Novel ini kelanjutan dari Novel. " Cinta Gadis Tangguh Dari Desa."
Luna Haifa Adhitama putri sulung dari Kavindra Adhitama dengan Freya Pratiwi Adhitama. Luna mempunyai adik kembar yang bernama Aryan Zaidan Adhitama dan Aryana Zaidah Adhitama.
Luna seorang Dokter spesialis Anak. Karena pembawaannya yang lembut dan ramah. Dia menjadi Dokter yang diidolakan sama semua pasiennya.
Pada saat dia pergi ke rumah kumuh yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan sekali. Membantu orang-orang yang disana untuk memberikan perobatan gratis disana.
Dia bertemu dengan anggota TNI yang juga lagi membantu menyalurkan bantuannya ke orang-orang yang ditinggal di bawah Jembatan.
Akankah Luna mengenali salah satu dari anggota TNI tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
SELAMAT MEMBACA !!!
Dari kejauhan rombongan Kapten William melihat banyak orang yang berkumpul di sana, dengan wajah panik dan pucat. Ada apakah dengan warga itu.
"Ada apa di sana ya, kapten William? Mengapa warga semua berkumpul di situ?" tanya Sertu Dimas sambil menunjuk kerumunan itu.
Kapten William menggeleng pelan, menandakan ia pun belum tahu apa penyebabnya. "Ayo kita segera ke sana! Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi dan mereka semua baik-baik saja," ajaknya sambil mempercepat langkah.
"Assalamualaikum, selamat pagi semua!" sapa Kapten bersama rombongannya.
"Walaikumsalam, Pak Tentara.Tolong kami, Pak Tentara!" seru ketua RT setempat dengan cemas.
"Ada apa sebenarnya, Pak? Bolehkah kami mengetahuinya?" tanya Kapten William yang penasaran.
"Lebih baik, kita pindah ke tempat berkumpul pertemuan warga saja, Pak Tentara. Di sana kami akan bercerita semuanya," ajak Ketua RT itu.
Warga pun berjalan beriringan menuju tempat yang dimaksud. Ketika duduk, terlihat tempat itu terlalu sempit, sebagian bisa duduk, namun banyak pula yang terpaksa berdiri karena tidak muat menampung mereka semua.
"Begini, Pak Tentara. Kami akan segera digusur dari tempat ini, Pak. Katanya tanah yang kami tempati ini, mau dibuat proyek pembangunan. Kemana Kami harus pergi nanti, Pak!" seru Ketua itu dengan cemas.
"Apakah mereka hanya menggusur kalian saja, tanpa menyediakan tempat pengganti atau pemukiman baru...?" tanya Kapten William, kalimatnya terhenti sejenak karena hatinya terasa bergetar mendengar ketidakadilan itu.
Mereka menggelengkan kepala. "Pihak yang datang itu pun bilang tidak tahu, Pak. Katanya mereka hanya orang suruhan. Kami hanya diberi waktu satu bulan saja untuk pergi dari sini," jawab Ketua RT sambil menunduk sedih.
Kapten William segera mengeluarkan ponselnya, berniat menghubungi sepupunya untuk mengetahui pihak mana yang bertanggung jawab atas rencana penggusuran itu.
"Assalamualaikum, Dek."
"Walaikumsalam, Bang. Ada yang perlu aku bantu, Bang?"
"Dek, aku sekarang ada di kawasan tempat yang kemarin itu. Ternyata warga di sini akan segera digusur, hanya diberi waktu satu bulan untuk pergi. Padahal mereka tidak disediakan tempat pengganti maupun diberi ganti rugi apa pun. Hmmm...tolong dibantu selidiki, Dek. Pihak mana yang bertanggung jawab dan pastikan itu ilegal atau legal ya, Dek. Terima kasih sebelumnya."
"Siap, Bang. Akan segera aku selidiki, tunggu sebentar ya, Bang. Aku tutup dulu, Assalamualaikum."
"Ya, Dek. Walaikumsalam."
Kapten William mengakhiri panggilan telponnya. Ia menoleh ke arah anggotanya yang ikut bersamanya.
Mereka menganggukan kepalanya.
"Begini, Bapak‑bapak, Ibu‑ibu... Saya datang ke sini karena saya berniat membantu memindahkan kalian ke tempat tinggal yang lebih aman dan layak huni. Apakah kalian setuju dengan rencana ini?" tanya Kapten William.
"Alhamdulillah... Ya Allah, Engkau sungguh bermurah hati, mengirimkan pertolongan bagi kami," seru warga dengan suara bergetar, bahkan ada yang langsung menundukkan wajah menyentuh tanah sebagai tanda syukur yang mendalam.
"Maaf...maaf... mohon maafkan kami, Pak Tentara. Bukan bermaksud mengabaikan pertanyaan Bapak tadi. Hati kami hanya penuh rasa bahagia dan tak menyangka. Saat kami sudah cemas akan segera digusur, justru datang kabar baik ini, kami akan mendapatkan tempat tinggal yang layak. Masya Allah, semoga kebaikan ini diberkahi," ucap mereka dengan suara bergetar haru.
Kapten William, Sertu Dimas, Serda Rudi dan Kopda Haris tersenyum bahagia. Melihat wajah-wajah yang cemas dan pucat tadi. Sekarang berubah berbinar karena akan mendapatkan tempat yang layak.
"Kalau boleh tau? Berapa jumlah kepala keluarga di Sini, Pak?" tanya Sertu Dimas.
"Ada empat puluh kepala keluarga, Pak," jawab Ketua itu.
"Boleh saya meminta salinan kartu keluarga kalian. Biar kami bisa membaginya. Doakan tempatnya selesai dibangun, sebelum jatah waktu kalian digusur," ucap Sertu Dimas lagi.
Hape Kapten William berbunyi dari kantong bajunya, ia segera mengambilnya dan memencet tombol hijau .
"Assalamualaikum, Dek."
"Waalaikumsalam, Bang. Itu adalah perusahaan berskala kecil yang berniat menguasai lahan itu semata demi keuntungan sendiri. Sebaiknya Abang usulkan agar warga tetap mendapatkan ganti rugi yang layak, meskipun nanti sudah kami sediakan tempat tinggal baru. Hak mereka harus tetap dipenuhi. Nanti saya akan mengirimkan berkas lengkap yang cukup kuat untuk menindak tegas pihak perusahaan itu," jelas sepupunya.
"Baiklah, Dek. Nanti akan saya sampaikan kepada warga, jika pihak perusahaan datang lagi, minta mereka menghubungi nomor teleponku saja. Terima kasih banyak atas bantuannya ya. Maaf sudah mengganggu waktumu bekerja. Assalamualaikum."
"Siap, Bang. Tenang saja, lagian aku juga sedang tidak sibuk saat ini. Waalaikumsalam."
Panggilan telepon baru saja terputus, saat Ketua RT itu datang membawa berkas berupa salinan Kartu Keluarga warga.
"Ini, Pak. Semuanya sudah saya siapkan, salinan Kartu Keluarga setiap keluarga di sini. Perkenalkan nama saya Rosid," ucapnya sambil menyerahkan tumpukan berkas itu kepada Kapten William.
Rombongan Kapten William langsung pamit setelah menerima salina kartu keluarga dan menyerahkan nomor telponnya kepada ketua itu.
**********
Rombongan Serma Yoga, sampai di depan rumahnya Pak RT.
"Selamat Siang," sapa mereka bertiga.
"Walaikumsalam, Silahkan masuk, Pak," jawab Bu RT.
Setelah ketiganya duduk, Bu RT menyapa ramah, "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Kami ingin bertemu dengan Bapak RT, apakah beliau ada di rumah, Bu?" tanya Serma Yoga.
"Tunggu sebentar ya, Pak. Saya hubungi dulu Pak RTnya, tadi beliau berpesan hendak berkeliling ke rumah warga," jawab Bu RT, lalu segera masuk ke dalam rumah untuk menelepon suaminya agar pulang ke rumah.
Tanpa menunggu lama datanglah Pak RT, lalu menyalami mereka bertiga. Bu RT membawakan minuman untuk mereka termasuk untuk suaminya.
"Maaf, Pak. Bisa saya bantu?" tanya Pak RT.
"Begini maksud kedatangan kami, Pak RT. Keluarga besar Kodam Jaya bekerja sama dengan keluarga Abraham dan Keluarga Adhitama berniat membangun perumahan layak bagi warga yang tinggal di bawah jembatan. Keinginan kami, lebih baik tenaga kerjanya diambil dari lingkungan sekitar Bapak. Apakah ada warga yang bekerja sebagai kontraktor, tukang, atau buruh bangunan? Siapa tahu ada yang membutuhkan pekerjaan, jadi kami lebih mengutamakan warga sini daripada mendatangkan orang dari tempat lain," jelas Serma Yoga.
"Alhamdulillah, sungguh terima kasih banyak atas kepedulian keluarga besar Kodam Jaya. Saya sangat berterima kasih karena Bapak sekalian mau mengutamakan warga saya. Kalau boleh saya tahu, kira‑kira berapa orang yang dibutuhkan, Pak?" tanya Pak RT dengan antusias.
"Begini saja, Pak RT. Lebih baik Bapak sampaikan kepada seluruh warga yang berminat ikut bekerja, baik yang bergerak di bidang pembangunan maupun tenaga kerja, untuk datang ke Markas Kodam nanti siang setelah jam makan. Nanti mereka bisa berbicara langsung dengan Kapten William. Beliau berhalangan hadir ke sini karena saat ini sedang menemui warga yang tinggal di kawasan bawah jembatan," jelas Serma Yoga.
alhamdulillah smoga apapun kedepannya nanti tak merubah ksh sayang dan kluarga besar mereka