Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.
Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.
Tidak ada pesta.
Tidak ada cinta.
Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.
Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.
Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Persiapan
Kehidupan kantor esok harinya berjalan seperti biasa, tetapi bagi Naya, setiap detik yang berlalu terasa seperti hitungan mundur menuju eksekusi.
Jemarinya menari di atas papan ketik, menjejaki angka-angka di layar monitor dengan kecepatan yang tidak wajar. Matanya fokus ke layar, tetapi punggungnya kaku.
"Nay, ini data masukan untuk vendor supplier minggu lalu," ujar Gea sambil meletakkan map di samping piringan mouse Naya.
Naya menerimanya dengan kedua tangan. Jemarinya sedikit gemetar sampai Gea sempat memperhatikan gerakannya. "E-eh, iya, Kak Gea. Makasih, nanti langsung aku rekap."
Gea tidak langsung pergi. Wanita itu berdiri menyandarkan pinggulnya di tepi meja Naya, matanya memperhatikan gerak-gerik rekannya itu. Gea menyadari jemari Naya yang memegang pena sedikit bergetar, dan riasan tipis di wajahnya tak mampu menyembunyikan lingkar hitam serta bibirnya yang pecah-pecah seolah dehidrasi parah.
"Kamu beneran udah sehat?" tanya Gea, tanpa basa-basi. "Kalau masih lemas, jangan dipaksa. Daripada kerjaan kamu salah semua terus makin diomelin Kak Lady."
"Udah kok, Kak. Udah mendingan," sahut Naya cepat, memaksakan sebuah ukiran senyum tipis yang justru terlihat menyedihkan.
Dari kubikel sebelahnya, Bian diam-diam memperhatikan interaksi itu. Sejak Naya duduk di mejanya pagi tadi, Bian tahu ada yang tidak beres. Naya yang biasanya ramah dan selalu menyapa dengan senyum kecil, hari ini datang seperti mayat hidup. Gadis itu berkali-kali mengecek ponselnya, meremas jemarinya sendiri, dan menarik napas panjang seolah kehabisan udara.
Saat Gea kembali ke mejanya, Bian menggeser kursinya sedikit mendekat ke arah Naya.
"Nay," panggil Bian pelan. "Kamu beneran enggak apa-apa? Pesan terakhir aku semalam juga enggak dibalas. Kalau ada masalah laporan atau apa, ngomong aja. Aku bisa bantu. Ataupun kalau ada masalah pribadi, kamu bisa kok cerita ke aku."
Naya hanya mengangguk kecil. "Makasih, Kak. Maaf, Kak Bian, selesai aku balas chat itu handphone aku lowbatt."
Bian manggut-manggut, meski janggal.
Siapapun pasti melihat perbedaan Naya, akhir-akhir ini air wajahnya seperti orang yang sedang membawa beban segunung. Pucat, lesu, dan sangat ringkih untuk ukuran seorang pekerja kantoran yang biasanya gesit.
Bian tidak langsung menggeser kembali ke mejanya. Ia masih terpaku menatap profil samping Naya yang dibatasi partisi kubikel. Ada kebohongan telak di balik senyuman tipis itu--alasan ponsel lowbatt terdengar sangat klise dan terlalu dipaksakan untuk gadis sejujur Naya.
Namun, melihat betapa tertutupnya Naya saat ini, Bian memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. Ia pun menarik diri dengan dada yang dipenuhi rasa mengganjal.
Sementara itu, di ruangan divisi engineering yang terletak di seberang, Ibra duduk terpaku di balik meja kerjanya. Hari ini pria itu datang dengan setelan kemeja lengan panjang yang tidak digulung, menutupi sisa-sisa memar di tubuhnya akibat amukan sang Kakek.
Dion datang, layaknya orang yang tak diinginkan sebab sebelum ia berucap apa-apa Ibra sudah lebih dulu berujar. "Jangan ganggu gue, urus kerjaan lo."
Mendengarnya Dion menaikkan satu alis. Wah, sialan. "Gue aja belum ngomong," protesnya. "Lagian lo aneh, kemarin menghilang kayak setan, terus enggak mau dateng ke bar. Hey, lo mulai enggak asik sekarang."
Mata Ibra beralih, menatap tajam pada Dion yang masih terus mengeluhkan tentang dirinya, sampai saat dia berdiri, Dion berhenti bersuara.
"Mau kemana lo?"
"Kuping gue sakit denger mulut lo berkicau," sahutnya tajam.
"Kicau kicau kicau mania, kicau kicau kicau mania." Dion memperagakan jogetan ala-ala itu, yang entah berasal darimana.
"Stres," balasnya.
"Ini baru-baru viral kemarin anjir, dasar kudet." Dion mendengkus, melanjutkan jogetannya.
Terserahlah, Ibra tak ingin memperpanjang. Jadi, meninggalkan ruangan adalah hal paling tepat, menuju smoking area. Laki-laki dua puluh tujuh tahun itu mengeluarkan sigaretnya, membakar ujungnya dengan pemantik seraya menghisap dalam-dalam, tak lama kepulan asap keluar dari mulutnya.
Ibra berpikir sejenak, apakah ia pantas menjadi seorang Ayah?
Pertanyaan itu tidak menemukan jawaban. Bukan karena Ibra tidak ingin menjawabnya, melainkan karena ia sendiri belum tahu harus mulai dari mana.
Demi apapun Ibra tidak pernah menyangka akan menjadi seperti akhirnya. Ia belum berada di puncak karier yang dia inginkan, tetapi semuanya seperti dihentikan oleh sesuatu yang datang tanpa aba-aba.
Saat jam kantor akhirnya menunjukkan pukul lima sore, deru mesin kendaraan di luar jendela seolah menjadi tanda bahwa waktu perlahan habis.
Naya merapikan meja kerjanya dengan jemari yang masih bergetar. Ia sengaja tidak langsung pulang, membiarkan orang-orang lain beranjak lebih dulu agar ia bisa menenangkan diri. Ah, serangan panik yang terus-terusan merasukinya.
Bayangan saat ia harus menghadapi Ayah dan Bundanya nanti di rumah membuatnya merasa mual luar biasa.
Langit sore perlahan berganti kelam, menelan sisa-sisa cahaya matahari dan menyisakan malam yang dingin--malam di mana segalanya akan benar-benar berubah selamanya.
***
"Semuanya sudah siap, Ibra?" suara berat Kakek memecah keheningan. Tenang, dalam, namun sarat akan wibawa. "Mobil di bawah sudah disiapkan."
Ibra menarik napas dalam-dalam, menatap sang Kakek lalu beralih ke kedua orang tuanya. Ada satu hal terakhir yang harus ia usahakan sendiri.
"Kek, Pa, Ma..." ucap Ibra tertahan, suaranya tercekat. "Biar Ibra berangkat duluan sendirian ke rumah Naya."
Mama mengerutkan kening cemas, sementara Kakek menghentikan langkahnya, menatap cucunya dengan mata yang menelisik tajam.
"Apa alasannya?" tanya Kakek datar, tanpa menaikkan nada suaranya sedikit pun.
"Keluarganya belum tahu apa-apa soal rencana malam ini, Kek," jawab Ibra jujur. "Kalau kita datang mendadak secara rombongan, itu akan sangat mengejutkan bagi orang tuanya. Biar Ibra datang sendiri lebih dulu, menyampaikan niat dan menjelaskan situasinya secara pribadi. Setelah keadaan kondusif, baru Kakek dan Papa-Mama masuk."
Hening merayap sejenak. Kakek berdiri tegak, menyandarkan kedua tangannya di atas kepala tongkat. Pemikirannya yang kolot memegang teguh tata krama—menghargai tuan rumah adalah bagian dari kehormatan keluarga yang tak boleh diabaikan.
"Seorang laki-laki memang harus berani melangkah paling depan untuk membuka jalan," tutur Kakek pelan, bahasanya tertata namun penuh penekanan. "Pergilah lebih dulu. Berikan kesan yang baik dan sampaikan maksudmu dengan santun. Kakek dan orang tuamu akan menyusul tiga puluh menit dari sekarang."
"Terima kasih, Kek," balas Ibra lega, baru bisa menghembuskan napasnya.
Kakek menatap Ibra lekat-lekat, lalu mengangguk tipis. "Jaga nama baik keluargamu, Ibra. Dan jangan melawan apabila pukulan mendarat di wajahmu."
Ibra mengangguk tegas. Ia menyambar kunci mobil di atas nakas, melangkah keluar rumah dengan dada bergemuruh hebat, siap tidak siap, persetan! Ini sudah tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi.
Begitu pintu rumah tertutup di belakangnya, keberanian yang tadi ia paksa muncul seolah ikut tertinggal di dalam.
Ibra berhenti sebentar di samping mobil, mengusap wajahnya kasar, lalu menarik napas panjang. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Hanya saja, ia sama sekali tidak tahu seperti apa yang akan ia hadapi nanti.
Sepanjang perjalanan, Ibra lebih banyak diam. Tangannya menggenggam kemudi, sementara pikirannya terus mengulang satu hal yang sama, bagaimana caranya mengatakan semuanya kepada orang tua Naya tanpa membuat keadaan menjadi lebih buruk?
Beberapa kali kecepatannya berkurang ketika ia melihat rumah-rumah di sepanjang jalan. Bukan karena jalanan ramai, melainkan karena pikirannya terus mencari alasan untuk menunda beberapa menit lagi.
Namun pada akhirnya, ia tetap melaju.
Garis tegang itu makin kentara ketika suara deru mesin mobil asing berhenti tepat di depan pagar rumah Naya.
Sepulang kerja sore tadi, Naya sudah memaksakan bibirnya yang gemetar untuk bicara pada Ayah dan Bunda. Sesuai pesan Ibra semalam, Naya hanya bilang bahwa akan ada atasannya di kantor yang datang berkunjung untuk silaturahmi. Tidak ada detail lain selain mengatakan kalau tamu ini adalah atasannya. Tidak ada kebenaran terlarang yang ia bocorkan.
"Nay, tamunya udah dateng. Ayo dibukain pintunya," panggil Bunda lembut dari arah dapur, mendengar suara bel.
Naya berdiri kaku. Jemarinya mencengkeram erat pinggiran roknya sampai kuku-kukunya memutih. Kepala gadis itu tertunduk dalam-dalam memegang gagang, sama sekali tidak berani menatap ke arah pintu kayu depan yang perlahan berdecit terbuka.
Di pintu, Ibra berdiri dengan kemeja formal yang sangat rapi. Wajahnya tenang—sebuah topeng yang susah payah ia pasang untuk menutup rapat gemuruh panik di dadanya.
"Permisi, Pak, Bu..." sapa Ibra rendah, menundukkan tubuhnya sedikit sebagai tanda hormat. Suara Ibra terdengar tenang, tetapi hanya dia sendiri yang tahu betapa keras jantungnya berdetak saat itu.
"Eh, silakan masuk," sambut Ayah Naya penuh kehangatan. Wajah pria paruh baya itu menyunggingkan senyum lebar, begitu bangga dan welcome saat menyadari pria gagah di depannya ini adalah atasan langsung putri kesayangannya di kantor. "Aduh, Naya cuma bilang ada tamu dari kantor, tidak disangka yang masuk rupawan begini."
Ibra tersenyum mendengar penuturan itu.
"Sebentar ya, Pak, Saya ambilkan minum dulu." Kali ini suara Bunda.
Naya langsung menatap Ibra. Tatapan mereka bertemu hanya beberapa detik. Namun cukup untuk membuat Naya kembali menundukkan wajahnya.
Tidak satu pun dari mereka mengatakan apa-apa.
"Tidak perlu merepotkan, Bu, terima kasih banyak," sahut Ibra cepat, suaranya sopan dan sangat terjaga.
"Mana ada merepotkan, tunggu sebentar, ya." Bunda melesat ke arah dapur.
Ibra melangkah masuk. Setiap langkah terasa terlalu jelas di telinganya sendiri. Ia kemudian duduk di sofa, sementara Naya masih berdiri di dekat lorong dengan wajah yang sulit dibaca.
Ayah Naya duduk di sofa tunggal berhadapan dengan Ibra, matanya berseri-seri. "Suatu kehormatan atasan Naya mau menyempatkan waktu mampir ke rumah kami yang sederhana ini. Ada hal penting terkait pekerjaan Naya di kantor, Pak?"
Kalimat pertanyaan yang polos dan penuh kepedulian itu menghantam dada Ibra seperti batu besar. Kehangatan, rasa hormat, dan rasa bangga yang terpancar jelas dari raut wajah kedua orang tua Naya seketika menjadi racun yang menyiksa batinnya.
Ibra menarik napas panjang, meremas jemarinya di atas paha. Tatapannya yang tadi tegar mendadak berubah sangat berat.
"Sebelumnya, perkenalkan nama saya Ibra, lead engineer di perusahaan yang sama seperti Naya."
"Oh, memimpin desain ya."
Ibra mengangguk, tersenyum kaku. "Saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya, Om, Tante..." tutur Ibra lagi, nada bicaranya berubah begitu dalam dan kaku, membuat senyum di wajah Ayah Naya perlahan memudar karena kebingungan.
"Kedatangan saya malam ini... bukan untuk membicarakan pekerjaan Naya di kantor." Ibra menelan ludah yang terasa sepahit empedu, lalu menatap lurus mata Ayah Naya. "Saya datang untuk mengakui kesalahan saya, sekaligus meminta izin untuk bertanggung jawab atas Naya."
"Bertanggungjawab apa?" Ayah berdiri, Naya spontan bergerak mendekat. "Kamu apain anak saya?!" Nadanya berubah, sedikit meninggi, pikirannya mendadak penuh oleh sesuatu yang buruk, sebab akhir-akhir ini putrinya memang nampak aneh.
Naya langsung menegang. Tangannya yang sejak tadi saling menggenggam semakin erat kini menyentuh kerah bajunya, merasa tercekik.
Ibra menatap Ayah, lalu sekilas beralih kepada Naya. Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya ia menarik napas panjang.
"Saya..."
Makasih thor lanjut up ya