NovelToon NovelToon
JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

​"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."

​Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".

​Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.

Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Topeng, Rahasia, dan Tamparan Realitas

​Lobi utama gedung BGC (Batavia Global Corporation) berdiri dengan megah, dilingkupi dinding kaca antipeluru yang menjulang tinggi, mencerminkan ambisi dan kekuasaan mutlak. Siang itu, atmosfer di dalam lobi terasa begitu dingin, sedingin rencana yang diletakkan di atas meja konspirasi.

​Sebuah taksi berhenti di pelataran luas gedung tersebut. Adrian dan Valerie turun dengan langkah yang diselimuti kecemasan, meskipun Valerie berusaha menutupinya dengan dandanannya yang mencolok dan gaya berjalan yang angkuh. Bagi Adrian, langkah ini adalah taruhan terakhir demi menyelamatkan Adiwangsa Logistik yang berada di ambang kehancuran.

​Namun, tepat di dekat pintu masuk otomatis yang besar, Valerie mendadak memperlambat langkahnya. Ia melirik Adrian yang berjalan beberapa langkah di depannya, lalu dengan cepat berbelit ke balik pilar beton besar. Ia mengeluarkan ponselnya, menekan sebuah nomor rahasia yang tidak pernah diketahui oleh keluarga Adiwangsa.

​Nomor milik Toni. Suami sahnya yang asli.

​"Halo, Mas," bisik Valerie, matanya bergerak liar mengawasi punggung Adrian yang terus melangkah maju. "Aku sekarang sudah di gedung BGC."

​Dari seberang telepon, suara Toni terdengar berat, penuh dengan nada menyelidik. "Oh, begitu... Jadi berita itu benar? Adiwangsa Grup memang sedang mengalami krisis keuangan yang parah?"

​Valerie mendengus geli, senyum culas terukir di bibirnya. "Ya, Mas. Parah sekali. Percuma juga kita ambil alih atau kuasai asetnya kalau perusahaan itu akhirnya bangkrut total. Aku sengaja membuat momen kehancuran ini agar si bodoh Adrian semakin percaya dan bergantung sepenuhnya kepadaku. Dia mengira aku adalah satu-satunya malaikat penyelamatnya saat ini."

​"Lalu bagaimana dengan rencana pernikahan kalian? Ibu Widya terus mendesak, kan?" tanya Toni, ada nada tidak suka yang terselip dalam suaranya.

​"Soal itu, tenang saja. Aku pasti akan membuat berbagai alasan untuk mengulur waktu. Atau... kalau terdesak, mungkin kita bisa mengadakan pernikahan palsu dengan dokumen sewaan. Yang penting, legalitas asetnya jatuh ke tangan kita terlebih dahulu."

​Toni terdiam sejenak sebelum memberikan peringatan keras. "Kamu harus ingat ya, Val... Kamu itu istriku! Jangan sampai kamu kebablasan dalam permainan ini."

​"Ya, Mas... Aku sangat paham," jawab Valerie dengan nada ditenangkan, meskipun di dalam hatinya ia tertawa meremehkan.

​"Kamu harus punya batasan, Valerie. Jangan biarkan pria itu menyentuhmu lebih dari sekadar akting."

​"Baik, Mas. Aku tahu batasan itu," ucap Valerie sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon sepihak.

​Toni yang berada di tempat lain sama sekali tidak pernah tahu, bahwa di balik topeng kesetiaan yang ditunjukkan Valerie, istrinya itu sudah beberapa kali tidur dan menikmati malam-malam panas bersama Adrian. Valerie memang seorang manipulator ulung, sekaligus wanita penikmat tubuh laki-laki yang ia sukai. Baginya, pernikahan dengan Toni adalah urusan bisnis jangka panjang, sementara Adrian adalah pemuas dahaga gairah sekaligus lumbung uang yang sedang ia kuras habis.

​Pertemuan di Ambang Pintu Utama

​Sementara Valerie sibuk dengan konspirasi teleponnya, Adrian sudah melangkah melewati pintu sensor otomatis. Namun, tepat ketika ia melangkah masuk, seorang wanita berbusana formal yang sangat elegan melangkah keluar secara bersamaan. Wanita itu mengenakan kemeja sutra berkerah tinggi, dipadukan dengan setelan jas desainer yang melekat sempurna di tubuhnya yang proporsional. Kacamata hitam besar bertengger di hidung mancungnya.

​Saat wanita itu melepaskan kacamata hitamnya, langkah kaki Adrian seketika terpaku di atas lantai marmer. Matanya membelalak sempurna, wajahnya mendadak pias seperti kehilangan seluruh pasokan darah.

​Wajah itu. Gurat mata itu.

​"Aruna...?!" tanya Adrian dengan suara bergetar hebat. Langkahnya maju satu kali dengan tidak sabar. "Kamu... kamu masih hidup?!"

​Wanita yang dipanggil Aruna—yang kini telah menjelma menjadi Kirana—menghentikan langkahnya. Ia menatap Adrian dengan tatapan yang sangat datar, kosong, dan dipenuhi dengan aura keterasingan yang luar biasa. Tidak ada ketakutan, tidak ada duka, hanya ada ketenangan seorang penguasa.

​"Maaf, Anda siapa ya?" tanya Kirana dengan nada suara yang sengaja diatur begitu asing, dingin, dan penuh jarak.

​Adrian menggelengkan kepalanya kuat-kuat, meremas rambutnya sendiri yang mendadak terasa pening. "Aku tahu tidak semudah itu kamu mati, Aruna! Kecelakaan itu... jurang itu... kamu pasti sengaja memalsukannya! Kamu masih hidup dan sekarang berdiri di depanku. Kamu melakukan ini semua karena kamu masih mencintai aku, kan?! Kamu ingin aku memohon padamu?!"

​Kirana mengembuskan napas pelan, seolah-olah sedang menghadapi seorang pengganggu jalanan yang tidak penting. "Maaf, Tuan. Anda salah orang. Saya bukan Aruna yang Anda maksud."

​"Bohong! Kamu pasti bohong!" bentak Adrian, suaranya mulai memancing perhatian beberapa petugas keamanan di lobi. "Mana mungkin aku tidak mengenali mantan istriku sendiri! Wajahmu, suaramu, bahkan caramu menatapku... kamu adalah Aruna!"

​Kirana menaikkan satu alisnya, lalu sebuah senyuman tipis yang sarat akan penghinaan tersirat di bibirnya. "Mantan istri...?"

​"Ya, benar! Kamu Aruna, mantan istriku!"

​"Hmm... konyol sekali," sahut Kirana dengan nada meremehkan. "Anda sedang berhalusinasi, Tuan. Mungkin Anda belum bisa menerima kenyataan atas kehilangannya, sehingga menganggap setiap wanita yang mirip dengannya sebagai mantan istri Anda. Saya sarankan Anda segera menemui psikiater."

​"Tidak! Kamu sedang berakting, kan?! Kamu sengaja berpura-pura tidak kenal untuk menghukumku!" Adrian didera kepanikan yang luar biasa antara rasa bersalah dan ego yang menolak kenyataan.

​"Terserah Anda," jawab Kirana acuh tak acuh, hendak melangkah pergi.

​Kedatangan Valerie dan Hinaan yang Berbalik

​"Hah! Si dekil ada di sini?!"

​Suara melengking Valerie tiba-tiba memotong perdebatan. Wanita itu baru saja menyusul dan langsung didera rasa syok yang sama melihat sosok di depan Adrian. Namun, bukannya merasa bersalah, wajah Valerie justru dipenuhi dengan kebencian dan rasa dengki yang membakar. "Bukannya kamu sudah mati?!"

​Kirana membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Valerie dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan yang sangat elegan. "Kamu siapa berani mengatakan hal sekasar itu di area kantor ini?"

​Valerie berkacak pinggang, melangkah maju dengan angkuh untuk berdiri di samping Adrian. "Aku tahu sekarang! Kamu sengaja bikin skenario kematian palsu agar Mas Adrian merasa kehilangan kamu, kan? Kamu mau mengemis perhatian lagi?!"

​"Heuh, ngaco!" jawab Kirana singkat, menggelengkan kepala melihat kedangkalan berpikir wanita di hadapannya.

​"Aku tahu kamu belum move on, kan?!" cecar Valerie lagi dengan suara yang semakin meninggi, didera ketakutan jika posisi barunya terancam. "Jadi kamu ingin menggunakan trik tarik ulur ini dengan Mas Adrian? Biar kamu tahu ya, Mas Adrian akan segera menikah denganku!"

​Kirana bersedekap dada, wajahnya tetap tenang tanpa riak emosi sedikit pun. "Terserah kalian berdua. Aku sudah katakan berkali-kali, aku bukan Aruna."

​"Kalau kamu bukan Aruna, lalu kamu siapa?!" tagih Adrian, matanya masih menuntut jawaban yang memuaskan egonya.

​Sebelum Kirana sempat menjawab, sebuah langkah tegap terdengar dari arah belakang. Martin, dengan setelan jas hitamnya yang rapi dan aura tegas, muncul sambil membawa sebuah kunci mobil mewah di tangannya.

​"Nona Kirana... ayo, mobil sudah siap di depan," ajak Martin dengan sikap hormat yang sangat patuh dan berkelas.

​Valerie yang melihat kehadiran Martin langsung tertawa sinis, sebuah tawa mengejek yang memuakkan. "Hah... kebetulan sekali! Ternyata kamu sama dia?! Jodoh yang sangat cocok! Wanita miskin memang cocok bersanding dengan seorang sopir!"

​Adrian mengerutkan dahi, menoleh ke arah Valerie dengan bingung. "Val... kamu kenal dengan pria ini?"

​"Dia mantan pacarku, Mas!" beber Valerie dengan kebohongan untuk menutupi kenyataan bahwa dirinyalah yang dulu berselingkuh.

​Martin yang sejak tadi diam, kini melangkah maju tegap, menempatkan dirinya di depan Kirana layaknya perisai yang kokoh. Tatapannya menusuk tajam ke arah Adrian dan Valerie. "Maaf, kami tidak melayani manusia brengsek seperti kalian."

​Pembalasan yang Instan

​"Kamu berani ya?! Sopir saja belagu!" teriak Adrian yang merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang yang ia anggap berada di kelas rendah.

​Dengan emosi yang menyala, Adrian melayangkan sebuah pukulan mentah ke arah wajah Martin. Namun, gerakan Adrian terlalu lambat dan ceroboh. Tanpa bersusah payah, Martin menangkap bogem mentah Adrian tepat di depan wajahnya. Cengkeraman tangan Martin seperti catut besi, langsung memelintir lengan Adrian ke belakang tubuhnya dengan satu gerakan taktis.

​Krek.

​"Aduh... duh! Sakit!!" teriak Adrian meringis kesakitan, tubuhnya terpaksa membungkuk dalam menahan ngilu pada sendi bahunya yang hampir copot.

​Martin melepaskan cengkeramannya dengan satu sentakan kasar, membuat Adrian terhuyung mundur dan hampir jatuh jika tidak ditahan oleh Valerie.

​"Jadi kamu lepas dariku sekarang malah dapat sopir, Aruna?!" ejek Adrian lagi sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah, masih mencoba menyerang dengan kata-kata.

​"Terserah Anda," sahut Kirana dengan senyum dingin.

​"Aku jelas jauh lebih baik dari dia, Aruna! Aku kaya, sedangkan dia... heuh, gembel!" sombong Adrian dengan napas memburu.

​Mendengar hal itu, Kirana tidak membalas dengan amarah. Sebaliknya, dia melangkah mendekat dan dengan sangat manis, Kirana merangkul lengan kokoh Martin, menyandarkan sedikit tubuhnya pada pria tersebut di depan mata Adrian.

​Martin sempat melihat ke arah Kirana dengan tatapan agak ragu dan terkejut atas tindakan spontan tersebut, namun sedetik kemudian, seulas senyuman hangat dan puas terbit di wajah tampannya. Ia membiarkan dirinya menjadi tempat bersandar sang Ratu.

​"Sekali lagi aku katakan pada Anda, Tuan... Aku bukan Aruna. Aku ini kirana," tegas Kirana dengan penekanan yang mutlak. "Dan ini... adalah calon suamiku."

​Wajah Adrian seketika menggelap menahan rasa cemburu dan hina yang luar biasa melihat mantan istrinya—atau wanita yang sangat mirip Aruna itu—merangkul pria lain dengan penuh kemesraan.

​"Aku tahu, Adiwangsa Grup saat ini sedang butuh dana kan?" tebak Kirana dengan nada datar namun menghancurkan.

​Adrian tersentak. "Kamu... kamu tahu darimana?! Pasti kamu Aruna! Tenang saja, jangan sombong dulu. Aku sudah punya dana segar. BGC Group akan menyuntikkan dananya untuk perusahaanku!"

​Kirana melepaskan rangkulannya dari Martin, lalu menatap Adrian dengan tatapan kasihan yang teramat sangat. "BGC Group... tidak akan pernah memberikan dananya untuk perusahaan kalian."

​"Sok tahu kamu, wanita sialan!" teriak Valerie yang sudah kehilangan kesabaran dan kendali diri. Dengan kecepatan penuh, Valerie maju dan hendak menampar pipi Kirana.

​Namun, gerakan Valerie terlalu lambat. Sebelum telapak tangan Valerie mampu menyentuh kulit Kirana, sebuah gerakan secepat kilat terjadi. Tangan Martin yang besar dan kuat lebih cepat tiba di pipi Valerie.

​Plak...!!

​Suara tamparan yang sangat keras dan nyaring bergema di dalam lobi. Tubuh Valerie seketika terhuyung dan terjatuh di atas lantai marmer, memegangi pipinya yang seketika berubah menjadi merah padam dan terasa panas.

​"Kamu... kamu berani tampar aku?!" jerit Valerie dengan suara melengking penuh histeris dan air mata kejutan.

​Martin menatap Valerie dengan tatapan dingin tanpa penyesalan sedikit pun. "Siapa pun yang mencoba menyentuh Nona Kirana, harus melewati saya terlebih dahulu."

​"Ayo, Nona Kirana... Jangan ladeni mereka. Kita punya urusan lebih penting," kata Martin dengan sopan, kembali berubah menjadi ajudan berkelas di depan Kirana.

​Kirana tersenyum manis, melirik sekilas ke arah Adrian yang sedang memeluk Valerie yang menangis histeris di lantai. Dengan langkah angkuh dan berwibawa, Kirana dan Martin berjalan melewati mereka begitu saja, meninggalkan Adrian di dalam kemarahan dan teka-teki yang mulai membakar jiwanya. Adrian tidak pernah menyadarinya, bahwa wanita yang baru saja dia hina itu adalah Direktur Utama BGC yang baru, wanita yang memegang kunci hidup dan mati dari Adiwangsa Logistik.

1
Ayudya
ayo Martin Pepet terus tunangan kecil kamu🥰🥰🥰🥰🥰
Ayudya
ayo Kirana hancur Adrian secara berlahan🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
cie cie yg lagi cemburu
Katumbiri Lazuardi: biasa kalau cemburu begitu.. jual.mahal.. padahal bucin
total 1 replies
Ayudya
mampir kak
Katumbiri Lazuardi: jangan lupa j
ikuti ya kak,,
total 2 replies
Ayudya
Adrian jangan songong kamu.ntar lagi juga kamu akan hancur🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
panik ya🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
ga sabar lihat Adrian dan jalannya hancur🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
semangat Aruna dan kamu harus balas semua rasa sakit yg mereka berikan ke kamu🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
dasar manusia paknat kamu adrian.tqpi ya nikmati aja lah dulu masa masa kamu sekarang.kareba ntar lagi kamu dan gundik mu akan hancur di aruna🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
ayo Aruna cari semua bukti atas kejahatan Adrian supaya kamu ga di pandang rendah lagi🥰🥰🥰🥰🥰
Ayudya
buat Adrian Valeri nikmati lah masa jaya kalian tuk saat ini sebelum kalian jadi gembel🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Katumbiri Lazuardi: ma kasih atas komennya kak.. sehat selalu
total 1 replies
Ayudya
aruna jangan mau lagi di tindas.tunjukan bawah kamu bisa lebih badas dan tangguh 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Katumbiri Lazuardi: ya kak, nanti di bab selanjutnya.. jangan lupa like dan subcribe ya kak
total 1 replies
Jetva
Manusia klo terlalu angkuh + dengki => hidup namun mati.....upah dosa adalah maut....😔
Katumbiri Lazuardi: bener banget kak... jan lupa subcribe kak yah🙏🙏
total 1 replies
Katumbiri Lazuardi
berikan saran dan kritiknya ya teman-teman
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!