NovelToon NovelToon
Left After 7 Days Of Marriage

Left After 7 Days Of Marriage

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Pernikahan Kilat / Tamat
Popularitas:6M
Nilai: 5
Nama Author: Anita Rachman

Giwang gadis desa yang menikah dengan pujaan hatinya, tapi dia di tinggalkan suaminya setelah tujuh hari menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Bobi kesal karena dia di samakan dengan anjing Marimar.

"Jadi intinya kamu sedang jatuh cinta?" tanya Bobi.

"Banget," sahut Adlan singkat sembari membayangkan wajah gadisnya.

"Ada baiknya kamu ungkapkan perasaan kamu," ujar Bobi.

"Tidak mungkin, aku saja belum tau perasaannya kepadaku, bisa saja aku mengatakan cinta kepadanya tapi jika dia tidak suka yang ada dia malah menjauh," sahut Adlan memikirkan kemungkinan yang terjadi.

"Coba ngomong baik-baik nikah secara kontrak awalnya terus buat bunting tuh gadis pasti dia tidak akan mau lepas dari kamu," ujar Bobi tertawa.

"Kucing kali di buat bunting."

Bobi tertawa kekeh mendengar sahutan temannya. "Lalu apa kamu ada ide lain?" tanya temannya.

"Aku harus membuatnya jatuh cinta hanya itu caranya."

"Baru sekali ini aku lihat Pengacara seperti kamu mengejar cinta seorang wanita padahal di luar sana banyak perempuan yang menunggu kamu," ujar Bobi bingung.

"Di luar sana hanya emas tapi berlian ada di dalam," sahut Adlan sembari menunjuk ke arah rumahnya.

Giwang telah selesai mencuci pakaiannya dan telah di setrikanya. Dia buru-buru ke dapur untuk memasak makan siang.

"Masak apa siang ini," gumamnya bingung. Giwang mencari Adlan yang ada di samping rumah. Menghampiri dua pria yang asyik mengobrol.

"Pak siang ini mau di masakkan apa?" tanyanya. Kedua pria itu langsung menoleh.

"Masak batu dia juga suka," timpal Bobi sembari tertawa cekikikan.

Giwang tersenyum mendengar ucapan itu. "Aduh senyumnya," gumam Bobi sembari terpukau. Adlan buru-buru memukul temannya.

"Gigi masak saja yang kamu mau," sahut Adlan buru-buru menyuruh Giwang masuk ke dalam.

Setelah Giwang masuk Adlan langsung mengusir temannya. "Kalau kamu di tolak, aku juga mau," ujar Bobi.

"Langkahi dulu atap rumahku baru kamu boleh dengannya," sahut Adlan ketus sembari mendorong temannya agar meninggalkan rumahnya. Bobi melihat atap rumah temannya.

"Kalau ngomong jangan ngawur, mana mungkin aku bisa melangkahi atap rumahmu," gerutu Bobi. "Sama saja kalau kamu tidak mengizinkanku dekat-dekat dengannya," protes Bobi.

"Sudah tau kan, makanya buruan pulang dan jangan datang ke rumah ini sebelum ada izin dariku," ujar Adlan masih mendorong temannya.

"Enggak asyik," sahut Bobi dan masuk ke dalam mobilnya. Sebelum pulang Bobi membuka kaca mobilnya. "Gadis itu memang cantik, jadi hati-hati pasti kamu akan banyak saingan di luar sana," ujar Bobi dan berlalu.

Adlan mendengarkan kalimat terakhir yang di ucapkan temannya.

"Benar juga katanya, pasti ada banyak pria yang sedang mengejar cintanya salah satunya aku."

Adlan masuk ke dalam rumahnya dan memperhatikan Giwang sedang sibuk memasak. Dia duduk di mini bar sembari memperhatikan gadisnya yang sibuk memasak. Tapi tiba-tiba Giwang berlari ke kamar mandi, dia merasakan dadanya mulai mengeras tanda Asinya harus di peras.

Adlan memperhatikan itu tapi tidak bertanya, setelan beberapa menit Giwang kembali ke dapur.

"Kamu kenapa?" tanya Adlan sembari terus menatap dengan tatapan lembut.

"Perut saya mulas," sahutnya bohong. Dan ketika lengah Giwang memasukkan air susunya ke dalam kulkas. Dia melanjutkan kembali masaknya.

"Gigi," ujar Adlan.

"Iya Pak," sahutnya sembari tetap memasak.

"Saya mau curhat," ujar Adlan pelan.

"Iya silakan."

"Hemm," Adlan bingung merangkai kata-kata. "Saya menyukai seorang gadis tapi saya tidak tau perasaannya ke saya, menurut kamu bagaimana?"

"Maaf saya tidak pintar dalam urusan seperti itu," sahut Giwang sembari meletakkan makanan di meja makan.

"Silakan mumpung masih hangat," ujar Giwang sembari melepas Appron.

Adlan pindah duduk di kursi makan, dia hanya melihat satu piring yang ada di meja makan. "Punya kamu mana?" tanya Adlan heran.

"Saya makan di Restoran," sahut Giwang dan hendak pamit.

"Gigi, sudah berapa kali saya katakan kalau hari ini tugas kamu hanya mengurus saya," ujar Adlan keceplosan.

"Maksud Bapak apa?"

"Ma-maksud saya hari ini kamu harus berada di sini sampai malam menjelang."

"Enggak bisa begitu, saya banyak melewatkan ilmu di Restoran," ujarnya tidak terima.

"Saya tidak suka berdebat dengan kamu, cukup perdebatan saya lakukan di ruang sidang di sini tidak, silakan duduk," ujar Adlan tegas sembari menarik kursi yang ada di sampingnya.

Dengan kesal Giwang mengambil makanan untuknya dan duduk lebih jauh dari Adlan.

"Gigi," ujar Adlan menunjuk kursi di sampingnya dengan gerak kepalanya. Giwang mendengus kesal sembari memindahkan duduknya di sebelah Adlan, menurutnya pria di sampingnya sangat otoriter.

"Nah begini kan bagus, saya tidak harus pakai toa ngomong dengan kamu, dengan berbisik sudah terdengar," ujar Adlan sembari melirik Giwang.

Mereka makan dalam keadaan hening. "Berapa usai kamu?" tanya Adlan membuka pembicaraan.

"Dua puluh."

"Wah cocok," sahut Adlan senang.

"Bapak juga dua puluh?" tanya Giwang senang sembari melirik pria di sampingnya.

"Saya tiga puluh satu tahun beberapa bulan lagi tiga puluh dua," sahut Adlan sembari menikmati makan siangnya.

"Lalu kenapa tadi Bapak bilang cocok?" tanya Giwang heran.

Umur kita sangat cocok untuk menikah.

"Kamu tidak mau kuliah?" tanya Adlan mengalihkan pembicaraan.

"Ada rencana tapi saya masih harus membagi jadwal."

Tiba-tiba Adlan merasakan kekhawatiran jika gadisnya kuliah maka Giwang akan menemui banyak pria seumuran dan tentunya akan menambah saingan buatnya.

"Saran saya mending kamu kursus masak, ada di sini kursus masak untuk semua negara jadi dengan seperti itu kamu tidak perlu ikut dalam kegiatan di kampus," ujar Adlan.

"Tapi dengan kuliah saya bisa mendapatkan gelar," sahut Giwang.

Yang di katakan Giwang benar hanya dengan kursus gadisnya hanya mendapatkan sertifikat tapi tidak ada gelar.

Mereka selesai makan siang. Karena tidak di izinkan ke Restoran, Giwang memilih untuk duduk di ruang keluarga, ada sebuah tv besar yang di tempelkan di dinding. Adlan menyalakan televisi itu.

Giwang sangat senang untuk pertama kalinya dia melihat tv yang berukuran sangat besar. Adlan terus memperhatikan gadisnya sembari memegang beberapa berkas yang di antar Bobi. Biasanya dia melakukan di ruang kerja tapi karena ingin menatap gadisnya, dia membawa pekerjaannya ke ruang tv.

"Apa kamu suka?" tanya Adlan ketika melihat Giwang menyentuh televisinya.

"Suka banget Pak," sahutnya senang.

"Kalau kamu mau saya bisa membelikan untuk kamu," ujar Adlan.

"Enggak usah terima kasih," Giwang menolak.

"Apa yang kamu mau?" tanya Adlan sembari menutup berkasnya.

"Saya ingin ke Restoran," sahut Giwang.

Ucapan Giwang membuat Adlan mendengus kesal. "Kenapa kamu terus mengatakan Restoran?" tanya Adlan kesal.

"Karena itu passion saya."

Adlan diam dan menghela nafasnya secara kasar. "Saya beri gaji untuk kamu empat kali lipat dari gaji yang kamu dapatkan di Restoran dengan syarat meninggalkan Restoran dan bekerja di sini," ujar Adlan memberi pilihan ke gadisnya.

Dengan cepat Giwang menjawab. "Tidak, saya tetap akan bekerja di Restoran," ucapan Giwang membuat Adlan senang. Dia sedang menguji gadisnya apakah matre atau tidak dan ternyata lulus, padahal di dalam hatinya khawatir gadisnya akan bertemu banyak pria dan tiba-tiba terlintas di pikirannya Chef Robi.

Bersambung...

Follow Instagram : anita_rachman83

seputar novel hanya di info di instagram tidak ada di grup.

🌷🌷

Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014!

1
Naimatul Jannati
aku baca ulang ttep z😂😂😂😭😂😂bacanya,.bngek bnget siti😂😂😂
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Semoga menjadi putri dan cucu yg dholihah
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Semoga gana sukses membuat ibu Ana terpedona
☠ᵏᵉ⏤͟͟͞Rᵃᵏ_🆂🆄🅻🆃🅸🅽🍒Atin𝐙⃝🦜
Komplotan kompor dateng
☠ᵏᵉ⏤͟͟͞Rᵃᵏ_🆂🆄🅻🆃🅸🅽🍒Atin𝐙⃝🦜
Coba tanya aja ka Anisa mm mau jujur gak
☠ᵏᵉ⏤͟͟͞Rᵃᵏ_🆂🆄🅻🆃🅸🅽🍒Atin𝐙⃝🦜
Roni spt ya udh punya nomer yayuk
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Luluhkan singa betina didalam😂🫢🫢
☠ᵏᵉ⏤͟͟͞Rᵃᵏ_🆂🆄🅻🆃🅸🅽🍒Atin𝐙⃝🦜
Siapa tahu Dodit bisa berubah dengan adany musibah ini
☠ᵏᵉ⏤͟͟͞Rᵃᵏ_🆂🆄🅻🆃🅸🅽🍒Atin𝐙⃝🦜
Nyesel kan Budhe kalo udh kayak gini, makane jangan terlalu masuk dengan harta
☠⏤͟͟͞R🍎aTin W🦋𝐙⃝🦜🪀
Bener kekurangan gak hrs mencuri
☠⏤͟͟͞R🍎aTin W🦋𝐙⃝🦜🪀
Astaghfi
☠ᵏᵉ⏤͟͟͞Rᵃᵏ_🆂🆄🅻🆃🅸🅽🍒Atin𝐙⃝🦜
Astaghfirullah
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Semoga Yayuk gak. Kabur kaburan
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Tapi kenapa mesti harus bu die seh Pakdhe bundir kan dosa, iya kita tau Pakdhe malu ke adlan dan gigi tapi gak mesti harus bundir
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Reuni para wanita yg suka membukingigi
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Tapi Budhe emang nyinyir dan harus dapet pelajaran
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Yah emang sih mereka tetep sodara
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Astaghfirullah apa gak malu kalo kaya gitu, mana Dodit lariii ketahuan abnget dia kan penakut gak bertanggung jawab
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Nah loh adlan bakalan marah, masukin ke penjara pasti pencuriii
☠ᵏᵋᶜᶟ𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ🎯𝐀𝖙𝖎n Wᵍᵇ𝐙⃝🦜
Astaghfirullah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!