NovelToon NovelToon
Mahabbah Yang Ternoda

Mahabbah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

“Affan, aku ingin nafkah batin.”

“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”

Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.

Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stres

Saat makan siang bersama, Affandy merasa diperlakukan seperti seorang raja. Hulya begitu perhatian kepadanya.

"Besok Papa pulang. Dia bawa anak temannya."

"Anak temannya? Siapa?" tanya Hulya.

"Mama juga nggak tahu. Lupa namanya."

"Dia ngapain ke sini?"

"Dia ada pekerjaan. Lagi pula, nggak ada salahnya juga. Daripada dia menginap di hotel."

"Dia cowok atau cewek, Ma?"

"Cowok," jawab Liya.

Hulya menatap Affandy. Pertanyaan tentang tamu tersebut membuatnya sedikit penasaran.

Mereka melanjutkan makan tanpa banyak berbicara. Hingga akhirnya Liya meninggalkan meja makan dan hanya menyisakan Affandy serta Hulya.

"Kamu ngapain tanya tamu Papa itu cewek atau cowok?"

"Salah?"

"Kalau cewek, kamu mau jadiin pacar juga seperti Tiffany?"

"Hulya, aku lagi makan. Jangan cari ribut."

"Kamu harus jaga sikap, Affan. Kita bukan di rumah sendiri. Kita di rumah orangtuaku."

"Aku tahu. Aku kan cuma tanya."

"Cukup aku saja yang kamu sakiti, Affan. Jangan sampai kamu juga menyakiti Tiffany."

"Maksud kamu apa?"

"Aku nggak mau nasib Tiffany sama seperti aku. Diselingkuhi sama kamu."

"Aku nggak selingkuh," ucap Affandy.

"Lagian kamu nggak usah sok baik sama Tiffany. Dia kan jahat sama kamu."

"Tapi kalau urusan seperti ini, aku tahu bagaimana perasaan Tiffany kalau suatu hari kamu menyakitinya."

Affandy terdiam, ia terharu mendengar ucapan istrinya. Ternyata wanita yang dinikahinya memiliki hati yang begitu baik. Namun, sampai sekarang ia masih belum mampu sepenuhnya menerima Hulya sebagai istrinya.

"Hulya ... Aku lagi makan, tapi kamu malah marah-marah nggak jelas. Selera makanku jadi hilang."

"Aku minta maaf. Kamu lanjut makan aja. Aku mau ke kamar."

"Kamu siap-siap, ya."

"Siap-siap? Mau ngapain?" tanya Hulya.

"Mau malam pertama."

"Ma-maksud kamu?"

"Nggak usah mimpi, Hulya. Aku nggak akan melakukan itu." Affandy tersenyum tipis. "Siap-siap sekarang. Emangnya kamu nggak mau ajak aku keluar? Ngapain kita ke sini kalau cuma di rumah?"

"Kamu mau keluar ke mana?"

"Ya terserah."

Hulya menghela napas. "Aku mau cuci baju dulu."

"Ikut."

"Ha?"

"Ikut, tungguin aku makan."

"Lama, Affan. Nanti keburu siang."

"Nggak, ah." Hulya hendak melangkahkan kaki, tetapi Affandy langsung berdiri. "Mau ke mana?" tanya Hulya.

"Mau ikut, lah."

"Makan aja dulu. Setelah itu baru kamu nyusul."

Affandy kembali duduk. "Pelit!"

Hulya menahan tawa.

Sikap Affandy benar-benar aneh. Terkadang kasar, terkadang ramah, bahkan seperti sekarang—begitu kekanak-kanakan.

[] [] []

Beberapa menit kemudian, Hulya berdiri di depan mesin cuci sambil menunggu pakaian selesai dicuci.

Ia termenung memikirkan Affandy. Tiba-tiba sebuah tangan besar melingkar di pinggangnya. Hulya terkejut dan tanpa sengaja menyikut perut orang yang berdiri di belakangnya.

"Argh!"

"Affan!"

Affandy langsung memegangi perutnya. Keningnya mengernyit menahan rasa sakit.

"Sakit, Hulya."

"Kamu sendiri yang bikin aku kaget."

"Tapi nggak begini juga. Sakit tau, kasar banget."

"Kamu juga kasar. Baru begitu sudah mengeluh."

Affandy berlalu pergi. Hulya melihat pria itu meringis kesakitan. Bahkan langkahnya sedikit membungkuk sambil mengusap perut.

Hulya merasa bersalah. Ia segera mematikan mesin cuci dan menyusul suaminya ke kamar.

"Affan..."

Hulya menghampiri pria itu. Affandy sedang duduk di atas ranjang sambil mendongak.

"Perutku sakit, Hulya."

"Sakit banget, ya?"

"Iya."

"Maafin aku."

Tak disangka, Affandy malah menarik tangan Hulya dan mengarahkannya ke perutnya. Hulya terdiam. Rasa canggung tiba-tiba muncul ketika tangannya menyentuh tubuh pria tersebut.

"Kamu kecil-kecil kasar."

"Aku udah minta maaf. Aku nggak sengaja."

Hulya akhirnya memberanikan diri mengusap perut Affandy perlahan.

"Nyaman banget." Affandy menahan senyum.

"Udah nggak sakit lagi, ya?"

"Masih."

Affandy ternyata hanya berpura-pura.

"Yakin?"

"Yakin. Masih sakit, tau."

Hulya mulai menyadari bahwa alasan pria itu hanyalah akal-akalan. Dari ekspresi wajah Affandy, ia sudah bisa memastikan bahwa suaminya sebenarnya sudah baik-baik saja.

[] [] []

Hulya dan Affandy akhirnya jalan-jalan, itu adalah permintaan dari Affandy sendiri. Dia terlalu bosan di rumah mertuanya.

Affandy pergi ke sebuah tempat keramaian di kota itu. Banyak orang-orang datang ke sana, dari semua kalangan umum baik anak-anak maupun dewasa semua orang datang ke tempat itu.

Hulya merasa tenang, saat mereka datang hingga sekarang genggam tangan itu tidak terlepas sama sekali.

"Seru ya. Aku nggak pernah datang ke tempat beginian."

"Iya lah. Kamu kan orang sombong, mana mau pergi ke tempat umum seperti ini."

"Ini kan aku mau. Jadi kamu nggak usah bilang aku sombong."

"Sama aja kali."

"Aw!"

Affandy menarik kerah baju seorang pria ketika Hulya hampir saja terjatuh akibat pria itu.

"Kamu mau cari ribut sama saya?"

"Maaf, mas. Saya nggak sengaja."

"Affan udah. Dia nggak sengaja kok."

"Kalau bukan karena istri saya. Mungkin kamu akan kehilangan nyawa malam ini," ucap Affandy.

Ia melepaskan laki-laki itu. "Maaf, Mbak."

Hulya hanya senyum saja.

"Ngapain senyum-senyum?" tanya Affandy. "Seneng ya disentuh sama laki-laki itu."

Hulya tersenyum bukan karena tuduhan yang diucapkan oleh suaminya itu benar. Tetap ia tersenyum saat mendengar Affandy mengatakan bahwa dia adalah istri dari pria tersebut.

Mau Affandy sadar dengan ucapannya ataupun tidak. Hulya sudah merasa bahagia akan hal itu.

"Iya. Aku senang lah."

"Affan, sakit."

Lagi-lagi tangan Hulya di cengkram kuat oleh suaminya. "Kamu bilang apa tadi?"

"Sakit, Affan. Lepasin ... Aku bercanda."

"Bercanda kamu bilang. Rasain ini."

"Affan aku mohon. Perih!"

Affandy segera melepaskan genggaman tersebut. Seperti biasa ketika melihat Hulya akan menangis ia langsung merasa bersalah.

"Hulya, aku minta maaf. Aku nggak sengaja."

Hulya menundukkan pandangannya menatap lengannya yang sudah memerah.

"Maafin aku."

"Ayo pergi, aku mau pulang."

"Hulya, aku masih mau di sini. Di rumah bosan."

"Kalau kamu mau, kamu di sini aja. Aku mau pulang."

Affandy mengikuti langkah Hulya dari arah belakang. Ia mencoba untuk merayu wanita itu lagi, namun Hulya tidak mau luluh begitu saja.

"Hulya jangan gini. Aku mohon."

"Kamu pulang sendiri. Dekat kan, jadi nggak akan tersesat."

"Ojek, Bang."

"Hulya."

"Jalan sekarang, Mbak?"

"Iya!"

"Hulya jangan tinggalin aku."

Hulya ingin tegas dengan Affandy. Malam ini ia ingin mengetahui apakah Affandy akan mengejarnya.

Perkiraan Hulya salah besar, Affandy malah stres di sana. Dia merasa kesepian setelah Hulya pulang.

"Hulya," ucapnya ketika merasakan punggungnya digenggam seseorang.

"Perempuan kalau udah kecewa susah, Mas. Jangan sampai Mas menyesal nantinya."

Wanita itu berlalu pergi.

"Hulya ... Aku mau Hulya, aku harus pulang sekarang."

Affandy masuk ke dalam mobilnya, belum sempat ia pergi pria itu mendapatkan kiriman pesan dari Tiffany.

Saat membuka foto yang dikirim oleh wanita itu, Affandy semakin stres. Foto yang dikirimkan ke Tiffany kepadanya, memperlihatkan dua orang sedang berpelukan.

"Hari ini ulang tahunku. Dan kamu lupa, karena lebih memilih wanita itu."

Singkat, namun bukan pesan itu yang membuat Affandy stres. Melainkan foto tersebut, dia tidak suka jika miliknya diambil oleh orang lain.

"Sialan."

Affandy mencoba untuk menghubungi Tiffany, namun panggilannya sama sekali tidak ada jawaban apapun.

"Arghhh!" Affandy memukuli kepalanya sendiri.

"Hulya marah, Tiffany malah berulah."

"Emang ya, perempuan itu nggak ada yang bener."

1
Tamirah
Kok ada suami model gini jadi istrinya kok yo betah,mbok ya minta cerai aja
azzura faradiva
kasih karma tu laki biar pedangnya karatan(impoten) biar ga banyak tingkah
Mardzan J.: sabar lho🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!