Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.
Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.
Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20. Respect
Matahari pagi baru saja memancarkan sinarnya yang hangat ke sela-sela jendela. Di kamarnya, Nathan yang baru saja bangun tidur langsung meraih ponsel dengan kebiasaan barunya—ingin segera mendengar suara Acha untuk memastikan kondisi gadis itu setelah insiden pingsan kemarin.
Tanpa buang waktu, Nathan langsung menekan nomor telponnya Acha.
Tuuut... tuuut...
Panggilan terhubung, namun alih-alih suara parau khas orang bangun tidur seperti biasa, suara bising khas salon kecantikan langsung memenuhi telinga Nathan. Ada suara angin hairdryer, musik latar, dan obrolan orang-orang di sana.
"Halo, A Nathan?" suara Acha terdengar menyapa, sedikit tergesa-gesa.
Alis Nathan langsung bertaut sebelah, rasa khawatirnya seketika menyeruak. "Halo, Cha. Kamu di mana? Kok berisik banget kayak di pasar?" tanyanya dengan nada cemas.
"Oh, aku lagi di salon nih, A! Hehe... Maaf ya baru angkat. Soalnya hari ini aku lagi sibuk banget, ada acara keluarga penting," jawab Acha menjelaskan.
"Acara keluarga? Acara apa, Cha? Bukannya kemarin kamu baru aja drop dan disuruh dokter istirahat total yah?" protes Nathan, nada suaranya mulai meninggi karena khawatir.
"Iya, tapi ini penting banget, A. Hari ini adik aku, mau merayakan kelulusannya. Kami mau ke studio foto buat foto keluarga pakai baju toga, terus lanjut acara syukuran kecil-kecilan di rumah. Ini aku lagi di salon bareng sama Mamah dan adik aku buat tata rias wajah."
Mendengar penjelasan itu, dada Nathan mendadak terasa sesak oleh rasa khawatir. Bayangan Acha yang pingsan di minimarket kemarin masih terbayang jelas di kepalanya.
Tubuh gadis itu bahkan belum pulih sepenuhnya, tetapi sekarang sudah harus beraktivitas seharian penuh dengan jadwal yang padat.
"Acha, dengerin aku..." ucap Nathan dengan nada serius dan protektif.
"Badan kamu kan baru aja kemarin drop, belum sembuh total, Cha. Kenapa dipaksain ikut acara seharian sih? Kalau nanti kamu pingsan lagi gimana?"
Di ujung telepon, Acha tersenyum tipis, merasa terharu sekaligus gemas dengan kepedulian Nathan yang begitu berlebihan.
"Duh, Aa sayang... eh, maksudnya Aa, aku nggak apa-apa beneran! Ini acara adik aku, nggak mungkin aku batalin lagi, setelah waktu itu pas acara kelulusannya harus batal di rayain gara-gara aku sakit. Tenang aja, aku bakal jaga diri kok. Nanti kalau capek, aku pasti istirahat."
"Tapi—"
Klik.
Sebelum Nathan sempat melarang lebih jauh, Acha buru-buru mematikan sambungan teleponnya dengan alasan harus segera dirias oleh perias salon.
Meninggalkan Nathan yang mondar-mandir di kamarnya dengan perasaan gelisah dan cemas setengah mati memikirkan kondisi kekasih hatinya itu.
Nathan menatap layar ponselnya yang kini menampilkan panggilan yang telah berakhir. Napasnya menderu tertahan. Pria itu berdecak sebal sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bisa-bisanya dia main matiin telepon gitu aja di saat aku lagi mengkhawatirkannya!" gumam Nathan kesal, mondar-mandir di kamarnya dengan raut wajah cemas yang teramat sangat.
Rasa jengkel karena panggilannya diputus secara sepihak bergemuruh di dadanya. Namun, di sisi lain, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Nathan sadar sepenuhnya bahwa ini adalah hari penting bagi keluarga Acha—acara kelulusan sang adik, Fitri. Dia tidak mungkin egois dengan memaksa Acha untuk tinggal di kosan demi menuruti rasa khawatirnya.
Pada akhirnya, kemarahan Nathan meleleh begitu saja, menyisakan kecemasan yang mendalam. Dia hanya bisa menghela napas panjang dan pasrah, berdoa dalam hati agar Acha baik-baik saja dan tidak kembali drop di tengah acara.
Sementara itu, di dalam sebuah salon kecantikan yang ramai, Acha baru saja menjauhkan ponsel dari telinganya dengan pipi yang merona merah padam.
Jantungnya berdetak begitu kencang, menggila, dan sama sekali tidak mau beraturan.
Suara Nathan yang sempat keceplosan memanggilnya dengan nada cemas—serta panggilan kesayangan yang nyaris lolos dari bibir pria itu tadi—terus berputar-putar di dalam kepalanya.
Acha menempelkan kedua telapak tangannya ke pipinya yang terasa panas membara, mencoba meredakan salah tingkah yang luar biasa hebat.
"Duh, Acha... fokus! Jangan baper mulu!" batinnya
Acha merutuki dirinya sendiri sambil tersenyum-senyum sendiri di depan cermin meja rias, membuat sang perias salon menatapnya heran.
Meski mencoba mengalihkan pikirannya pada acara perayaan wisuda Fitri yang sempat di undur, bayangan perhatian tulus Nathan hari itu benar-benar sukses membuat hari Acha berbunga-bunga sejak pagi buta.
Di sudut ruangan salon yang dipenuhi aroma wangi produk tata rias wajah, Ranti dan Fitri yang masih mengenakan toga wisudanya sedang duduk bersebelahan di kursi tunggu sambil memperhatikan Acha yang baru saja selesai dirias.
Melihat ekspresi Acha yang sejak tadi senyum-senyum sendiri sambil memegang pipinya yang merona, Ranti dan Fitri langsung saling bertukar pandang penuh arti.
Sebagai ibu dan adik yang sangat mengenal Acha, mereka tentu tahu betul ada yang sedang disembunyikan oleh gadis itu.
"Ehem! Anak gadis Mamah tumben banget habis teleponan mukanya merah kayak kepiting rebus gitu," goda Ranti sambil melirik tajam penuh selidik.
"Lagi teleponan sama siapa sih, Cha? Pagi-pagi udah senyam-senyum sendiri."
Fitri ikut menimpali dengan nada usil khas anak muda. "Iya nih, Teh. Jangan-jangan lagi teleponan sama A Nathan ya? Ih, curang banget, pacar ganteng begitu kok nggak diajak ke acara keluarga kita hari ini? Padahal kan seru kalau dia ikut foto studio bareng kita pakai toga!"
Mendengar ledekan bertubi-tubi dari mamah dan adiknya, pipi Acha yang tadinya sudah merona kini semakin panas membakar hingga menjalar sampai ke leher.
Jantungnya yang tadinya belum beraturan akibat telepon Nathan kini kembali berdegup kencang karena salah tingkah luar biasa.
"Ih, Apaan sih, Mah, Fitri! Ngawur banget deh!" sanggah Acha dengan suara protes setengah berbisik, berusaha menyembunyikan rasa malunya mati-matian.
"Orang cuma teman, kok! Mana ada diajak ke acara keluarga segala!"
"Dih, ngeles aja loh padahal matanya nggak bisa bohong tuh!" tawa Fitri semakin menjadi-jadi, menggoda kakaknya habis-habisan.
Karena sudah tidak tahan menahan rasa malu yang teramat sangat akibat digoda terus-menerus, Acha akhirnya menyerah. Dengan wajah cemberut namun bersemu merah, dia berbalik meninggalkan Ranti dan Fitri.
"Udah ah, kalian nyebelin banget! Aku mau ke toilet dulu!" seru Acha buru-buru, melangkah cepat meninggalkan ibunya dan sang adik yang masih terus tertawa renyah, menikmati momen manis melihat Acha yang tengah kasmaran jatuh cinta.
Melihat punggung Acha yang tergesa-gesa melangkah menjauh menuju arah toilet, tawa kecil di bibir Ranti dan Fitri perlahan mereda.
Suasana di sudut salon itu mendadak menjadi lebih tenang, menyisakan kehangatan sekaligus secercah guratan kekhawatiran di wajah sang ibu.
Ranti menghela napas pelan, menatap ke arah pintu toilet tempat Acha tadi menghilang. Senyuman di wajahnya berganti dengan tatapan sendu penuh harap.
"Duh, anak itu... kalau udah malu pasti langsung kabur," gumam Ranti lembut, lalu menoleh ke arah Fitri yang masih merapikan selempang toganya.
"Tapi jujur, Fit... Mamah senang lihat Acha bisa ceria dan senyum-senyum lagi kayak tadi. Jarang-jarang kan dia kelihatan sebahagia itu akhir-akhir ini?"
Fitri mengangguk setuju, ekspresi usil di wajahnya perlahan berubah serius. "Iya, Mah. Fitri juga notice banget. Semenjak insiden sama Raka dulu, Teh Acha kan jadi tertutup banget soal cowok, trauma berat rasanya pas dia ditinggal pas lagi sayang-sayangnya."
Mendengar nama Raka disebut, bayangan masa lalu yang menyakitkan kembali melintas di benak Ranti.
Mantan kekasih Acha itu memang telah meninggalkan luka dan trauma mendalam bagi putrinya akibat pengkhianatan di masa lalu. Sebuah kegagalan cinta yang membuat Acha sempat menutup pintu hatinya rapat-rapat.
Ranti merangkul bahu anak bungsunya itu erat-erat, menyandarkan kepala Fitri ke pundaknya. Matanya menerawang jauh, memanjatkan doa tulus dalam hatinya.
"Mamah cuma berharap... semoga laki-laki yang sekarang sedang dekat sama Acha itu, beneran jadi yang terbaik buat dia," ucap Ranti dengan suara lirih namun penuh keyakinan seorang ibu.
"Semoga dia tulus, serius mau membimbing Acha, dan nggak bakal mengulang luka yang sama seperti Raka. Acha udah terlalu sering patah hati, dia berhak untuk bahagia selamanya."
Fitri mengangguk mantap sambil menggenggam tangan mamahnya. "Amin, Mah. Semoga A Nathan memang pria baik yang dikirim Tuhan buat jaga Teh Acha yah."
Sementara itu, di tempat kerja yang jauh dari lokasi Acha, suasana hati Nathan sedang tidak keruan. Pria itu sama sekali tidak bisa fokus pada pekerjaannya hari ini.
Tumpukan tatak sandal yang ada di atas meja kerjanya dibiarkan menumpuk begitu saja, sementara layar handphonenya menyala tanpa benar-benar dia perhatikan.
Pikiran Nathan sepenuhnya tersita pada gadis yang sejak pagi tadi menguasai isi kepalanya. Sejak sambungan telepon mereka terputus secara sepihak tadi pagi, Nathan tidak berhenti merasa gelisah.
Dia langsung mengambil ponselnya dan mencoba kembali menghubungi nomor Acha.
Tuuut... tuuut...
Namun, tidak ada jawaban. Suara operator wanita yang dingin langsung menyambut telinganya, menyatakan bahwa nomor tersebut sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Nathan mengerang tertahan, menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi kerja sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa cemas yang menggunung di dadanya semakin menjadi-jadi.
"Duh, ke mana sih, Cha? Kenapa handphone-nya malah dimatikan atau nggak aktif gini?" gumam Nathan cemas, mondar-mandir di ruang kerjanya dengan perasaan tidak tenang.
Bayangan Acha yang sempat pingsan di minimarket kemarin kembali berputar liar di kepalanya. Ditambah lagi fakta bahwa pagi ini kondisi tubuh Acha sebenarnya belum pulih sepenuhnya.
Membuat Nathan dihantui rasa takut kalau-kalau gadis itu kembali jatuh sakit atau pingsan di tengah acara keluarganya tanpa ada yang bisa dihubungi. Ketidak pastian dan ketiadaan kabar itu benar-benar membuat Nathan merasa tersiksa sepanjang hari.
Rasa gelisah yang kian mencekam dadanya akhirnya membuat Nathan tidak tahan lagi. Jam di dinding ruang kerjanya baru menunjukkan pukul siang menuju sore, tetapi pikirannya sudah dipenuhi skenario terburuk tentang keadaan Acha.
Tanpa pikir panjang lagi, Nathan langsung menyambar kunci motor dan jaketnya. Dia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya lebih awal dan melajukan kendaraannya langsung menuju minimarket tempat Acha bekerja.
Dia berharap setidaknya rekan-rekan kerja Acha—Vika, Amina, atau Tasya—tahu kabar terbaru mengenai keberadaan gadis itu.
Setibanya di minimarket, Nathan langsung memarkirkan motornya dengan tergesa-gesa dan melangkah masuk ke dalam toko.
Suasana minimarket terlihat cukup ramai oleh pembeli, namun Nathan sama sekali tidak peduli. Matanya langsung menyapu area kasir dan lorong toko hingga akhirnya dia mendapati Vika, Amina, dan Tasya yang sedang bertugas.
Melihat kedatangan Nathan yang tiba-tiba dengan napas memburu dan raut wajah penuh kepanikan, ketiga gadis itu langsung menghentikan pekerjaan mereka.
"Eh, A Nathan? Cari Acha ya?" tanya Amina langsung, mendahului langkah Nathan yang mendekati meja kasir.
Nathan mengangguk cepat, tangannya mencengkeram tepi meja kasir dengan erat.
"Iya,! Acha mana? Dia nggak masuk kerja hari ini kan, karena izin acara keluarga. Tapi dari tadi pagi handphone-nya nggak aktif sama sekali, dihubungi nggak bisa. Kalian... kalian ada yang tahu kabar dia sekarang? Dia baik-baik saja kan?" tanyanya memberondong dengan nada suara yang sarat akan kecemasan luar biasa.
Vika, Amina, dan Tasya saling berpandangan sejenak. Kerutan di dahi mereka langsung terbentuk, menunjukkan ekspresi kebingungan yang sama.
Vika menggelengkan kepalanya pelan. "Duh, A Nathan... kita berdua juga nggak tahu kabar Acha sekarang. Dari pagi tadi emang dia nggak ngabari kita ke grup karena fokus acara keluarganya kali. Kita kira dia baik-baik saja di sana."
"Iya, Mas. Terakhir tahu ya pas dia pamit mau ikut foto wisuda adiknya sama keluarganya di salon," timpal Tasya menambahkan dengan nada cemas.
Mendengar jawaban itu, raut wajah Nathan semakin menegang. Jantungnya berdegup semakin kencang.
Jika rekan-rekan kerjanya saja tidak tahu kabar Acha sedari tadi, rasa takut kalau sesuatu yang buruk terjadi kepada Acha akibat tubuhnya yang belum pulih total kini kian mendominasi isi kepalanya.
Dadanya bergemuruh hebat. Rasanya seperti ada batu besar yang menimpa rongga dadanya, membuat setiap embusan napas Nathan terasa begitu berat dan sesak.
Ketiadaan kabar dari Acha sejak tadi pagi, ditambah ponsel yang tidak aktif dan ketidaktahuan rekan-rekan kerjanya, sukses membuat akal sehat Nathan tersapu oleh gelombang panik yang teramat sangat.
Pria itu sama sekali tidak bisa tenang. Pikirannya terus meneror dengan berbagai skenario buruk.
"Bagaimana jika Acha kembali jatuh pingsan di studio foto? Bagaimana jika penyakit maag atau kelelahannya kambuh parah di tempat umum dan tidak ada yang tahu?"
Ingatan saat tubuh Acha terkulai lemas di pelukannya beberapa hari lalu kembali berkelebat tajam di kepala Nathan, menciptakan rasa takut luar biasa kehilangan gadis yang kini bertahta di hatinya itu.
"Nggak... nggak mungkin cuma sekadar sibuk, yah benar, Acha lagi sibuk sama acara keluarganya" gumam Nathan frustrasi.
Jari jemarinya meremas rambutnya sendiri dengan kasar di hadapan Vika, Amina, dan Tasya yang kini ikut menatapnya dengan cemas.
Bagi Nathan, waktu terasa berjalan begitu lambat dan menyiksa. Menghilangnya Acha tanpa jejak dan tanpa kabar di saat fisik gadis itu belum sepenuhnya pulih benar-benar membuat Nathan merasa seperti kehilangan separuh kewarasannya.
Tanpa pikir panjang lagi, dia berbalik meninggalkan minimarket dengan langkah tergesa-gesa, berniat mencari Acha ke rumah atau menyusuri setiap sudut kota jika memang itu satu-satunya cara untuk memastikan keselamatan gadis pujaannya.
Nathan berdiri mematung di samping motornya di area parkir minimarket. Dia mengedarkan pandangannya ke jalanan kota yang padat, sementara napasnya memburu tidak beraturan. Pria itu benar-benar dilanda frustrasi tingkat tinggi.
Dia ingin sekali menyusul dan mencari Acha ke rumah orang tuanya, tetapi masalahnya adalah Nathan sama sekali tidak tahu di mana alamat rumah keluarga Acha.
“Tahu gitu tadi pagi aku nekat antar atau tanya alamat lengkapnya,” sesal Nathan dalam hati sambil memukul stang motornya dengan gemas.
Tapi mau bagaimana lagi Nasi sudah menjadi bubur. Dia benar-benar buntu dan tidak tahu harus mencari ke sudut kota mana lagi.
Dengan langkah gontai dan perasaan kalut, Nathan akhirnya memutuskan pulang ke rumahnya sendiri, berharap setidaknya ponsel Acha kembali aktif saat Nathan mencoba untuk menghubunginya nanti.
Baru saja Nathan memarkirkan motornya di halaman rumah dan melangkah turun dengan lesu, sebuah suara klakson motor bersahut-sahutan mengagetkannya. Iyan, sahabat karib Nathan, tiba di depan rumahnya dengan mengendarai motor matic-nya.
"Wih, bro! Tumben banget muka loh ditekuk kayak cucian belum disetrika begitu," sapa Iyan santai sambil melepas helmnya.
Nathan menghela napas berat, menatap Iyan dengan sorot mata lelah. "Lagi nggak mood, Yan. Jangan diganggu deh."
Melihat gelagat sahabatnya yang tampak sangat gelisah dan berantakan, Iyan langsung mengurungkan niatnya untuk bercanda.
Dia mendekati Nathan dan menepuk pundak pria itu. "Kenapa lagi sih loh? Masalah cewek loh yang kemarin sakit itu ya? Si Acha?"
Nathan mengangguk pasrah. "Dia nggak ada kabar dari tadi pagi, Handphone-nya mati. Gue cari ke toko tempat kerjanya juga nihil. Gue khawatir banget takut dia kenapa-napa, apalagi fisiknya belum pulih total."
Iyan menggelengkan kepala pelan mendengar cerita Nathan. "Wah, kalau loh cuma mondar-mandir di rumah sambil overthinking begini, yang ada loh malah stres sendiri, Than. Mending ikut gue, yuk!"
"Kemana? Ogah, gue nggak selera nongkrong," tolak Nathan mentah-mentah.
"Makanya dengar dulu!" protes Iyan.
"Anak-anak yang lain lagi pada ngumpul di basecamp. Ikut gue kumpul sebentar aja, alihkan pikiran loh dari dia. Kalau loh sendirian terus di rumah, kepala loh malah makin pusing. Siapa tahu dengan nongkrong bareng kita, pikiran loh agak fresh dan nanti pas loh cek lagi, Acha udah ngabari. Ya kan"
Nathan terdiam sejenak, menimbang-nimbang perkataan sahabatnya itu. Ada benarnya juga apa yang di katakan oleh Iyan, jika dia terus-terusan berdiam diri di rumah dalam kecemasan, dia hanya akan menyiksa dirinya sendiri.
Dengan helaan napas panjang tanda menyerah pada bujukan sahabatnya, Nathan akhirnya mengangguk pelan.
"Yaudah, ayo. Tapi sebentar aja ya, gue tetap kepikiran."
"Siap! Udah tentang aja gue jamin deh pikiran loh akan hilang sebentar," balas Iyan menyeringai lega, lalu membonceng Nathan menuju tempat nongkrong andalan mereka.
Suasana di basecamp malam itu terasa cukup temaram dan riuh oleh gelak tawa teman-teman Nathan yang sedang asyik bermain gim konsol dan mengobrol santai. Namun, bagi Nathan, keriuhan itu bagai angin lalu.
Meskipun dia sudah berada di tengah-tengah teman-katanya atas ajakan Iyan, pikirannya tetap saja tertinggal jauh di tempat lain. Bayangan Acha yang belum juga memberikan kabar terus menghantui kepalanya.
Untuk mengalihkan rasa cemas dan gelisah yang kian menjadi-jadi di dadanya, Nathan akhirnya memilih untuk bergabung dengan beberapa temannya yang mulai membuka botol minuman beralkohol ringan.
"Nih, Than. Biar kepala loh agak santai dikit, jangan tegang mulu kayak kanebo kering," ucap salah satu temannya sambil menyodorkan sebuah gelas berisi minuman ke hadapan Nathan.
Tanpa banyak bicara, Nathan langsung menerima gelas tersebut dan meneguk isinya dalam sekali tandas.
Rasanya yang pahit dan hangat mengalir di tenggorokannya, sedikit membakar keresahan yang selama ini menyesakkan dadanya.
Gelas demi gelas terus diteguk oleh Nathan sepanjang malam itu. Alih-alih ingin melupakan Acha, setiap tegukan justru semakin membuat bayangan wajah pucat sang gadis berkelebat jelas di benaknya.
Karena larut dalam suasana malam dan kebiasaannya melampiaskan kecemasan lewat minuman, Nathan akhirnya memilih untuk menginap di basecamp bersama teman-temannya, membiarkan malam berlalu di tengah kepulan asap rokok dan obrolan yang perlahan-lahan mulai kabur dari kesadarannya.
Be to continued