"Daddy, bagaimana bisa menjodohkan Lily dengan pria Arogan itu?" pertanyaan Lily meronta-ronta di hadapan Daddy-nya menunjuk Lucas yang duduk disofa dengan wajah datarnya.
"Lucas itu pria yang baik, Daddy sudah menjodohkan kalian sejak kecil" pernyataan Daddy menatap Lucas yang sejak kecilnya sudah dia anggap seperti anak sendiri.
"Sejak kecil apanya, Lily baru lahir dia sudah tua" komplen Lily, selain terkenal arogan Lucas juga beda 8 tahun darinya.
"Lily menolak perjodohan dengan pria Arogan itu" pernyataan Lily.
"Berani kamu menolak saya?" pertanyaan Lucas dengan suara beratnya.
Yuk baca cerita Lily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 Menghancurkan Ruangan Lucas
"Berbagi tempat apa?, emang Lily punya tempat disini?" pertanyaan Lily dengan polos.
"Tentu saja, Nyonya adalah Nyonya rumah ini dan merupakan wanita paling utama, kalau Tuan nikah lagi Nyonya rumah ini jadi ada dua" ucap Dave.
"Perintah nya juga akan jadi mutlak seperti keputusan Tuan, dia juga bisa melarang Nyonya makan banyak" ucap Dave yang membuat Lily langsung meradang ketika dia mengatakan dilarang makan banyak.
"Terus Tuan bakalan tidur gantian nggak sama Nyonya aja, masa tubuh Tuan semantap itu Nyonya mau berbagi" kata Dave terus mengucapkan kalimat provokasi.
" Ooooh iya, satu lagi, uang belanja Nyonya di bagi dua juga" tambah Dave yang membuat Lily langsung meronta-ronta.
"Tapikan Kak Lucas orang kaya, masa uang jajan Lily di bagi juga sama istri kedua nya?" pertanyaan Lily merasa itu tidak mungkin.
" Loh Nyonya tidak tau poligami harus adil, misalkan Tuan beli makanan dua ya harus di bagi, nggak boleh Nyonya habisin sendiri" ucap Dave.
" Haaaa, Lily kan nggak kenyang kalau cuma makan satu" rengek Lily.
"Kalau memang begitu kenapa Nyonya menyuruh Tuan menikah jika berbagi makanan saja tidak mau?" pertanyaan Dave yang ingat sekali ekspresi wajah Lily ketika Lucas menyuruhnya membagi satu paper bag pada Alena.
"Mmmm, gimana kalau Kak Lucas jadi beneran mau nikah?" panik Lily jadi takut juga.
"Mmmmh, tapikan Lily bisa pulang kerumah, dirumah utama Lily jadi princess bisa makan apapun, tidak perlu bersaing" kata Lily yang langsung lega begitu teringat keluarga sangat menyayangi nya.
"Lagipula untuk apa bersaing dengan istri kedua Kak Lucas nanti, Lily punya segalanya dan tidak ada yang perlu Lily perebutkan" kata Lily.
"Cinta, Nyonya harus memperebutkan cinta" kata Dave memberikan satu alasan.
Hahahahaha
Tawa Lily benar-benar bergema kemana-mana sampai orang seisi rumah heran.
"Cinta dari keluarga saja sudah melimpah, ngapain Lily memperebutkan cinta dari orang yang bahkan menyukai Lily saja tidak" tawa Lily.
"Kak Dave, Lily itu berasal dari keluarga yang tangki cintanya udah full, Lily kalau ada pria yang nyakitin hati yaudah anggap saja belum rezeki" kata Lily dengan realistis.
"Okey, berarti Nyonya rela melihat Tuan Lucas bersama wanita lain?" pertanyaan Dave.
Lily tidak menjawab nya dan berlari menaiki tangga dengan senang karena sudah kenyang.
"Ternyata secara mental anak yang lahir dari keluarga cemara berbeda ya, dengan anak yang kurang kasih sayang bahkan harus mengemis untuk sekedar merasakan kenyamanan" ucap Alena mengusap air matanya.
"Tentu saja berbeda, "
............
Sesampai dikamar Lily mengganti gaun nya dengan piyama dan mengetuk pintu ruang kerja Lukas yang ada didalam kamar.
Karena Lucas tidak menjawab Lily langsung membuka saja dan mendapati Lucas tengah bekerja.
"Ayo tidur Kak" ajak Lily menghampiri Lucas dengan kedua tangan dibelakang.
"Aku tidur dirumah istri keduaku" ketus Lucas tersenyum kecut.
"Mmmmh, Ayo tidur" rengek Lily mendekat dan memegang lengan Lucas.
"Lepas" kata Lucas menarik tangannya yang di peluk Lily.
" Ayo tidur" kata Lily masih menarik dan tidak mau melepaskan tangan Lucas.
" Akkkkh" teriak Lily yang jatuh terduduk di lantai ketika Lucas menarik tangannya dengan kuat membuat Lily kehilangan keseimbangan.
"Am, ampun, Kak," takut Lily yang sudah terduduk di lantai itu ketika Lucas berdiri di hadapan nya.
"Lily, nggak, ganggu Kakak lagi" kata Lily ketakutan sampai merangkak untuk menjauh.
Seolah ingatan masa lalu disaat Lucas mendorong nya setelah Lily menganggu kembali.
Lucas berjongkok dan menggendong Lily lalu membawanya didalam kamar.
"Kak, ampun, jangan, jangan, hukum Lily" takut Lily sampai menangis ketika Lucas yang berjalan itu hanya diam saja.
Lucas menaruh Lily diatas ranjang dan ikut berbaring.
"Tidurlah," ucap Lucas mengusap air mata Lily dan menyelimuti nya.
"Hiks, Kak" Lily malah mewek ketika Lucas sama sekali tidak memarahinya.
"Kenapa menangis?, ada yang sakit?" Lucas langsung duduk dan memeriksa kaki Lily karena tadi dia sempat jatuh.
"Lily katakan, apa kaki kamu rasanya terkilir?" cemas Lucas yang tidak menemukan memar apapun.
"Nggak" jawab Lily dengan suara kecil.
"Kalau begitu kenapa menangis?" pertanyaan Lucas mengusap air matanya di pipi Lily sampai bersih.
"Lily takut Kak Lucas marah, karena udah ganggu" suara serak Lily yang tadi padahal hanya ingin mengajak Lucas tidur tapi saat Lucas menolak Lily tanpa sadar memaksa sampai menarik tangan Lucas.
"Aku akan marah jika kamu masih memanggil aku Kakak" pernyataan Lucas.
"Maaf By" ucap Lily meralat.
"Tidurlah" ucap Lucas berbaring telentang dan menarik selimut.
"Hubby, maafin Lily kan?" tanya Lily setelah beberapa saat namun Lucas hanya diam sepertinya sudah tidur.
...........
1 Minggu kemudian.
Sejak malam itu sikap Lucas berubah total pada Lily, Lucas tidak marah ataupun ketus tapi benar-benar mendiami Lily.
Dia tidak pernah menegur ataupun melarang Lily melakukan apapun, Lucas hanya diam.
"Hwaaa," Lily sudah tantrum didalam ruangan kerja Lucas bahkan mengacak-acak semua barang.
"Nyonya" cegah Dave ketika Lily akan membanting sebuah trofi penghargaan yang dipajang diruangan Lucas.
Lily membanting dan juga memecah vas bahkan barang-barang seperti orang stress, bagaimana tidak stress Lucas sama sekali tidak bicara dan benar-benar membiarkan saja Lily mau melakukan apapun.
Tidak marah juga!.
Lucas hanya melirik sekilas lalu kembali sibuk dengan laptopnya tanpa berkomentar apa-apa sekalipun Lily sudah membuat ruangan nya seperti kapal pecah.
"Dave siapkan dokumen meeting 10 menit lagi dimulai" perintah Lucas yang diangguki Dave.
"Hubby kenapa sih, diam aja, nggak mau ngomong sama Lily, kalau Lily salah marahin aja" kata Lily yang sudah tidak tahan didiami Lucas sejak seminggu yang lalu.
"Kalau Lily salah, Lily minta maaf" kata Lily menghampiri Lucas.
Setelah seminggu ini didiami Lucas benar-benar membuat Lily tidak tau harus apa, pria itu sama sekali tidak marah ataupun berkomentar apa-apa walaupun Lily sengaja memancingnya seperti sekarang.
Lucas masih enggan bicara dan memilih berjalan pergi.
"Hwaaaa" Lily meronta-ronta dan duduk menendang barang-barang diatas lantai.
"Berani melukai diri sendiri tidak usah bertemu denganku lagi" ucap Lucas ketika melihat Lily mengambil pecahan beling.
"Hwaaa, terus Lily harus apa" tangis Lily berbaring di atas lantai dan menangis sejadi-jadinya.
Lily tidak tau persis salahnya apa, tapi semenjak malam itu Lucas benar-benar diam seribu bahasa bahkan tidak pernah bicara pada Lily sama sekali.
Lily yang merasa tidak tahan, datang ke perusahaan Lucas tapi tetap saja pria itu diam makanya Lily menghancurkan ruangan nya agar pria itu bicara padanya walaupun marah.
"Lily," ucap keempat orang tua mereka yang datang kaget melihat kondisi ruangan Lucas sudah seperti kapal pecah, Lucas hanya berdiri diam dengan wajah dinginnya sementara Lily menangis berbaring dilantai.
"Lucas, kenapa membiarkan Lily menghancurkan ruanganmu?" pertanyaan Daddy yang tau pasti putrinya yang sudah mengacak-acak ruangan Lucas.