucap Zhein.
"Gak, gue gak mau lo kenapa-kenapa," ujar Iris.
"Gue gak bakalan bilang apa-apa, gue cuman mau denger suaranya aja," ucap Zhein.
"Gak," ujar Iris, dia tidak ingin Zhein kenapa-kenapa lagi setelah cukup banyak luka di wajah nya, Iris seperti sudah tau apa yang akan di lakukan Zhein kepada Revan.
"Ris, sebentar aja," ucap Zhein.
"Zhein... " ujar Iris sambil menatap kearah Zhein.
"Ris... " ucap Zhein sambil mengulurkan tangannya untuk menerima ponsel milik Iris.
"Tapi beneran kan gak bakalan. ngomong apa-apa?" tanya Iris.
"Iya," jawab Zhein.
"Tapi volume nya kerasin ya," ucap Iris.
"Iya Ris," ujar Zhein.
Iris memberikan ponselnya kepada Zhein, tanpa berpikir panjang, Zhein kembali menelpon Revan melalui ponsel milik Iris.
...Di telpon....
Halo, Ris. Gue minta maaf atas kejadian tadi, gue gak maksud buat nampar lo, maafin gue ris, ucap Revan.
Lo gak apa-apa kan Ris? tanya Revan, namun Iris dan Zhein tidak menjawab pertanyaan itu.
Lo marah sama gue? gue minta maaf, gue tau perlakuan gue tadi salah, bahkan salah besar, maafin gue. ucap Revan yang terdengar bersalah atas kejadian tadi.
Lo masih mau jadi pacar gue kan ris? tanya Revan secara tiba-tiba.
Sedangkan Zhein yang mendengar itu langsung menatap kearah Iris yang sedang diam mematung. Dia menjauhkan ponselnya agar Revan tidak mendengar percakapan antara Zhein dan Iris.
"Dia ngajak lo pacaran?" tanya Zhein dengan tatapan mengintimidasi, tatapan yang tidak pernah Zhein perlihatkan sebelumnya.
"Iya, dia maksa gue jadi pacarnya," jawab Iris. sedangkan Zhein kembali mendengarkan ucapan Revan yang terus saja memaksa Iris untuk menjadi pacarnya.
Ris, gue mau lo jadi pacar gue sekarang. kalau lo diem berarti lo mau. ucap Revan.
Dalam seketika jantung Iris berpacu cepat, Revan itu benar-benar tidak tahu malu, padahal Iris terus menolaknya beberapa kali.
Gue gak mau! ucap Iris sambil mendekatkan dirinya kearah Zhein agar suaranya terdengar oleh Revan.
Lo harus mau. Gue gak nerima penolakan, ujar Revan.
Van, tolong ngertiin gue sekarang, gue gak mau, mending lo cari cewek lain yang bahkan lebih dari gue. ucap Iris.
Gue cuman mau lo ris, ujar Revan.
Coba deh lo keluar, dunia ini luas, ucap Iris.
Lo nolak gue karena lo udah punya pacar kan Ris? siapa yang nyuruh lo boleh pacaran? lo cuman punya gue. ujar Revan.
Sedangkan Zhein yang mendengar pengakuan dari Revan itu malah kesal sendiri, siapa yang tidak kesal mendengar cara bicara bahkan itu terdengar seperti paksaan.
Kalau iya kenapa? Iris udah punya pacar dan sekali lagi lo ngaku pacar dia atau bahkan maksa dia buat jadi pacar lo, nama lo udah di blacklist sama gue, inget baik-baik. ucap Zhein dengan nada yang mengancam.
Oh, lo pacarnya? tanya Revan.
Iris hanya diam mendengar percakapan itu, entah harus bagaimana reaksinya saat ini, disisi lain Zhein melindungi dirinya tapi disisi lain Zhein juga dalam bahaya, Dia belum tau liciknya Revan.
"Udah," ucap Iris saat Zhein ingin membalas perkataan Revan.
"Gak Ris, gue gak mau lo kayak tadi," ujar Zhein.
"Zhein, gue mohon, jangan dilanjut lagi," ucap Iris dengan suara pelan.
"Dan lo mau diem aja di paksa bahkan di tampar kayak tadi?" tanya Zhein.
"Gue gak diem aja, gue tau gimana cara ngehadepin Revan." jawab Iris.
"Oh, lo tau sejauh itu ya tentang Revan?" tanya Zhein.
"Bukan gitu Zhein." jawab Iris.
"Terus gimana?!" tanya Zhein dengan suara yang sedikit meninggi.
Ris, lo gak apa-apa kan? tanya Revan yang masih berada dalam sambungan telpon.
Tut.
Zhein mematikan sambungannya setelah Revan berbicara seperti tadi.
"Zhein, lo gak tau dia gimana," ucap Iris.
"Lo mau lindungin dia? cowok itu? sedangkan disini gue cuman mau lindungin lo Ris," ujar Zhein dengan suara tinggi, bahkan Iris terlonjak kaget mendengar suara tersebut.
Zhein berdiri dari tidur nya sambil menungganakan jaketnya dan mengambil kunci motor yang ada di atas meja.
"Zhein, lo mau kemana? lo masih sakit," ucap Iris yang sedang menahan air matanya.
"Bukannya lo udah gak peduli sama gue?" tanya Zhein dengan suara sinis.
"Zhein gue peduli sama lo," jawab Iris saat Zhein ingin membuka pintu.
"seberapa besar? gue liat lo lebih peduli sama cowok itu dibanding gue," ucap Zhein dengan suara yang tinggi, bahkan kini air mata Iris sudah jatuh, Iris sudah tidak bisa menahan air matanya itu.
"Gue sayang sama lo! gue peduli sama lo! lo gak tau seberapa licik Revan! dia punya banyak cewek yang bisa ngambil lo dari gue! gue tau itu, sebelum gue jadi mantannya! Revan juga bisa memutar balikan fakta! apapun bisa dia lakuin! gue cuman gak mau lo kenapa-kenapa Zhein, gue juga gak mau lo diambil sama cewek lain," ujar Iris dengan air matanya sambil jatuh terduduk di lantai.
Sedangkan Zhein hanya diam mencerna semua perkataan Iris, dia merasa sangat bersalah, tanpa dia sadari dirinya sudah membuat wanita nya itu menangis karena ulahnya yang gegabah.
Ini salah satu kekurangan dari diri Zhein, dia tidak bisa mengendalikan rasa cemburu bahkan amarahnya, tak sedikit orang yang kewalahan dengan sikapnya itu.
Zhein melangkahkan kakinya mendekat ke arah Iris yang sedang jatuh terduduk di lantai sambil menangis, dia mensejajarkan tubuhnya dengan Iris dan mengangkat wajah Iris agar menatap dirinya.
"Gue gak mau lo kenapa-napa Zhein... " ucap Iris di sela tangisannya.
Tanpa berpikir panjang, Zhein langsung memeluk Iris yang sedang menangis karena ulahnya tadi, dia memeluk erat tubuh mungil kekasihnya itu.
"Maafin gue, ini salah satu sifat gue yang gak bisa gue kendaliin, cemburu sama amarah, maafin gue," ucap Zhein sambil memeluk tubuh Iris yang belum membalas pelukannya itu.
"Gue cuman gak mau kalau lo di ambil cewek lain dari simpanan Revan, gue gak mau Zhein... " ujar Iris yang membalas pelukan kekasihnya itu, dia akui bahwa nada tinggi yang Zhein berikan itu sungguh menyayat hatinya, apalagi ini baru pertama kali.
"Sebanyak apapun wanita di luar sana, kalau gue mau nya lo gimana?" tanya Zhein sambil menyimpan kepalanya di pundak Iris.
"Zhein, lo panas lagi?" tanya Iris saat merasakan kening Zhein yang menempel pada pundaknya itu panas.
"Maafin gue," ucap Zhein.
Iris mengangkat wajah Zhein sambil mengecek kening Zhein dengan telapak tangannya, dan perkiraannya benar, suhu tubuh Zhein kembali meningkat. Bahkan Iris melihat wajah pucat Zhein yang sudah seperti mayat hidup.
"Gue bantu lo buat tiduran lagi, ayo, demam lo belum sembuh," ucap Iris sambil membantu Zhein untuk kembali tidur di sofa.
"Gue minta maaf Ris," ujar Zhein saat dirinya sudah tidur di sofa, bahkan Zhein sempat menghapus jejak air mata di sudut mata Iris.
"Gue ngerti kok Zhein, gue maafin," ucap Iris sambil menggenggam tangan Zhein yang panas.
"Mending lo sekarang tidur lagi," sambung Iris sambil mengelus rambut Zhein dengan penuh kasih sayang.
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗