Cinta sungguh tidak bisa di duga. Tak pernah terbayangkan oleh Rizky Ade Bramantyo yang biasa di panggil Bram, akan jatuh cinta kepada keponakannya sendiri.
Zavira putri Bramantyo, gadis polos berusia delapan belas tahun yang merupakan keponakan Bram.
Bagiamana kisah cinta mereka? akankah Vira menerima cinta Bram?? Akankah cinta mereka bersatu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yakin
Bram baru memasuki kamar pada jam sebelas malam. Diliriknya ke tempat tidur masih sama kosong.
Bram mengedarkan pandangannya, dan mata ay tertuju pada gundukan di sofa. Vira tertidur pulas dengan selimut tebalnya di atas sofa.
Bram tertawa kecil, Sebegitu takut nya kah yome padaku hingga dia tidak mau tidur bersama ku. bahkan dia menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.
Bram mandi dan mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.
Berjalan ke sofa dan mengangkat tubuh mungil Vira. Membawanya ke tempat tidur dan membaringkannya.
Setelahnya Bram juga ikut berbaring di samping Vira. Memejamkan matanya dan larut kedalam dunia mimpi.
Seperti pagi pagi lainnya, Vira terbngun lebih dulu dari Bram. Mulai mengumpulkan nyawanya dan mengerjapkan mata.
Beberapa detik berikutnya Vira baru menyadari jika dia tidur di ranjang bukan diatas Sofa.
Apa om Bram yang mengangkat ku lagi, bathinnya.
Vira melirik Bram yang masih tertidur pulas. Bayangan kelembutan Bram kemaren menerbitkan senyum di bibir Vira.
Perlahan Vira bangkit dan berjalan menuju ke kamar mandi. Membersihkan dirinya. Vira bersiap melakukan ibadah seperti biasanya.
Bram. mulai membuka matanya, pandangan pertama yang dia lihat adalah Vira yang sedang sholat subuh.
Bram tertegun sebentar, sejak dia lebih mengenal Vira, sudah berapa kali dia melihat Vira melaksanakan ibadah. Bahkan kemarin di Dufan, Vira juga menyempatkan sholat.
Bram melihat Vira sholat dengan khusuk dan berdoa .
"Apa yang dia minta di dalam.
doanya?" ucap Bram dalam hati.
"Pagi hubby!" sapa vira membuyarkan lamunan Bram.
Vira melipat mukenanya yang sudah terlihat lusuh. "Apa dia tidak bisa membeli yang baru, itu sudah terlihat usang". bathin Bram.
Yome, apa yang kau pinta dalam doamu, apa kau mendoakan agar aku cepat mati, agar kau bisa bebas?" tanya Bram pada Vira.
"Tidak Hubby, mana mungkin aku mendoakan hal.yang buruk untuk suami ku. Aku berdoa untuk papa dan mama di surga, dan aku mendoakan semoga kau selalu sehat, diberikan kemudahan dan keberkahan, hingga usaha mu maju." ucap Vira dengan bibir tersenyum tulus.
"Kau tidak bohong kan?" tanya Bram lagi.
"Untuk apa aku bohong, aku selalu mendoakan uang terbaik untukmu." ucapnya lagi.
Vira kembali ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Bram.
"Hubby, air panasnya sudah siap." ucapnya berlalu menuju walk ini closed.
Vira memilih kemeja, dasi, kaos kaki dan jas untuk Bram. Tak lupa jam tangan, tali pinggang dan sepatu.
Semua dia letakkan diatas tempat tidurnya. Setelah nya Vira berikan ke dapur untuk membuatkan sarapan untuk Bram. Kali ini Vira memilih sandwich.
Selain nasi goreng, Bram juga sangat menyukai sandwich. Setelah selesai Vira membawanya keatas bersama secangkir teh hijau tanpa gula.
Vira memasuki kamar, terlihat kosong. Sebelah tangannya masih memegang nampan yang berisi sandwich dan teh.
Diletakkannya makanan tersebut diatas meja. Saat dia berbalik, Bram datang dengan kemeja yang masih belum terkancing, dan dasi masih ditangannya.
Vira segera mendekati Bram dan mengancingkan kemejanya. Memakaikan dasi nya dengan benar.
Jujur saja Vira merasa sangat canggung, jantung nya berpacu dengan sangat cepat. Jarak antara dirinya dengan Bram sangat dekat, apalagi dia bisa menghirup aroma mint yang menguat dari tubuh Bram.
Setelah selesai Bram malah memeluk pinggang Vira.
"Aku sangat senang kau mau membantuku, mulai besok dan seterusnya kau lah yang bertugas memakaikan dasi ku, istriku" ucap Bram terdengar sensual di telinga yome.
Vira membelalakkan matanya mendengar ucapan Bram, "A...aku... tidak mau!" jawab Vira menunduk takut memandang wajah Bram.
Sebelah tangan Bram masih memeluk pinggang Vira dan sebelah lagi mengangkat dagu Vira agar menatapnya.
"Yome sayang, mengapa kamu malu, Aku suami mu dan kau berhak dan berkewajiban mengurusku." ucap Bram.
Vira menjadi panas dingin mendengar ucapan Bram, apalagi saat Bram mengatakan kewajiban. Vira semakin menunduk.
Cup... Bram mencium pipi Vira.
"Mulai besok, setiap pagi aku mau kau mencium ku sebelum berangkat bekerja." ucap Bram.
"Tapi, om!" ucap Vira.
Bram mengangkat tangannya tanda dia tak mau dibantah.
"Sayang, kita lupakan masa lalu dan aku minta maaf karena telah salah selama ini. Aku berjanji tidak akan melakukan nya lagi, maafkan aku" ucap Bram dengan wajah sedihnya.
Vira berbinar mendengar Bram meminta maaf dan menyadari kekeliruannya selama ini. Benarkah om Bram berubah??? Apakah aku mimpi?
"Sayang, apa kau mau kita memulai nya sejak awal? Aku mau kau memaafkan ku dan menerima ku sebagai suami mu." ucap Bram dengan wajah memelas.
"A.....aku....."
"Tak perlu kau jawab sekarang, aku memberi waktu untuk berpikir. Dan akan aku buktikan jika aku serius dengan ucapan ku." ucap Bram memeluk Vira.
Vira menangis dipelukan Bram. Bram tersenyum licik.
"Sudah jangan menangis, sebagai langkah awal, cium aku" ucap Bram.
Wajah Vira merona, dia mencium Bram!!! Cup
Vira mencium singkat pipi Bram dan berlari keluar kamar.
Bram tertawa di dalam hatinya, mudah sekali membohongi nya, tunggu saja sebentar lagi... hahahaha
Bram mengambil sandwich nya dan memakannya. "Enak" ucapnya pelan.Dan meneruskan sarapannya.
Diluar kamar Vira coba menetralkan detak jaantungnya yang berdebar sangat kencang , Sungguh perlakuan manis Bram, membuat siapapun akan meleleh dibuatnya.
Ingat Vira, tujuan mu membuat Bram jatuh cinta padamu bukan kau yang jatuh cinta padanya. Aku tidak boleh jatuh cinta pada Bram, aku tidak boleh termakan rayuannya, tidak boleh... tidak boleh......
Setelah mampu menguasai dirinya, Vira berjalan kembali ke kamar mengambil tas dan ponselnya
Bram yang sudah selesai sarapan menunggu Vira di ruang tamu. Vira turun dan mereka berangkat ke sekolah bersama.
"Yome.....siang ini aku ada rapat dengan klien, jadi kamu pulang dengan mang Udin ya!" ucap Bram.
"Ok, hubby." jawab Vira tersenyum bahagia.
Mobil.merka telah sampai di sekolah Vira. Vira bersiap turun dari mobil, namun Bram menarik tangannya.
Cup..
Kembali Bram mencium Vira namun bukan di bibir atau di pipi melainkan di kening nya.
Setelah Vira turun, mobil melaju dengan kencang meninggalkan pelataran parkir sekolah Vira.
Vira berjalan masuk ke dalam sekolah dan menuju kelasnya.
Dua Minggu ke depan adalah ujian akhir kelulusannya, dan Vira sudah berencana untuk kabur setelah itu.
"Hanya perlu bersikap manis dan mendapat kepercayaan om Bram, setelah itu, aku akan kabur sejauh mungkin darinya." ucap vira di dalam hatinya.
Dukung penulis dengan like vote dan koin seikhlasnya. Terima kasih