Cinta Tapi Menyakitkan, adalah kisah sebuah rumah tangga Anindita Putri dan Elnino Karisma.
El menikahi Anin karena ingin melupakan istrinya yang meninggalkan dirinya begitu saja. Sementara Anin karena sudah jatuh cinta pada El, akhirnya mau dinikahi.
Saling menyakiti bermula ketika Anin tahu bahwa El sudah pernah menikah, dan belum menceraikan istri pertamanya. Pernikahan untuk El adalah sebuah cara untuk melupakan istri pertamanya, dan belum memiliki perasaan cinta pada sosok Anin yang membuat Anin sangat tersakiti.
Anin berusaha untuk bangkit sendiri, dalam sakit hatinya, tiba-tiba banyak sosok pria dengan tulus mencintai Anin dan membuat Anin merasa di cintai, tapi dalam kondisi Anin tidak bisa bercerai dengan El.
Penasarankan bagaimana akhirnya kisah cinta Anin dan El? Akankah El kembali pada istri pertamanya, atau akan tetap bertahan dengan Anin, dan mencintainya?
Yuuuk baca Novel ini sampai akhir 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Felicialetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjelasan
Anin dan Rais bergandengan berjalan keluar dari Resto itu, menuju sebuah tempat belanja oleh-oleh khas Lombok. Saat melewati parkiran, tiba-tiba ada yang memegang pundak Rais dari samping.
Seketika Rais menghentikan langkahnya, dan menoleh kearahnya.
"Benar dugaan ku!" ucapnya dihadapan Rais dan Anin
Anin dan Rais sama-sama terdiam, tercengang melihat siapa yang menghentikan langkahnya itu.
Seseorang yang tak ingin lagi Anin temui rasanya.
Anin begitu ketakutan melihat sosok yang kini ada dihadapannya itu, membuat Anin menggenggam erat tangan Rais, dan bersembunyi dibalik tubuh tegap Rais.
"Jadi sekarang kamu pengkhianat Is?" ucapnya sembari mendengus kasar
Terlihat jelas wajahnya sudah tersulut emosi.
Rais masih terdiam ia berusaha menenangkan Anin yang berada dibalik tubuhnya itu agar tidak ketakutan.
"Apa maksud kamu?" tanya Rais dengan kesalnya
"Jadi sekarang kamu sama Rais? Kenapa harus Rais, kenapa Nin?!" ucapnya dengan berteriak
"Fariz! Apa-apaan kamu!!!" ucap Rais yang ikut tersulut emosi, karena merasa Anin terancam
"Diem Lo pengkhianat!" ucap Fariz dengan ketus
"Gue rela Anin sama orang lain, tapi gak sama Lo Is! Lo temen makan temen" lanjut ucap Fariz mendengus kesal dihadapan Rais
"Jangan asal ngomong Kamu! Jaga bicara kamu! Anin cuma cewek yang kamu sia-siain, diputusin gitu aja! Kamu gak berhak ngomong buruk tentang kita! Terserah Anin mau sama siapa, BUKAN URUSAN KAMU!!!" ucap Rais panjang lebar dengan kesalnya pada Fariz yang tiba-tiba muncul begitu
Anin mencoba menenangkan Rais yang mulai tersulut emosi itu, dengan memegang dada Rais dari belakang, sembari berbisik lembut di telinga Rais.
"Udah Is, kita pergi yaaa.." ucap Anin pelan di telinga Rais
Rais mulai mengatur nafasnya, menenangkan emosinya. Anin terlihat jauh lebih tenang kali ini, karena Fariz hanya terdiam tak mampu berkata-kata lagi setelah mendengar ucapan Rais yang panjang lebar itu.
"Jangan kamu campuri lagi urusan aku Riz! Aku selalu berharap tidak pernah lagi berurusan dengan kamu!" ucap Anin yang mulai tenang dan mengajak Rais untuk pergi
"Nin tunggu, Nin.. Tolong maafin aku.. Aku ingin menjelaskan semuanya sama kamu Nin.. Aku ingin kejelasan semua ini Nin.." ucap Fariz menahan Anin yang hendak pergi itu
"Gak ada yang harus dijelaska lagi, Riz! Maaf kita harus pergi.." ucap Anin sembari menarik tangan Rais perlahan untuk pergi meninggalkan Fariz
Rais hanya terdiam, ia tak tahu harus seperti apa. Jauh dalam benaknya ia tak ingin sekali jadi berhubungan jelek dengan Fariz, karena Fariz adalah temannya. Rais hanya pasrah mengikuti Anin melangkah.
Anin dan Rais tiba di sebuah toko penjual souvernir oleh-oleh khas Lombok, untuk dibawa pulang ke Bandung. Anin mencoba melupakan masalah Fariz, ia mencoba mengalihkannya pada barang-barang yang ia lihat di toko. Rais tak berani menanyakan apapun pada Anin masalah tadi, Rais begitu tahu tentang permasalahan Anin dengan Fariz, rasanya tak perlu lagi untuk ditanyakan pada Anin.
Anin dan Rais membeli beberapa barang sebagai buah tangan untuk dibawa pulang.
Anin dan Rais sudah kembali ke resort sebelum dzuhur tiba, karena mereka harus mengemas barang-barang untuk segera kembali pulang dengan penerbangan jam 4.30 sore hari ini.
Saat tiba di depan kamar hotel Anin, tiba-tiba dikejutkan oleh Fariz yang sudah menunggu disana.
"Mau ngapain lagi Riz?" tanya Rais dengan santainya
"Gue mau ngomong sama Anin.." jawab Fariz memaksa
"Nin tolong, Nin kita perlu bicara.. Aku janji gak akan kasar, gak akan nyakiti kamu.." lanjut ucap Fariz
Anin mendengus kesal, kenapa Fariz semaksa ini.
"Kamu mau jelasin apa Riz? Penjelasan kamu tidak akan mengubah hubungan kita Riz!" ucap Anin ketus
"Aku tahu Nin, Aku gak perduli.. Aku cuma kamu tahu, dan aku tahu.. Itu aja Nin.." jawab Fariz dengan kekeuhnya
"Ok kalau gitu, kita bicara disana.." ucap Anin menyetujui dengan malasnya sembari menunjuk kursi yang ada di halaman tepat didepan kamar hotel Anin
Fariz begitu senang akhirnya Anin mau berbicara baik-baik dengan dirinya. Sementara Rais merasa khawatir akan semua itu, Rais merasa tidak yakin untuk membiarkan Anin dan Fariz berdua.
Fariz sudah jalan lebih dulu ke kursi itu.
"Nin.." ucap Rais yang merasa ragu itu
"Sebentar ya Is.." ucap Anin berpamitan
Rais mengangguk, dan enggan untuk pergi dari situ. Rais ingin memperhatikannya walau dari jauh, Rais sungguh khawatir.
"Kamu mau jelasin apa Riz?" tanya Anin gak mau basa basi, lalu duduk disamping Fariz
"Nin kamu harus tahu, yang mutusin kamu itu bukan kemauan aku.." ucap Fariz mencoba menjelaskan kisah masa lalunya yang membuat ia menyesal
"Aku gak ngerti deh Riz sama kamu, kenapa kamu ngotot sekali pengen jelasin semua ini? Padahal hubungan kita udah berakhir sangat lamaaa.." ucap Anin dengan perasaan kesalnya
"Aku selalu merasa bersalah Nin.. Rasa cinta aku buat kamu itu masih sama.. Tolong dengerin aku yaaa" jawab Fariz dengan wajah berbinar memohon
Anin hanya terdiam, ia tak mengerti lagi pada Fariz. Sementara cintanya sudah lama mati terkubur bersama kekecewaannya atas Fariz.
"Nin yang mengirim pesan putus itu memang aku, tapi atas paksaan dan ancaman manager aku, karena kolega yang mensponsori aku dia menyukai aku, aku tidak bisa menolak karena jika aku menolak karir aku akan hancur.." ucap Fariz panjang lebar, membuka penjelasan yang sudah lama terjadi
"Aku berkarir di Singapur, Alhamdulillah banyak yang suka dengan prestasi aku di dunia model. Tapi aku harus menghancurkan perasaan ku sendiri.. Menghancurkan hubungan kita, hubungan yang telah lama kita jaga.." lanjut ucap Fariz, matanya mulai berkaca-kaca menahan air matanya
"Riz.. Sekarang aku ngerti, aku sudah tidak apa-apa kok.. Kamu kuatlah untuk karir kamu, semoga sukses. Untuk sekarang biarkan aku hidup tenang dengan dunia ku sendiri yaa.." ucap Anin sembari menatap Fariz yang mulai meneteskan air matanya
Fariz mengangguk-anggukan kepalanya, mencoba mengiyakan ucapan Anin.
"Iya Nin.. Aku ngerti, bisakah kita tetap menjadi teman?" tanya Fariz karena perasaannya tetap untuk Anin
"Bisa Riz.." jawab Anin singkat dengan senyum manisnya
"Makasih ya Nin, akhirnya aku bisa lega, bisa berdamai sama diri aku sendiri. Orangtua ku sampai hari ini masih marah Nin karena kita gak jadi nikah.." ucap Fariz dengan mencoba memaksakan senyumnya
"Nanti kapan-kapan aku kerumah kamu ya, ketemu orangtua kamu, nanti aku yang jelasin.." ucap Anin berbaik hati
"Makasih ya Nin.." jawab Fariz begitu senang
"Oh iya, bukannya kamu menikah dengan Elnino? Kenapa kamu disini sama Rais?" tanya Fariz bertubi-tubi karena ingin penjelasan tentang ini
"Iya Riz, ceritanya panjang.. Rais sama aku cuma teman kok, dia baik sama aku, dia selalu ada pas aku sedih, sekarang juga yang mengajak kesini, Rais. Kamu jangan khawatir ya, aku dan Rais gak mungkin bersama.." jawab Anin menjelaskan semuanya, suaranya getir ketika mengucapkan tidak mungkin bersama.
Fariz merasa lebih lega ketika mendengar penjelasan dari Anin. Fariz begitu percaya karena Anin tidak mungkin berbohong, ia sangat mengenal Anin.
"Makasih ya Nin.. Aku sekarang semakin lega, biarkan kita tetap berteman seperti dulu ya Nin?" ucap Fariz dengan senyum yang mengembang
"Iya Riz.. Maaf ya aku harus segera kembali ke kamar hotel, aku mau mengemasi barang-barang ku. Sore ini aku sudah harus pulang.." ucap Anin berpamitan
"Iya Nin.. Hati-hati yaaa, aku besok baru kembali. Sekarang aku menetap di Singapur" ucap Fariz memberitahukan
Fariz melepaskan Anin untuk pergi, walau hatinya berat. Rindunya teramat dalam pada sosok wanita yang mengisi hatinya selama bertahun-tahun itu, karena hingga kini rasa cinta itu masih bersemayam di hatinya.
Anin berjalan meninggalkan Fariz, hatinya begitu sesak mendengar kenyataan itu rasanya. Tapi Anin tak ingin menambah beban pikiran dan hatinya, ia mencoba melepaskan semua beban itu untuk segera berlalu begitu saja, karena beban pikirannya terhadap El saja masih berputar-putar di otaknya, hatinya belum tenang. Anin kembali menghampiri Rais yang masih berdiri di depan pintu kamar Anin.
"Is kamu juga siap-siap ya, takut kita telat.." ucap Anin pada Rais yang masih menatap dalam Fariz yang masih terduduk itu
"Iya Nin.. Kamu gak apa-apa kan?" tanya Rais ingin memastikan
"Aku gak apa-apa kok.." jawab Anin dengan senyum manis pada Rais yang cemas itu
Fariz berjalan mendekat ke arah Anin dan Rais, berniat untuk berpamitan.
"Is maafin gue yaa.. Tolong jaga Anin, makasih udah jaga Anin selama ini.." ucap Fariz dengan menyunggingkan senyum manisnya
Rais hanya mengangguk, dengan senyum tipisnya, lalu menerima jabatan tangan Fariz.
...----------------...
El masih terdiam dirumah Anin, ia tahu dari Pak Hendra bahwa Anin akan sampai di Bandara jam 7 malam. El berniat untuk menjemput Anin ke Bandara, namun Pak Hendra tak membiarkan El untuk pergi sendirian, karena Pak Hendra takut akan ada perkelahian dengan Rais atau apapun yang tak diinginkan. Pak Hendra menahan El untuk tetap berada dirumahnya menunggu Anin bersama.
Setelah sholat magrib bersama, El dan Pak Hendra langsung menuju Bandara untuk menjemput Anin.
Pak Hendra memang kecewa pada El, namun ia tak ingin membiarkan perceraian itu terjadi karena Anin sedang hamil anak dari El.